Chapter Twenty Three
Bukan Lagi Perjodohan
POV: Luna Aurora Clarissa
Pagi itu, aku bangun sebelum alarm berbunyi.
Hal pertama yang kupikirkan bukan riasan, bukan gaun, bahkan bukan kemungkinan aku tersandung di depan semua orang. Aku memikirkan Fabian.
Ia mungkin sudah bangun. Mungkin sedang memeriksa jadwal, memastikan semua orang hadir, atau mengirim pesan kepada vendor agar tidak ada satu pun detail yang melenceng. Fabian selalu begitu. Tenang, teliti, dan menyebalkan karena hampir selalu benar.
Ponselku bergetar.
Fabian: Sarapan.
Aku tersenyum.
Aku: Aku sedang bersiap menjadi istrimu. Kamu masih sempat menyuruhku makan?
Fabian: Justru karena itu.
Aku: Kalau aku tidak makan, kamu akan menyuapiku?
Fabian: Kalau perlu.
Aku: Janji?
Fabian: Luna.
Aku: Aku anggap iya.
Aku menaruh ponsel di dada, tertawa sendiri. Bahkan di hari pernikahan kami, ia masih bisa membuatku kehilangan fokus dengan dua kata.
Di ruang rias, Clara dan ibuku sibuk memastikan tidak ada helaian rambut yang keluar dari tempatnya. Aku duduk diam selama hampir lima menit sebelum akhirnya tidak tahan.
“Kalau aku bergerak sedikit, semuanya akan rusak?” tanyaku.
Penata rias mengangguk serius. “Sedikit.”
“Kalau aku ingin garuk hidung?”
“Tahan.”
“Kalau ingin bersin?”
“Jangan.”
Aku menatap bayanganku di cermin. “Menikah ternyata penuh larangan.”
Clara berdiri di belakangku sambil membetulkan ujung veil. “Kau masih bisa membatalkan.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Aku sudah terlanjur menyukai calon suamiku.”
Ibuku tersenyum dari sudut ruangan. “Kau tidak terlanjur. Kau memilih.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Aku memang memilih.
Dulu, aku menerima perjodohan karena tidak punya alasan untuk menolak. Fabian adalah nama yang diberikan kepadaku, laki-laki yang belum kukenal, masa depan yang terasa seperti tugas keluarga. Aku tidak membayangkan akan menunggu pesan darinya, mencari alasan untuk bertemu, atau merasa ada bagian dari hariku yang kurang ketika ia tidak berada di dekatku.
Sekarang aku tahu bedanya menerima dan memilih.
Menerima berarti membiarkan sesuatu terjadi.
Memilih berarti berdiri di hadapannya dan berkata, aku ingin ini.
Saat pintu ruangan dibuka, jantungku berdegup lebih cepat. Ayah menungguku di luar. Ia mengulurkan lengan, lalu tersenyum bangga.
“Siap?” tanyanya.
“Tidak.”
Ayah tertawa kecil. “Jawaban yang jujur.”
“Tapi aku mau.”
“Itu yang penting.”
Kami berjalan menuju ruangan akad. Aku melihat Fabian berdiri di depan, mengenakan setelan gelap yang sederhana. Ia tampak tenang, tetapi aku tahu ia cukup gugup untuk mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
Ketika pandangan kami bertemu, semua suara di sekeliling menjadi jauh.
Aku melihat laki-laki yang dulu diam-diam memilihku. Laki-laki yang membiarkanku bergerak sesuai kecepatanku. Laki-laki yang tidak pernah menggunakan kebaikannya untuk menuntut balasan.
Fabian mengangkat dagu sedikit, seolah bertanya apakah aku baik-baik saja.
Aku mengangguk.
Aku baik-baik saja. Aku menuju orang yang tepat.
Akad berlangsung singkat, tetapi setiap kata terasa berat dan jelas. Ketika Fabian mengucapkan janji dengan suara tenang, aku menunduk agar tidak menangis terlalu cepat.
Lalu seseorang meminta kami mengulang tanda tangan karena tinta di lembar pertama sedikit melebar.
Aku menoleh kepada Fabian. “Kita masih punya kesempatan kabur.”
“Kamu mau?”
“Tidak. Aku sudah berdandan terlalu lama.”
Ia menahan senyum.
Setelah semuanya selesai, kami berdiri menerima ucapan selamat. Ada pelukan, foto, doa, dan terlalu banyak orang yang ingin menyentuh bahu kami. Aku mulai merasa kepalaku penuh ketika Fabian tiba-tiba meraih tanganku.
“Kita istirahat sebentar,” katanya.
Ia tidak meminta izin kepada siapa pun. Ia hanya membawaku ke ruangan kecil yang sudah kami siapkan.
Begitu pintu tertutup, aku mengembuskan napas panjang.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
“Aku baru sadar kita sudah menikah.”
Fabian melepas jasnya dan menyampirkannya di kursi. “Aku juga.”
“Kamu kelihatan terlalu tenang.”
“Aku sedang berusaha tidak pingsan.”
Aku menatapnya. “Kamu?”
“Aku.”
“Laki-laki paling stabil di dunia hampir pingsan karena aku?”
“Bukan karena kamu.”
Aku mengangkat alis.
“Karena aku sangat bahagia.”
Kata-kata itu membuat dadaku hangat. Aku mendekat, lalu merapikan dasinya yang sedikit miring.
“Fabian.”
“Hm?”
“Sekarang aku boleh memanggilmu suamiku?”
Ia menatapku cukup lama. “Kamu sudah memanggilku calon suami sejak sebelum aku melamarmu.”
“Itu berbeda.”
“Apa bedanya?”
Aku mendekatkan bibir ke telinganya. “Sekarang aku punya hak resmi untuk mengganggumu.”
Fabian memejamkan mata sebentar. “Kamu tidak membutuhkan hak resmi.”
“Benar juga.”
Ia memegang pinggangku, menarikku lebih dekat. Ciuman kami berlangsung pelan, hangat, dan jauh lebih tenang daripada ciuman pertama kami. Tidak ada ketakutan bahwa salah satu dari kami akan mundur. Tidak ada pertanyaan apakah perasaan ini boleh ada.
Ketika kami berpisah, dahiku masih menempel pada dahinya.
“Aku mencintaimu,” kataku.
“Aku juga.”
“Kamu harus lebih panjang sedikit.”
“Aku mencintaimu, Luna.”
“Nah. Begitu lebih bagus.”
Ia mencubit pinggangku. Aku tertawa, lalu mencium rahangnya.
Dari luar, terdengar ketukan.
“Luna, Fabian, foto keluarga lima menit lagi!” teriak Clara.
Aku menjawab, “Kami sedang sibuk menjadi pengantin!”
“Kalian sudah menjadi pengantin sejak satu jam lalu!”
Fabian menatapku dengan wajah datar. “Temanmu berisik.”
“Kamu tidak boleh mengkritik teman istrinya.”
“Aku belum mengatakan apa-apa.”
“Wajahmu mengatakan.”
Ia menggeleng, tetapi tidak melepaskan tanganku.
Kami kembali ke ruangan utama, menerima lebih banyak ucapan selamat, dan berfoto sampai pipiku pegal. Ketika akhirnya malam tiba dan tamu mulai pulang, aku duduk di samping Fabian di kursi belakang mobil.
Aku melihat cincin di jari kami. Cincin yang ia berikan, lalu cincin yang kuberikan. Dua lingkaran kecil, dua pilihan yang bertemu.
“Fabian.”
“Ya?”
“Kalau orang bertanya, kita menikah karena dijodohkan, kamu akan menjawab apa?”
Ia menggenggam tanganku.
“Aku akan bilang, kami bertemu karena dijodohkan.”
“Lalu?”
“Kami menikah karena memilih.”
Aku tersenyum dan menyandarkan kepala ke bahunya.
Untuk pertama kalinya, kata perjodohan tidak terdengar seperti sesuatu yang mengambil kebebasanku.
Karena pada akhirnya, aku tetap mendapatkan hak paling penting: memilih Fabian.
Dan pilihan itu terasa lebih ringan setiap kali ia menggenggam tanganku.
Aku menoleh kepadanya sekali lagi, lalu tersenyum. Tidak ada keraguan yang tersisa, hanya rasa syukur karena lelaki itu benar-benar menungguku.
Di sampingnya, aku akhirnya merasa benar-benar pulang.
Pulang kepada pilihan yang kami buat sendiri.
Mobil berhenti di depan apartemen. Fabian turun lebih dulu dan membukakan pintuku. Di depan pintu, kami berhenti sebentar. Tidak ada keluarga, fotografer, atau musik. Hanya kami berdua di bawah lampu teras.
“Kita benar-benar pulang sebagai suami istri,” kataku.
Fabian mengeluarkan kunci. “Kita sudah pulang bersama selama ini.”
“Tapi sekarang statusnya resmi.”
“Kamu ingin aku memanggilmu Nyonya Asher?”
Aku menahan senyum. “Tergantung caramu mengucapkannya.”
Ia membuka pintu, tetapi tidak langsung masuk. “Nyonya Asher.”
Suara rendahnya membuat tengkukku merinding.
“Sekali lagi,” pintaku.
“Kita harus masuk.”
“Rumah tidak akan kabur.”
Fabian menatapku. “Nyonya Asher, kalau kamu terus meminta aku mengulanginya dengan nada seperti itu, kita tidak akan sempat melepas sepatu.”
Aku menggigit bibir menahan tawa. “Berarti aku harus masuk dulu.”
Kami melangkah ke dalam rumah baru kami. Ruangannya masih dipenuhi bunga dan hadiah, tetapi aroma kayu dan kopi terasa akrab. Aku memeluknya begitu pintu tertutup.
“Terima kasih sudah datang hari ini,” kataku.
“Aku sudah berjanji.”
“Kamu selalu menepati janji.”
“Aku akan terus berusaha.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku membiarkan air mata jatuh tanpa berusaha menyembunyikannya. Ia memelukku sampai napasku kembali teratur.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan reading
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya