Chapter Two
Nama yang Sudah Lama Kukenal
POV: Fabian Asher
Aku tidak pernah menyangka sebuah nama bisa membuat ruangan terasa berubah.
Pagi tadi, ketika Ibu menyebut nama calon perempuan yang akan diperkenalkan kepadaku, aku hanya mendengarkan sambil memeriksa gambar denah di tablet. Aku sudah terbiasa dengan percakapan semacam itu. Sejak dua tahun terakhir, keluarga sering menyelipkan nama seseorang di antara sarapan dan laporan pekerjaan, seolah pernikahan adalah proyek yang dapat dijadwalkan setelah semua orang menyetujui anggarannya.
Aku selalu menolak dengan sopan.
Bukan karena aku membenci gagasan menikah. Aku hanya tidak pernah menemukan alasan yang cukup kuat untuk meminta seseorang tinggal di dalam hidupku.
Sampai Ibu mengucapkan nama itu.
“Luna Aurora Clarissa,” katanya.
Tanganku berhenti di atas layar.
Aku tahu nama itu. Aku tidak langsung tahu dari mana, karena ingatan tentang perempuan tersebut tidak pernah tersimpan sebagai wajah yang jelas. Ia tersimpan sebagai suara hujan, lampu putih rumah sakit, dan sebuah gelas teh hangat yang diletakkan di sampingku tanpa pertanyaan.
Lima tahun lalu, aku duduk sendirian di lorong rumah sakit. Ayah baru saja meninggal. Aku tidak ingin pulang, tetapi aku juga tidak tahu harus menunggu apa. Semua orang berbicara dengan suara pelan di sekelilingku. Beberapa datang untuk menepuk bahuku. Beberapa datang dengan tatapan iba yang membuatku ingin menghilang.
Perempuan itu tidak melakukan apa-apa selain duduk dua kursi dariku.
Ia sedang menemani seseorang, mungkin ibunya. Aku tidak tahu. Ia memakai jaket tipis, rambutnya diikat asal, dan membawa buku yang tidak pernah dibuka. Setelah beberapa menit, ia pergi ke mesin minuman. Saat kembali, ia meletakkan teh di samping tanganku.
“Tidak perlu diminum sekarang,” katanya. “Tapi nanti mungkin Anda membutuhkannya.”
Aku menatap gelas itu tanpa menjawab.
Ia juga tidak menunggu ucapan terima kasih. Sebelum pergi, ia menyelipkan selembar kertas kecil di bawah gelas. Kalimatnya singkat: Tidak apa-apa kalau hari ini hanya sanggup bertahan.
Aku menyimpan kertas itu selama bertahun-tahun.
Bukan karena aku langsung jatuh cinta. Saat itu aku bahkan tidak tahu namanya. Aku hanya tahu, di tengah hari yang sangat gelap, ada seseorang yang tidak menuntutku menjadi kuat agar pantas dikasihani.
Setelah itu, aku beberapa kali kembali ke rumah sakit dengan alasan yang tidak pernah kuakui. Aku tidak menemukan perempuan itu. Perlahan, hidup bergerak. Aku menyelesaikan kuliah, mendirikan studio, mengurus Ibu, dan belajar menyimpan kertas kecil itu di laci meja kerja tanpa terus-menerus memikirkannya.
Namun aku tidak pernah benar-benar melupakannya.
Ketika Ibu berkata bahwa keluarganya akan datang untuk membicarakan perjodohan, aku meminta waktu satu jam. Bukan untuk mencari alasan menolak, melainkan untuk memastikan aku tidak sedang mengubah ingatan menjadi sesuatu yang lebih besar daripada kenyataan.
Aku menemukan foto yang Ibu kirimkan.
Wajah di foto itu tidak sama persis dengan bayangan yang kusimpan. Rambutnya lebih panjang, matanya lebih berani, dan senyumnya terlihat seperti seseorang yang dapat mengubah percakapan biasa menjadi kekacauan kecil. Tetapi aku tahu cara seseorang memegang gelas, cara kepalanya sedikit miring ketika menilai lawan bicara, dan tatapan yang tidak segera kabur ketika melihat orang sedang kesusahan.
Aku tahu itu dia.
Meski begitu, aku tidak ingin menjadikan perjodohan ini sebagai hadiah yang harus ia terima karena pernah berbuat baik. Aku juga tidak ingin ia mengetahui masa lalu itu pada pertemuan pertama. Ia berhak mengenalku sebagai laki-laki biasa, bukan sebagai seseorang yang menyimpan harapan dari lima tahun lalu.
Karena itu, ketika kami bertemu di kafe sore tadi, aku menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa aku sudah mengenalnya lebih dulu.
Aku tidak berhasil menahan diri dari mengingat semua hal kecil tentangnya.
Ia masih memegang gelas dengan tangan kiri ketika gugup. Ia mengisi keheningan dengan candaan. Ia mengatakan dirinya cukup manis, lalu terlihat terkejut ketika aku menyetujuinya. Ia juga memiliki kebiasaan menatap orang beberapa detik lebih lama daripada seharusnya ketika sedang berusaha menyembunyikan rasa malu.
Aku hampir tersenyum setiap kali ia melakukan itu.
Ketika ia bertanya apakah aku akan tetap melanjutkan proses perkenalan jika dirinya berantakan, aku ingin menjawab bahwa aku sudah melihatnya pada hari yang jauh lebih berantakan daripada yang bisa ia bayangkan. Tetapi jawaban itu akan terlalu berat untuk pertemuan pertama.
Jadi aku berkata bahwa aku lebih takut ia menyembunyikan dirinya.
Itu bukan kalimat yang kurencanakan. Namun ia adalah kebenaran yang paling aman untuk kuberikan.
Aku tidak memerlukan perempuan yang selalu anggun, selalu tenang, atau selalu tahu harus mengatakan apa. Aku ingin seseorang yang dapat membiarkan dirinya sendiri tinggal di dekatku. Seseorang yang boleh bicara terlalu banyak, membeli buku terlalu banyak, lalu menghilang dari chat ketika suasana hatinya buruk tanpa takut aku akan menjadikannya alasan untuk pergi.
Ketika ia meminta pertemuan kedua, aku menjawab terlalu cepat.
Aku tahu itu.
Aku juga tahu ia menyadarinya.
Namun aku tidak menyesal.
Di dalam mobil, setelah ia pergi, aku mengeluarkan ponsel dan membuka percakapan kosong dengan nomornya. Aku mengetik pesan terima kasih, menghapusnya. Mengetik pertanyaan apakah ia sudah sampai, menghapusnya juga.
Aku tidak ingin memburu.
Aku sudah menunggu lima tahun. Aku bisa menunggu beberapa jam lagi.
Di studio, Rendi sempat bertanya mengapa aku terus memeriksa ponsel setelah rapat selesai. Ia berdiri di ambang pintu ruang kerjaku sambil membawa dua gelas kopi, lalu memandang layar yang segera kumatikan.
“Ada kabar penting?”
“Tidak.”
“Kalau tidak penting, mengapa wajahmu terlihat seperti baru menerima kabar bahwa proyek kita disetujui?”
Aku mengambil satu gelas dari tangannya. “Proyek itu memang disetujui.”
“Kemarin.”
Ia selalu terlalu mudah menangkap perubahan kecil. Aku mengenal Rendi sejak kuliah, cukup lama untuk tahu bahwa menyangkal hanya akan membuatnya bertanya lebih banyak.
“Aku sedang mengenal seseorang,” kataku.
Rendi bersiul pelan. “Seseorang yang dijodohkan denganmu?”
“Ibu sudah bercerita?”
“Ibu tidak perlu bercerita. Kamu tiba-tiba datang ke rapat dengan kemeja yang disetrika.”
Aku menatapnya datar. “Kemejaku selalu disetrika.”
“Tidak dengan niat seperti itu.”
Aku tidak membalas. Rendi menatapku beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum lebih lembut.
“Kalau dia membuatmu ingin berusaha, jangan terlalu sibuk mencari alasan untuk terlihat tenang.”
Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi menetap di pikiranku lebih lama daripada yang kuinginkan. Mungkin selama ini aku memang terlalu terbiasa menahan diri, sampai lupa bahwa seseorang tidak akan pernah tahu dirinya dipilih jika aku terus menyembunyikan keinginan.
Ponselku bergetar sebelum aku sempat menyimpannya.
Luna: Saya sampai rumah. Pertemuan hari ini tidak buruk.
Aku membaca pesan itu dua kali. Lalu tiga kali.
Jempolku bergerak sebelum sempat memikirkan jawaban yang aman.
Aku: Syukurlah. Saya juga merasa begitu.
Balasannya datang kurang dari satu menit kemudian.
Luna: Hanya merasa begitu? Saya kira Mas Fabian sudah berharap saya mengajak bertemu lagi.
Aku menatap layar cukup lama sampai pantulan wajahku sendiri terlihat di sana. Perempuan yang dulu meninggalkan teh hangat ternyata tumbuh menjadi seseorang yang menyerang tanpa aba-aba.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku tersenyum tanpa perlu menyembunyikannya.
Aku: Saya memang berharap begitu. Tapi saya tidak ingin membuat Anda merasa terpaksa.
Tanda sedang mengetik muncul, menghilang, lalu muncul lagi.
Luna: Kalau begitu, jangan terlalu baik. Saya bisa salah paham.
Aku mematikan layar sebentar. Kalimat itu terdengar seperti candaan, tetapi aku mengenali pertahanan ketika melihatnya.
Aku mengetik pelan.
Aku: Kalau Anda salah paham, saya akan menjelaskannya.
Kali ini balasannya lebih lama.
Ketika akhirnya datang, hanya ada tiga kata.
Luna: Bahaya juga, ya.
Aku menyimpan ponsel di atas meja.
“Belum seberapa,” gumamku.
Lalu aku mulai memikirkan cara agar pertemuan kedua terasa seperti pilihan, bukan kewajiban—meski diam-diam, aku sudah tahu bahwa aku ingin berada di sana.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal reading
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya