Chapter Fourteen
Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
POV: Fabian Asher
Aku tahu perempuan itu marah ketika ia tidak mengirim pesan.
perempuan itu bisa kesal sambil mengirim lima belas pesan berturut-turut. Ia bisa mengancam akan membakar daftar penilaian sambil tetap mengirim foto makan siangnya. Diam bukan cara perempuan itu meminta perhatian.
Diam adalah cara perempuan itu melindungi dirinya.
Aku membiarkannya sampai pagi, lalu mengirim pesan.
Aku: Selamat pagi. Semoga kamu tidur cukup.
Tidak ada balasan.
Aku menunggu sampai siang.
Aku: Kalau kamu belum ingin bicara, aku mengerti. Tapi aku ingin bertemu ketika kamu siap.
Lima menit kemudian, jawabannya masuk.
Luna: Besok sore. Tempat biasa.
Aku menutup mata sebentar.
Tempat biasa berarti kedai bubur dekat pasar buku, tempat ia pertama kali bertanya mengapa tidak ada orang yang mendekatiku. Aku tahu ia memilih tempat itu karena tidak ingin suasana terlalu romantis untuk percakapan yang mungkin menyakitkan.
Aku datang lebih dulu.
perempuan itu muncul dengan rambut dikuncir dan ekspresi yang jauh lebih tenang daripada yang kuperkirakan. Ia duduk di depanku, memesan teh, lalu langsung berkata, “Aku tidak ingin membuatmu merasa harus menjawab karena aku sedang takut.”
“Aku tahu.”
“Jangan mulai.”
Aku hampir tersenyum. “Baik.”
“Aku hanya ingin tahu apakah kamu benar-benar ingin menikah denganku.”
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Jawabannya juga sudah kusimpan sejak hari Ibu menyebut namanya. Namun aku tidak ingin memberikan jawaban yang terdengar seperti keputusan yang dibuat sebelum perempuan itu sempat memiliki pilihan.
“Aku ingin,” kataku.
Ia menatapku. “Karena aku?”
“Ya.”
“Sejak kapan?”
Aku meletakkan kedua tangan di atas meja.
“Itu bagian yang belum bisa kukatakan dengan singkat.”
“Kamu punya waktu.”
“Aku pernah bertemu denganmu sebelum keluarga kita memperkenalkan kita.”
Wajahnya berubah. Aku melihat pertanyaan yang sama muncul dalam matanya seperti lima tahun lalu di lorong rumah sakit.
“Kapan?”
“Lima tahun yang lalu.”
“Di mana?”
Aku hampir menyebut rumah sakit. Hampir mengatakan tentang ayahku, teh hangat, dan kertas kecil yang masih kusimpan. Namun di antara semua kemungkinan, aku takut cerita itu terdengar seperti alasan yang terlalu indah untuk membuatnya tidak bisa menolak.
“Aku belum siap menceritakan semuanya.”
Tatapannya meredup.
“Jadi kamu memang sudah memilihku sebelum perjodohan ini?”
“Aku memilih untuk mengenalmu.”
“Itu terdengar berbeda.”
“Memang berbeda. Aku tidak ingin mencintai ingatan tentang seseorang yang tidak kukenal. Aku ingin tahu siapa kamu sekarang.”
Ia menunduk kepada cangkirnya.
“Lalu kenapa tidak memberitahuku sejak awal?”
“Karena aku ingin kamu menyukaiku tanpa merasa berutang.”
“Aku tidak akan merasa berutang hanya karena pernah berbuat baik.”
“Mungkin kamu tidak. Tapi aku akan selalu merasa bahwa aku mendapatkan kesempatan karena kebaikanmu.”
perempuan itu terdiam. Aku tidak tahu apakah penjelasan itu membuatnya lebih tenang atau justru menambah pertanyaan.
“Kamu terlihat seperti laki-laki yang sudah tahu apa yang diinginkan,” katanya.
“Aku tidak selalu tahu.”
“Tapi kamu sudah tahu tentang aku.”
“Aku tahu satu versi kecil tentangmu. Versi yang duduk di lorong rumah sakit, meninggalkan teh dan kalimat sederhana untuk orang asing.”
Jarinya berhenti di atas cangkir.
“Aku?”
Aku mengangguk.
“Kamu tidak mungkin ingat.”
Ia memejamkan mata. “Aku sering menemani Mama ke rumah sakit. Aku juga sering meninggalkan minuman untuk orang yang terlihat sedang sedih.”
“Aku tahu.”
“Berarti kamu salah satu orang yang mendapat teh dariku?”
“Ya.”
Wajahnya perlahan berubah. Ia tidak tampak bahagia. Ia tampak sedang menyusun ulang lima tahun hidupnya untuk menemukan satu sore yang sudah lama hilang.
“Aku menulis sesuatu, kan?”
“Kamu menulis bahwa tidak apa-apa kalau hari itu hanya sanggup bertahan.”
Ia menutup mulut dengan tangan.
Aku ingin meraih jemarinya, tetapi menunggu izin yang tidak perlu diminta dengan kata-kata. Setelah beberapa detik, ia mengulurkan tangan sendiri.
Aku menggenggamnya.
“Aku tidak memilihmu karena catatan itu,” kataku. “Catatan itu hanya membuatku ingin menemukanmu. Setelah itu, aku memilihmu karena kamu yang sekarang.”
“Bahkan ketika aku bicara terlalu banyak?”
“Terutama ketika kamu bicara terlalu banyak.”
“Bahkan ketika aku cemburu kepada Elena?”
“Itu masih sedang dievaluasi.”
Ia tertawa, tetapi matanya basah.
“Kamu benar-benar tidak bisa menjawab dengan normal.”
“Aku sedang berusaha membuatmu tidak menangis.”
“Aku tidak menangis.”
“Aku tahu.”
“Fabian.”
“Baik. Aku tidak akan bilang tahu.”
Kami duduk sambil berpegangan tangan hingga teh kami dingin. Rahasia itu tidak membuat semuanya langsung mudah, tetapi untuk pertama kalinya, perempuan itu tahu bahwa perjodohan ini bukan awal dari perasaanku.
Ia hanya awal dari kesempatan kami.
Setelah mengantar perempuan itu pulang, aku menelepon Ibu.
“Sudah waktunya?” tanyanya sebelum aku sempat menyapa.
“Belum semuanya.”
“Kamu takut dia akan pergi?”
Aku melihat ke arah rumah perempuan itu. Lampu kamarnya belum menyala.
“Aku takut dia tinggal karena merasa harus.”
“Kalau begitu, katakan sesuatu yang membuatnya bisa memilih dengan bebas.”
“Aku sudah mengatakan aku ingin menikah dengannya.”
“Itu keinginanmu. Bukan jawaban tentang mengapa dia.”
Aku terdiam.
Ibu melanjutkan, “Kebaikan yang dia berikan dulu bukan alasan untuk menyimpan rahasia. Itu hanya bagian dari perjalananmu. Kalau kamu mencintainya sekarang, biarkan dia mengenal seluruh perjalanan itu.”
Aku membuka laci meja kerja malam itu dan mengambil kertas kecil yang sudah menguning. Tulisan di atasnya masih terbaca, meskipun ujung kertas mulai rapuh.
Aku memotret kertas tersebut, lalu menghapus fotonya. Aku belum ingin mengirim bukti. Aku ingin menceritakan suasananya, cara perempuan itu duduk, dan bagaimana satu kalimat pendek membuatku kembali bersedia melewati hari berikutnya.
Aku menulis semuanya di catatan ponsel.
Rumah sakit. Hujan. Ayah baru meninggal. Teh hangat. Seorang perempuan yang tidak menuntut aku terlihat kuat.
Di bawahnya, aku menambahkan:
Lima tahun kemudian, perempuan itu masih membuatku ingin pulang lebih cepat.
Aku membaca catatan itu sampai yakin bahwa tidak ada satu kalimat pun yang terdengar seperti tuntutan.
Aku akan mengatakan bahwa aku mengenalnya lebih dulu, tetapi tidak akan meminta ia menganggap hal itu sebagai alasan untuk membalas.
Aku akan mengatakan bahwa aku memilihnya, tetapi ia tetap boleh menolak.
Aku akan mengatakan bahwa rasa terima kasih adalah awal, bukan keseluruhan cinta.
Keesokan paginya, aku menghubungi perempuan itu.
Aku: Aku sudah menyiapkan cerita yang ingin kusampaikan.
Luna: Cerita yang panjang?
Aku: Mungkin.
Luna: Kamu boleh mengirimnya dalam beberapa bab.
Aku: Kamu akan membaca?
Luna: Aku editor. Aku akan memberi catatan kalau terlalu dramatis.
Aku: Aku akan menerima catatanmu.
Luna: Jangan menyesal.
Aku: Aku jarang menyesal karena mendengarkanmu.
Tanda mengetik muncul lama.
Luna: Aku juga jarang menyesal karena mengganggumu.
Aku tersenyum. Ketegangan yang mengikuti percakapan semalam tidak hilang, tetapi berubah menjadi sesuatu yang dapat kami bawa bersama.
Sebelum berangkat ke tempat pertemuan, aku memasukkan kertas kecil itu ke dalam dompet. Aku tidak tahu apakah akan menunjukkannya. Aku hanya ingin memilikinya jika perempuan itu bertanya mengapa cerita ini begitu penting.
Di jalan, aku berhenti membeli teh hangat.
Bukan karena ia harus meminumnya.
Hanya karena beberapa kenangan terasa lebih mudah diceritakan ketika kita memegang benda yang sama seperti dahulu.
Aku menyimpan teh itu di tempat duduk sebelah, memastikan tidak tumpah selama perjalanan. Di lampu merah, aku memeriksa kembali catatan di ponsel dan menghapus tiga kalimat yang terdengar terlalu dramatis.
Aku tidak ingin perempuan itu merasa sedang menerima pidato.
Aku ingin ia mendengar seorang laki-laki yang akhirnya berani mengatakan dari mana perasaannya berasal.
Aku menarik napas panjang sebelum menyalakan mesin. Apa pun reaksi perempuan itu nanti, aku tidak akan lagi menyembunyikan bagian penting dari cerita kami di balik ketenangan yang nyaman.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan reading
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya