Chapter Fifteen
Perempuan yang Terlalu Berani
POV: Luna Aurora Clarissa
Aku memutuskan bahwa setelah drama Elena dan rahasia rumah sakit, aku berhak mendapatkan satu malam untuk membuat laki-laki itu kehilangan ketenangan.
Kesempatannya datang melalui acara pembukaan proyek studio. laki-laki itu meminta aku menemaninya sebagai tamu, lalu menghabiskan lima menit menjelaskan bahwa aku tidak harus datang jika sedang lelah.
“Kalau kamu terus mengatakan aku boleh tidak datang, aku akan mengira kamu tidak ingin ditemani,” kataku.
“Aku ingin ditemani.”
“Bagus. Jangan ulangi peringatan itu.”
Acara tersebut diadakan di galeri kecil dengan lampu hangat, musik pelan, dan terlalu banyak orang yang menganggap berdiri sambil memegang gelas sebagai bentuk percakapan. Aku mengenakan gaun hitam sederhana. laki-laki itu memakai jas gelap tanpa dasi.
Ketika turun dari mobil, ia menatapku sedikit lebih lama.
“Apa?” tanyaku.
“Tidak ada.”
“Kamu baru saja melihatku seperti sedang memilih material bangunan.”
“Aku sedang memastikan sesuatu.”
“Apa?”
“Aku sebaiknya tidak membiarkanmu berjalan sendirian malam ini.”
Aku tersenyum. “Cemburu?”
“Belum.”
“Tunggu saja.”
Di dalam galeri, beberapa orang menyapa laki-laki itu. Aku memperkenalkan diri, tersenyum, dan menggandeng lengannya lebih erat setiap kali ada perempuan yang berbicara terlalu dekat dengannya.
laki-laki itu tidak berkomentar.
Aku menganggap itu izin.
Seorang pria bernama Armand, klien lama studio, datang membawa dua gelas minuman. Ia memujiku karena terlihat berbeda dari foto yang pernah dilihatnya di situs penerbit.
“Kalau tahu calon istri Fabian secantik ini, saya akan mengundang kalian sejak proyek pertama,” katanya.
“Saya bukan sekadar calon,” jawabku.
Armand tertawa. “Wah, sudah yakin?”
“Saya sedang memastikan Fabian tidak punya kesempatan melarikan diri.”
Aku mengatakannya sambil menatap laki-laki itu.
Ia tetap tenang, tetapi jarinya menekan ringan sisi gelas.
Aku hampir bersorak.
Setelah Armand pergi, laki-laki itu menunduk kepadaku.
“Kamu menikmati ini.”
“Sangat.”
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
“Membantu reputasimu.”
“Dengan mengumumkan bahwa aku tidak punya kesempatan melarikan diri?”
“Bukankah itu benar?”
“Belum ada surat perjanjian.”
“Aku bisa membuatnya malam ini.”
laki-laki itu menatapku. “Kamu membawa pulpen?”
“Aku membawa sesuatu yang lebih penting.”
“Apa?”
Aku mendekat, lalu berbisik, “Keberanian.”
Ia diam.
Aku tersenyum puas. Akhirnya.
Seorang perempuan dari tim interior menghampiri laki-laki itu untuk membicarakan pencahayaan pameran. Aku mengenalinya sebagai Elena. Ia menyapaku dengan ramah, dan aku membalas dengan keramahan yang sedikit terlalu manis.
“Luna,” kata Elena, “aku senang akhirnya bertemu lagi.”
“Aku juga. Fabian sering menyebutmu.”
laki-laki itu menoleh kepadaku.
“Tidak sering,” katanya.
“Cukup sering untuk membuatku penasaran.”
Elena menahan senyum. “Kalau begitu, saya akan berhati-hati.”
“Tidak perlu. Saya sudah memasang tanda.”
Aku menarik laki-laki itu lebih dekat dengan memegang sisi jasnya.
Elena melihat gerakanku, lalu pamit dengan sopan. Begitu ia pergi, laki-laki itu menunduk dan berkata, “Tanda apa?”
“Tanda bahwa kamu sedang diambil.”
“Aku belum mendengar pengumuman resminya.”
“Kamu mau pengumuman?”
“Aku ingin tahu seberapa berani kamu.”
Aku berdiri berjinjit dan membisikkan sesuatu yang lebih vulgar daripada seharusnya di tempat umum.
Wajah laki-laki itu tetap tenang, tetapi telinganya memerah.
Aku hampir tersandung karena terlalu bahagia.
“Aku menang,” kataku.
“Belum.”
“Kamu bahkan memerah.”
“Aku sedang bersabar.”
“Itu alasanmu setiap kali kalah.”
laki-laki itu mengambil gelas dari tanganku dan meletakkannya di meja. Kemudian ia membungkuk mendekati telingaku.
“Kalau kamu terus mengatakan hal seperti itu, aku akan mengantarmu pulang lebih awal.”
Aku menelan ludah. “Itu ancaman?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Peringatan agar kamu tidak terkejut kalau aku membalas.”
Aku tidak lagi merasa menang.
Kami bertahan di acara itu sampai hampir selesai. Aku mencoba mengembalikan keberanianku dengan menggandeng lengannya, menyandarkan kepala ke bahunya, dan memperkenalkan diri kepada semua orang sebagai perempuan yang sedang mengawasi laki-laki itu.
Ia membiarkanku.
Namun saat kami tiba di mobil, ia membuka pintu untukku, menunggu sampai aku duduk, lalu menunduk di samping jendela.
“Malam ini menyenangkan?”
Aku mengangguk. “Sangat.”
“Bagian mana?”
“Saat kamu memerah.”
“Bukan saat kamu mengumumkan bahwa aku sedang diambil?”
“Itu juga.”
laki-laki itu memegang tepi pintu mobil. “Aku tidak keberatan kamu menggoda.”
“Aku tahu.”
“Tapi jangan mengira aku tidak akan membalas.”
Aku menatapnya dari balik kaca.
“Kapan kamu akan membalas?”
Ia tersenyum tipis. “Saat kamu benar-benar siap mendengarnya.”
“Aku selalu siap.”
“Tidak.”
“Kamu tidak boleh menjawab begitu.”
“Tapi itu benar.”
Aku menarik napas, lalu tersenyum. “Kalau begitu, aku akan terus berlatih.”
laki-laki itu menutup pintu mobil, tetapi sebelum mundur, ia berkata, “Aku akan menunggu.”
Sepanjang perjalanan pulang, aku memikirkan kalimat itu.
Dulu aku mengira laki-laki itu adalah laki-laki yang harus kukejar karena ia terlalu tenang untuk memperlihatkan keinginannya.
Sekarang aku mulai sadar bahwa ia tidak pernah benar-benar menjauh.
Ia hanya berdiri di sana, menunggu sampai aku cukup berani untuk datang sendiri.
Di rumah, aku langsung membuka chat dengan Nara.
Aku: Aku berhasil membuat Fabian memerah.
Nara: Kamu berhasil membuatnya memerah atau membuatnya ingin mengantarmu pulang lebih awal?
Aku: Keduanya mungkin.
Nara: Apa yang kamu katakan?
Aku menatap pesan itu, lalu menghapus jawaban pertama yang terlalu jujur.
Aku: Hal yang hanya boleh dibicarakan orang dewasa.
Nara: Kalian belum menikah.
Aku: Justru itu yang membuatnya menarik.
Nara mengirim tiga tanda seru dan satu peringatan agar aku tidak membuat keputusan besar hanya karena laki-laki itu memiliki senyum yang jarang terlihat.
Aku menyimpan ponsel dan berjalan ke depan cermin. Wajahku masih panas. laki-laki itu tidak banyak bicara malam ini, tetapi setiap kali membalas, ia berhasil mengambil kembali kendali percakapan. Aku sudah terbiasa dengan kelembutannya. Aku belum terbiasa ketika kelembutan itu berubah menjadi keberanian.
Ponselku berbunyi lagi.
Fabian: Sudah sampai?
Aku tersenyum.
Aku: Sudah. Kamu masih memikirkan aku?
Fabian: Aku sedang mencoba tidur.
Aku: Itu bukan jawaban.
Fabian: Aku sedang memikirkan caramu berdiri di depan semua orang dan mengatakan aku tidak punya kesempatan melarikan diri.
Aku menahan napas.
Aku: Kamu menyesal?
Fabian: Tidak.
Aku: Takut?
Fabian: Sedikit.
Aku: Akhirnya jujur juga.
Fabian: Aku lebih takut kalau kamu berhenti menggoda.
Aku duduk di ujung kasur.
Aku: Kalau aku berhenti, kamu akan mencariku?
Fabian: Aku akan mencarimu sebelum kamu sempat merasa menang.
Aku membaca pesan itu sambil menekan tangan ke dada. Selama ini aku mengira aku yang menyeret laki-laki itu keluar dari ketenangannya. Malam ini aku menyadari bahwa ia membiarkanku merasa memimpin karena ingin melihat seberapa jauh aku berani datang.
Aku mengirim satu pesan terakhir.
Aku: Kalau begitu, jangan terlalu lama menunggu.
Jawabannya hanya datang setelah beberapa detik.
Fabian: Aku sudah menunggu cukup lama.
Aku tidak bertanya maksudnya.
Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa di balik semua godaan dan jawaban skak mat-nya, laki-laki itu sedang menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang ia katakan.
Aku membuka lemari dan mengambil gaun yang kupakai malam itu. Ada sedikit noda minuman di bagian lengan, tetapi aku tidak langsung mencucinya. Aku menyentuh kain itu sambil mengingat cara laki-laki itu menatapku ketika aku menarik jasnya.
Aku menang malam ini, atau setidaknya begitulah yang ingin kupercayai.
Namun kemenangan paling menyenangkan bukan saat laki-laki itu memerah. Kemenangan itu adalah ketika ia berkata tidak takut kehilangan godaanku.
Mungkin aku tidak perlu terus mengejarnya sekeras ini.
Mungkin cukup dengan tetap datang, tetap bertanya, dan tetap membuatnya tersenyum.
Untuk sementara, itu sudah cukup bagiku.
Setidaknya sampai pertemuan berikutnya yang sudah kutunggu.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani reading
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya