Chapter Nine

Perempuan yang Menghidupkan Ruangan

POV: Fabian Asher

Aku menyadari sesuatu tentang perempuan itu ketika ia datang ke studio pada hari yang paling buruk dalam sebulan.

Pagi itu, salah satu klien membatalkan proyek besar setelah enam minggu pekerjaan berjalan. Dua orang di timku harus mengulang gambar dari awal. Rendi dan Dimas berdebat tentang langkah berikutnya, sementara telepon terus berdering dari pemasok yang menunggu kepastian pembayaran.

Aku tidak sedang dalam suasana hati yang baik.

Namun ketika pintu studio terbuka dan perempuan itu muncul membawa dua kantong makanan, udara di ruangan berubah sebelum ia mengatakan apa-apa.

“Aku membawa makanan,” katanya. “Kalau kalian belum makan, itu kesalahan yang bisa diperbaiki. Kalau sudah makan, berarti kalian harus makan lagi karena aku sudah membelinya.”

Rendi tertawa lebih dulu. Dimas menyusul. Aku hanya menggeleng, tetapi ketegangan di bahuku berkurang.

Ia berjalan ke meja kerja, meletakkan kotak-kotak makanan, lalu memperhatikan wajah kami satu per satu.

“Siapa yang baru dimarahi?”

“Tidak ada,” jawabku.

“Berarti semua orang memang terlihat seperti ingin menggigit orang lain.”

“Proyek dibatalkan.”

“Oh.” Ia membuka salah satu kotak. “Kalau begitu, gigit ayam ini saja. Teksturnya lebih lunak.”

Kami makan di tengah kekacauan yang belum selesai. perempuan itu tidak mencoba memberi solusi. Ia tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, karena ia tahu kalimat itu kadang hanya membuat orang merasa tidak didengarkan. Ia hanya duduk, mendengarkan penjelasan kami, dan menyelipkan komentar yang membuat ruangan tidak tenggelam dalam ketegangan.

Setelah semua orang kembali bekerja, ia menghampiriku.

“Kamu mau cerita?”

“Nanti.”

“Baik.”

Ia tidak mendesak. Ia mengambil kursi di sudut ruangan dan membuka laptopnya sendiri.

Aku kembali ke denah, tetapi beberapa kali melihatnya melalui pantulan kaca. Ia menyunting naskah dengan dahi berkerut, sesekali menggumam ketika menemukan kalimat buruk. Ketika sedang berpikir, ia mengetuk ujung pulpen ke meja dalam pola yang tidak beraturan.

Hal-hal kecil itu seharusnya tidak mengubah suasana hatiku.

Namun perlahan, aku berhenti mendengar suara telepon sebagai gangguan. Aku dapat bekerja di dekat suara ketukan pulpennya.

Menjelang sore, seorang klien menelepon lagi. Percakapan itu tidak menyenangkan. Aku menjawab dengan suara tetap tenang, menyampaikan konsekuensi pembatalan, lalu mengakhiri telepon setelah kesepakatan baru tercapai.

perempuan itu menutup laptopnya.

“Kamu hampir menghela napas seperti orang yang baru memenangkan perang.”

“Aku hanya menyelesaikan masalah.”

“Itu cara orang yang terlalu tenang menyebut kemenangan.”

Aku menyandarkan tubuh ke kursi. “Kamu datang untuk bekerja atau mengawasi ekspresiku?”

“Dua-duanya.”

“Aku merasa diawasi.”

“Bagus. Berarti aku berhasil.”

Ia tersenyum. Senyumnya tidak selalu sempurna. Kadang hanya miring di satu sisi, kadang terlalu lebar, kadang muncul di waktu yang salah. Justru karena itu, aku tidak pernah merasa sedang melihat sesuatu yang dibuat-buat.

“Kenapa kamu selalu bisa membuat ruangan ramai?” tanyaku.

“Aku tidak selalu bisa.”

“Tadi kamu bisa.”

“Karena kalian semua sedang terlalu serius.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku cuma tidak suka melihat orang yang kusukai terlihat ingin melempar meja.”

Aku menatapnya.

Ia tampak baru menyadari apa yang dikatakannya. Wajahnya berubah merah, tetapi ia tidak menarik kembali kalimat itu.

“Maksudku, orang-orang yang kusukai sebagai teman,” tambahnya cepat.

“Aku tidak bertanya.”

“Tapi aku ingin menjelaskan.”

“Itu tidak perlu.”

“Kamu senang sekali membiarkan orang panik.”

“Aku hanya memberi mereka kesempatan memperbaiki ucapan.”

perempuan itu menatapku tajam. “Kalau begitu, aku cabut.”

Ia berdiri dan meraih tas.

Aku menahan pergelangan tangannya sebelum ia melangkah.

“Tunggu.”

Ia menunduk melihat tanganku, lalu memandang wajahku.

“Aku belum selesai bekerja,” kataku.

“Aku bisa pulang.”

“Aku tahu.”

“Lalu mengapa ditahan?”

Aku tidak langsung menjawab. Karena ruangan ini terasa lebih mudah ditanggung ketika ia berada di dalamnya. Karena aku baru menyadari bahwa sepanjang satu jam terakhir, pikiranku tidak lagi berputar pada proyek yang gagal.

“Aku ingin kamu tetap di sini,” kataku.

Ia tidak tersenyum. “Sebagai apa?”

“Sebagai dirimu sendiri.”

Jari-jarinya bergerak sedikit di bawah tanganku. Aku segera melepaskan, memberinya ruang untuk memilih.

perempuan itu duduk kembali.

“Aku akan tinggal,” katanya. “Tapi kamu harus mentraktir makan malam.”

“Baik.”

“Dan jangan memilih restoran yang terlalu tenang. Aku butuh tempat untuk bicara.”

“Aku sudah menduga.”

“Kamu boleh mendengarkan saja.”

“Aku memang berencana begitu.”

Malam itu, kami makan di tempat yang ramai. perempuan itu bercerita tentang naskah buruk, penulis keras kepala, dan seorang rekan kerja yang mengira semua masalah dapat diselesaikan dengan mengirim stiker. Aku mendengarkan.

Sesekali aku tertawa.

Ketika ia selesai bercerita, ia menunjukku dengan sumpit.

“Kamu tahu tidak? Kalau aku diam, kamu akan merindukan suaraku.”

“Aku tahu.”

“Kamu terlalu cepat setuju.”

“Aku tidak ingin kamu mencoba diam hanya untuk membuktikan aku salah.”

Ia menatapku lama, lalu tersenyum kecil.

Di perjalanan pulang, aku memikirkan mengapa dunia terasa lebih terang ketika ia ada. Bukan karena perempuan itu selalu bahagia. Ia bisa lelah, kesal, dan berantakan. Namun ia tidak pernah membiarkan satu hari buruk menjadi alasan untuk mematikan seluruh lampu.

Aku tidak tahu kapan tepatnya rasa yang kusimpan berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.

Yang kutahu, ketika ia berjalan setengah langkah di depanku, aku sudah mulai membayangkan bagaimana rasanya pulang ke ruangan yang sama dengannya setiap hari.

Ketika sampai di rumah, aku menemukan pesan darinya.

Luna: Terima kasih sudah membiarkanku tinggal di studio hari ini.

Aku: Terima kasih sudah membawa makanan.

Luna: Aku membawa makanan karena ingin melihatmu tersenyum.

Aku berhenti di depan laci meja. Jari-jariku menyentuh kertas lama di balik kayu, tetapi tidak membukanya.

Aku: Aku memang tersenyum.

Luna: Aku tahu. Aku melihatnya.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan membaca pesan itu lagi. Lima tahun lalu, ia membuatku bertahan pada satu hari yang gelap tanpa mengetahui namaku. Sekarang ia membuat hari yang buruk menjadi ringan, masih tanpa meminta apa pun dariku.

Perbedaannya hanya satu: kali ini aku bisa menjawab.

Aku: Kalau begitu, datang lagi kapan-kapan.

Balasannya muncul cepat.

Luna: Itu ajakan resmi?

Aku: Kamu boleh menganggapnya begitu.

Luna: Aku akan menganggapnya sangat resmi.

Aku tersenyum ke layar.

Mungkin aku belum memberitahunya tentang lorong rumah sakit. Mungkin aku juga belum siap menyebut betapa lama namanya tinggal di dalam ingatanku.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa masa lalu dan masa kini tidak lagi berdiri saling berhadapan. Keduanya mulai berjalan ke arah yang sama.

Keesokan paginya, aku menemukan pita kecil terikat pada gagang pintu studio. perempuan itu pasti meninggalkannya sebelum pulang, mungkin sebagai lelucon, mungkin juga sebagai tanda bahwa ia mengingat tempat ini.

Rendi menemukanku sedang memperhatikannya.

“Kamu mendapat hadiah?”

“Bukan hadiah.”

“Lalu?”

“Sebuah pengingat.”

“Tentang apa?”

Aku memasukkan pita itu ke laci. “Tentang seseorang yang tidak suka membuat hari buruk menjadi lebih buruk.”

Rendi tersenyum samar. “Kamu terdengar jatuh cinta.”

Aku tidak membantahnya kali ini.

Aku hanya belum tahu kapan harus mengatakannya kepada perempuan yang mungkin masih mengira semua ini sekadar masa percobaan.

Aku mematikan lampu kamar, tetapi tidak langsung tidur. Di dalam gelap, senyumku terasa seperti sesuatu yang masih menyala. Aku mulai membayangkan pertemuan berikutnya, lalu menertawakan diri sendiri karena menyadari betapa cepatnya aku menunggu seseorang yang baru beberapa minggu kukenal.