Chapter Thirteen

Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua

POV: Luna Aurora Clarissa

Setelah pembicaraan tentang Elena, aku merasa lebih tenang.

Itu masalahnya.

Setiap kali laki-laki itu menjawab pertanyaanku dengan jujur, aku merasa aman. Setiap kali ia mengingat sesuatu yang pernah kukatakan, aku merasa dipilih. Lalu ketika aku pulang dan berada sendirian, pertanyaan lain muncul: bagaimana kalau semua itu hanya karena kami sedang menjalani perjodohan?

Bagaimana kalau ia akan melakukan hal yang sama kepada siapa pun yang dipilih keluarganya?

Aku tidak menyukai pertanyaan itu, tetapi ia tidak mau pergi.

Pada malam Jumat, kedua keluarga mengadakan makan malam bersama. Aku duduk di sebelah Mama, sementara laki-laki itu berada di seberang meja. Orang tua kami membicarakan rencana pertunangan, tanggal yang cocok, dan betapa bahagianya mereka melihat kami semakin dekat.

Aku tersenyum ketika diperlukan.

Namun setiap kali seseorang mengatakan, “Kalian memang pasangan yang tepat,” aku merasa seperti sedang melihat hidupku dari luar tubuh.

Setelah makan malam, Mama laki-laki itu menghampiriku di teras.

“Kamu baik-baik saja?”

“Baik.”

Ia tersenyum tipis. “Jawaban yang sering dipakai orang ketika sedang memikirkan terlalu banyak hal.”

Aku tertawa kecil.

“Fabian menyukaimu,” katanya.

“Saya tahu dia nyaman bersama saya.”

“Itu bukan hal yang sama.”

Aku menatap lampu taman. “Bagaimana kalau dia hanya berusaha menjadi laki-laki yang baik?”

“Dia memang laki-laki yang baik. Tapi Fabian tidak akan melanjutkan sesuatu hanya untuk menyenangkan keluarga.”

“Dia pernah menolak?”

“Berkali-kali.”

Aku menoleh.

“Sebelum kamu, ada beberapa perempuan yang diperkenalkan kepadanya. Dia selalu sopan, selalu hadir sekali, lalu mengatakan tidak.”

Informasi itu seharusnya membuatku lega. Anehnya, aku justru merasa lebih takut.

“Kenapa dia tidak menolak saya?”

Ibu itu tidak langsung menjawab. “Pertanyaan itu sebaiknya kamu tanyakan kepadanya.”

laki-laki itu menemukan kami di teras beberapa menit kemudian. Ia membawa dua gelas air, lalu memberikan satu kepadaku tanpa bertanya.

“Kamu ingin pulang?”

“Boleh?”

“Tentu.”

Kami berpamitan kepada keluarga, kemudian berjalan menuju mobil. Sepanjang perjalanan, aku tidak banyak bicara. laki-laki itu tidak memaksa percakapan, tetapi aku tahu ia sedang menunggu.

Di depan rumahku, ia mematikan mesin.

“Kamu ingin membicarakan sesuatu?”

Aku menatap tanganku sendiri. “Kamu pernah menolak banyak perempuan sebelum aku?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin menikah hanya karena seseorang terlihat cocok di atas kertas.”

“Lalu aku?”

“Kamu juga tidak terlihat cocok hanya di atas kertas.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku tahu.”

Aku menoleh kepadanya. “laki-laki itu, apakah kamu menerima perjodohan ini karena memang aku yang dipilih, atau karena kamu sudah memutuskan akan menerima siapa pun yang keluargamu perkenalkan?”

Ia terdiam.

Satu detik.

Dua.

Tiga.

Aku merasa dadaku semakin berat.

“Aku tidak tahu harus menjawab dari mana,” katanya.

“Dari awal.”

“Tidak sesederhana itu.”

“Berarti jawabannya memang bukan aku.”

“Luna.”

Aku membuka pintu mobil.

“Aku tidak sedang meminta kamu menghiburku. Aku hanya ingin tahu apakah semua perhatianmu ini memang untukku atau hanya bagian dari tanggung jawab.”

“Aku tidak pernah menganggapmu tanggung jawab.”

“Tapi kamu belum mengatakan aku pilihanmu.”

laki-laki itu meraih tanganku sebelum aku turun, tetapi tidak menahanku dengan paksa.

“Aku ingin mengatakan sesuatu dengan cara yang benar.”

“Kapan?”

“Saat aku bisa memberimu seluruh jawabannya.”

“Aku tidak meminta seluruh hidupmu. Aku hanya meminta satu kalimat.”

“Aku tahu.”

“Kamu selalu tahu, tapi tidak pernah mengatakannya.”

Aku menarik tanganku dengan hati-hati.

“Aku akan pulang.”

laki-laki itu melepaskannya.

Malam itu, aku tidak mengirim pesan setelah masuk kamar. Aku tidak ingin menghukum laki-laki itu. Aku hanya perlu menjauh dari perasaan yang terlalu cepat tumbuh.

Aku memandangi pot tanaman yang diberikannya. Daunnya masih tegak. Tidak ada yang berubah pada benda itu, tetapi rasanya aku sedang melihat sesuatu yang berbeda.

Jika laki-laki itu hanya menerima siapa pun yang dipilih keluarga, mengapa ia memperhatikanku seolah aku adalah satu-satunya perempuan di ruangan?

Jika ia memang memilihku, mengapa begitu sulit mengatakannya?

Aku tidur dengan dua pertanyaan yang sama-sama tidak memberiku ketenangan.

Pagi harinya, aku berusaha menjalani rutinitas seperti biasa. Aku membuat kopi, membuka laptop, dan membaca tiga halaman naskah sebelum menyadari bahwa aku tidak memahami satu kalimat pun. Ponselku berada di samping tangan, tetapi tidak ada pesan dari laki-laki itu.

Aku menunggu sampai pukul sepuluh.

Tidak ada.

Pukul sebelas, aku mengirim pesan kepada Nara.

Aku: Kalau seseorang bilang ingin menikah denganmu, tapi tidak mengatakan bahwa kamu pilihannya, itu artinya apa?

Nara: Artinya kamu sedang mencari masalah dari kalimat yang belum selesai.

Aku: Jawab yang serius.

Nara: Artinya tanyakan langsung, bukan membuat teori.

Aku tidak suka ketika Nara benar.

Siang itu, Mama datang membawa buah. Ia melihat wajahku dan langsung tahu aku sedang tidak baik-baik saja.

“Bertengkar dengan Fabian?”

“Tidak.”

“Berarti bertengkar dengan pikiran sendiri.”

Aku menyandarkan kepala ke sofa. “Bagaimana kalau dia menerima perjodohan ini hanya karena aku pilihan keluarganya?”

Mama duduk di sampingku. “Kamu sudah bertanya?”

“Sudah.”

“Dan?”

“Dia bilang ingin menjawab dengan cara yang benar.”

“Kedengarannya seperti seseorang yang sedang menyiapkan jawaban penting.”

“Atau seseorang yang tidak punya jawaban.”

Mama tidak buru-buru membantah. “perempuan itu, kamu selalu meminta orang lain jujur, tetapi ketika jawaban mereka tidak datang sesuai waktu yang kamu mau, kamu langsung menganggapnya buruk.”

Aku menatap buah di meja.

“Aku takut,” kataku.

“Takut apa?”

“Takut aku sudah terlalu menyukainya.”

Mama meraih tanganku. “Menyukai seseorang bukan kesalahan. Yang penting kamu tetap punya pilihan.”

“Bagaimana kalau pilihanku membuatku terluka?”

“Semua pilihan memiliki kemungkinan itu.”

Aku menghela napas. “Aku ingin dia memilihku tanpa merasa kasihan.”

“Kalau begitu, beri dia kesempatan mengatakannya.”

Sore menjelang malam sebelum laki-laki itu akhirnya mengirim pesan.

Fabian: Aku ingin datang.

Aku membaca kalimat itu lama.

Aku: Untuk apa?

Fabian: Untuk menjawab pertanyaanmu.

Aku: Kalau jawabannya membuatku tidak nyaman?

Fabian: Aku tetap akan datang.

Aku: Kalau aku tidak mau bertemu?

Fabian: Aku akan menunggumu memberi tahu secara langsung.

Aku menutup mata. Ia selalu tahu bagaimana membuatku tidak bisa bersembunyi di balik pesan singkat.

Aku: Datanglah.

Setelah mengirimnya, aku berdiri dan mengganti baju tiga kali. Aku memilih pakaian yang sederhana, lalu menambahkan lip balm karena kebiasaan. Aku hampir tertawa ketika menyadari bahwa bahkan dalam keadaan takut, aku masih ingin terlihat baik di hadapannya.

Mungkin itulah jawaban yang selama ini kucari.

Aku bukan hanya ingin tahu apakah laki-laki itu memilihku. Aku ingin menjadi seseorang yang juga memilihnya dengan sadar, bahkan setelah tahu kemungkinan buruknya.

Aku mengambil ponsel dan mengetik pesan kepadanya, tetapi tidak langsung mengirim.

Aku takut, tapi aku tidak ingin pergi.

Kalimat itu terasa terlalu telanjang. Aku menghapusnya, lalu menulis versi lain.

Aku: Terima kasih sudah datang malam ini.

Balasannya muncul beberapa saat kemudian.

Fabian: Aku akan datang lagi kalau kamu memintanya.

Aku menekan layar.

Aku: Kalau aku tidak meminta?

Fabian: Aku tetap akan memastikan kamu baik-baik saja dari jauh.

Aku tersenyum sedih. Bahkan ketika memberi ruang, ia tetap membuatku merasa dijaga.

Aku menyimpan percakapan itu tanpa menghapusnya. Mungkin besok aku akan kembali ragu, tetapi malam ini aku ingin membiarkan satu hal tetap sederhana: ia datang ketika kupanggil, dan aku tidak pergi ketika takut.

Aku memeluk bantal, lalu akhirnya tertidur dengan senyum kecil.

Untuk pertama kalinya setelah makan malam keluarga, tidur terasa tenang.