Chapter Twenty Two
Menjelang Hari yang Kami Pilih
POV: Fabian Asher
Aku tidak pernah menyangka memilih warna bunga bisa menjadi perkara yang lebih rumit daripada menyelesaikan laporan tahunan.
“Putihnya terlalu dingin,” kata Luna.
“Itu bunga putih.”
“Bunga putih juga punya kepribadian.”
Aku memandangi tiga katalog yang terbuka di meja. Ada putih gading, putih susu, putih tulang, dan putih yang disebut “kabut pagi”. Aku tidak tahu bagaimana sebuah warna dapat diberi nama seperti cuaca, tetapi Luna terlihat sangat yakin bahwa perbedaan itu penting.
“Kalau kamu nggak suka, kita bisa pilih yang lain,” kataku.
Ia langsung menoleh. “Jangan selalu mengalah.”
“Aku nggak mengalah.”
“Kamu mengalah dengan wajah tenang. Itu lebih menyebalkan.”
Aku menahan senyum. “Baik. Aku memilih kabut pagi.”
“Padahal tadi kamu bilang semuanya sama.”
“Aku udah berubah pikiran.”
Luna menyipitkan mata, tahu aku sedang menggoda. Beberapa bulan lalu, ia mungkin akan mengira aku serius. Sekarang ia sudah mengenali perubahan kecil dalam suaraku, sama seperti aku mengenali cara ia menggerakkan kaki ketika gugup.
Kami sedang berada di ruang pertemuan hotel untuk membicarakan persiapan pernikahan. Orang tua kami duduk di ujung meja, perencana pernikahan membawa tumpukan dokumen, dan Luna sudah berhasil membuat tiga orang dewasa kehilangan arah hanya dengan mempertanyakan bentuk pita pada undangan.
“Aku mau acaranya sederhana,” katanya. “Nggak terlalu ramai. Aku nggak mau merasa kayak lagi tampil di depan satu kota.”
“Kita bisa membatasi tamu,” jawabku.
Ibuku mengangguk setuju. “Keluarga besar mungkin bakal—”
“Aku bakal bicara dengan mereka,” potongku.
Luna menatapku. “Kamu yakin?”
“Yakin.”
“Jangan menanggung semuanya sendirian.”
“Aku nggak sendirian. Ada kamu.”
Wajahnya langsung melunak. Ia mengulurkan tangan di bawah meja dan menyentuh jari kelingkingku. Gerakan kecil, tetapi cukup untuk membuat ruangan yang penuh suara terasa lebih tenang.
Masalah muncul dua hari kemudian.
Ayah Luna ingin mengadakan resepsi besar di gedung keluarga. Ia sudah mengundang hampir dua ratus orang sebelum kami sempat menyampaikan keinginan kami. Luna menerima kabar itu ketika kami sedang makan malam. Ia membaca pesan ibunya, kemudian meletakkan ponsel di meja dengan napas panjang.
“Mereka udah mencetak undangan tambahan,” katanya.
“Kita bisa membicarakannya.”
“Aku tahu. Tapi aku nggak mau bikin mereka kecewa.”
Aku menaruh sendok. “Kamu juga nggak boleh kecewa.”
Ia tersenyum kecil. “Aku udah terbiasa mengikuti kemauan orang tua.”
“Aku tahu.”
“Dulu aku pikir itu nggak masalah. Kalau mereka senang, aku juga bisa menyesuaikan.”
“Sekarang?”
Luna menatapku. “Sekarang aku punya sesuatu yang mau kupilih sendiri.”
Aku meraih tangannya di atas meja. “Kalau gitu, kita memilih bersama.”
Malam itu kami mendatangi rumah orang tuanya. Luna duduk di sampingku, bukan di belakang siapa pun. Ia menjelaskan bahwa ia menghargai semua usaha keluarga, tetapi pernikahan ini harus terasa seperti rumah bagi kami, bukan acara untuk memenuhi harapan orang lain.
Ayahnya terlihat kecewa. Ibunya lebih banyak diam.
Aku menunggu sampai Luna selesai bicara sebelum menyampaikan pendapatku. “Saya mau Luna merasa aman pada hari itu. Kalau jumlah tamu membuatnya nggak nyaman, saya bersedia mengurangi. Kami nggak nolak keluarga. Kami cuma mau punya ruang untuk memulai.”
Ayahnya menghela napas. “Kalian masih muda. Pernikahan bukan cuma soal keinginan kalian.”
“Saya setuju,” jawabku. “Karena itu kami nggak meminta menjalani semuanya sendirian. Kami cuma meminta keluarga mendengar kami.”
Luna menggenggam tanganku lebih erat.
Pembicaraan itu tidak langsung berakhir baik. Kami pulang dengan daftar tamu yang masih terlalu panjang dan jadwal yang belum berubah. Luna diam sepanjang perjalanan, menatap lampu jalan dari balik jendela.
“Kalau kamu mau menangis, aku bisa pura-pura nggak melihat,” kataku.
“Aku nggak menangis.”
“Baik.”
Beberapa detik kemudian, ia menyandarkan kepala ke bahuku.
“Aku cuma takut,” bisiknya.
Aku mengusap rambutnya. “Takut apa?”
“Takut pernikahan ini kembali menjadi sesuatu yang diputuskan orang lain.”
Aku menoleh ke arahnya. “Luna, dengarkan aku.”
Ia mengangkat kepala.
“Kalau besok semua gedung dibatalkan, semua undangan dibuang, dan cuma tersisa kita berdua di ruang tamu kecil, aku tetap bakal menikahimu.”
Matanya berkedip cepat.
“Dengan bunga kabut pagi?”
“Kalau kamu mau.”
“Dan tanpa tamu?”
“Tanpa tamu.”
“Tanpa makanan?”
“Aku bakal memasak.”
Ia langsung tertawa. “Itu ancaman.”
“Aku bisa bikin nasi goreng.”
“Aku tahu. Rasanya kayak keputusan buruk.”
Aku mencubit pelan ujung hidungnya. Ia membalas dengan menyandarkan tubuh lebih dekat.
Keesokan harinya, aku mengajak kedua keluarga bertemu lagi. Kali ini Luna membawa rancangan acara sederhana yang ia buat sendiri. Aku membawa daftar alasan, anggaran, dan solusi. Kami tidak meminta semuanya sesuai keinginan kami. Kami menawarkan jalan tengah.
Setelah pertemuan itu selesai, ibu Luna menghampiriku di teras. Ia membawa dua cangkir teh, lalu menyerahkan salah satunya.
“Makasih udah berdiri di samping Luna,” katanya.
“Saya bakal selalu melakukannya.”
Ia tersenyum, tetapi matanya tampak berkaca-kaca. “Dulu dia nggak pernah benar-benar meminta apa-apa. Kami sering mengira dia baik-baik aja karena dia nggak nolak.”
Aku memandangi Luna dari balik pintu kaca. Ia sedang menjelaskan kepada ayahnya mengapa pita abu-abu terlihat lebih elegan daripada pita emas.
“Sekarang dia meminta,” lanjut ibunya. “Itu berarti dia merasa cukup aman untuk punya keinginan.”
“Saya mau dia tetap merasa aman.”
“Jangan cuma menjaganya dari hal-hal besar. Kadang dia juga perlu diyakinkan bahwa keinginannya yang kecil nggak merepotkan.”
Aku mengangguk. Sebenarnya, Luna tidak pernah merepotkan. Ia hanya membawa banyak suara ke dalam hidupku. Sebelum mengenalnya, aku hidup dalam ruangan yang terlalu sunyi.
Ketika kami pulang, Luna bertanya apa yang dibicarakan ibunya. Aku menjawab, “Ibumu berpesan agar kamu nggak terlalu banyak ganggu.”
Ia berhenti melangkah. “Serius?”
“Nggak. Dia berterima kasih karena kamu berani nyampein keinginanmu.”
Luna menunduk dan mengusap sudut matanya. Aku tidak menunjukkannya. Aku hanya berjalan lebih dekat dan menggenggam tangannya.
Di antara kami, diam tidak lagi berarti jarak.
Resepsi tetap diadakan, tetapi jumlah tamu dibatasi. Acara keluarga besar dipisahkan dari akad. Kami memilih bunga yang lembut, musik yang tidak terlalu keras, dan ruangan kecil tempat kami bisa beristirahat kapan pun Luna merasa kewalahan.
Ayahnya akhirnya menyetujui.
“Kalian benar-benar udah mikirin semuanya,” katanya.
Luna tersenyum. “Fabian yang mikirin semuanya. Aku cuma ganggu.”
“Kamu nggak ganggu,” kataku.
“Aku ganggu sejak pertama kali bertemu.”
“Benar.”
Ia menatapku tajam. Keluarga kami tertawa.
Malam sebelum pernikahan, aku mengantar Luna pulang. Kami berdiri di depan pagar, tidak ingin segera berpisah meskipun besok pagi akan bertemu lagi.
“Kamu besok masih mau menikah denganku?” tanyanya.
“Aku perlu memeriksa jadwal.”
Ia memukul lenganku. “Jangan bercanda.”
Aku menunduk sedikit agar wajah kami sejajar. “Aku bakal datang.”
“Terlambat sedikit nggak apa-apa.”
“Aku nggak bakal terlambat.”
“Kalau gugup?”
“Aku bakal tetap datang.”
Luna tersenyum. “Kalau aku tiba-tiba kabur?”
“Aku bakal mengejarmu.”
“Kalau aku sembunyi?”
“Aku tahu semua tempat persembunyianmu.”
“Kalau aku sembunyi di kamar?”
Aku mendekat. “Aku bakal mengetuk pintunya.”
“Lalu?”
“nunggu kamu membukanya.”
“Nggak masuk?”
“Kalau kamu mengizinkan.”
Senyumnya menjadi lebih lembut. “Kamu terlalu baik.”
“Kamu baru sadar?”
Ia mencium pipiku cepat, lalu mundur sebelum aku sempat membalas. “Sampai besok, calon suamiku.”
Aku menatapnya masuk ke rumah.
Besok, ia bukan lagi calon.
Besok, Luna akan menjadi istriku karena ia memilihku, sama seperti aku memilihnya.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih reading
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya