Chapter Two

Scaling Pertama

POV: Danu

Aku menelepon nomor klinik jam sembilan lewat satu menit keesokan harinya.

“Klinik Gigi Tanuwijaya, selamat pagi, dengan Tika, ada yang bisa dibantu?”

“Pagi, Teh. Mau booking scaling.”

Hening sebentar. Lalu suara Tika berubah, dari ramah profesional menjadi ramah yang penuh kecurigaan. “Atas nama?”

“Danu.”

“A’ Danu yang bawa mawar Pak RT?”

“Kok Teteh tahu itu punya Pak RT?”

“Satu Jalan Cempaka tahu, A’. Pak RT cerita di grup WhatsApp warga.” Suara ketikan keyboard. “Paling cepat besok jam empat sore. Mau?”

“Mau.”

“Keluhannya apa?”

Aku berpikir. “Karang gigi.”

“Sudah lama?”

“Sejak kemarin.”

Hening lagi. Kemudian Tika berbisik, sangat pelan, seperti agen rahasia di film: “Saya catat. Jangan telat, A’. Dokter Patricia benci orang telat.”


Besoknya aku mandi dua kali.

Yang pertama mandi biasa. Yang kedua karena Ucup, entah bagaimana, menumpahkan oli bekas ke kakiku waktu aku bilang mau ke klinik, lalu minta maaf sambil tertawa sampai tersedak.

Aku memakai kemeja. Kemeja betulan, yang berkerah, yang terakhir kupakai waktu wisuda di gedung serbaguna kampus yang atapnya bocor di sudut kiri. Ucup bersiul.

“Bang kayak mau lamaran.”

“Ini cuma scaling, Cup.”

“Kenapa Bang pakai parfum?”

Aku tidak menjawab. Aku menyeberang jam empat kurang tujuh menit, karena tujuh menit lebih awal adalah angka yang kuanggap cukup rajin tanpa terlihat putus asa.

Tika menyambutku dengan senyum lebar, lalu menyodorkan formulir pendaftaran. Aku mengisinya dengan huruf kapital yang rapi. Nama. Umur. Alamat — DEPAN saja, aku tulis, karena itu memang alamatku. Pekerjaan: wiraswasta (bengkel). Riwayat penyakit: tidak ada. Keluhan: aku berhenti, pulpen di udara.

“Tulis aja yang jujur, A’,” saran Tika.

Aku menulis: Ingin kenal dokternya. Lalu mencoretnya cepat-cepat dan menggantinya dengan karang gigi (mungkin).

Tika mengambil formulir itu, membacanya, dan menunduk lama di balik meja. Bahunya bergetar.

“Teteh nangis?”

“Bersin, A’,” jawabnya, jelas-jelas sedang menahan tawa.

Jam empat tepat, pintu ruang praktik terbuka.

“Pak Danu Yanuar.”

Ia sudah memakai masker biru dan topi bedah. Hanya matanya yang terlihat, dan itu ternyata lebih berbahaya. Matanya sedikit sipit, cokelat gelap, dengan bulu mata yang melengkung tanpa bantuan alat apa pun. Mata itu menatapku dari ujung kepala sampai kemeja wisudaku, lalu berhenti di wajahku.

Di atas masker itu, satu alisnya naik satu milimeter. Untuk orang lain mungkin itu bukan apa-apa. Untuk Dokter Patricia, aku menduga itu setara dengan teriak.

“Silakan masuk.”


Ruang praktiknya putih, terang, dan dingin. Di tengahnya ada kursi dental unit hijau toska dengan lampu bundar besar di atasnya. Di dinding ada poster anatomi gigi dan sertifikat-sertifikat berbingkai. Universitas negeri. Cum laude. Aku membaca nama kampusnya dan merasa kemeja wisudaku tiba-tiba sangat tipis.

“Silakan berbaring.”

Aku berbaring. Kursi itu turun pelan dengan bunyi dengung, dan aku berakhir dalam posisi setengah telentang, menatap lampu yang menyilaukan, dengan Dokter Patricia duduk di kursi kecil di samping kepalaku.

Ia memakai sarung tangan. Bunyi karetnya menjepret di pergelangan.

“Buka mulut.”

Aku membuka mulut.

“Lebih lebar.”

Aku membuka lebih lebar.

Ia memasukkan kaca kecil dan sonde, mengetuk-ngetuk gigiku satu per satu. Wajahnya sangat dekat. Aku bisa mencium wangi sabun antiseptik dan, di bawahnya, sesuatu yang lembut seperti bedak bayi. Aku berusaha menatap lampu saja.

“Ngh nhok,” kataku.

“Jangan bicara.”

“Nghh ehh khi—”

“Pak Danu.”

“Nghaaf.”

Ia mengetuk gigi geraham kiri bawahku. Lalu kanan. Lalu bawah depan. Dahinya mengernyit, dan aku tahu artinya sebelum ia berkata apa pun.

“Karang gigi Anda sangat sedikit.”

“Ngh?”

“Hampir tidak ada.” Ia menarik alatnya keluar, menatapku dengan pandangan yang biasa dipakai orang untuk menatap pasien yang berbohong. “Anda yakin ada keluhan?”

“Saya minum kopi hitam tiga gelas sehari, Dok,” kataku cepat, mumpung mulutku bebas. “Pasti ada noda. Pasti ada sesuatu. Saya merasa… kotor.”

Ia diam. Lalu, tanpa menjawab, ia mengambil alat scaler. Bunyinya berdengung tinggi, seperti nyamuk yang ikut kursus vokal.

“Buka.”

Prosesnya cuma lima belas menit, tapi rasanya seperti setengah jam di surga yang sedikit ngilu. Ujung alat itu bergetar menyentuh gigiku, air menyemprot, alat penyedot berdecit. Di tengah-tengahnya, Dokter Patricia meletakkan dua jarinya di daguku untuk menahan rahangku agar tidak bergerak.

Jarinya dingin di balik sarung tangan. Tekanannya ringan, tegas, sangat profesional.

Aku lupa bernapas.

Sungguh. Aku lupa cara mengambil napas lewat hidung, dan hampir tersedak air semprotannya sendiri. Dokter Patricia langsung mematikan alatnya.

“Kumur.”

Aku bangkit setengah, mengambil gelas kertas, dan berkumur di wastafel kecil sambil terbatuk-batuk. Mukaku pasti merah.

“Anda baik-baik saja?”

“Baik, Dok. Cuma… lupa napas.”

“Lupa.”

“Iya.”

Matanya menatapku di atas masker, datar, menghakimi. Tapi kali ini, kurasa ada sesuatu yang lain juga di sana. Bukan senyum. Lebih seperti ilmuwan yang baru menemukan spesies serangga yang bodohnya tidak masuk akal.

Ia menyalakan alat itu lagi dan melanjutkan. Kali ini aku menghitung napasku sendiri seperti orang yang baru belajar berenang. Tarik. Buang. Jangan lihat matanya. Tarik. Buang. Jangan pikirkan jarinya.

“Kopi hitam,” katanya tiba-tiba, di tengah bunyi dengung. “Tiga gelas sehari, Anda bilang.”

“Nghh.”

“Tanpa gula?”

“Nghh.”

“Itu sebabnya enamel Anda bagus.” Alat itu berpindah ke gigi depan bawah. “Orang yang minum kopi dengan gula aren dan susu tiga kali sehari biasanya sudah berlubang di sini.” Ia mengetuk satu gigi. “Dan di sini.”

Aku tidak tahu kenapa ia menyebut kopi susu gula aren dengan begitu spesifik. Aku juga tidak tahu kenapa, ketika menyebutnya, suaranya sedikit lebih pelan, seperti orang yang sedang mengakui kebiasaan buruknya sendiri. Aku menyimpan informasi itu di kepala, di laci yang sama tempat aku menyimpan nomor seri mesin dan ukuran ban.


Setelah selesai, ia melepas sarung tangan dan masker, lalu menulis di kartu kecil berwarna putih biru. Tanpa masker, wajahnya membuat ruang praktik yang terang benderang itu terasa remang-remang.

“Gigi Anda sehat,” katanya, menyerahkan kartu itu. “Sangat sehat. Tidak perlu kembali dalam waktu dekat.”

Aku menerima kartu itu. Di bagian depan tercetak KARTU JANJI TEMU — KLINIK GIGI TANUWIJAYA, dengan kolom tanggal dan jam yang kosong.

Aku mendongak.

“Jadwal berikutnya?”

Dokter Patricia menatapku. Aku menatap balik. Di luar, Molar si ikan cupang berenang bolak-balik di akuariumnya, satu-satunya saksi.

Akhirnya ia mengambil pulpen dari saku jasnya, menarik kartu itu dari tanganku, dan menulis dengan huruf rapi: Kontrol rutin — enam bulan lagi. Tanggalnya April tahun depan.

“Enam bulan,” katanya, menyerahkan kartu itu lagi. “Selamat sore, Pak Danu.”

“Danu aja, Dok.”

“Selamat sore, Pak Danu.”

Aku keluar dari ruang praktik membawa kartu itu seperti membawa tiket konser. Enam bulan. Itu bukan penolakan. Itu jadwal. Dalam bahasa dokter yang tidak pernah tersenyum, itu mungkin setara dengan sampai jumpa lagi.

Tapi enam bulan terlalu lama.

Aku berhenti di meja resepsionis. Tika sedang pura-pura sibuk mengetik, padahal layar komputernya menampilkan permainan kartu.

“Teh.”

“Ya, A’?”

“Konsultasi itu bisa kapan aja, kan?”

Tika berhenti mengetik. Pelan-pelan ia menoleh, dan senyumnya melebar dengan cara yang membuatku curiga ia sudah menunggu pertanyaan ini sejak aku masuk.

“Bisa, A’. Konsultasi gigi bungsu, konsultasi pasta gigi, konsultasi sikat gigi, konsultasi kenapa gigi kerasa aneh pas lihat orang cantik—”

“Minggu depan,” potongku. “Jam yang sama.”

Ia mengetik dengan cepat, lalu menulis sesuatu di buku janji temu bersampul biru. Aku sempat melihat halamannya. Di pojok kanan atas, dengan pulpen merah dan tulisan kecil, Tika sudah membuat tabel. Judulnya: KLASEMEN. Isinya baru satu baris.

1. A’ Danu (bengkel) — 1 kunjungan.

“Teh, itu apa?”

“Bukan apa-apa, A’.” Ia menutup buku itu dengan senyum polos. “Sampai minggu depan.”

Aku menyeberang jalan pulang. Ucup sedang menambal ban di depan bengkel dan langsung berdiri.

“Gimana, Bang? Karangnya ada?”

“Sedikit.”

“Terus?”

Aku mengeluarkan kartu janji temu dari saku kemeja, menatap tulisan rapi Dokter Patricia, lalu memasukkannya ke dompet, di slot paling aman, di depan KTP.

“Terus,” kataku, “minggu depan aku sakit gigi bungsu.”

“Bang emang udah tumbuh gigi bungsu?”

Aku menarik rolling door hijau sampai setengah, menyalakan lampu bengkel, dan tersenyum ke arah klinik di seberang yang kacanya memantulkan langit sore.

“Cup,” kataku, “niat itu lebih penting daripada gigi.”