Chapter Nine
Dokter Ortodonti
POV: Danu
Mawarnya asli.
Itu hal pertama yang dilaporkan Ucup, Rabu sore jam tiga lewat sepuluh, setelah ia berlari menyeberang jalan dengan alasan membeli gorengan di depan klinik dan kembali tanpa gorengan.
“Bang. Bang. Mawarnya asli, Bang.”
“Mawar apa?”
“Ada cowok masuk klinik bawa mawar. Merah. Sebuket.” Ucup merentangkan tangan sejauh mungkin. “Segini, Bang. Dibungkus kertas cokelat, ada pitanya. Nggak ada debunya sama sekali.”
Aku berhenti mengencangkan baut knalpot. Melalui kaca klinik di seberang, aku bisa melihat ruang tunggu: Tika di meja resepsionis dengan wajah antara panik dan gembira, dan seorang laki-laki berdiri membelakangi jalan. Tinggi, kemeja putih rapi yang dimasukkan ke celana, rambut disisir ke belakang dengan pomade yang memantulkan cahaya lampu. Di tangannya, buket mawar merah yang memang tidak berdebu.
Pintu ruang praktik terbuka. Dokter Patricia keluar.
Aku tidak bisa melihat ekspresinya dari jarak sejauh ini. Aku hanya melihat ia berhenti, lalu laki-laki itu menyerahkan buket mawar, dan Dokter Patricia menerimanya.
Ia menerimanya.
Bukan menolak dengan kalimat lengkap. Bukan menatapnya seperti karang gigi. Ia memegang buket itu dengan dua tangan, dan mereka berbicara, dan laki-laki itu tertawa, dan—
“Bang,” kata Ucup pelan. “Baut knalpotnya udah kencang dari tadi, Bang. Nanti ulirnya dol.”
Namanya drg. Reza Hadinata, Sp.Ort.
Aku tahu dari Tika, yang menyeberang sepuluh menit kemudian dengan alasan meminjam obeng padahal klinik gigi tidak butuh obeng.
“Teman koas dokter, A’,” bisiknya, berjongkok di samping motor yang sedang kukerjakan. “Spesialis behel. Praktik di rumah sakit swasta besar di Dago. Mamanya dokter kenal sama mamanya dia di arisan.”
“Terus?”
“Terus mamanya dokter yang ngatur ini, A’. Perjodohan.” Tika menatapku dengan wajah prihatin. “Mawarnya dari dia, tapi katanya disuruh mamanya.”
“Dokter terima mawarnya.”
“Ditaruh di vas, A’.” Tika ragu sebentar. “Vas di meja resepsionis. Bukan di ruang praktik.”
Aku tidak tahu harus merasa apa tentang lokasi vas itu, jadi aku tidak merasa apa-apa. Aku melanjutkan kerja. Tika kembali ke klinik dengan obeng yang tidak ia butuhkan.
Selama dua jam berikutnya, Ucup melapor setiap lima menit.
“Bang, dokternya masih di dalam sama dia.”
“Bang, dia ketawa. Cowoknya. Dokternya nggak.”
“Bang, dokternya kayaknya senyum dikit. Atau kebelet. Saya nggak yakin.”
“Bang, cowoknya pulang. Mobilnya Pajero. Bang, Pajero, Bang.”
“Cup.”
“Ya, Bang?”
“Kerjain motor Kang Dadang.”
Ucup kembali ke kolong motor. Aku menatap rangka Si Hitam di sudut bengkel, rangka dari motor bebek tua almarhum Bapak, dan untuk pertama kalinya, motor itu terlihat kecil.
Kamis jam empat kurang tujuh menit, aku menyeberang seperti biasa.
Aku sudah meyakinkan diriku sendiri semalaman. Teman koas. Disuruh ibunya. Vas di meja resepsionis, bukan ruang praktik. Aku laki-laki dua puluh delapan tahun dengan bengkel sendiri dan gigi yang sehat. Aku tidak akan cemburu pada mawar.
Lalu aku membuka pintu klinik, dan ia ada di sana lagi.
Dokter Reza duduk di kursi biru ruang tunggu, kakinya disilangkan dengan santai, kemeja biru langit dengan lengan digulung, jam tangan yang kelihatannya lebih mahal dari Si Hitam. Dokter Patricia berdiri di depannya, tanpa jas putih, dan mereka sedang membicarakan seseorang bernama Prof. Hartono yang ternyata dulu sering memarahi mereka berdua di bagian bedah mulut.
Mereka menoleh bersamaan waktu pintu berbunyi ting.
“Ah,” kata Dokter Reza, berdiri dengan senyum ramah. Giginya, tentu saja, sempurna. “Pasien?”
“Danu,” kataku, mengulurkan tangan. “Bengkel depan.”
Ia menjabat tanganku dengan hangat, sama sekali tidak terlihat terganggu dengan bekas oli di jari-jariku. Ia orang baik. Itu yang paling menyebalkan. Ia orang baik dengan Pajero dan mawar tanpa debu dan tangan yang tidak pernah kena oli.
“Reza. Teman koasnya Cia.”
Cia. Ia memanggilnya Cia.
“Oh, yang bengkel itu,” kata Dokter Reza, seperti baru teringat sesuatu. “Cia cerita, motor dia pernah dibetulin. Katanya rapi.” Ia tersenyum. “Kuliah di mana dulu, Mas? Teknik juga?”
Pertanyaan biasa. Pertanyaan yang ditanyakan orang di kondangan, di antrean bank, di grup alumni. Dokter Reza tidak bermaksud apa-apa.
“Teknik Mesin,” jawabku. “Sekolah Tinggi Teknik Bina Karsa.”
Hening sebentar. Dokter Reza memiringkan kepala, sopan, sedang mencoba mengingat sesuatu yang memang tidak pernah ada di ingatannya.
“Oh… di mana itu, Mas?”
“Cimahi. Pinggir.” Aku tertawa. Tawanya keluar sedikit terlalu keras. “Kampus kecil, Dok. Lift-nya rusak dari angkatan pertama.”
“Oh, ya, ya.” Ia mengangguk ramah, dan aku tahu ia tidak tahu, dan ia tahu aku tahu ia tidak tahu, dan ia terlalu baik untuk mengatakannya. Lalu ia menoleh ke Dokter Patricia. “Kita dulu di Unpad, bagian bedah mulut lantai empat, lift-nya juga sering rusak kan, Ci? Inget nggak kita naik tangga bawa model gigi segede—”
Aku tidak mendengar sisanya.
Aku melihat Dokter Patricia. Ia menatapku, bukan Dokter Reza. Matanya sedikit menyipit, seperti waktu ia memeriksa gigi dan menemukan sesuatu yang tidak beres.
“Dok,” kataku cepat, sebelum ia sempat berkata apa pun. “Maaf, saya baru ingat ada motor pelanggan yang harus selesai sore ini. Jadwal saya hari ini… diundur aja.”
“Pak Danu—”
“Nggak apa-apa, Dok. Silakan dilanjut.”
Aku keluar sebelum pintu berhenti berbunyi ting.
Tidak ada motor pelanggan yang harus selesai sore itu.
Aku menyalakan mesin las di sudut bengkel dan mengelas penyangga rak ban yang sebenarnya tidak rusak. Kacamata las di wajah, percikan api biru di depan mata, bunyi mendesis yang menutupi semua bunyi lain. Kalau aku cukup lama mengelas, mungkin wajah Dokter Reza dan Pajero-nya dan Unpad lantai empat akan terbakar dari kepalaku.
Ini pertama kalinya aku melewatkan jadwal. Sejak kartu Kamis depan — jangan telat itu, aku tidak pernah absen satu kali pun. Bahkan waktu Pak RT mogok di tanjakan, aku tetap datang, telat dua menit.
“Bang,” kata Ucup dari pintu, dengan nada yang sangat hati-hati. “Bang cemberut.”
“Aku nggak cemberut.”
“Bang mengelas sambil manyun. Nanti kena percikan.”
“Cup, kerjain—”
“Motor Kang Dadang udah beres, Bang. Dari kemarin.” Ucup terdiam sebentar. Lalu, dengan suara yang lebih kecil: “Bang. Cowok itu udah pulang. Jam empat lewat lima. Pajeronya udah pergi.”
Aku tidak menjawab. Aku terus mengelas.
“Dan, Bang…”
“Apa lagi, Cup?”
“Dokternya lagi nyeberang ke sini.”
Aku mematikan mesin las.
Melalui kaca gelap kacamata las, dunia terlihat hijau tua. Di tengahnya, di trotoar depan bengkel, Dokter Patricia berdiri dengan jas putih, tangan terlipat, wajah yang tidak bisa kubaca.
Aku membuka kacamata las. Wajahku pasti penuh debu dan keringat.
“Dok.”
Ia menatapku. Lama. Lalu ia berkata, dengan suara rendah dan datar yang biasanya ia gunakan untuk memberi tahu pasien bahwa gigi mereka harus dicabut:
“Kamu melewatkan jadwal.”
Kamu.
Bukan Anda. Bukan Pak Danu. Kamu.
Aku tidak tahu ia menyadarinya atau tidak. Wajahnya tetap datar. Tapi aku mendengarnya, dan Ucup mendengarnya, karena di belakangku terdengar bunyi kunci ring jatuh ke lantai semen.
“Dokter lagi ada tamu,” kataku.
“Reza teman koas.” Kalimatnya pendek, cepat, rapi, seperti menaruh alat di nampan. “Mama yang mengirimnya. Saya tidak memintanya. Mawarnya untuk ruang tunggu karena pasien suka bunga. Dan ia memanggil saya Cia karena semua orang di angkatan memanggil saya Cia, termasuk dosen yang tidak suka saya.”
Aku menatapnya. Ia menatap kacamata las di tanganku.
“Dan saya tidak peduli kamu kuliah di mana,” tambahnya, lebih pelan. “Saya peduli kamu tidak datang jam empat.”
Hening. Hanya ada bunyi kendaraan di Jalan Cempaka dan radio dangdut Ucup yang entah sejak kapan dimatikan.
“Saya cemburu, Dok,” kataku akhirnya. Jujur, karena aku tidak tahu cara lain. “Sama mawar.”
Sudut bibirnya bergerak. Satu milimeter. Kali ini ia tidak menambalnya.
“Mawar plastik Pak RT kemarin lebih tahan lama,” katanya.
Lalu ia melihat jam tangannya.
“Slot kamu sampai jam empat tiga puluh. Masih sisa delapan belas menit.” Ia berbalik dan mulai menyeberang. Di tengah jalan, tanpa menoleh, ia menambahkan: “Cuci muka dulu. Kamu kayak knalpot.”
Aku berdiri di depan bengkel dengan kacamata las di tangan.
Di belakangku, Ucup memungut kunci ringnya, menatapku, dan berkata dengan suara bergetar penuh haru, “Bang. Bang dipanggil kamu, Bang.”
“Aku dengar, Cup.”
Aku mencuci muka dua kali. Lalu aku menyeberang, dan duduk di kursi dental unit selama delapan belas menit, dan tidak satu detik pun aku memikirkan Pajero.
- 1 Rolling Door Hijau
- 2 Scaling Pertama
- 3 Rasa Kangen: 8
- 4 Daftar Penolakan
- 5 Si Hitam
- 6 Saya Cuma Minta Dijadwalin
- 7 Ritual
- 8 Satu Payung
- 9 Dokter Ortodonti reading
- 10 Tisu dan Oli
- 11 Tekanan
- 12 Jangan Ganggu Aku Lagi
- 13 Laci
- 14 Kopi Senin, Arah Sebaliknya
- 15 Sepupu dari Surabaya
- 16 Aku Booking Kamu
- 17 Satu-satunya yang Bisa Kukasih
- 18 Seumur Hidup, Boleh?