Chapter Five

Godaan Pertama

POV: Luna Aurora Clarissa

Aku memiliki teori baru tentang laki-laki itu: ia bukan tidak banyak bicara. Ia hanya menyimpan semua kalimat terbaiknya untuk saat-saat yang paling menyebalkan.

Misalnya saat aku sedang berusaha terlihat tidak terlalu menunggu pesannya.

Sudah tiga hari sejak aku datang ke studionya. Tiga hari sejak ia mengirim makanan tanpa banyak penjelasan, meminjamkan buku yang ternyata membuatku menangis di dalam kereta, dan memberikan payung dengan wajah tenang seolah aku adalah seseorang yang memang perlu dipastikan tidak kehujanan.

Aku tidak tahu bagian mana yang paling berbahaya.

Mungkin semuanya.

Pukul sembilan malam, aku membuka percakapan kami. Pesan terakhir berasal dariku, berisi foto tumpukan naskah dan kalimat: Kalau besok saya hilang, tolong beri tahu atasan saya bahwa saya gugur di medan revisi.

Ia hanya membalas: Saya akan memastikan Anda makan sebelum gugur.

Aku ingin mengirim pesan baru, tetapi tidak ingin terlihat seperti menunggu. Maka aku menunggu dua puluh menit, membuka aplikasi lain, kembali ke percakapan, lalu mengetik:

Aku: Mas Fabian, sedang apa?

Balasannya masuk ketika aku baru saja menjatuhkan ponsel ke kasur.

Mas Fabian: Membaca buku yang Anda berikan.

Aku: Sampai adegan berapa?

Mas Fabian: Bab tujuh.

Aku: Berarti Mas sudah sampai bagian tokoh laki-lakinya mulai jatuh cinta.

Tidak ada balasan selama satu menit.

Aku menyeringai sendiri. Akhirnya ia membutuhkan waktu untuk menjawab.

Lalu ponselku berbunyi.

Mas Fabian: Belum. Saya baru sampai bagian tokoh perempuannya mulai menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.

Senyumku berhenti.

Aku membaca kalimat itu berulang kali. Tidak ada kata yang vulgar, tidak ada rayuan terang-terangan. Namun aku dapat merasakan bagaimana ia sengaja memilih susunan kalimat tersebut.

Aku: Mas sedang membahas buku atau kita?

Mas Fabian: Anda yang memulai pembahasannya.

Aku menekan bantal ke wajah.

“Pendiam dari mana?” gumamku.

Aku memutuskan menyerang lebih jauh.

Aku: Kalau tokoh perempuannya memang suka diperhatikan, apa tokoh laki-lakinya akan mendapat hadiah?

Tanda sedang mengetik muncul cukup lama.

Mas Fabian: Hadiah seperti apa yang sedang Anda tawarkan?

Aku membeku.

Ini seharusnya mudah. Aku sudah sering membuat lelucon yang jauh lebih berani kepada teman-temanku. Tetapi ketika kalimat itu datang dari laki-laki itu, rasanya seperti seseorang menyalakan lampu tepat di atas wajahku.

Aku mengetik: Tergantung seberapa berani tokoh laki-lakinya.

Jempolku berhenti sebelum mengirim.

Aku menghapusnya dan memilih versi yang sedikit lebih aman.

Aku: Mungkin ciuman. Kalau tokoh laki-lakinya pantas.

Balasannya datang segera.

Mas Fabian: Kalau begitu, saya akan berusaha sangat pantas.

Aku menutup aplikasi.

Membuka lagi.

Membaca pesan itu.

Menutupnya lagi.

Aku seharusnya merasa menang karena berhasil menggoda lebih dulu. Kenyataannya, aku sedang berjalan mondar-mandir di kamar sambil menatap ponsel seperti orang yang baru menerima ancaman.

Ponsel berdering. Panggilan masuk.

Aku menatap nama di layar cukup lama sebelum mengangkatnya.

“Halo?”

“Saya mengganggu?”

“Tidak.”

“Anda terdengar seperti sedang lari.”

Aku berhenti berjalan. “Saya sedang… memeriksa kualitas lantai.”

“Lantainya bagaimana?”

“Cukup baik.”

“Syukurlah.”

Aku mendengar suara halaman buku dibalik dari seberang. Entah mengapa suara itu membuat panggilan terasa lebih intim daripada seharusnya.

“Mas Fabian,” kataku, “Mas memang sengaja membalas seperti tadi?”

“Seperti apa?”

“Jangan pura-pura polos.”

“Saya tidak merasa sedang pura-pura.”

“Mas menantang saya.”

“Anda yang menawarkan hadiah.”

Aku mengembuskan napas panjang. “Saya cuma bercanda.”

“Saya tahu.”

“Lalu mengapa dijawab?”

Di ujung sana, ia diam sebentar.

“Karena saya ingin menjawab.”

Kalimat itu lebih efektif daripada semua gombal yang pernah kudengar.

Aku duduk di tepi kasur. “Mas tahu tidak, kalau terus seperti ini, saya bisa salah paham sungguhan?”

“Anda sudah pernah mengatakan itu.”

“Saya sedang mengingatkan.”

“Saya juga sudah menjawab.”

“Jawaban Mas selalu seperti putusan pengadilan.”

“Apakah putusannya mengecewakan?”

Aku diam.

“Tidak,” jawabku akhirnya.

Ada suara tawa rendah di ujung sana. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat perutku terasa aneh.

Kami berbicara hampir satu jam. Masih tentang hal-hal aman: buku, pekerjaan, makanan, dan kenapa ia tidak pernah memakai foto profil yang jelas. Namun beberapa kali aku menangkap jeda yang terasa seperti sesuatu yang sengaja ditahan.

Menjelang tengah malam, ia berkata, “Anda sebaiknya tidur.”

“Mas menyuruh saya?”

“Saya menyarankan.”

“Kalau saya tidak mau?”

“Besok Anda akan mengantuk.”

“Mas akan menemani sampai saya tidur?”

Aku mengatakannya sambil tertawa, yakin ia akan menganggapnya candaan.

“Kalau itu yang Anda minta.”

Tawaku langsung hilang.

“Mas Fabian.”

“Ya?”

“Saya rasa Mas harus mulai belajar membedakan candaan dan godaan.”

“Saya bisa membedakannya.”

“Lalu?”

“Saya hanya belum yakin Anda bisa.”

Aku menutup wajah dengan tangan.

Laki-laki ini benar-benar tidak punya rem ketika memutuskan membalas.

“Baik,” kataku. “Mulai sekarang kita ganti panggilan.”

“Menjadi apa?”

“Aku dan kamu.”

Hening.

“Anda yakin?”

“Kenapa? Takut terlalu dekat?”

“Tidak. Saya hanya ingin memastikan Anda tidak akan menyesal.”

Aku tersenyum. “Aku tidak mudah menyesal.”

“Baik.” Suaranya terdengar lebih lembut. “Kalau begitu, selamat tidur, Luna.”

Aku terdiam mendengar namaku tanpa jarak formal di antara kami.

“Selamat tidur, Fabian.”

Panggilan berakhir.

Aku masih memegang ponsel beberapa detik setelah layar gelap. Ada sesuatu yang berubah sejak kami sepakat memakai aku dan kamu. Dua kata itu seharusnya sederhana, tetapi terasa seperti membuka pintu yang sebelumnya hanya kami lewati sampai ambang.

Pagi berikutnya, aku bangun lebih awal dan langsung menyesal karena tubuhku sudah terbiasa mencari pesan darinya. Tidak ada pesan baru. Aku mencoba bekerja, membaca naskah, menandai paragraf, dan mengabaikan fakta bahwa setiap suara notifikasi membuatku menoleh.

Menjelang siang, akhirnya ada pesan masuk.

Fabian: Kamu sudah makan?

Aku menatap satu kalimat itu dengan senyum yang terlalu jelas.

Aku: Baru mau. Kamu kangen?

Aku hampir menghapusnya. Namun sejak kapan aku takut pada pertanyaan yang memang ingin kutanyakan?

Balasannya tidak langsung datang.

Fabian: Saya sedang belajar menyampaikan maksud dengan lebih jelas.

Aku tertawa sendiri.

Aku: Berarti iya?

Fabian: Berarti saya ingin tahu apakah kamu sudah makan.

Aku memutar mata, meskipun tidak ada orang yang melihat.

Aku: Jawaban aman lagi.

Fabian: Kamu ingin jawaban yang tidak aman?

Jantungku melakukan sesuatu yang tidak diminta.

Aku: Mungkin. Tapi kamu harus berani menanggung akibatnya.

Kali ini panggilan masuk sebelum pesan berikutnya terkirim. Aku mengangkat dengan cepat, lalu langsung menyesal karena terdengar terlalu siap.

“Kamu selalu menelepon orang setelah melempar tantangan?”

“Saya menelepon karena ingin memastikan kamu benar-benar makan.”

“Kamu mulai kembali ke saya.”

“Kebiasaan lama.”

Aku dapat membayangkan wajah tenangnya dari suara itu. “Kalau saya bilang belum makan?”

“Saya akan mengirimkan makanan.”

“Kalau saya bilang sudah?”

“Saya akan tetap mengirimkan makanan penutup.”

“Masalahnya, kamu terlalu mudah menyuap saya.”

“Saya belum pernah melihat kamu menolak makanan.”

“Saya bisa menolak hal lain.”

“Saya tahu.”

“Kamu terdengar kecewa.”

“Saya terdengar sedang menunggu kamu menjelaskan hal lain.”

Aku diam, kemudian tertawa karena kalah lagi.

Kami sepakat bertemu pada akhir pekan. Aku mengatakan ingin memilih tempatnya sendiri, lalu mengirimkan alamat sebuah pasar buku bekas yang tidak terlalu ramai. Ia tidak bertanya mengapa aku memilih tempat itu. Ia hanya menjawab bahwa ia akan datang pukul sepuluh.

Sebelum menutup panggilan, aku bertanya, “Fabian?”

“Ya?”

“Kalau nanti saya terlalu banyak bicara, jangan kabur.”

“Kalau nanti kamu terlalu banyak bicara, saya akan mendengarkan.”

“Kamu yakin?”

“Tidak selalu. Tapi saya akan berusaha.”

Aku memejamkan mata.

“Jawabanmu itu tidak romantis, tahu.”

“Tapi jujur.”

“Itu lebih berbahaya.”

Ia tertawa pelan. “Selamat bekerja, Luna.”

“Selamat bekerja, Fabian.”

Panggilan berakhir untuk kedua kalinya malam itu, dan kali ini aku tidak langsung merasa harus mengisi keheningan. Aku duduk di depan naskah dengan senyum yang masih tertinggal.

Aku menjatuhkan diri ke kasur dan menarik selimut sampai dagu. Pertemuan berikutnya belum ditentukan. Masa perkenalan kami bahkan baru berjalan beberapa hari.

Namun aku sudah mulai memahami satu hal: kalau terus menggoda laki-laki itu tanpa persiapan, suatu hari nanti aku akan benar-benar jatuh cinta.

Yang lebih menakutkan, aku mulai curiga bahwa hari itu mungkin sudah dekat.