Chapter Six
Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang
POV: Luna Aurora Clarissa
Aku mulai menyadari bahwa mengenal seseorang berarti melihat bagaimana orang itu diperlakukan ketika dirinya tidak sedang berusaha mengesankan kita.
Di depanku, laki-laki itu tidak pernah terlihat seperti sedang berusaha menjadi laki-laki baik. Ia hanya melakukan apa yang menurutnya perlu dilakukan, lalu melanjutkan hari seolah tidak ada seorang pun yang memperhatikan.
Sabtu pagi itu, aku menunggunya di depan pasar buku bekas dengan dua gelas kopi dan sebuah daftar tempat makan yang sudah kubuat sejak malam sebelumnya. Kami baru bertemu kurang dari dua minggu, tetapi aku sudah memiliki kebiasaan membawa sesuatu untuknya. Aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa itu hanya cara membalas makanan yang pernah ia kirimkan.
Aku tahu itu bukan alasan yang sangat meyakinkan.
laki-laki itu datang mengenakan kaus hitam, celana panjang abu-abu, dan sepatu yang tampak terlalu bersih untuk tempat berdebu seperti ini. Ia menerima satu gelas kopi dariku, lalu mengangkat alis ketika melihat kertas di tanganku.
“Apa itu?”
“Rencana penelitian.”
“Kamu masih melanjutkan penelitian?”
“Aku serius soal evaluasi calon suami.”
Ia menatap daftar itu. “Ada kategori penilaian?”
“Jelas. Sabar apa nggak, perhatian apa nggak, jago milih makanan, sama potensi jadi nyebelin habis nikah.”
“Gimana nilai sementaraku?”
“Belum keluar. Aku masih mengumpulkan bukti.”
“Oke. Aku bakal coba nggak ganggu prosesnya.”
Aku mendengus. “Kamu selalu jawab kayak itu?”
“Kayak apa?”
“Kayak orang yang tahu aku bakal terus bertanya.”
“Aku emang tahu.”
Kami masuk ke pasar buku. Aku langsung berpisah ke rak fiksi, sedangkan laki-laki itu bergerak di belakangku dengan jarak yang cukup dekat untuk membantu kalau aku membawa terlalu banyak buku, tetapi cukup jauh untuk tidak membuatku merasa diawasi.
Aku menemukan tiga novel, dua kumpulan esai, dan satu buku masak yang kubeli hanya karena ilustrasi kuahnya tampak menyedihkan. Ketika hendak membayar, penjual tua di balik meja kasir salah menghitung kembalian. laki-laki itu menyadarinya, tetapi tidak langsung memotong. Ia menunggu sampai penjual tersebut selesai menghitung, lalu berkata pelan bahwa ada uang yang kurang.
Penjual itu meminta maaf berkali-kali. laki-laki itu hanya tersenyum dan mengatakan tidak masalah.
“Kamu nggak perlu balikin uangnya,” kataku setelah kami menjauh.
“Itu haknya.”
“Banyak orang akan menganggapnya tip.”
“Aku nggak lagi ngasih tip. Aku cuma balikin sesuatu yang bukan punya aku.”
Aku menulis sesuatu di daftar.
“Apa yang kamu tulis?”
“Nilai kejujuran.”
“Berapa?”
“Masih rahasia.”
Ia tidak bertanya lagi. laki-laki itu memang tidak pernah memaksa pintu yang tidak kubuka.
Kami berjalan menuju kedai sarapan di ujung jalan. Di sana, seorang ibu penjual bubur langsung memanggil laki-laki itu dengan nama kecilnya dan menanyakan kabar ibunya. laki-laki itu menjawab dengan sabar, kemudian membantu mengangkat galon air yang baru tiba sebelum duduk. Pemilik kedai berkali-kali berterima kasih, tetapi laki-laki itu mengatakan siapa pun akan melakukan hal yang sama jika melihat galon itu menghalangi jalan.
Aku menatapnya dari balik mangkuk bubur.
“Kenapa?” tanyanya.
“Aku lagi menghitung berapa banyak orang yang kenal kamu.”
“Nggak banyak.”
“Penjual buku tahu namamu. Ibu bubur tahu ibumu. Satpam gedung studiomupun tahu kopi yang kamu minum.”
“Aku sering datang ke tempat-tempat itu.”
“Itu bukan jawaban.”
Ia mengambil kerupuk dari piringku tanpa meminta izin. “Apa pertanyaanmu?”
Aku menunjuknya dengan sendok. “Kenapa laki-laki se-worth kamu nggak ada yang mendekati?”
laki-laki itu berhenti mengunyah. Untuk beberapa detik, ia benar-benar kehilangan respons. Aku merasa menang sampai ia meletakkan kerupuk di piringnya dan menatapku lurus.
“Siapa bilang nggak ada?”
Aku menelan bubur terlalu cepat. “Berarti ada?”
“Mungkin.”
“Siapa?”
“Kamu mau tahu karena penasaran atau karena cemburu?”
Aku tersedak.
Ia mengambilkan air sebelum aku sempat meraih gelas sendiri. Setelah aku berhenti batuk, ia kembali menikmati sarapannya, sama sekali tidak tampak menyesal telah membuatku panik.
“Aku cuma bertanya,” kataku.
“Aku juga cuma jawab.”
“Kamu menyebalkan.”
“Nilai kemungkinan menyebalkanku naik?”
“Banget.”
Ia tersenyum kecil. “Bagus. Berarti evaluasimu mulai jujur.”
Aku tidak menjawab. Di sekitar kami, orang-orang terus menyapa laki-laki itu. Seorang anak kecil dari meja sebelah menjatuhkan sendok. laki-laki itu memungutnya, menggantinya dengan sendok bersih, dan mengingatkan anak itu supaya tidak berlari di lantai basah. Seorang pengantar makanan datang terburu-buru; laki-laki itu menggeser kursinya agar jalan tidak terhalang. Bahkan ketika pemilik kedai salah memberi pesanan, ia mengoreksi tanpa meninggikan suara.
Semua hal itu kecil.
Namun terlalu banyak hal kecil yang dilakukan dengan konsisten akan berubah menjadi sesuatu yang sulit diabaikan.
Setelah sarapan, kami duduk di bangku dekat taman kecil. Aku membuka daftar penilaian, tetapi tidak langsung menulis.
“Jadi?” katanya.
“Jadi apa?”
“Apa hasil penelitiannya udah cukup?”
Aku menatap profil wajahnya yang diterpa matahari pagi. “Kamu tahu semua orang suka sama kamu?”
“Nggak semua.”
“Setidaknya semua orang yang tadi kita temui.”
“Mereka cuma kenal aku. Itu beda.”
“Apa bedanya?”
“Orang bisa kenal aku, tapi tetap aja nggak suka.”
“Tapi kamu nggak pernah ngasih mereka alasan.”
laki-laki itu diam cukup lama. “Aku pasti pernah ngasih alasan. Aku cuma nggak selalu sadar.”
Jawaban itu membuatku berhenti mencatat. Ada bagian dari dirinya yang tidak pernah ia pertontonkan, bukan karena ia ingin terlihat sempurna, tetapi karena ia tahu kebaikan tidak menghapus semua kekurangan.
“Kamu memang punya kekurangan?”
“Banyak.”
“Sebutkan tiga.”
“Aku keras kepala, susah minta bantuan, dan sering ngerasa diam itu cara paling gampang buat beresin masalah.”
Aku menulis cepat.
“Yang terakhir penting.”
“Aku tahu.”
“Kalau nanti kita nikah, jangan ngilang di balik diam.”
Tatapannya beralih kepadaku. “Kalau nanti kita nikah, kamu juga jangan nutupin masalah pakai candaan.”
Aku tidak siap menerima serangan balik.
“Kita lagi membahas kekuranganmu.”
“Aku cuma ngingetin.”
“Nanti aja ngingetin kalau statusmu udah sah.”
“Aku inget.”
Ia mengatakan itu sambil kembali memandang taman. Aku menunduk ke daftar, menulis satu kalimat di bagian bawah.
Nggak ada orang yang mendekatinya karena mungkin semua orang nunggu giliran. Aku harus segera mengamankan posisi.
Aku membaca ulang kalimat itu, lalu buru-buru mencoretnya.
laki-laki itu tidak bertanya apa yang kutulis.
Entah bagaimana, itu justru membuatku semakin ingin memberitahunya.
Sebelum pulang, ia berhenti di depan sebuah toko bunga kecil. Pemiliknya sedang kesulitan mengangkat pot-pot tanaman ke dalam karena angin mulai kencang. laki-laki itu langsung membantu tanpa menunggu diminta. Ia bahkan menawar harga satu pot kecil yang sejak tadi kulihat, lalu menyerahkannya kepadaku.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Kamu tadi melihatnya tiga kali.”
“Aku cuma melihat.”
“Sekarang punya kamu.”
Aku menerima pot itu. Daunnya kecil dan sedikit miring, tetapi justru itu yang membuatnya lucu.
“Kalau tanaman ini mati?”
“Kita cari tahu kenapa.”
“Kita?”
“Kamu nggak perlu ngerawat semuanya sendirian.”
Aku menatap pot di tangan, lalu wajahnya. Ia tidak sedang bicara tentang tanaman saja. Aku tahu itu, dan ia tahu aku tahu.
Dalam perjalanan pulang, aku menyadari daftar penilaianku mulai kehilangan fungsi. Aku tidak lagi mencari alasan untuk menolaknya. Aku sedang mencari cara agar ia tidak kehilangan minat sebelum aku siap mengakui bahwa aku menginginkannya.
Di lampu merah, aku mengeluarkan ponsel dan membuka percakapan kami. Aku hampir mengirim foto tanaman kecil itu, tetapi mengurungkan niat karena tidak ingin terlihat terlalu senang. Beberapa detik kemudian, pesan darinya masuk lebih dulu.
Fabian: Tanamannya udah sampai rumah?
Aku menatap layar sambil tersenyum.
Aku: Udah. Dia lebih mudah dirawat daripada kamu.
Fabian: Aku nggak pernah minta banyak.
Aku: Kamu minta aku jujur, makan teratur, dan nggak nyembunyiin masalah. Itu banyak.
Fabian: Aku bisa ngurangin permintaan.
Aku: Jangan. Aku lagi belajar ngelakuin itu.
Aku menyimpan ponsel dengan dada yang terasa hangat. Mungkin kualitas terbaiknya bukan karena ia selalu tahu apa yang harus dilakukan, melainkan karena ia membuat orang lain ingin berusaha menjadi lebih baik tanpa merasa sedang dipaksa.
- 1 Calon Suami yang Terlalu Tenang
- 2 Nama yang Sudah Lama Kukenal
- 3 Masa Percobaan Tiga Bulan
- 4 Hal-Hal yang Tidak Perlu Diumumkan
- 5 Godaan Pertama
- 6 Laki-Laki yang Dikenal Semua Orang reading
- 7 Aku Tidak Sedang Berpura-Pura Baik
- 8 Kencan yang Bukan Kencan
- 9 Perempuan yang Menghidupkan Ruangan
- 10 Aku Mulai Menunggu Pesannya
- 11 Cemburu yang Sangat Tidak Elegan
- 12 Kamu Cemburu?
- 13 Bukan Sekadar Pilihan Orang Tua
- 14 Hal yang Tidak Pernah Kukatakan
- 15 Perempuan yang Terlalu Berani
- 16 Aku Mau Menikah denganmu
- 17 Ciuman yang Terlambat
- 18 Secangkir Teh di Lorong Rumah Sakit
- 19 Aku Tidak Mau Dicintai karena Versi Lamaku
- 20 Aku Memilihmu Setiap Hari
- 21 Kali Ini Aku yang Melamar
- 22 Menjelang Hari yang Kami Pilih
- 23 Bukan Lagi Perjodohan
- 24 Rumah yang Selalu Ada Lampunya