Chapter One
Calon Suami yang Terlalu Tenang
POV: Luna Aurora Clarissa
Aku datang ke kafe itu dengan sebuah keputusan sederhana: bersikap baik selama empat puluh lima menit, menghabiskan minuman, lalu pulang tanpa meninggalkan kesan yang membuat semuanya menjadi rumit.
Bukan karena aku ingin menolak perjodohan ini. Justru sebaliknya. Aku sudah lelah mendengar Mama berkata bahwa hidup tidak harus selalu direncanakan sendirian, sementara Papa selalu menambahkan bahwa keluarga Asher adalah keluarga yang baik. Selama laki-laki yang dipilihkan untukku sopan, tidak menyebalkan, dan tidak memandang istrinya sebagai perabot rumah, aku merasa bisa mencoba.
Siapa pun akan baik-baik saja, pikirku. Selama ia tidak membuat hidupku lebih sulit.
Lalu calon suamiku masuk ke kafe enam menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan, dan aku langsung membenci betapa mudahnya ia membuat standar “tidak menyebalkan” terasa terlalu rendah.
Ia tinggi, mengenakan kemeja biru gelap dengan lengan tergulung rapi sampai siku. Ia berhenti di dekat mejaku, memastikan nama di layar ponselnya sekali lagi, baru kemudian menatapku.
“Luna Aurora Clarissa?”
Suaranya rendah dan tenang. Tidak datar, tetapi seperti seseorang yang selalu tahu kapan ia perlu bicara.
Aku menyandarkan punggung ke kursi. “Kalau saya bilang bukan, Mas Fabian tetap duduk di sini?”
Ada jeda kecil. Satu detik, mungkin dua. Ia tidak tampak bingung. Tidak pula tampak tersinggung.
“Tidak,” jawabnya. “Saya akan minta maaf karena mengganggu.”
Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu tulus.
“Sayangnya saya Luna.”
Ia menarik kursi di depanku. “Senang bertemu dengan Anda.”
“Wah, formal sekali. Kita ini calon suami istri, lho.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya bergerak. Nyaris tidak terlihat, tetapi aku melihatnya. “Baru calon kenalan yang diperkenalkan keluarga. Jangan membuat orang di meja sebelah menyimpulkan terlalu jauh.”
Aku melirik meja sebelah. Sepasang perempuan paruh baya memang sedang berbicara pelan sambil sesekali menoleh ke arah kami. Aku kembali menatapnya, sengaja memasang wajah paling serius.
“Saya tidak keberatan kalau mereka menyimpulkan kita cocok.”
“Saya keberatan kalau Anda merasa harus cocok hanya karena keluarga kita mengatur pertemuan ini.”
Kalimat itu jatuh di antara kami begitu saja. Tidak dramatis, tidak disampaikan dengan ekspresi yang memohon agar aku percaya. Justru karena itulah aku terdiam.
Seorang pelayan datang menghampiri. Ia mempersilakanku memesan dulu. Aku memilih kopi susu dingin, lalu tanpa alasan jelas menambahkan, “Kurang manis. Saya sudah cukup manis, katanya.”
Ia hanya memesan americano panas. Saat pelayan pergi, tatapannya kembali kepadaku dengan ketenangan yang mulai terasa seperti tantangan.
“Itu kata siapa?” tanyanya.
Aku berkedip. “Apa?”
“Katanya Anda sudah cukup manis.”
“Banyak orang.”
“Berarti mereka benar.”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Sial. Itu bukan rayuan yang heboh. Ia bahkan tidak mengubah nada suaranya. Namun wajahku tetap hangat sampai aku memutuskan untuk pura-pura sangat tertarik pada gelas kosong di depanku.
“Mas Fabian,” kataku setelah menemukan keberanianku lagi, “Mas memang hobi bikin orang mati gaya, ya?”
“Tidak.” Ia menyatukan kedua tangan di atas meja. “Saya hanya menjawab pertanyaan.”
Kami mulai dari hal-hal aman. Ia bekerja sebagai arsitek dan mengelola studio kecil bersama dua sahabat kuliahnya. Aku adalah editor di penerbit independen, pekerjaan yang membuatku membaca kisah cinta lebih banyak daripada menjalani kisah cinta sendiri. Ia mendengarkan tanpa menyela, tetapi pertanyaannya selalu tepat: buku apa yang membuatku ingin menjadi editor, bagian pekerjaan mana yang paling sering membuatku kesal, dan mengapa aku lebih suka duduk dekat jendela daripada dekat pendingin ruangan.
Aku tidak sadar sudah menjawab cukup banyak sampai minumanku datang.
Saat pelayan meletakkan gelas di hadapanku, tutupnya longgar. Kopi hampir tumpah ke rokku ketika ia menangkapnya lebih dulu. Tangannya bergerak cepat, menahan gelas dan menarik tisu dari wadah di tengah meja. Tidak ada gerakan berlebihan. Tidak ada kata-kata seperti hati-hati dong. Ia hanya membersihkan titik kopi yang terkena meja, lalu menggeser gelas itu sedikit menjauh dari lenganku.
“Tidak kena?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Bagus.”
Ia menoleh kepada pelayan dan berkata dengan sopan, “Boleh minta tutup yang lebih rapat? Yang ini sepertinya kurang pas.” Tidak ada nada menyalahkan. Pelayan itu mengangguk cepat, tampak lega alih-alih takut dimarahi.
Aku memperhatikan dirinya ketika ia kembali duduk. Kebaikan kecil seperti itu sering kali dibuat orang supaya terlihat baik. Tetapi ia tidak menoleh untuk memastikan aku memperhatikannya. Ia bahkan melanjutkan pembicaraan tentang buku seperti tidak ada yang istimewa terjadi.
“Jadi,” kataku, “kalau saya ternyata berantakan sekali, Mas masih mau melanjutkan proses perkenalan ini?”
Tatapannya menetap padaku. Kali ini lebih lama.
“Berantakan seperti apa?”
“Misalnya suka bicara terlalu banyak. Suka membeli buku padahal belum selesai baca buku yang lama. Kadang malas membalas chat kalau sedang kesal. Dan kalau sudah nyaman, mulut saya agak… tidak punya pagar.”
“Saya sudah menangkap bagian terakhir.”
Aku tertawa. “Nah, itu baru lima belas menit kita kenal. Mas belum lihat versi lengkapnya.”
“Tidak apa-apa.”
“Tidak takut?”
“Tidak.” Ia mengaduk kopinya pelan, lalu kembali menatapku. “Saya lebih takut Anda menyembunyikan diri karena merasa harus terlihat pantas untuk dipilih.”
Aku terbiasa menjadi orang yang paling berisik di ruangan. Aku bisa membuat orang tertawa, menutupi gugup dengan candaan, dan membelokkan percakapan pribadi sebelum siapa pun sempat melihat celah di baliknya. Ia tidak memaksaku bercerita, tidak pula berpura-pura sudah memahamiku. Ia hanya memberi ruang, seolah aku boleh menjadi apa pun di meja itu dan tetap tidak akan dinilai berlebihan.
“Mas latihan ngomong begitu di depan cermin?” tanyaku, karena keheningan terlalu berbahaya.
“Tidak.”
“Sayang sekali. Kalau iya, saya mau lihat.”
Sudut bibirnya naik lagi. “Nanti, kalau kita sudah cukup dekat sampai Anda boleh masuk ke rumah saya tanpa mengetuk.”
Kali ini aku benar-benar tersedak es batu yang kusedot terlalu cepat.
Ia langsung berdiri setengah badan, tangannya siap meraih gelas air putih. “Luna?”
Aku mengangkat telapak tangan, batuk dua kali, lalu menatapnya dengan mata berair karena panik yang sangat memalukan.
“Mas,” kataku serak, “ternyata bahaya juga.”
Ia duduk kembali setelah memastikan aku baik-baik saja. “Saya hanya menjawab candaan Anda.”
“Iya. Tapi jangan terlalu serius menjawabnya.”
“Baik.”
Ia mengatakannya begitu patuh sampai aku tidak tahu apakah harus percaya atau justru waspada.
Sore bergeser menuju malam. Kami tidak berhenti pada empat puluh lima menit yang kurencanakan. Kami membahas restoran yang ingin kucoba, rumah masa kecilnya, kebiasaan Mama menyelipkan makanan terlalu banyak ke dalam tas anaknya, dan alasan ia selalu membawa payung meski ramalan cuaca cerah.
Ketika akhirnya aku melihat jam, hampir dua jam telah berlalu.
“Saya harus pulang,” kataku, sedikit terkejut pada diriku sendiri karena ada rasa enggan di balik kalimat itu.
Ia berdiri bersamaan denganku. “Saya antar ke mobil.”
“Saya bisa sendiri.”
“Saya tahu.” Ia mengambil tasku yang tersampir di kursi, tetapi tidak langsung menyerahkannya. “Tapi saya tetap mau mengantar, kalau Anda tidak keberatan.”
Aku mengangguk sebelum sempat memikirkan jawaban yang lebih anggun.
Di depan kafe, langit sudah gelap dan udara habis hujan berbau aspal basah. Ia berjalan di sisi luar trotoar, otomatis mengambil posisi antara aku dan jalan. Saat sampai di mobil, ia menyerahkan tasku.
“Terima kasih sudah datang,” katanya.
“Terima kasih juga karena Mas tidak ternyata membosankan.”
“Pujian yang cukup tinggi.”
“Jangan besar kepala. Pertemuan kedua belum tentu ada.”
Ia memandangku sesaat, lalu mengangguk seolah menerima tantangan kerja. “Kalau begitu, saya akan menunggu keputusan Anda. Tanpa mendesak.”
Aku membuka pintu mobil, lalu berhenti. Aku menoleh, memperhatikan laki-laki yang berdiri di bawah lampu kafe dengan wajah tenang dan tatapan yang entah mengapa terasa terlalu sabar.
“Mas Fabian?”
“Ya?”
“Kalau saya minta pertemuan kedua, Mas mau?”
“Mau.” Jawabannya datang tanpa jeda. “Saya sudah berharap Anda akan minta.”
Aku masuk ke mobil dengan jantung yang terasa tidak masuk akal riuhnya.
Aku belum tahu apakah laki-laki itu akan menjadi suamiku. Aku bahkan belum yakin percaya pada cinta yang datang dari perjodohan.
Namun untuk pertama kalinya, aku tidak ingin pertemuan ini selesai sebagai sekadar keinginan orang tua.
Aku ingin tahu lebih banyak tentang laki-laki yang terlalu tenang itu—dan mengapa, hanya dengan beberapa kalimat, ia sudah berhasil membuatku kehilangan rem.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang reading
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya