Chapter Eight

Kencan yang Bukan Kencan

POV: Luna Aurora Clarissa

Aku tidak menyebut pertemuan hari Minggu itu sebagai kencan.

Kami hanya pergi ke pameran furnitur karena studio laki-laki itu sedang mencari kursi untuk proyek baru. Aku ikut karena ia bertanya, dan aku kebetulan tidak memiliki rencana selain mencuci rambut, membaca, lalu memikirkan pesan-pesan yang seharusnya tidak terlalu sering kubaca ulang.

Itu bukan kencan.

Setidaknya, itulah yang kukatakan kepada sahabatku melalui telepon sebelum berangkat.

“Kalau bukan kencan, kenapa kamu memakai parfum?” tanya Nara.

“Karena aku manusia yang ingin berbau layak.”

“Kenapa kamu ganti baju tiga kali?”

“Karena dua baju pertama tidak layak.”

“Kenapa kamu membawa lip balm?”

Aku terdiam.

“Luna?”

“Sinyalnya buruk.” Aku memutus telepon.

laki-laki itu menungguku di lobi pameran. Ia memakai kemeja putih sederhana dan celana hitam. Tidak ada yang istimewa, kecuali caranya berdiri dengan tangan di saku dan langsung tersenyum ketika melihatku.

“Kamu terlambat empat menit,” katanya.

“Aku tahu. Aku ingin membuatmu menunggu.”

“Berhasil.”

“Bagus. Berarti aku masih punya pengaruh.”

“Kamu tidak pernah meragukannya.”

Aku menatapnya. “Aku baru saja datang.”

“Itu bukan berarti keraguanmu akan muncul.”

Aku tidak bisa membalas. Ia mengambil katalog dari tanganku dan membuka pintu masuk.

Di dalam, kami berkeliling di antara meja, lampu, dan rak yang harganya bisa membayar kontrakan setengah tahun. laki-laki itu menjelaskan detail material dengan sabar. Aku pura-pura mendengarkan, meskipun lebih sering memperhatikan cara ia mengusap permukaan meja untuk merasakan teksturnya.

“Kamu menyukai meja itu?” tanyaku.

“Materialnya bagus.”

“Aku bertanya tentang meja, bukan wawancara kerja.”

Ia menoleh. “Aku menyukainya.”

“Bagaimana dengan saya?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Aku bahkan tidak sempat menahannya.

laki-laki itu tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping meja kayu itu, menatapku dengan wajah tenang yang sudah kukenal sebagai tanda bahaya.

“Aku tidak datang untuk menilai meja.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku tahu.”

Ia berjalan melewatiku, terlalu dekat, lalu berkata pelan, “Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku menyukaimu lebih lama daripada meja itu.”

Aku berdiri diam di tengah jalur pengunjung, sementara ia terus berjalan.

Aku menyusulnya dengan wajah panas.

“Kamu sengaja, kan?”

“Sengaja apa?”

“Membuat aku tidak bisa membalas.”

“Kamu selalu bisa membalas.”

“Tidak kalau kamu curang.”

“Aku tidak sedang bermain.”

Aku memilih tidak menjawab. Kalau terus dilakukan, ia akan mengira diam adalah bentuk kemenangan.

Setelah memilih beberapa kursi, kami keluar dan berjalan menuju restoran kecil yang pernah kusebutkan. Jalanan cukup ramai. Aku melihat penjual balon di seberang, lalu berhenti sebentar untuk memperhatikan seorang anak yang memegang balon berbentuk dinosaurus.

laki-laki itu berhenti bersamaku.

“Kamu mau?”

“Aku sudah dewasa.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku mau, tapi tidak masuk akal membawa balon dinosaurus ke restoran.”

“Kalau begitu, kita bawa setelah makan.”

“Kita?”

“Aku bisa memegangnya.”

Aku menatapnya. “Kamu akan berjalan membawa balon dinosaurus?”

“Kalau itu membuatmu senang.”

Aku tidak membeli balon tersebut. Bukan karena tidak mau, melainkan karena tawaran laki-laki itu sudah terasa jauh lebih manis daripada benda apa pun yang dijual penjual itu.

Di persimpangan, lampu penyeberangan berubah hijau. Orang-orang bergerak bersamaan. Seseorang dari belakang menyenggol bahuku, dan tanganku refleks meraih lengan laki-laki itu.

Ia tidak langsung melepaskan.

Tangannya berpindah ke telapak tanganku, menggenggamnya dengan tenang agar aku tidak terpisah dari arus pejalan kaki.

Kami menyeberang seperti itu.

Genggamannya tidak terlalu kuat. Tidak pula ragu. Ia memegangku seperti sesuatu yang memang berada dalam tanggung jawabnya, tetapi tidak pernah ia miliki.

Begitu sampai di trotoar seberang, aku menunggu ia melepaskan tangan.

Ia tidak melakukannya.

“Fabian,” kataku.

“Ya?”

“Kita sudah sampai.”

“Aku tahu.”

“Tanganmu.”

“Masih di sini.”

“Aku juga tahu.”

“Kalau begitu, mengapa memanggilku?”

Aku menoleh kepadanya. “Kamu mau terus begini?”

“Kalau kamu tidak keberatan.”

Aku seharusnya mengatakan tidak. Sebaliknya, aku membalik telapak tangan dan menyelipkan jari-jariku di antara jarinya.

laki-laki itu menatap tangan kami. Hanya sebentar, tetapi aku melihat napasnya berubah.

“Sekarang sudah lebih nyaman?” tanyanya.

“Aku belum memutuskan.”

“Tidak apa-apa. Kita punya waktu.”

Restoran itu berada dua blok dari sana. Kami berjalan tanpa melepaskan tangan. Aku membicarakan apa saja untuk menutupi detak jantungku, sementara laki-laki itu sesekali menanggapi dengan satu-dua kalimat. Anehnya, aku tidak merasa perlu mengisi setiap jeda.

Untuk pertama kalinya, diam bersamanya terasa seperti bentuk percakapan lain.

Saat kami duduk, ia baru melepaskan tanganku untuk mengambilkan kursi. Aku menatap telapak tanganku sendiri dan merasa bodoh karena merindukan kehangatan yang baru saja pergi.

“Kamu melamun,” katanya.

“Aku sedang menghitung berapa lama kamu boleh memegang tanganku.”

“Berapa hasilnya?”

“Belum selesai.”

“Aku bisa menunggu.”

Aku tersenyum sambil membuka menu.

Hari itu tetap bukan kencan.

Tetapi ketika malamnya aku mengirim pesan kepada Nara bahwa aku sudah pulang dengan selamat, aku tidak menyebut pameran furnitur sama sekali.

Aku hanya menulis: Tadi laki-laki itu menggenggam tanganku hampir sepanjang hari.

Nara membalas dengan enam belas tanda seru.

Aku merasa ia berlebihan.

Namun diam-diam, aku menghitung ulang berapa lama genggaman itu bertahan.

Malamnya, aku membuka pesan yang sudah kukirim dan mendapati diriku memeriksa apakah kalimat itu terlalu terang-terangan. Aku hampir menghapusnya, tetapi Nara lebih cepat mengirim tangkapan layar ke grup kecil kami.

Nara: Kamu sadar kamu sedang pamer?

Aku: Aku sedang melaporkan fakta.

Nara: Fakta bahwa kamu membiarkan seorang laki-laki memegang tanganmu?

Aku: Fakta bahwa ia memegang tanganku dengan sopan.

Nara: Kamu sudah membela cara dia menggenggam tanganmu. Selesai sudah.

Aku tidak membalas. Beberapa menit kemudian, notifikasi lain muncul.

Fabian: Sudah sampai rumah?

Aku menatap pesan itu dengan senyum bodoh.

Aku: Sudah. Kamu?

Fabian: Masih di jalan. Hujan mulai turun lagi.

Aku: Sayang sekali kamu tidak membawa payung.

Fabian: Aku membawa. Kali ini tidak kupakai untuk orang lain.

Aku: Berarti aku harus merasa tersaingi?

Fabian: Tidak. Payungnya tidak pernah menyelipkan jari ke tanganku.

Aku menutup percakapan, berjalan satu putaran di kamar, lalu membukanya lagi. Ia tidak pernah mengatakan banyak, tetapi setiap kalimatnya membuatku harus menata ulang napas.

Besoknya, aku mengembalikan payung itu dengan sebuah pita kecil di gagangnya. Aku tidak menjelaskan apa-apa. Ia melihat pita tersebut saat kami bertemu untuk makan siang.

“Ini apa?”

“Tanda kepemilikan.”

“Kepemilikan payung?”

“Jangan terlalu berharap.”

Ia menyentuh pita itu dengan ibu jari. “Aku akan menjaganya.”

“Kalau hilang?”

“Aku akan mencari.”

Aku menggigit bibir agar tidak tersenyum terlalu lebar. Pada akhirnya, aku menyimpan foto genggaman tangan itu bukan hanya untuk mengganggu Nara.

Aku menyimpannya karena ada bagian kecil dalam diriku yang ingin mengingat kapan semuanya mulai terasa nyata.

Sebelum tidur, aku mengirim satu pesan lagi.

Aku: Besok tanganmu boleh istirahat.

Ia membalas beberapa saat kemudian.

Fabian: Kalau kamu memintanya, aku akan patuh.

Aku: Aku tidak memintanya.

Fabian: Aku tahu.

Aku menatap dua kata itu, lalu menulis:

Aku: Kamu selalu tahu terlalu banyak.

Fabian: Tidak. Aku hanya memperhatikan.

Aku meletakkan ponsel di meja samping kasur. Perhatian itu seharusnya membuatku waspada. Sebaliknya, aku mulai menunggunya seperti seseorang yang sudah lama kehilangan suara tertentu dan baru menyadari betapa ia merindukannya.

Pagi berikutnya, pita kecil itu masih terikat pada payung. Aku memotret gagangnya dan mengirimkan gambar tersebut.

Aku: Buktinya masih aman.

Fabian: Aku tidak pernah meragukannya.

Aku: Kamu seharusnya lebih khawatir. Aku bisa menambahkan pita lain.

Fabian: Aku akan menyediakan tempatnya.

Aku tersenyum, lalu menyimpan payung itu dekat pintu. Benda sederhana tersebut mendadak terasa seperti tanda bahwa ada seseorang di luar rumah yang memikirkan kepulanganku.