Chapter Sixteen
Aku Mau Menikah denganmu
POV: Luna Aurora Clarissa
Aku tidak pernah membayangkan akan menyatakan cinta dalam keadaan sedang memegang daftar belanja.
Namun hidup tidak selalu memberi kita adegan dramatis. Kadang-kadang, perasaan paling besar muncul di dapur rumah Mama, di antara bawang putih, cabai, dan laki-laki itu yang sedang mencoba memotong wortel dengan ukuran sama.
“Jangan memotong seperti itu,” kataku.
Ia melihat talenan. “Ukuran ini salah?”
“Tidak salah. Hanya tidak punya estetika.”
“Wortel akan dimakan, bukan difoto.”
“Kamu tidak mengerti seni.”
laki-laki itu menyerahkan pisau kepadaku. “Kalau begitu, ajari.”
Aku berdiri di sampingnya, terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Tanganku menutupi tangannya di atas gagang pisau, lalu aku segera menyadari bahwa ia tidak membutuhkan bantuan apa pun.
“Kamu sengaja?” tanyanya.
“Aku sedang mengajar.”
“Tentu.”
“Kalau kamu terus meragukan niatku, aku bisa pergi.”
“Jangan.”
Jawabannya terlalu cepat.
Aku menoleh. Ia masih melihat wortel, tetapi telinganya mulai memerah.
Hari itu, kedua keluarga berkumpul untuk membicarakan tanggal pertunangan. Aku seharusnya bersemangat, tetapi sejak makan malam beberapa hari lalu, pikiranku terus mencari jawaban dari satu pertanyaan: apakah laki-laki itu memilihku, atau hanya memilih untuk tidak menolak?
Aku sudah mendengar penjelasannya tentang masa lalu. Aku tahu ia ingin menikah denganku. Namun keinginan seseorang belum tentu sama dengan keputusan untuk memberikan seluruh hidupnya.
Ketika Mama dan Ibu laki-laki itu pergi mengambil piring, aku membawa dua gelas teh ke balkon. laki-laki itu menyusul beberapa saat kemudian.
“Kamu menghindar?” tanyanya.
“Aku sedang mencari udara.”
“Di dapur juga ada udara.”
“Di dapur ada wortel yang dipotong tanpa estetika.”
Ia berdiri di sampingku. Pemandangan sore di luar rumah cukup tenang, tetapi dadaku tidak.
“Fabian.”
“Ya?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum keluarga kita memutuskan tanggal apa pun.”
Ia menunggu.
Aku menggenggam gelas teh lebih erat.
“Aku tidak mau menikah denganmu hanya karena orang tua kita bahagia.”
“Aku tahu.”
“Jangan bilang tahu dulu.”
“Baik.”
“Aku juga tidak mau menikah denganmu hanya karena kamu pernah mengenalku lebih dulu, atau karena aku pernah memberi teh di rumah sakit, atau karena menurut semua orang kamu laki-laki baik dan aku seharusnya merasa beruntung.”
laki-laki itu tidak menyela.
“Aku ingin menikah denganmu karena aku memilihmu,” lanjutku. “Bukan karena perjodohan ini berjalan lancar. Bukan karena kamu selalu membuatku merasa aman. Aku memilihmu karena ketika kamu tidak mengirim pesan, hariku terasa kurang. Karena aku mencari wajahmu di ruangan. Karena aku ingin menjadi orang yang kamu cari ketika pulang.”
Aku berhenti untuk menarik napas.
“Aku mau menikah denganmu, Fabian.”
Ia masih diam.
Aku langsung panik. “Kamu boleh menjawab sebelum aku menganggap ini monolog yang memalukan.”
laki-laki itu meletakkan gelasnya di pagar balkon. Kemudian ia berbalik menghadapku.
“Aku ingin menikah denganmu sejak sebelum kamu tahu namaku.”
Jantungku berhenti sesaat.
“Itu bukan jawaban yang aman,” kataku.
“Aku tidak sedang mencari jawaban aman.”
“Kamu yakin?”
“Sangat.”
“Kalau aku berubah pikiran?”
“Aku akan tetap menghormati pilihanmu.”
“Kalau aku semakin menyebalkan?”
“Aku sudah memperhitungkannya.”
“Kalau aku terlalu banyak bicara?”
“Aku akan mendengarkan.”
“Kalau aku ingin menggoda setiap hari?”
Tatapan laki-laki itu turun sebentar ke bibirku, lalu kembali ke mataku.
“Aku akan membalas ketika waktunya tepat.”
Aku kehilangan suara.
Ia mengangkat tangan, menyentuh sisi wajahku dengan punggung jarinya. Gerakannya begitu pelan hingga aku memiliki banyak kesempatan untuk mundur.
Aku tidak mundur.
“Aku juga memilihmu,” katanya.
Kali ini aku tertawa karena lega. “Kamu membuat pengakuan cinta terdengar seperti persetujuan kontrak.”
“Kamu ingin aku mengulanginya dengan lebih panjang?”
“Tidak. Nanti aku makin gugup.”
“Kamu sudah gugup.”
“Aku sedang bahagia.”
Ia tersenyum. “Aku tahu.”
Aku memukul lengannya, tetapi tidak benar-benar ingin menjauh.
Di dalam rumah, suara Mama memanggil kami. Aku meraih tangan laki-laki itu sebelum ia berbalik.
“Fabian.”
“Ya?”
“Mulai sekarang, jangan menyebut ini masa percobaan lagi.”
“Baik.”
“Kita sudah lulus.”
“Siapa yang menilai?”
“Aku.”
“Berapa nilainya?”
Aku berdiri lebih dekat. “Cukup untuk mendapatkan akses penuh.”
Senyumnya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan tenang.
“Kamu yakin ingin memberikan akses itu?”
Aku menelan ludah.
“Jangan mulai.”
“Kamu yang membuka pintunya.”
Aku menariknya kembali ke dalam rumah sebelum ia sempat mengatakan sesuatu yang membuatku kehilangan keseimbangan.
Hari itu, tanggal pertunangan belum ditentukan.
Namun keputusan kami sudah lebih dulu dibuat.
Kami kembali ke dapur setelah itu. Mama dan Ibu laki-laki itu sudah menata piring, tetapi percakapan mereka berhenti ketika melihat kami masuk berdampingan.
“Sudah selesai bicara?” tanya Mama.
“Sudah,” jawabku.
laki-laki itu mengambil mangkuk dari tanganku. “Kami sepakat.”
Ibu laki-laki itu tersenyum, tetapi tidak langsung bertanya apa yang disepakati. Ia hanya memindahkan sayuran ke piring saji, memberi kami ruang untuk menyampaikan sendiri.
Papa memandang kami bergantian. “Tidak ada yang merasa terburu-buru?”
Aku menatap laki-laki itu. Ia tidak menjawab untukku.
“Aku tidak merasa terburu-buru,” kataku. “Aku hanya baru sadar bahwa menunggu terlalu lama juga tidak selalu membuat keputusan menjadi lebih benar.”
laki-laki itu menoleh kepadaku.
“Kamu sudah menunggu terlalu lama?” tanyanya pelan.
“Mungkin.”
“Untuk apa?”
“Untuk mengakui bahwa aku suka kamu.”
Mama tertawa. “Akhirnya.”
Aku menutup wajah dengan tangan. laki-laki itu mengambil gelas air dan mendorongnya ke arahku, masih dengan senyum kecil yang membuatku semakin malu.
Setelah makan malam, kami mencuci piring bersama. Aku menyabuni, ia membilas. Sesekali air mengenai lengan bajunya, tetapi ia tidak protes. Aku sengaja memercikkan air lebih banyak.
“Kamu sedang merayakan sesuatu?” tanyanya.
“Aku sedang memastikan calon suamiku tidak terlalu kaku.”
“Hasilnya?”
“Masih perlu penelitian lanjutan.”
Ia menutup keran, mengeringkan tangannya, lalu berdiri tepat di depanku.
“Penelitian lanjutan seperti apa?”
Aku mendongak. “Aku belum membuat rencana.”
“Kamu selalu punya rencana.”
“Aku sedang memberi kesempatan untukmu mengambil inisiatif.”
laki-laki itu mengusap tetesan air di pipiku dengan ibu jarinya. “Aku akan mengingatnya.”
Aku menahan napas.
“Jangan terlalu lama,” bisikku.
“Aku sudah menunggu cukup lama.”
Kalimat itu membuatku terdiam. Aku tahu ia merujuk pada lebih dari sekadar ciuman yang belum terjadi.
Aku menggenggam ujung bajunya. “Kalau begitu, sekarang jangan menunggu sendirian.”
laki-laki itu mencium keningku. Tidak lama, tetapi cukup untuk membuat seluruh suara di dapur menghilang.
Ketika ia menjauh, aku menyentuh tempat bibirnya tadi.
“Itu bukan ciuman yang tadi kamu janjikan.”
“Aku sedang memulai dari yang aman.”
“Aku tidak meminta yang aman.”
Tatapannya kembali menjadi terlalu tenang.
“Aku tahu.”
Aku menghela napas. “Kamu memang tidak punya niat membiarkan aku menang.”
“Aku membiarkanmu menang setiap hari.”
“Jangan mengatakannya seperti itu.”
“Kenapa?”
“Karena aku bisa percaya.”
“Aku ingin kamu percaya.”
Malam itu, aku pulang membawa keputusan yang lebih besar daripada tanggal pertunangan. Aku pulang dengan keyakinan bahwa cinta kami bukan hanya sesuatu yang kami rasakan ketika sedang berdua, melainkan sesuatu yang mulai kami akui di depan keluarga dan di dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam kamar, aku menulis pesan kepada laki-laki itu.
Aku: Terima kasih sudah memilihku meski aku datang dengan banyak aturan.
Fabian: Aku menyukai aturanmu.
Aku: Kamu menyukai semuanya tentang aku?
Fabian: Aku sedang menuju ke sana.
Aku tersenyum sambil menekan ponsel ke dada. Jawabannya tidak sempurna, tetapi terasa lebih jujur daripada janji apa pun.
Aku tidur malam itu dengan senyum yang tidak kunjung hilang.
Pagi harinya, aku masih tersenyum.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu reading
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya