Chapter Three

Masa Percobaan Tiga Bulan

POV: Luna Aurora Clarissa

Aku membaca ulang pesan dari laki-laki itu sambil berdiri di depan rak buku, seolah jawaban yang tepat mungkin tersembunyi di antara novel-novel yang belum selesai kubaca.

Kalau Anda salah paham, saya akan menjelaskannya.

Siapa yang membalas pesan seperti itu?

Laki-laki normal akan menulis, “Jangan khawatir,” atau mengirim emoji tertawa. Laki-laki yang ingin terlihat menarik mungkin akan menjawab, “Salah paham saja terus.” Ia memilih terdengar seperti seseorang yang siap menghadiri rapat evaluasi perasaan.

Masalahnya, cara itu justru membuatku ingin membalas.

Aku mengetik beberapa kalimat, menghapusnya, lalu mengirim pesan paling aman yang bisa kubuat.

Aku: Besok malam Anda luang?

Jawabannya datang tiga menit kemudian.

Mas Fabian: Saya luang. Apakah Anda ingin bertemu?

Aku menatap layar. Ia benar-benar tidak akan mengambil kesimpulan sendiri. Bahkan ketika aku sudah membuka pintu, ia masih menunggu aku mengundangnya masuk.

Aku: Saya hanya ingin memastikan jadwal Anda tidak terlalu padat.

Mas Fabian: Jadwal saya bisa diatur. Keinginan Anda yang lebih penting.

Aku meletakkan ponsel di atas rak.

“Kenapa harus bicara seperti itu?” keluhku kepada ruangan kosong.

Mama menemukan aku lima menit kemudian dalam keadaan masih menatap layar.

“Bagaimana pertemuannya?”

“Tidak buruk.”

“Kalau tidak buruk, berarti bagus.”

“Jangan berlebihan.”

Mama tersenyum seolah sudah tahu semuanya. “Keluarga mereka mengusulkan masa perkenalan tiga bulan. Kalian boleh menentukan sendiri seberapa sering bertemu. Tidak ada jadwal yang dipaksakan.”

Aku mengambil ponsel lagi. “Tiga bulan itu cukup lama.”

“Untuk memilih pasangan seumur hidup, tiga bulan terlalu singkat.”

Kalimat itu membuatku berhenti mengeluh.

Aku tidak pernah merasa keberatan dengan perjodohan ini karena sejak awal aku tidak memiliki gambaran pasangan ideal. Aku hanya tidak ingin mengecewakan orang tua. Kalau mereka yakin keluarga Asher baik, aku bisa mencoba percaya.

Tetapi setelah bertemu laki-laki itu, persoalannya berubah. Ia tidak meminta kepercayaanku. Ia bahkan tidak berusaha memenangkan persetujuanku. Ia hanya duduk di depanku, mendengarkan, lalu meninggalkan ruang yang cukup luas untuk membuatku pergi.

Orang seperti itu biasanya lebih sulit ditolak.

Malam berikutnya, kami bertemu di sebuah restoran kecil yang kupilih setelah mempertimbangkan tiga tempat dan menolak semuanya karena parkirnya sulit. Ia datang tepat waktu, membawa payung, meskipun langit sangat cerah.

“Anda selalu membawa payung?” tanyaku setelah duduk.

“Sering.”

“Karena trauma kehujanan?”

“Karena saya tidak suka orang yang saya antar kehujanan.”

Aku menatapnya.

Ia membuka menu. “Ada yang ingin Anda pesan?”

Aku belum memutuskan apakah kalimat tadi adalah bentuk perhatian atau cara halus membuatku diam.

Kami menyusun aturan masa perkenalan sambil menunggu makanan. Aturan pertama: kami boleh bertemu sebanyak yang kami mau, tetapi tidak perlu memaksakan percakapan setiap hari. Aturan kedua: kami akan mengatakan jika merasa tidak nyaman. Aturan ketiga: keputusan akhir bukan milik keluarga.

“Aturan keempat,” kataku.

Ia mengangkat pandangan. “Apa?”

“Jangan terlalu serius.”

“Saya tidak merasa sedang serius.”

“Mas sedang menyusun peraturan perjodohan di restoran.”

“Itu karena Anda meminta.”

“Saya meminta aturan keempat, bukan notulen rapat.”

Ia menutup menu. “Baik. Aturan keempat: kita boleh mengubah semua aturan ini kapan pun.”

“Itu baru bagus.”

Untuk pertama kalinya, aku merasa kami sedang membuat sesuatu yang benar-benar milik kami.

Aku membuka aplikasi catatan di ponsel dan menulis judul besar: Tiga Bulan Mengenal Calon Suami. Ia melihat layar itu dari seberang meja.

“Anda benar-benar membuat catatan?”

“Tentu. Saya harus mengumpulkan data.”

“Data apa?”

“Kebiasaan buruk, tingkat kesabaran, potensi menjadi menyebalkan setelah menikah.”

“Bagaimana hasil sementara?”

Aku pura-pura menimbang. “Terlalu tenang. Berbahaya ketika sedang membalas godaan. Memiliki kecenderungan menjawab pertanyaan dengan cara yang membuat lawan bicara kehilangan pertanyaan berikutnya.”

“Apakah ada sisi positif?”

“Belum saya putuskan.”

Ia menerima jawaban itu dengan anggukan. “Saya akan berusaha memperbaiki penilaian.”

“Jangan. Kalau Mas terlalu sempurna, data saya menjadi tidak menarik.”

“Jadi Anda lebih suka saya punya kekurangan?”

“Saya lebih suka menemukan sendiri.”

Ia terdiam sejenak, kemudian berkata, “Kalau begitu, saya akan memberi tahu ketika Anda bertanya.”

Aku tidak menyangka kalimat sederhana itu akan membuatku merasa aman. Ia tidak menjanjikan bahwa dirinya tidak pernah marah, tidak pernah gagal, atau tidak pernah membuat keputusan buruk. Ia hanya mengatakan bahwa aku tidak perlu menebak-nebak sendirian.

Setelah makan, kami berjalan lebih lambat dari yang diperlukan menuju toko buku. Aku sengaja berhenti di setiap rak, mengangkat buku dengan sampul menarik, lalu membaca sinopsisnya seolah tidak memperhatikan bahwa ia menungguku tanpa keluhan. Dua kali aku bertanya apakah ia bosan.

“Belum,” jawabnya.

“Mas tidak perlu menjawab cepat.”

“Saya tidak sedang berusaha menyenangkan Anda.”

“Lalu?”

“Saya memang tidak bosan.”

Aku menunduk melihat buku di tangan, tetapi tetap tidak bisa menyembunyikan senyum.

Di kasir, aku baru sadar bahwa ia sudah membayar buku yang kupilih tanpa bertanya. Aku langsung memprotes, tetapi ia hanya berkata bahwa hadiah pertama tidak perlu menunggu tanggal khusus.

“Ini bukan hadiah,” kataku. “Ini suap.”

“Kalau suap membuat Anda membaca buku lebih banyak, saya tidak keberatan.”

Aku menyimpan buku itu ke dalam tas dengan hati-hati, berusaha tidak terlihat terlalu senang.

Percakapan malam itu mengalir lebih mudah. Aku bercerita tentang pekerjaanku, tentang penulis yang mengirim revisi hanya dengan satu koma yang berubah, tentang kebiasaanku membeli buku karena sampulnya cantik. Ia menceritakan studio yang sedang menangani proyek rumah kecil untuk keluarga muda.

Ia tidak banyak bicara, tetapi ketika bicara, ia mengingat detail yang pernah kusebutkan.

“Anda lebih suka cerita yang akhirnya bahagia, bukan?” tanyanya.

“Saya suka cerita yang membuat pembaca percaya bahwa kebahagiaan itu pantas diperjuangkan.”

“Apakah Anda memperjuangkannya?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi aku tidak langsung menjawab.

“Saya sedang mencoba,” kataku.

Ia mengangguk. “Bagus.”

“Bagus apanya?”

“Berarti saya tidak datang terlambat.”

Aku menatapnya, berusaha mencari senyum yang menandakan ia bercanda. Tidak ada. Wajahnya tenang, tetapi telinganya sedikit memerah.

Aku terdiam selama tiga detik penuh.

Tiga detik yang sangat menyebalkan.

“Mas,” kataku, “kalau begini caranya, saya bisa mengira Mas memang tertarik.”

“Saya memang tertarik.”

Jawabannya membuatku kehilangan selera pada makanan selama beberapa saat.

Ia tidak terburu-buru menambahkan apa pun. Ia hanya membiarkan kalimat itu berada di antara kami, sejelas meja, piring, dan cahaya lampu di atas kepala.

Setelah makan, ia mengantarku ke toko buku di seberang jalan karena aku mengatakan ingin melihat edisi baru sebuah novel. Ia tidak masuk terlalu jauh ke dalam. Ia menunggu di dekat pintu, memberi ruang untukku berkeliling, lalu membantu membawa dua kantong yang awalnya kukatakan bisa kubawa sendiri.

“Anda tidak harus selalu membuktikan bisa melakukan semuanya,” katanya.

“Saya memang bisa.”

“Saya tahu.”

“Lalu mengapa tetap dibantu?”

“Karena saya ingin.”

Kalimat itu lagi.

Aku mulai curiga laki-laki itu mempunyai gudang khusus berisi jawaban singkat yang membuat orang lain tidak bisa membantah.

Di dalam mobil, sebelum turun, aku menyerahkan satu buku kepadanya.

“Baca ini.”

Ia melihat sampulnya. “Buku cinta?”

“Kita harus mulai dari bahan penelitian.”

“Apakah saya harus membuat laporan?”

“Tentu. Sertakan penilaian tentang adegan romantisnya.”

Ia menyimpan buku itu di kursi sebelahnya. “Baik. Tapi saya mungkin lebih tertarik pada penelitian langsung.”

Aku memegang gagang pintu tanpa segera membukanya.

“Mas Fabian.”

“Ya?”

“Kalau penelitian langsungnya terlalu bagus, saya bisa lupa tujuan awal kita.”

Ia menatapku, dan untuk sesaat aku melihat sesuatu yang lebih hangat dari biasanya di matanya.

“Kalau begitu,” katanya, “kita pastikan tujuan awalnya selalu jelas.”

Aku turun dari mobil dengan wajah panas dan keyakinan baru: tiga bulan mungkin terlalu lama.

Atau justru sangat berbahaya.