Chapter Twenty
Aku Memilihmu Setiap Hari
POV: Fabian Asher
Aku tidak langsung meminta perempuan itu kembali menjalani hari-hari seperti sebelumnya.
Setelah percakapan di teras, ia masih membutuhkan waktu untuk berdamai dengan informasi yang baru diketahui. Aku tidak ingin memperlakukan pengakuannya sebagai tanda bahwa semua masalah sudah selesai.
Cinta tidak menghapus rasa takut hanya karena kita sudah mengucapkannya.
Aku mulai dari hal sederhana. Mengirim pesan tanpa menuntut jawaban panjang. Menyediakan ruang ketika ia ingin bekerja. Datang ketika ia meminta, dan tidak datang ketika ia mengatakan ingin sendiri.
Pada hari pertama setelah kami bicara, aku mengirim foto tanaman kecil yang pernah kuberikan.
Aku: Daunnya tumbuh satu.
Luna: Kamu sedang mencari alasan untuk menghubungiku?
Aku: Aku sedang melaporkan perkembangan.
Luna: Tanamannya atau hubungan kita?
Aku: Keduanya belum bisa dipastikan.
Luna: Kamu masih bisa bercanda setelah membuatku menangis?
Aku: Aku bisa berhenti kalau kamu meminta.
Luna: Jangan. Aku sedang merindukanmu.
Aku menatap pesan itu cukup lama.
Aku: Aku juga.
Aku ingin mengatakan lebih banyak, tetapi tidak ingin mengubah kerinduan menjadi kewajiban.
Beberapa hari kemudian, perempuan itu mengajakku ke rumah sakit. Ia mengatakan ingin melihat lorong tempat kami bertemu, meskipun ia tidak yakin dapat mengenalinya. Aku menyetujui tanpa bertanya apa yang ingin ia lakukan.
Rumah sakit sudah direnovasi. Mesin minuman berpindah tempat, bangku-bangku diganti, dan dinding dicat ulang. Tidak ada yang tampak seperti kenangan yang kusimpan.
perempuan itu berdiri di sampingku, memegang amplop kecil.
“Di sini?” tanyanya.
“Dulu di sana.” Aku menunjuk sudut dekat jendela.
Ia berjalan beberapa langkah, lalu duduk di bangku baru. Aku berdiri di depannya, memberi ruang.
“Aku tidak ingat wajahmu,” katanya.
“Tidak apa-apa.”
“Aku ingat seorang laki-laki yang terlihat seperti dunia baru saja selesai menghukumnya.”
Aku menunduk.
“Aku tidak tahu kenapa aku memberikan teh,” lanjutnya. “Mungkin karena aku tidak tahu harus mengatakan apa.”
“Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa.”
“Tapi aku meninggalkan kalimat itu.”
“Iya.”
“Dan kamu menyimpannya.”
“Iya.”
perempuan itu membuka amplop, mengeluarkan kertas, lalu membacanya dengan suara pelan.
“Tidak apa-apa kalau hari ini hanya sanggup bertahan.”
Ia melipat kertas itu kembali.
“Kamu benar-benar membutuhkannya waktu itu?”
“Aku tidak tahu bagaimana melewati hari itu. Kalimatmu tidak menyelesaikan kesedihan, tapi membuatku merasa tidak harus menyelesaikannya sekaligus.”
perempuan itu menatapku. “Aku tidak pernah tahu aku bisa melakukan sesuatu sebesar itu.”
“Kamu juga tidak perlu mengetahuinya.”
“Kalau aku tahu, mungkin aku akan menuntutmu menikah denganku lebih cepat.”
Aku tersenyum. “Kamu sudah cukup cepat.”
“Aku masih bisa lebih cepat.”
“Aku tahu.”
Ia berdiri dan berjalan mendekat.
“Fabian, aku ingin memastikan sesuatu.”
“Apa?”
“Kalau kamu tidak pernah bertemu aku di rumah sakit, apakah kamu masih akan memilihku sekarang?”
Aku tidak menjawab dengan segera. Bukan karena ragu, tetapi karena jawaban itu pantas disampaikan tanpa tergesa-gesa.
“Aku mungkin tidak akan menemukanmu secepat ini,” kataku. “Tapi setelah mengenalmu sekarang, aku tetap akan memilihmu.”
“Bahkan tanpa teh?”
“Bahkan tanpa teh.”
“Bahkan tanpa catatan?”
“Bahkan tanpa catatan.”
“Bahkan kalau aku tidak cantik?”
“Kamu masih akan banyak bicara.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku memilihmu bukan karena satu hal.”
Ia memandangku, menunggu.
“Aku memilih cara kamu masuk ke ruangan dan membuat orang berhenti merasa sendirian. Aku memilih keberanianmu untuk bertanya. Aku memilih cara kamu marah, cara kamu meminta maaf, dan cara kamu tetap kembali setelah takut. Aku memilihmu karena setiap hari kamu memberiku versi baru untuk kukenal.”
Mata perempuan itu berkaca-kaca.
“Kamu tidak boleh bicara sebanyak ini terlalu sering,” katanya.
“Kenapa?”
“Aku bisa terbiasa.”
“Aku ingin kamu terbiasa.”
Ia meraih tanganku.
“Kalau nanti aku merasa tidak aman lagi?”
“Tanya kepadaku.”
“Kalau kamu sedang lelah?”
“Aku akan mengatakan bahwa aku lelah, bukan menghilang.”
“Kalau aku marah?”
“Aku akan memberimu waktu.”
“Kalau aku tetap ingin pergi?”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Aku akan mengingatkanmu bahwa kamu selalu boleh memilih. Bahkan kalau pilihanmu bukan aku.”
perempuan itu menggeleng. “Kamu benar-benar menyebalkan ketika terlalu baik.”
“Aku sedang mencoba tidak memaksamu.”
“Aku tahu.”
“Kali ini kamu boleh bilang tahu.”
Ia tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.
Kami duduk di lorong itu cukup lama. Tempatnya bukan lagi lorong yang sama, tetapi perasaan yang dibawanya sudah menemukan bentuk baru.
Aku tidak lagi mencintai sebuah ingatan.
Aku mencintai perempuan yang duduk di sampingku sekarang, yang mungkin masih akan cemburu, terlalu banyak bicara, dan membuatku kehilangan ketenangan setiap hari.
Dan aku akan memilihnya setiap hari, selama ia masih mau memilihku.
Beberapa minggu setelah itu, kami kembali membicarakan pertunangan. Kali ini perempuan itu membawa daftar panjang yang berisi pilihan tempat, menu, dan kemungkinan buruk jika keluarga kami terlalu ikut campur.
“Aku ingin acara yang tidak membuat kita tidak bisa bicara,” katanya.
“Setuju.”
“Aku ingin ada makanan yang bisa dimakan sambil berdiri.”
“Setuju.”
“Aku ingin kamu tidak mengenakan jas yang membuatmu terlihat seperti orang yang akan menandatangani kontrak.”
“Itu mungkin sulit.”
“Kamu boleh memakai jas, tapi tersenyumlah.”
“Aku akan mencoba.”
Ia mengetuk daftar dengan pulpen. “Dan aku ingin ada satu kursi kosong di dekat kita.”
“Untuk siapa?”
“Untuk versi diriku yang dulu.”
Aku menunggu.
“Perempuan yang duduk di lorong rumah sakit itu,” katanya. “Aku ingin dia tahu bahwa hidupnya terus berjalan. Bahwa kalimat yang ia tulis untuk orang asing tidak membuatnya terjebak pada kebaikan itu.”
Aku menyentuh punggung tangannya.
“Kursinya boleh ada,” kataku.
“Kamu tidak menganggapnya aneh?”
“Tidak.”
“Kamu tidak takut aku terlalu memikirkan masa lalu?”
“Tidak. Aku hanya ingin masa lalu itu memiliki tempat yang tepat.”
Ia menatapku. “Di mana tempat yang tepat?”
“Di belakang kita. Bukan di antara kita.”
perempuan itu mengembuskan napas pelan, lalu menyandarkan kepala ke bahuku.
“Kamu tahu tidak, kalau kamu terus bicara seperti ini, aku akan semakin sulit menggodamu.”
“Kenapa?”
“Karena aku akan terlalu sibuk menyukaimu.”
“Kamu boleh melakukan keduanya.”
“Aku takut kehilangan kendali.”
“Kamu belum pernah benar-benar memilikinya.”
Ia mencubit lenganku.
“Aku sedang serius.”
“Aku juga.”
Kami menghabiskan sore dengan memilih tempat pertunangan. perempuan itu menolak tiga lokasi karena pencahayaan buruk, satu karena musiknya terlalu sedih, dan satu lagi karena pelayan menyebut minuman favoritnya “kopi biasa.”
Aku membiarkannya memilih.
Bukan karena semua pilihannya selalu benar, tetapi karena aku menyukai cara ia membuat keputusan terasa hidup.
Ketika kami pulang, ia memegang tanganku di dalam mobil.
“Fabian?”
“Ya?”
“Kalau nanti kita menikah, kamu masih akan memilihku ketika aku sedang menyebalkan?”
“Aku akan mengingatkanmu bahwa kamu sedang menyebalkan.”
“Bukan itu.”
“Aku akan tetap memilihmu.”
“Setiap hari?”
“Setiap hari.”
“Bahkan kalau aku tidak memilihmu?”
Aku menatap jalan. “Aku akan memberi kamu kesempatan untuk memilih lagi.”
“Kamu tidak takut aku mengambil kesempatan itu untuk pergi?”
“Takut.”
Ia menatapku.
“Tapi cinta yang tidak memberi pilihan bukan cinta yang ingin kujalani,” lanjutku.
perempuan itu menggenggam tanganku lebih erat.
“Aku tidak akan pergi,” katanya.
“Jangan berjanji karena takut membuatku sedih.”
“Aku tidak takut.”
“Kamu yakin?”
Ia tersenyum. “Aku sedang memilih.”
Aku membawa tangannya ke bibir dan mencium punggungnya.
Di luar jendela, lampu kota bergerak seperti garis-garis kecil. Di dalam mobil, perempuan itu bersandar kepadaku, dan untuk pertama kalinya aku tidak merasa harus menjaga jarak antara masa lalu dan masa depan.
Kertas kecil itu masih kusimpan.
Namun sekarang, aku tidak lagi membutuhkannya untuk mengingat alasan bertahan.
Aku memiliki perempuan itu di sampingku, bukan sebagai penyelamat, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai perempuan yang bisa memilihku hari ini dan mengubah pikirannya esok hari.
Dan aku akan tetap memilihnya, bukan karena takut kehilangan, tetapi karena setiap kali mengenalnya lagi, aku menemukan alasan baru untuk mencintai.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari reading
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya