Chapter Twenty One
Kali Ini Aku yang Melamar
POV: Luna Aurora Clarissa
Aku sudah tiga hari memikirkan satu hal yang sama.
Bukan tentang gaun yang harus kupakai untuk makan malam keluarga. Bukan juga tentang pesan singkat Fabian yang hanya berbunyi, “Jangan lupa makan siang,” tetapi berhasil membuatku tersenyum sepanjang sore.
Aku memikirkan sebuah cincin.
Bukan karena Fabian belum memberiku cincin. Cincin pertunangan kami sudah tersimpan manis di jari manisku, berkilau setiap kali aku mengangkat tangan. Masalahnya, cincin itu datang sebagai bagian dari rencana orang tua kami. Aku ingin punya sesuatu yang datang dariku. Sesuatu yang mengatakan bahwa kali ini, aku memilihnya dengan sadar.
Aku ingin melamar Fabian.
Kalimat itu terdengar gila bahkan di kepalaku sendiri. Aku, yang dulu menerima perjodohan karena merasa siapa pun akan baik-baik saja, sekarang sibuk mencari cara agar laki-laki paling baik yang pernah kukenal mau menikah denganku lebih cepat.
“Kalau mau melamar, jangan sambil makan mi instan,” kata Clara dari seberang meja.
Aku menelan mi yang terlalu panas dan menunjuknya dengan garpu. “Aku sedang menyusun strategi.”
“Strategimu dari tadi cuma memandangi toko perhiasan di ponsel.”
“Itu bagian dari riset.”
“Riset apa?”
“Riset ukuran jari calon suami.”
Clara menatapku lama, lalu menghela napas. “Luna, Fabian sudah tahu ukuran cincinmu. Dia bahkan tahu kamu tidak suka batu yang terlalu besar karena katanya mengganggu saat mengetik.”
“Itu justru masalahnya. Aku tidak tahu ukuran jarinya.”
“Tanya.”
Aku mendengus. “Kalau aku tanya, kejutan hilang.”
“Kalau kau bertanya sambil meraba tangannya, mungkin dia malah senang.”
Aku langsung mengetik pesan.
Aku: Fab, ukuran jarimu berapa?
Pesan itu kubaca tiga kali sebelum akhirnya kuhapus.
Aku: Kalau aku kasih cincin, kamu mau?
Hapus lagi.
Aku: Tangan kamu bagus, ya. Ukurannya berapa?
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Clara tertawa sampai hampir tersedak.
“Kau terlalu berani saat menggoda, tapi mendadak pengecut saat harus jujur,” katanya.
“Aku bukan pengecut. Aku sedang menjaga unsur kejutan.”
Ponselku bergetar.
Fabian: Kenapa mau tahu ukuran jariku?
Aku menatap pesan itu dengan curiga. Ia pasti melihat pesan yang tadi belum sempat kukirim. Atau mungkin memang punya kemampuan membaca pikiran.
Aku: Mau belikan sarung tangan.
Fabian: Cuaca sedang panas.
Aku: Sarung tangan untuk masa depan.
Fabian: Kalau masa depanmu bersamaku, aku tidak keberatan menerima apa pun.
Aku berhenti bernapas selama dua detik.
Clara merebut ponselku, membaca pesan itu, lalu menepuk meja. “Dia membalasmu dengan satu kalimat dan kau langsung tumbang.”
“Aku tidak tumbang.”
“Kau memeluk bantal.”
Aku baru sadar lengan kiriku memang sudah melingkari bantal sofa.
Malam itu, aku meminta Fabian menemuiku di taman kecil belakang rumah. Aku bilang ingin membicarakan sesuatu yang penting. Ia datang tepat waktu, mengenakan kemeja biru tua dan celana panjang hitam. Rambutnya masih sedikit basah, mungkin baru selesai mandi. Aku benci betapa mudahnya laki-laki itu terlihat sempurna tanpa berusaha.
“Kamu gugup,” katanya setelah duduk di sampingku.
“Tidak.”
“Kakimu bergerak sejak aku datang.”
Aku memaksa kedua kaki diam. “Itu kebiasaan.”
“Kebiasaan yang muncul setiap kali kamu ingin mengatakan sesuatu yang penting.”
Aku menoleh. “Kamu mengamatiku sebanyak itu?”
Fabian menatapku dengan tenang. “Aku mengamati semua hal tentangmu.”
Jantungku kembali melakukan hal yang tidak sopan.
Aku mengeluarkan kotak kecil dari tas. Fabian langsung melihatnya, tetapi tidak bertanya. Tentu saja. Ia terlalu sopan untuk merusak kejutan yang bahkan belum berhasil kubangun dengan baik.
“Aku tahu perjodohan ini dimulai dari keluarga kita,” kataku. “Aku tahu kamu sudah menyukaiku sebelum aku mengenalmu. Dan aku tahu selama ini kamu tidak pernah memaksaku.”
Fabian diam, memberi ruang.
“Tapi sekarang aku ingin mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kemauan siapa pun.” Aku membuka kotak itu. Di dalamnya ada cincin sederhana dari perak, dengan garis tipis berwarna biru gelap di bagian tengah.
Fabian menatap cincin itu, lalu menatapku.
“Aku ingin menikah denganmu,” kataku. “Bukan karena orang tua kita menjodohkan kita. Bukan karena kamu pilihan yang aman. Aku ingin menikah denganmu karena hidupku terasa lebih baik ketika kamu ada di dalamnya.”
Ia masih diam.
Aku mulai panik. “Kalau kamu perlu waktu, aku bisa—”
“Luna.”
Nada suaranya menghentikanku.
“Aku sudah memilihmu jauh sebelum keluargamu sempat memperkenalkan namamu kepadaku.”
Aku menahan napas.
“Tapi aku tetap ingin mendengar pilihanmu sendiri.”
Fabian mengambil cincin itu. Ia tidak langsung memakainya. Ia memutar benda kecil itu di antara jari-jarinya, seperti sedang memastikan bahwa momen ini benar-benar terjadi.
“Boleh aku menjawab sekarang?” tanyanya.
“Kalau jawabannya tidak, aku akan pura-pura tidak mendengar.”
Sudut bibirnya naik. “Aku mau.”
Sesederhana itu. Dua kata yang membuat semua kecemasanku meleleh.
Ia menyodorkan tangan kanannya. Aku memasangkan cincin itu di jarinya. Ukurannya sedikit longgar, tetapi tidak sampai jatuh.
“Aku salah ukur,” gumamku.
“Tidak apa-apa.”
“Kalau besok jatuh di selokan, aku akan terjun mengambilnya.”
“Jangan.”
“Kenapa? Kamu takut aku basah?”
Fabian meraih tanganku dan mencium punggungnya. “Aku takut harus ikut terjun.”
Aku menatapnya, lalu tertawa kecil. “Berarti kamu akan tetap ikut?”
“Aku akan ikut ke mana pun kamu pergi.”
Aku mencondongkan tubuh, sengaja mendekat sampai bahu kami bersentuhan. “Termasuk ke kamar setelah kita menikah?”
Fabian menoleh. Tatapannya tetap tenang, tetapi telinganya mulai memerah.
“Luna.”
“Apa? Aku cuma memastikan komitmenmu.”
Ia mendekat, cukup dekat sampai suaranya menjadi bisikan. “Kalau kamu terus menguji komitmenku seperti itu, pernikahan kita mungkin harus dipercepat.”
Aku kehilangan semua kata-kata yang sudah kusiapkan.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa melamar Fabian bukan berarti aku menang. Itu berarti kami akhirnya berdiri di sisi yang sama, sama-sama memilih, sama-sama tidak ingin mundur.
Aku menggenggam tangannya. Cincin biru gelap itu memantulkan cahaya lampu taman.
“Fabian.”
“Hm?”
“Aku benar-benar mencintaimu.”
Ia membalik telapak tanganku dan mengaitkan jari kami.
“Aku tahu,” katanya.
Aku menyipit. “Sombong.”
“Bukan. Kamu terlalu sering mengatakannya dengan cara yang vulgar.”
Aku tertawa, lalu menyandarkan kepala di bahunya.
Kali ini, bukan keluarga kami yang membawa kami menuju masa depan. Kami sendiri yang berjalan ke sana.
Sebelum kami pulang, Fabian memotret tangan kami yang saling menggenggam dan mengirimkannya ke grup keluarga. Pesan masuk bertubi-tubi: tiga emoji hati dari ibuku, ucapan selamat dari ibunya, dan satu kata “Akhirnya” dari ayahku.
“Mereka sudah tahu rencana kita?” tanyaku.
“Aku memberi tahu mereka setelah kamu mengajakku ke taman.”
“Jadi kamu tidak benar-benar terkejut?”
“Aku terkejut dengan tenang.”
Aku memukul bahunya. “Kamu menghancurkan momen dramatis yang sudah kusiapkan.”
Fabian menggenggam jariku lagi. “Momen itu tetap milikmu.”
Aku menatap cincin di tangannya. Ukurannya sedikit longgar, garis birunya tidak terlalu mencolok, dan bentuknya jauh dari sempurna. Namun ia memakainya tanpa ragu.
“Besok kita perbaiki ukurannya,” kataku.
“Tidak perlu.”
“Nanti jatuh.”
“Kalau jatuh, aku akan mengambilnya.”
“Kalau hilang?”
Ia menatapku. “Aku masih punya kamu.”
Aku menempelkan dahi ke bahunya. “Jangan terlalu manis.”
“Kamu yang meminta jawaban.”
“Aku meminta cincin, bukan serangan balik.”
“Kamu mendapat keduanya.”
Malam itu, aku pulang membawa kepastian yang tidak pernah bisa diberikan oleh perjodohan mana pun. Fabian bukan sekadar laki-laki yang disiapkan untukku. Ia adalah orang yang kupilih, dan yang memilihku kembali.
Untuk pertama kalinya, aku tidak takut pada masa depan. Aku justru ingin segera sampai di sana bersamanya.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar reading
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya