Chapter Seventeen
Ciuman yang Terlambat
POV: Fabian Asher
Aku sudah mencium perempuan itu dalam pikiranku jauh sebelum aku memiliki hak untuk melakukannya.
Bukan dalam bayangan yang berlebihan. Hanya sesederhana membayangkan bagaimana rasanya mendekat setelah ia selesai berbicara, bagaimana ia akan berhenti di tengah kalimat, dan apakah ia akan tetap berani menatapku setelahnya.
Setelah ia mengatakan ingin menikah denganku, aku tahu hubungan kami berubah.
Ia tidak lagi berjalan di sampingku sebagai perempuan yang sedang mencoba memahami perjodohan. Ia berjalan sebagai seseorang yang sudah memilih, dan pilihan itu membuatku ingin lebih berhati-hati daripada sebelumnya.
Kami pergi ke toko perhiasan untuk melihat cincin pertunangan. perempuan itu mencoba beberapa cincin, lalu mengangkat tangannya ke arah lampu.
“Yang ini bikin tanganku terlihat mahal.”
“Tanganmu nggak perlu terlihat mahal.”
“Tentu perlu. Aku bakal memakai cincin dari laki-laki yang banget mahal.”
“Aku nggak yakin harga diriku bisa dihitung.”
“Aku bisa mencoba.”
Ia menatapku sambil tersenyum. Aku membalasnya, tetapi perhatian kami terputus ketika penjual datang membawa pilihan lain.
Sepanjang sore, aku menahan diri untuk tidak menyentuhnya lebih lama daripada yang diperlukan. Aku membukakan pintu, mengambilkan katalog, dan menggenggam tangannya saat menyeberang. Semua terasa biasa, tetapi aku tahu setiap sentuhan memiliki arti baru.
perempuan itu juga tahu.
Ia semakin sering mendekat, sengaja menyentuhkan bahu, membiarkan jarinya tinggal beberapa detik di telapak tanganku. Ia melakukan semuanya dengan wajah tidak bersalah, seolah sedang menguji batas kesabaranku.
Aku membiarkannya.
Namun kesabaran bukan berarti tidak memiliki batas.
Malamnya, kami duduk di dalam mobil di depan rumahnya. Hujan baru berhenti. Lampu jalan memantul di kaca, dan udara di antara kami terasa lebih hangat daripada seharusnya.
“Kamu diam,” katanya.
“Aku lagi berpikir.”
“Tentang apa?”
“Kamu mau jawaban jujur?”
“Selalu.”
“Aku lagi berpikir apa kamu sadar betapa seringnya kamu menggodaku.”
Ia tersenyum lebar. “Kamu akhirnya mengaku terganggu.”
“Aku nggak bilang terganggu.”
“Kalau gitu, apa?”
Aku mematikan mesin, lalu berbalik menghadapnya.
“Aku lagi mikirin apa kamu bakal tetap berani kalau aku balas.”
Senyumnya sedikit goyah.
“Aku selalu berani.”
“Aku tahu.”
“Jangan bilang tahu.”
“Kamu mau aku membuktikannya?”
Ia terdiam.
Aku tidak bergerak lebih dekat. Aku menunggu. perempuan itu sudah memberiku jawaban tentang pernikahan, tetapi ciuman adalah sesuatu yang berbeda. Aku ingin ia memilihnya dengan sadar, bukan karena suasana atau karena merasa harus membuktikan keberanian.
“Fabian,” katanya.
“Ya?”
“Kamu bakal menciumku atau terus menatap kayak lagi mengukur jarak?”
Aku hampir tertawa. “Aku lagi nunggu izin.”
Wajahnya berubah merah, tetapi matanya tetap menantang.
“Kalau aku nggak ngasih izin?”
“Aku bakal nganter kamu masuk.”
“Kalau aku ngasih?”
“Aku bakal menciummu.”
Ia menelan ludah. “Aku ngasih.”
Aku memastikan sekali lagi. “Kamu yakin?”
“Fabian.”
“Baik.”
Aku mengangkat tangan dan menyentuh pipinya. Kulitnya hangat. perempuan itu memejamkan mata ketika aku mendekat, tetapi baru membuka lagi saat jarak kami tinggal beberapa sentimeter.
“Kalau ciumannya buruk, aku bakal mengajukan komplain.”
“Aku nerima komplain.”
“Dan meminta pengulangan.”
“Aku juga nerima itu.”
Aku mencium bibirnya pelan.
Singkat pada awalnya, hanya sentuhan yang memberi kesempatan untuk berhenti. Namun perempuan itu tidak mundur. Tangannya mencengkeram ujung jas yang kupakai, dan ketika aku memperdalam ciuman, napasnya berubah menjadi suara kecil yang membuat seluruh pikiranku kehilangan arah.
Aku segera berhenti sebelum kesabaran berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kami kendalikan di dalam mobil.
perempuan itu membuka mata.
“Itu…”
“Buruk?”
“Nggak.”
“Komplain?”
Ia menatapku, masih terlalu dekat. “Aku perlu menguji sampel kedua.”
Aku tertawa rendah. “Kamu benar-benar nggak punya rem.”
“Kamu yang mengajarkanku.”
“Aku cuma menjawab pertanyaan.”
“Pembohong.”
Aku mencium keningnya, lalu pipinya. Ia langsung memegang kerah jas dan menarikku kembali.
“Kamu belum boleh pergi,” katanya.
“Aku belum pergi.”
“Tapi kamu lagi berniat.”
“Aku berniat pastiin kamu masuk rumah dengan aman.”
“Aku bisa masuk sendiri.”
“Aku tahu.”
“Jangan.”
“Baik.”
Kami tertawa bersama. Untuk pertama kalinya, ketegangan di antara kami terasa ringan, bukan sesuatu yang harus terus dijaga agar tidak melewati batas.
Sebelum turun, perempuan itu menyentuh bibirnya sendiri.
“Fabian?”
“Ya?”
“Jangan mencium perempuan lain.”
“Aku nggak punya niat.”
“Bukan niat yang kuminta.”
“Lalu?”
“Janji.”
Aku menggenggam tangannya. “Aku berjanji.”
Ia akhirnya turun dari mobil. Aku menunggu sampai pintu rumahnya tertutup, lalu menyandarkan kepala ke kursi.
Aku sudah menunggu ciuman itu terlalu lama.
Ternyata yang paling sulit bukan menahan diri untuk menciumnya, melainkan menerima kenyataan bahwa setelah itu, aku akan menginginkannya lagi setiap kali perempuan itu tersenyum.
Keesokan harinya, perempuan itu mengirim pesan pada pukul tujuh pagi.
Luna: Aku udah mikirin ciuman semalam.
Aku sedang membuat kopi. Tanganku berhenti di atas mesin.
Aku: Kesimpulannya?
Luna: Aku perlu mengajukan beberapa revisi.
Aku: Silakan.
Luna: Durasi terlalu singkat. Penutup terlalu cepat. Dan kamu berhenti sebelum aku siap.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Aku: Kamu mau mengulangnya?
Luna: Aku mau melihat apa sampel kedua lebih baik.
Aku: Kita bisa mengatur jadwal penelitian.
Luna: Jangan terlalu formal. Aku lagi serius.
Aku tersenyum.
Aku: Aku juga.
Ia tidak membalas selama beberapa menit. Kemudian ia mengirim foto cangkir kopi dan satu kalimat.
Luna: Aku bakal nganggap itu persetujuan.
Aku: Aku nggak pernah menarik persetujuan.
Hari itu kami bertemu di studio. perempuan itu datang membawa dokumen pertunangan yang diminta keluarga, tetapi ia meletakkannya di meja tanpa membacanya. Ia lebih tertarik pada kotak makanan yang kubawa.
“Kamu memasak?”
“Nggak.”
“Sayang sekali. Aku udah siap memuji sesuatu yang mungkin nggak layak.”
“Aku bisa memasak.”
“Buktikan.”
“Nanti.”
“Kapan?”
“Setelah kita menikah.”
“Kamu lagi mengikatku dengan makanan?”
“Aku lagi nyampein rencana.”
Ia membuka kotak makan, mencicipi, lalu mengangguk puas. “Rencana yang cukup baik.”
Sore menjelang ketika kami membahas cincin. perempuan itu tidak ingin cincin yang terlalu besar. Ia memilih desain sederhana dengan satu batu kecil dan bagian dalam yang bisa diukir.
“Mau diukir apa?” tanyaku.
Ia menatapku dengan senyum nakal. “Jangan diam.”
“Terlalu umum.”
“Bagus. Kamu harus mengingatnya setiap kali melihat cincin.”
“Aku bakal mengukir nama.”
“Nama siapa?”
“Namamu.”
“Aku mau sesuatu yang lebih romantis.”
Aku mengambil tangannya, lalu menulis dengan jari di telapak tangannya: pulanglah kepadaku.
Wajahnya berubah lembut.
“Itu bukan untuk cincin,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kalau diukir, aku bakal terlalu sering menangis.”
Aku menutup tangannya di atas tulisanku.
“Kalau gitu, biarkan aku mengatakannya.”
“Kapan pun?”
“Kapan pun kamu perlu.”
Ia menatapku lama, kemudian tiba-tiba menarik kerah bajuku dan menciumku.
Kali ini ia yang memulai.
Aku tidak langsung membalas. Aku memberinya kesempatan untuk mengubah pikiran, tetapi perempuan itu justru mendekat, seolah seluruh keberanian yang biasa ia gunakan untuk menggoda sedang diarahkan pada satu hal.
Ketika ia mundur, napasnya tidak teratur.
“Sampel kedua,” katanya.
“Hasilnya?”
“Lebih baik.”
“Bagian mana yang perlu diperbaiki?”
“Aku belum selesai menguji.”
Ia mencoba menciumku lagi, tetapi kali ini aku menahannya dengan satu tangan di pinggang. perempuan itu mendongak, menunggu.
“Aku masih bekerja,” kataku.
“Kamu menyuruhku datang.”
“Aku nggak tahu kamu bakal bikin pekerjaanku tertunda.”
“Kamu bisa memasukkannya ke dalam jadwal.”
Aku mencium keningnya. “bakal kupertimbangkan.”
“Fabian.”
“Aku bakal mengatur jadwal.”
Ia akhirnya duduk di sofa dan membuka dokumen pertunangan. Aku kembali ke meja kerja, tetapi tak satu pun dari kami benar-benar membaca.
Di antara kami, ciuman pertama sudah tidak lagi menjadi kejadian tunggal.
Ia berubah menjadi bahasa baru yang akan kami pelajari perlahan, dengan izin, candaan, dan cukup banyak gangguan pada jam kerja.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat reading
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya