Chapter Twelve

Jangan Ganggu Aku Lagi

POV: Patricia

Surat dari Dinas Kesehatan datang hari Sabtu, diantar kurir dalam amplop cokelat tebal dengan cap resmi berwarna biru.

Undangan klarifikasi terkait pengaduan masyarakat.

Aku membacanya di meja resepsionis, berdiri, dengan tas masih di bahu. Ibu dari anak sembilan tahun itu tidak berhenti di TikTok. Ia membuat laporan resmi. Ia melampirkan videonya. Ia menulis, dengan kalimat yang sangat yakin, bahwa aku melakukan tindakan tanpa persetujuan dan bersikap tidak profesional terhadap pasien anak.

Klarifikasinya hari Rabu. Aku harus membawa rekam medis, formulir persetujuan, rontgen, dan saksi kalau ada.

Saksi.

Satu-satunya orang lain di ruang praktik waktu itu adalah aku dan seorang anak yang memegang stiker dinosaurus. Tika ada di meja resepsionis, tapi Tika karyawanku. Tidak ada yang akan percaya kesaksian karyawan.

Sabtu itu klinik buka setengah hari. Dua pasien datang dari delapan yang terjadwal. Sisanya membatalkan lewat pesan singkat, dengan kalimat sopan yang semuanya berarti hal yang sama.

Jam dua siang, bank menelepon. Mereka ingin mengingatkan dengan ramah jadwal cicilan bulan depan dan menanyakan kondisi usaha karena melihat pemberitaan di media sosial.

Jam tiga, Mama mengirim pesan suara yang tidak kuputar.

Jam empat, aku menyuruh Tika pulang.

“Dok, saya temani aja—”

“Pulang, Tika.”

“Tapi Dok belum makan dari—”

“Pulang.”

Ia menatapku dengan mata bulat yang mulai berkaca-kaca. Lalu ia mengambil tasnya dan pergi tanpa berkata apa-apa.

Sebelum keluar, ia menempelkan selembar kertas tempel kuning di kaca akuarium. Tulisannya besar, dengan spidol merah yang biasa ia pakai untuk klasemen: MOLAR JUGA KHAWATIR, DOK. MAKAN. Di bawahnya ada gambar ikan cupang yang lebih mirip terong, dengan alis miring ke atas. Pintu kaca berbunyi ting dengan sangat pelan, seakan ia menutupnya dengan dua jari supaya tidak menggangguku.


Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di ruang praktik.

Lampu dental unit mati. Hanya lampu meja kerja yang menyala, kuning dan kecil, menerangi tumpukan kertas yang kutata dan kutata ulang: rekam medis anak itu, formulir persetujuan dengan tanda tangan ibunya yang jelas, rontgen yang memperlihatkan abses di bawah gigi susu. Semua bukti bahwa aku tidak salah. Semua tidak berarti apa-apa kalau tiga ratus ribu orang sudah memutuskan aku salah.

Di sudut meja, kertas resep berisi hitungan sewa. Sewa itu sudah selesai, Pak Hendra sudah membatalkannya, tapi aku belum membuang kertasnya. Aku tidak bisa berhenti memikirkan siapa yang membuatnya batal. Seseorang membayar sesuatu untukku. Seseorang menutup lubang di gigiku tanpa izin.

Dan aku berutang. Lagi. Pada orang yang bahkan tidak kukenal.

Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh. Di luar, Jalan Cempaka sudah sepi. Aku bisa mendengar kompresor di ruang belakang berdengung. Aku bisa mendengar Molar berenang menabrak dinding akuarium. Aku bisa mendengar jantungku sendiri, terlalu cepat, seperti mesin yang dipaksa jalan dengan oli yang sudah habis.

Lalu pintu kaca berbunyi ting.


“Dok?”

Suaranya pelan. Hati-hati. Seperti orang yang masuk ke ruangan tempat seseorang tidur.

Danu berdiri di pintu ruang praktik. Kaus abu-abu, jaket denim, rambut berantakan seperti biasa. Di tangannya ada kotak kardus tipis dengan tulisan merah yang sudah kukenal sejak kecil: nama kedai martabak di Jalan Burangrang.

Ia tidak pernah datang malam-malam. Ia sudah berjanji tidak akan menunggu di depan pintuku malam-malam. Dan ia memang tidak menunggu. Ia masuk. Ia melanggar janjinya sendiri.

“Maaf, Dok. Saya tahu saya bilang nggak akan dateng malam-malam.” Ia mengangkat kotak itu sedikit. “Tapi Tika bilang Dokter belum makan dari Kamis. Lampu klinik masih nyala. Saya pikir…”

Ia meletakkan kotak itu di sudut meja kerjaku, di samping kertas-kertas yang kutata. Lalu ia membukanya.

Martabak manis. Keju dan cokelat. Setengah porsi.

Aku menatapnya.

Mungkin bagi orang lain itu hanya martabak. Mungkin bagi Danu itu hanya caranya mengingat cerita yang kuceritakan di bangku kayu waktu hujan: tentang Papa, tentang pos satpam rumah sakit, tentang jam sebelas malam. Mungkin ia pikir ini hadiah. Mungkin ia pikir ini akan membuatku tersenyum, akan mengingatkanku bahwa ada orang yang peduli.

Tapi yang kulihat bukan martabak.

Yang kulihat adalah utang. Utang yang tidak pernah terbayar. Tujuh belas panggilan tak terjawab jam lima subuh. Papa yang tidak menunggu karena tidak mau mengganggu, lalu pergi selamanya tanpa pernah mendengarku bilang terima kasih. Dan sekarang, di depanku, seseorang lain yang terus memberi, terus datang, terus menolong tanpa diminta, terus menambah daftar hal yang tidak akan pernah bisa kubalas—

“Kenapa,” kataku. Suaraku keluar serak.

“Dok?”

“Kenapa kamu bawa ini?”

Danu terdiam. Senyumnya, yang dari tadi tipis dan hati-hati, perlahan memudar. “Saya pikir Dokter—”

“Kamu pikir aku apa?” Aku berdiri. Kursi kerjaku berderit mundur. “Kamu pikir aku perlu ditolong? Kamu pikir aku nggak bisa beli makan sendiri?”

“Bukan gitu, Dok—”

“Semua orang!” Suaraku pecah. Aku tidak pernah berteriak. Aku tidak berteriak bahkan waktu ibu itu merekam wajahku dari jarak sejengkal. Tapi sekarang suaraku memenuhi ruang praktik yang kecil, memantul di dinding putih, di dental unit, di poster anatomi gigi. “Semua orang minta sesuatu dari aku! Bank minta cicilan. Dinas Kesehatan minta klarifikasi. Mama minta aku nikah. Pasien minta aku sempurna. Tiga ratus ribu orang di internet minta aku minta maaf untuk hal yang nggak aku lakukan!”

Danu tidak bergerak. Ia berdiri di sana, di samping meja, tangannya turun di sisi tubuh.

“Dan kamu,” kataku. Napasku tersengal. Mataku panas. “Kamu datang setiap Senin. Setiap Kamis. Bawa kopi. Bawa kartu. Bawa martabak. Kamu nyetut motorku. Kamu kasih aku harga normal supaya aku nggak merasa berutang. Kamu pikir aku nggak tahu? Aku tahu. Aku tahu semuanya. Dan setiap kali kamu kasih sesuatu, aku harus nyimpen itu di suatu tempat, dan aku nggak punya tempat lagi, Danu!”

Aku menunjuk dadaku sendiri. Tanganku gemetar.

“Aku bahkan nggak punya tempat buat diriku sendiri. Kamu pikir aku punya tempat buat kamu?”

Hening.

Kompresor di ruang belakang berhenti berdengung. Untuk pertama kalinya hari itu, ruangan benar-benar sunyi.

Danu menatapku. Wajahnya tidak marah. Tidak terluka, setidaknya tidak yang terlihat. Wajahnya hanya… diam. Seperti mesin yang tiba-tiba dimatikan di tengah jalan.

Dan aku seharusnya berhenti di sana. Seharusnya. Tapi kata-kata itu sudah naik ke tenggorokan, sudah menumpuk selama empat tahun, dan mereka keluar sebelum aku sempat menelannya kembali.

“Kamu bilang kamu cuma kebetulan searah, kan?” Suaraku turun, tidak lagi berteriak. Jauh lebih buruk dari berteriak. “Ya sudah. Berhenti searah.”

Aku menatapnya langsung.

“Berhenti datang. Jangan ganggu aku lagi.”


Danu tidak menjawab untuk waktu yang lama.

Aku tidak tahu berapa lama. Mungkin sepuluh detik. Mungkin satu menit. Di luar, sebuah motor lewat di Jalan Cempaka, lampunya menyapu kaca depan klinik lalu menghilang. Molar berhenti berenang dan diam di tengah akuarium, seperti ikut menahan napas.

Lalu Danu tersenyum.

Kecil. Sedikit miring ke kanan, seperti biasa. Tapi tidak ada apa-apa di baliknya. Senyum itu seperti lampu bengkel yang masih menyala setelah semua orang pulang.

“Iya, Dok,” katanya.

Hanya itu. Dua kata. Suaranya rendah dan tenang, sama tenangnya seperti waktu ia bilang saya cuma minta dijadwalin.

Ia tidak membantah. Ia tidak bilang aku salah paham. Ia tidak menjelaskan apa pun, tidak membela diri, tidak bertanya kenapa. Ia hanya merogoh saku jaket denimnya dan mengeluarkan selembar kartu janji temu, kartu yang seharusnya ia serahkan Kamis depan. Ia meletakkannya di atas meja kerja, di samping kotak martabak, dengan sisi depan menghadap ke atas.

Lalu ia berbalik dan berjalan ke pintu ruang praktik.

Di ambang pintu, ia berhenti. Aku menunggu. Bagian dari diriku yang paling bodoh dan paling jujur menunggu dua kata yang selalu ia ucapkan di setiap akhir kunjungan. Dua kata yang sudah kuhafal seperti bunyi rolling door.

Jadwal berikutnya?

Ia tidak mengucapkannya.

“Makan, Dok,” katanya, tanpa menoleh. “Satu potong aja.”

Pintu kaca berbunyi ting.

Aku berdiri di ruang praktik sendirian, menatap pintu yang perlahan berhenti bergoyang.


Aku tidak menyentuh martabak itu.

Aku tidak menyentuh kartu janji temu itu. Aku duduk kembali di kursi kerja, menatap kotak kardus dengan tulisan merah, dan merasakan sesuatu yang aneh di dada. Bukan lega. Aku sudah mengatakannya. Aku sudah mengeluarkan semuanya. Seharusnya ada sesuatu yang menjadi lebih ringan.

Tidak ada yang menjadi lebih ringan.

Jam sepuluh lewat lima belas, aku mendengarnya.

Krang—krak-krak—kreeeeek.

Rolling door bengkel di seberang jalan. Tapi terbalik. Bunyi yang biasanya kudengar setiap pagi, sekarang mundur, ditarik ke bawah, ditutup. Danu tidak pernah menutup bengkel jam sepuluh malam. Ia selalu menutupnya jam sembilan tepat, setelah menghabiskan kopi terakhirnya di bangku kayu sambil memandangi klinik. Malam ini ia menutupnya terlambat. Pelan sekali. Seakan setiap lempeng besi yang turun diberi waktu untuk berpamitan.

Lalu sunyi.

Aku pulang jam sebelas. Martabak itu kutinggal di meja, dingin, utuh.


Minggu pagi, jam enam lima puluh lima, aku berhenti mengoles mentega di roti.

Tidak ada bunyi di kepalaku. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, kepalaku diam.

Senin pagi, aku datang ke klinik jam tujuh lewat lima belas. Meja resepsionis kosong. Tidak ada gelas plastik berembun. Tidak ada kopi susu gula aren dengan es sedikit. Hanya termos teh manis milik Tika, yang ia letakkan di sana tanpa berkata apa-apa, lalu ia duduk dan menatap layar komputernya dengan mata sembap.

Di seberang jalan, rolling door hijau itu tertutup.

Selasa, tertutup.

Rabu, aku pergi ke Dinas Kesehatan dengan map berisi rekam medis, dan ketika aku pulang sore harinya, rolling door itu masih tertutup. Catnya yang mengelupas terlihat lebih jelas sekarang, tanpa lampu bengkel yang menyala di belakangnya. Bangku kayu panjang di depannya kosong.

Kamis jam empat kurang tujuh menit, aku berdiri di ruang praktik dengan sarung tangan sudah terpasang.

Jam empat tepat, ruang tunggu kosong.

Jam empat lewat dua menit. Kosong.

Jam empat lewat tiga puluh. Slotnya habis.

Tika berdiri di pintu ruang praktik. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku, lalu menatap buku biru di tangannya, yang terbuka di halaman jadwal hari Kamis. Di baris jam empat, tertulis nama yang sama seperti setiap minggu selama dua bulan terakhir.

Tidak ada tanda centang di sampingnya.

Aku melepas sarung tanganku pelan-pelan, satu jari demi satu jari, dan baru menyadari bahwa ia telah melakukan persis apa yang kuminta.

Ia berhenti datang.