Chapter Nineteen

Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku

POV: Luna Aurora Clarissa

Selama tiga hari, aku tidak menemui laki-laki itu.

Ia tidak memaksa. Tidak mengirim makanan, tidak datang ke kantor, dan tidak memenuhi chat dengan pertanyaan. Ia hanya mengirim satu pesan setiap malam.

Fabian: Semoga kamu tidur cukup.

Aku membalas dengan singkat.

Aku: Kamu juga.

Tidak lebih.

Aku tahu ia sedang memberiku ruang. Aku juga tahu ruang tersebut terasa seperti hukuman karena aku belum mampu menggunakannya untuk berpikir dengan jernih.

Aku terus mengingat lorong rumah sakit itu. Aku mengingat laki-laki muda yang duduk sendirian, tetapi wajahnya tidak pernah benar-benar jelas. Aku bertanya-tanya apakah aku akan melakukan hal yang sama jika tahu ia akan mengingatku selama lima tahun.

Mungkin aku akan lebih berhati-hati.

Mungkin aku tidak akan memberikan teh.

Pikiran itu membuatku merasa kejam.

Pada hari keempat, Nara datang membawa makanan dan menemukan aku sedang menatap amplop kosong.

“Kamu belum bicara dengan Fabian?”

“Belum.”

“Kamu marah?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu merasa tertipu?”

“Aku tidak tahu.”

“Kamu mencintainya?”

Aku menatapnya.

Nara mengangkat tangan. “Aku tahu kamu tidak suka pertanyaan langsung.”

“Aku mencintainya,” kataku.

Mengatakannya keras-keras membuat dada terasa lebih ringan dan lebih sakit pada saat bersamaan.

“Kalau begitu, yang membuatmu takut bukan rahasianya.”

“Apa?”

“Kemungkinan bahwa cintanya kepadamu dimulai dari sesuatu yang tidak kamu ingat.”

Aku menunduk.

Nara duduk di sampingku. “Kamu takut dia mencintai versi lama yang bahkan tidak kamu kenali.”

“Aku tidak mau menjadi kenangan yang kebetulan bisa ditemukan.”

“Tapi selama ini dia mengenalmu sekarang.”

“Bagaimana aku tahu?”

“Dari caranya menjawab pesanmu. Dari caranya mengingat makananmu. Dari cara dia membiarkanmu menang.”

Aku menatapnya.

“Dia tidak mungkin melakukan itu kepada perempuan yang hanya ia ingat dari lorong rumah sakit,” lanjut Nara. “Kamu terlalu berisik untuk disebut kenangan.”

Aku tertawa meskipun mataku panas.

Malam itu, aku membuka chat laki-laki itu.

Aku: Kamu masih menyimpan kertas itu?

Balasannya datang setelah beberapa menit.

Fabian: Iya.

Aku: Kalau aku tidak pernah menjadi orang yang sama setelah hari itu, kamu akan tetap menyukaiku?

Fabian: Aku tidak menyukai kamu karena kamu berhenti berubah.

Aku membaca jawaban itu berulang kali.

Aku: Kalau aku ternyata tidak sebaik yang kamu ingat?

Fabian: Kamu tidak pernah harus sebaik itu untuk membuatku ingin mengenalmu.

Aku: Kalau aku egois?

Fabian: Aku akan membicarakannya.

Aku: Kalau aku marah?

Fabian: Aku akan memberimu waktu, lalu bertanya apakah kamu ingin aku datang.

Aku: Kalau aku mengatakan aku tidak ingin kamu datang?

Fabian: Aku akan menghormatinya.

Aku: Kalau sebenarnya aku ingin, tapi terlalu gengsi untuk bilang?

Balasannya tidak datang selama satu menit.

Fabian: Kamu ingin aku menebak?

Aku tersenyum di tengah air mata.

Aku: Tidak. Aku ingin kamu mengenalku cukup baik untuk bertanya.

Fabian: Kalau begitu, apakah kamu ingin aku datang?

Aku menggigit bibir.

Aku: Besok.

Fabian: Besok aku datang.

Pagi berikutnya, aku menunggu di depan rumah. Ketika laki-laki itu turun dari mobil, ia membawa dua cangkir teh.

“Kamu meniru kejadian lima tahun lalu?” tanyaku.

“Tidak. Aku hanya berpikir kamu mungkin membutuhkannya.”

Aku menerima cangkir itu.

“Aku masih marah,” kataku.

“Aku tahu.”

“Kali ini boleh.”

Kami duduk di teras. Aku tidak langsung menyentuhnya.

“Aku tidak mau dicintai karena versi lamaku,” kataku.

“Aku juga tidak mencintai versi itu saja.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Karena perempuan di rumah sakit tidak akan menuduhku seperti kamu.”

Aku mendengus.

“Dia tidak akan membuat daftar penilaian. Tidak akan menyebut wortel tidak punya estetika. Tidak akan mengumumkan kepada satu galeri bahwa aku tidak punya kesempatan melarikan diri.”

Aku menahan senyum.

“Aku mencintai perempuan yang sekarang,” lanjutnya. “Perempuan yang kadang terlalu keras, terlalu cepat, dan terlalu berani. Aku tidak ingin mengembalikanmu menjadi orang yang menulis satu kalimat di atas kertas. Aku hanya ingin berterima kasih kepada orang itu karena sudah membuatku sampai ke sini.”

Aku menatap teh di tangan.

“Aku belum siap melupakan rasa takutku.”

“Kamu tidak perlu.”

“Aku juga belum siap mengembalikan amplop itu.”

“Simpanlah.”

“Tapi itu milikmu.”

“Sekarang juga milikmu.”

Aku menoleh. laki-laki itu tidak memintaku segera kembali seperti semula. Ia hanya duduk di sampingku, membiarkan ketakutan memiliki tempat tanpa mengambil alih seluruh rumah.

Untuk pertama kalinya sejak menemukan kertas itu, aku menggenggam tangannya.

“Aku masih mencintaimu,” kataku.

“Aku tahu.”

“Jangan terlalu senang.”

Ia tersenyum. “Aku akan berusaha.”

Aku memandangnya dari samping. “Kamu tidak marah karena aku menjauh?”

“Aku sedih.”

“Bedanya?”

“Marah membuatku ingin menyalahkanmu. Sedih membuatku ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

Aku menunduk. “Kamu selalu memilih jawaban yang membuatku merasa bersalah.”

“Aku tidak bermaksud begitu.”

“Aku tahu.”

“Kali ini jangan bilang tahu.”

Aku tersenyum kecil. “Aku sedang mencoba.”

laki-laki itu mengusap punggung tanganku dengan ibu jari.

“Aku tidak akan meminta kamu melupakan bahwa aku mengenalmu lebih dulu,” katanya. “Aku hanya ingin kamu tahu bahwa perasaanmu tidak perlu bersaing dengan kenangan itu.”

“Bagaimana kalau aku terus merasa kalah?”

“Aku akan mengingatkanmu bahwa kenangan tidak bisa menggenggam tanganku seperti yang kamu lakukan sekarang.”

Aku menatap jari-jari kami yang saling bertaut.

“Kamu selalu punya cara untuk membuat kalimat sederhana terdengar seperti ancaman romantis.”

“Aku sedang belajar dari kamu.”

“Jangan menyalahkanku.”

“Aku tidak menyalahkan.”

“Kalau begitu, berterima kasihlah.”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena membuatku berani mengatakan hal-hal yang biasanya kusimpan.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya menggenggam tangannya lebih erat.

Hari itu, kami tidak kembali ke rumah sakit. Kami berjalan ke toko buku dan duduk di kedai kecil dekat jendela. Aku membaca ulang pesan-pesan lama kami. laki-laki itu mengerjakan sesuatu di laptop, sesekali menyodorkan camilan tanpa bertanya.

Kehidupan biasa kembali terasa mungkin.

Sebelum pulang, aku membuka amplop itu sekali lagi, tetapi tidak mengeluarkan kertasnya.

“Belum siap?” tanya laki-laki itu.

“Belum.”

“Tidak apa-apa.”

“Tapi aku akan membacanya suatu hari nanti.”

“Aku akan berada di sana kalau kamu mau.”

Aku mengangguk.

Mungkin cinta bukan tentang menghapus bagian masa lalu yang membuat kita takut. Mungkin cinta adalah menemukan seseorang yang bersedia duduk di samping kita sampai masa lalu itu tidak lagi terasa seperti ruangan tertutup.

Aku menatap laki-laki itu yang sedang menyelesaikan tehnya. Ia tidak menatap jam, tidak memeriksa ponsel, dan tidak memberi tanda bahwa percakapan ini sudah terlalu lama. Ia hanya berada di sana, seperti janjinya.

“Kamu boleh pulang kalau ada pekerjaan,” kataku.

“Aku sudah menyelesaikannya.”

“Kamu boleh pulang kalau bosan.”

“Aku tidak bosan.”

“Kamu boleh pulang kalau aku terlalu banyak berpikir.”

“Aku sudah terbiasa.”

Aku menatapnya tajam. “Itu bukan jawaban romantis.”

“Tapi jujur.”

Aku menggeleng, lalu tertawa kecil. Mungkin inilah bentuk cinta yang paling masuk akal: seseorang yang tidak berusaha menghapus pikiranku, hanya memastikan aku tidak sendirian di dalamnya.

Aku menyimpan amplop itu di laci meja, bukan untuk menguncinya, melainkan agar aku tahu tempatnya. Setiap kali melihatnya, aku akan mengingat bahwa laki-laki itu tidak pernah meminta aku menjadi perempuan di dalam kertas tersebut.

Ia hanya memintaku menjadi diriku sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, aku ingin mencoba melakukannya tanpa takut bahwa versi diriku yang sekarang akan membuat seseorang pergi.

Aku mengirim pesan kepada laki-laki itu sebelum tidur: Besok tetap pilih aku.

Jawabannya datang cepat: Setiap hari.

Aku menyimpan ponsel di bawah bantal dan membiarkan kalimat itu menenangkan bagian dalam diriku yang masih takut.

Tidak semua jawaban harus datang sekaligus.

Untuk malam itu, satu jawaban sudah cukup.

Aku tidak membawa kertas itu keluar dari tas. Aku hanya membawa keberanian kecil untuk kembali bertemu dengannya setelah semua pertanyaan selesai. Itu belum banyak, tetapi laki-laki itu tidak pernah menuntutku datang dengan lebih dari yang sanggup kubawa.