Chapter Eighteen
Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
POV: Luna Aurora Clarissa
Aku menemukan kertas itu secara tidak sengaja.
laki-laki itu datang ke rumah untuk makan malam bersama keluarga. Ia membawa buku yang pernah kuberikan, dan aku berniat mengambilnya dari mobil setelah ia masuk. Ketika membuka laci dashboard, sebuah amplop kecil jatuh ke pangkuanku.
Namaku tertulis di bagian depan.
Bukan namaku yang sekarang. Hanya satu kata: perempuan itu.
Aku membeku.
laki-laki itu belum menyadari aku belum masuk. Ia sedang berbicara dengan Papa di teras. Aku membuka amplop itu sedikit, cukup untuk melihat ujung kertas tua di dalamnya.
Tulisan tanganku sendiri terlihat di sana.
Tidak apa-apa kalau hari ini hanya sanggup bertahan.
Jantungku berdetak terlalu cepat.
Aku tahu kalimat itu. Aku menulisnya bertahun-tahun lalu di rumah sakit, pada selembar kertas yang kuambil dari buku catatan Mama. Aku tidak pernah berpikir orang yang menerimanya masih menyimpan.
laki-laki itu membuka pintu mobil dari luar.
“Kamu belum masuk?”
Aku mengangkat amplop itu. “Apa ini?”
Wajahnya berubah.
Tidak banyak. Hanya jeda pada napas dan cara tangannya berhenti di gagang pintu. Namun aku melihatnya.
“Luna.”
“Kamu tahu aku?”
Ia menutup pintu mobil pelan. “Aku ingin menjelaskan.”
“Sejak kapan?”
“Sebelum pertemuan pertama.”
Aku tertawa pendek. “Tentu.”
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Aku bahkan belum mengatakan apa yang kupikirkan.”
laki-laki itu menatap amplop itu, lalu kembali kepadaku.
“Aku mengenalmu dari rumah sakit.”
Kata-kata itu membawa kembali ingatan yang sudah lama terkubur: lorong putih, suara roda ranjang, Mama yang menunggu hasil pemeriksaan, dan seorang laki-laki muda yang duduk sendirian dengan wajah seperti tidak tahu harus pulang ke mana.
Aku ingat teh hangat.
Aku ingat seseorang yang tidak menyentuhnya.
Aku tidak ingat wajahnya dengan jelas.
“Kamu laki-laki yang duduk di sebelah mesin minuman?”
laki-laki itu mengangguk.
Aku turun dari mobil. “Ayahmu?”
Ia tidak langsung menjawab.
“Meninggal hari itu.”
Aku menutup amplop dengan tangan gemetar.
“Aku tidak tahu.”
“Aku tahu.”
“Kamu mencariku?”
“Beberapa kali.”
“Lalu kamu menemukan namaku dari perjodohan.”
“Iya.”
Aku memandang rumah yang dipenuhi cahaya hangat. Di dalam, keluarga kami sedang menunggu. Di luar, kami berdiri dengan lima tahun yang baru saja berubah bentuk.
“Berarti ketika Ibumu menyebut namaku, kamu langsung tahu.”
“Aku meminta waktu untuk memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Bahwa kamu adalah perempuan yang sama.”
Aku memejamkan mata.
Ada bagian dalam diriku yang merasa tersanjung. Ada bagian lain yang merasa seluruh hubungan ini dibangun di atas sesuatu yang tidak pernah kusetujui.
“Kenapa kamu tidak mengatakannya pada pertemuan pertama?”
“Karena aku ingin kamu mengenalku tanpa merasa punya kewajiban.”
“Kamu bilang itu seolah rahasia ini adalah bentuk kebaikan.”
“Aku tidak menganggapnya kebaikan.”
“Lalu apa?”
“Ketakutan.”
Aku tidak menduga jawaban itu.
laki-laki itu menghela napas. “Aku takut kalau kamu tahu, kamu akan merasa harus menerimaku karena pernah menolongku. Aku takut kamu melihat dirimu sebagai alasan aku menyukai kamu, lalu mengira kamu tidak boleh berubah.”
“Tapi kamu tetap menjadikan masa lalu itu alasan untuk datang kepadaku.”
“Masa lalu membuatku ingin menemukanmu. Bukan membuatmu wajib menerimaku.”
Aku melihat kertas di tanganku.
“Kamu menyimpan ini selama lima tahun?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena kalimat itu membuat hari terburukku sedikit lebih bisa dilewati.”
“Aku bahkan tidak ingat.”
“Aku tidak pernah meminta kamu mengingat.”
Aku ingin menangis, tetapi tidak ingin ia melihat air mata yang belum bisa kujelaskan.
“Fabian, aku perlu waktu.”
“Baik.”
“Jangan langsung bilang akan menunggu.”
“Aku tidak akan memaksamu.”
“Itu juga bukan jawaban.”
Ia mengangguk.
Aku menyerahkan amplop itu kembali. laki-laki itu tidak langsung mengambilnya.
“Simpan,” kataku. “Aku belum tahu apakah aku ingin membacanya lagi.”
“Baik.”
Kami masuk ke rumah setelah beberapa menit. Aku tersenyum kepada keluarga, menjawab pertanyaan, dan duduk di sebelah Mama. laki-laki itu berada di seberang meja, sama tenangnya seperti biasa.
Namun sekarang aku tahu bahwa di balik ketenangan itu ada seorang laki-laki yang pernah kehilangan seseorang, memegang secarik kertas, dan menunggu bertahun-tahun untuk menemukan pemberinya.
Aku belum tahu apakah fakta itu membuat cintaku lebih kuat atau lebih takut.
Di meja makan, Papa bertanya mengapa aku begitu pendiam. Aku menjawab bahwa aku lelah, tetapi laki-laki itu menatapku dari seberang meja dengan cara yang membuatku tahu ia tidak percaya.
Setelah makan, ia membantuku membawa piring ke dapur.
“Kamu boleh marah kepadaku,” katanya.
“Aku tidak marah.”
“Kamu boleh kecewa.”
“Aku juga tidak tahu.”
“Itu jawaban yang jujur.”
Aku menaruh piring di wastafel. “Kamu menyimpan namaku seperti orang menyimpan alamat seseorang yang ingin ditemukan.”
“Aku tidak tahu apakah aku akan menemukanmu.”
“Tapi kamu menunggu.”
“Iya.”
“Kenapa tidak mencoba melupakan?”
laki-laki itu menyalakan keran, membasuh tangannya. “Karena aku tidak ingin melupakan hari ketika seseorang membuatku merasa masih manusia.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak ingin menjadi alasan kamu terus hidup,” kataku.
“Kamu bukan alasan tunggal.”
“Tapi kamu mengingatku seperti itu.”
“Aku mengingatmu sebagai orang yang membantu, bukan sebagai penyelamat.”
Kalimat itu membuatku menarik napas.
“Aku tidak pernah merasa menyelamatkanmu.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, jangan menempatkanku di posisi yang tidak pernah kuminta.”
“Aku tidak akan.”
Ia mengambil handuk dan mengeringkan tangannya. Aku melihat ketenangan yang selama ini kusukai, lalu menyadari bahwa ketenangan itu bukan berarti ia tidak takut. Ia hanya sudah terbiasa membawa rasa takut tanpa membiarkannya mengendalikan orang lain.
“Aku ingin pulang,” kataku.
“Aku antar.”
“Tidak perlu.”
“Aku tahu.”
Aku hampir tersenyum meskipun hatiku berat. “Kali ini jangan bilang tahu.”
“Baik.”
Di dalam mobil, aku menyentuh amplop yang kusimpan di tas.
“Boleh aku membacanya nanti?”
“Boleh.”
“Di depanmu?”
“Kalau kamu mau.”
“Kalau aku menangis?”
“Aku akan menyediakan tisu.”
“Kalau aku tertawa?”
“Aku akan ikut.”
“Kalau aku marah?”
“Aku akan mendengarkan.”
Aku menoleh ke jendela. Ia selalu memiliki jawaban, tetapi malam itu aku mulai memahami bahwa jawaban-jawaban tersebut bukan cara untuk menghindari perasaan. Itu caranya tetap tinggal di dalamnya.
Sebelum turun dari mobil, aku menatapnya sekali lagi.
“Fabian.”
“Ya?”
“Kalau aku membaca kertas itu, apakah semuanya akan berubah?”
“Mungkin cara kamu melihatku akan berubah.”
“Dan cara kamu melihatku?”
“Tidak.”
“Kamu terlalu yakin.”
“Aku sudah melihatmu dalam banyak versi.”
Aku menghela napas. “Aku baru melihat satu versi dirimu yang paling sedih.”
“Kamu juga sudah melihatku saat gugup, cemburu, dan tidak tahu harus menjawab apa.”
Aku tersenyum kecil. “Kamu jarang tidak tahu harus menjawab apa.”
“Denganmu, itu lebih sering terjadi.”
Aku turun dari mobil. Untuk pertama kalinya malam itu, aku percaya bahwa kami tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari satu sama lain. Kami hanya belum selesai belajar cara mengatakannya.
Di dalam rumah, aku membuka amplop itu sekali lagi, tetapi hanya menyentuh ujung kertasnya. Aku belum sanggup membaca seluruhnya. Namun kali ini aku tidak merasa harus segera memutuskan apakah kenangan itu baik atau buruk.
Aku bisa membiarkannya menjadi kenangan.
Aku bisa membiarkan laki-laki itu menjadi laki-laki yang kucintai sekarang.
Dua hal itu boleh ada bersamaan.
Aku menutup laci, lalu mengirim pesan kepada laki-laki itu bahwa aku sudah masuk rumah. Ia membalas dengan satu kalimat sederhana: Aku senang kamu pulang dengan selamat.
Aku membaca balasannya sampai tertidur.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit reading
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya