Chapter Thirteen

Laci

POV: Patricia

Video itu dimulai dengan wajah Ucup yang terlalu dekat dengan kamera.

“Halo, guys. Balik lagi sama Ucup, montir Bengkel Yanuar Motor, Jalan Cempaka, Bandung. Hari ini Ucup mau scaling pertama kali seumur hidup. Dibayarin bos. Kata bos, gigi Ucup bikin malu bengkel.”

Ia memutar kamera ke ruang tunggu. Kursi biru. Akuarium. Molar yang berenang. Tika yang melambaikan tangan dengan malu-malu dari meja resepsionis.

“Itu Teh Tika. Itu Molar. Ikannya galak, guys. Kayak dokternya. Eh, jangan bilang-bilang.”

Lalu kamera diletakkan di sandaran kursi, miring, mengarah ke pintu ruang praktik yang terbuka setengah. Ucup lupa mematikannya. Selama dua puluh tiga menit berikutnya, ponselnya merekam semuanya.

Aku menjelaskan pada ibu itu dengan model gigi. Ibu itu mengangguk. Aku menunjukkan rontgen. Ibu itu bertanya, jadi harus dicabut, Dok? dan aku menjawab iya, Bu, supaya infeksinya tidak menyebar. Ibu itu menandatangani formulir. Semua terekam. Suaranya jelas. Wajahnya jelas. Tanda tangannya terlihat di kertas yang kupegang di depan kamera tanpa kusadari.

Tika menerima video itu Kamis malam, di grup Seberang Jalan, dengan pesan dari Ucup:

Teh, ini kepake nggak? Saya baru inget kemarin rekam vlog. Belum saya upload soalnya gigi saya kelihatan kuning di menit pertama. Malu.

Jumat pagi, aku mengirim video itu ke Dinas Kesehatan sebagai bukti tambahan. Jumat siang, tanpa izinku, akun @saksi_molar_cempaka mengunggahnya dengan judul huruf kapital: INI VIDEO LENGKAPNYA. TONTON SAMPAI HABIS SEBELUM KASIH BINTANG SATU.

Sabtu pagi, video itu ditonton lebih banyak daripada video ibu itu. Komentar-komentar berbalik. Ulasan Google naik lagi. Ibu itu menghapus videonya sendiri, lalu mengirim pesan permintaan maaf yang panjang ke nomor klinik, dengan banyak emoji tangan menyembah.

Senin, Dinas Kesehatan menelepon. Pengaduan dinyatakan tidak terbukti. Kasus ditutup.

Aku duduk di kursi kerja setelah menutup telepon itu, menunggu rasa lega datang.

Ia tidak datang. Sama seperti waktu sewa dibatalkan. Masalahnya selesai satu per satu, rapi, seperti seseorang yang tidak kelihatan sedang membereskan meja di belakangku. Dan setiap kali aku menoleh, tidak ada siapa-siapa di sana.

Rolling door hijau di seberang masih tertutup. Sudah sembilan hari.


Pak Hendra datang hari Selasa untuk menagih sewa bulan baru.

Kemeja batik cokelat yang sama. Tas kulit yang sama. Ia duduk di kursi biru ruang tunggu dan meminta teh, lalu meminta gulanya ditambah, lalu bertanya apakah klinik menyediakan biskuit. Tika menyuguhkan biskuit kelapa dari laci mejanya sendiri dengan wajah orang yang sedang dirampok.

Aku menyerahkan amplop berisi uang sewa. Ia menghitungnya dua kali, menjilat jari setiap tiga lembar.

“Pas,” katanya.

“Pak Hendra.”

“Hm.”

“Kenapa sewanya dibatalkan naik?”

Ia berhenti menghitung. Matanya, di balik kacamata baca, bergeser ke kaca depan klinik. Ke seberang jalan. Ke rolling door hijau dengan cat mengelupas. Sebentar sekali, seperti waktu itu.

“Sudah saya bilang, Bu Dokter. Saya lagi baik.”

“Bapak tidak pernah baik,” kata Tika dari meja resepsionis, cukup keras untuk didengar.

Pak Hendra menatap Tika dengan tersinggung. Lalu ia menatapku, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan wajah orang yang sedang menghitung kerugian negara. Wajah orang tua yang lelah.

“Anak itu,” katanya, lalu berhenti.

“Anak siapa, Pak?”

Ia menghela napas panjang. Ia memasukkan amplop sewa ke tas kulitnya, menutup ritsletingnya, dan menatap teh yang sudah tinggal setengah.

“Danu itu keponakan saya, Bu Dokter. Anak almarhum adik perempuan saya.”

Ruang tunggu menjadi sangat sunyi. Bahkan Molar berhenti berenang.

“Bengkel di seberang itu juga ruko saya. Saya kasih dia sewa murah, karena kasihan, bapaknya sudah nggak ada. Waktu saya kirim surat kenaikan ke Ibu, dia datang ke rumah saya malam-malam.” Pak Hendra memutar cangkir tehnya pelan. “Dia nggak minta saya batalkan. Dia tahu saya nggak bakal mau, ada pembeli yang nawar ruko itu tinggi. Dia cuma tanya: berapa selisihnya kalau sewa Ibu tetap, untuk dua tahun.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Saya sebut angkanya. Saya pikir dia bakal mundur. Uangnya nggak sedikit, Bu.” Pak Hendra menggeleng pelan. “Besoknya dia datang lagi bawa uang. Setengahnya. Hasil jual motor hitamnya itu, ke kolektor di Jakarta. Setengahnya lagi dia cicil. Dia tutup bengkelnya, sewa bengkelnya ke saya juga dia hentikan supaya ada uang lebih, terus dia kerja di bengkel temen kampusnya di Cimahi.”

“Motor itu,” kataku. Suaraku keluar seperti bukan suaraku. “Motor itu dari rangka motor ayahnya.”

“Saya tahu, Bu.” Pak Hendra menatapku lurus. “Saya kakak ibunya. Saya tahu.”

Tika menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Dia minta saya janji nggak bilang ke Ibu,” lanjut Pak Hendra. “Katanya, Om, Dokter itu nggak suka berutang. Kalau dia tahu, dia bakal ngerasa punya utang seumur hidup. Biar aku aja yang punya.” Ia berdiri, merapikan kemeja batiknya. “Saya orang pelit, Bu Dokter. Saya nggak pernah ngerti kenapa orang mau rugi buat orang lain. Tapi anak itu ngomong begitu sambil senyum, dan saya…” Ia berhenti. “Ya sudah. Saya sudah melanggar janji. Jangan bilang dia saya yang cerita.”

Ia pergi. Pintu kaca berbunyi ting. Biskuit kelapa Tika masih tersisa tiga di piring.


Aku tidak ingat berjalan ke ruang praktik. Aku hanya ingat duduk di kursi kerja, dan tanganku sudah ada di laci.

Aku membukanya.

Kartu-kartu itu masih di sana, ditumpuk rapi di sudut, di samping kotak pulpen dan permen mint. Aku mengeluarkan semuanya dan menyusunnya di atas meja, berurutan, seperti menyusun rekam medis.

Kartu pertama. Rasa kangen: 8. Tidak tahu harus konsultasi ke dokter apa.

Kartu kedua. Hari ini kayaknya bakal ditolak. Rasa kangen tetap 8. Pasiennya bandel, Dok, mohon maaf.

Kartu ketiga. Motor Dokter sudah sehat. Pemiliknya jangan lupa makan.

Kartu kelima. Dokter tertawa minggu lalu. Saya belum tidur yang benar sejak itu.

Kartu kedelapan. Hari ini Kamis. Itu aja alasannya saya senang.

Kartu kesebelas. Rasa kangen: 10. Sudah mentok skala.

Lalu kartu-kartu yang tidak pernah kubaca. Yang kumasukkan ke laci tanpa melihat, minggu-minggu ketika aku hanya bisa berkata saya nggak apa-apa.

Kartu kedua belas. Dokter bilang nggak apa-apa tiga kali hari ini. Saya nggak percaya. Saya di seberang kalau Dokter butuh. Nggak usah nyeberang, cukup lihat ke jendela. Saya pasti lagi lihat ke sini juga.

Kartu ketiga belas. Tintanya lebih tebal, seperti pulpennya baru diganti. Rasa kangen nggak saya tulis lagi minggu ini. Dokter lagi capek, nggak usah ditambah-tambahin. Makan ya, Dok. Kopi besok saya kurangin gulanya dikit, biar nggak makin pusing.

Dan kartu terakhir. Kartu yang ia letakkan di meja ini sembilan hari lalu, di samping kotak martabak yang tidak kusentuh. Tika yang menyimpannya. Tika memasukkannya ke laci ini diam-diam keesokan paginya, di paling atas tumpukan, karena ia tahu aku tidak akan pernah membukanya kalau ia memberikannya langsung.

Sisi depannya kosong. Tidak ada tanggal. Tidak ada jam. Tidak ada jadwal berikutnya.

Aku membaliknya.

SKALA RASA SAKIT (0–10): 0
CATATAN PASIEN: Dokter nggak harus bales apa pun. Saya nggak pernah ngitung. Nggak ada utang di antara kita, Dok, dari hari pertama juga nggak ada. Rasa kangen: udah nggak pakai skala. Udah nggak muat di kartu.

Aku membacanya sekali.

Lalu aku membacanya lagi, dan pada kali kedua, kata-katanya mulai kabur.

Aku tidak menangis waktu Papa meninggal. Aku tidak sempat. Aku harus mengurus jenazah, mengurus Mama, mengurus surat-surat, menyelesaikan koas. Aku tidak menangis waktu bank menolak pengajuan pertamaku. Aku tidak menangis waktu ibu itu merekam wajahku, atau waktu tiga ratus ribu orang menyebutku dokter tidak punya hati.

Tapi aku menangis sekarang.

Aku pindah ke kursi dental unit karena kakiku tidak kuat lagi, dan aku duduk di sana, di kursi tempat ia setiap Kamis berbaring dan membuka mulut dan berkata ngh nghok dengan mata berbinar. Aku memegang empat belas kartu janji temu di pangkuanku, dan aku menangis seperti anak kecil, dengan suara, dengan napas tersengal, dengan bahu bergetar. Empat tahun tangisan yang tidak pernah sempat keluar, tumpah semuanya di ruang praktik putih yang terlalu terang.

Ia menjual Si Hitam. Rangka motor ayahnya. Jok yang ia jahit dua kali karena ayahnya tidak suka yang miring.

Ia menjualnya supaya aku tidak harus pergi dari seberang jalan. Lalu aku menyuruhnya pergi dari seberang jalan.

Berhenti searah.

Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Kartu-kartu itu jatuh dari pangkuanku ke lantai, berserakan di bawah kursi dental unit.


Aku tidak tahu berapa lama aku di sana. Ketika akhirnya aku mengangkat kepala, Tika sedang berjongkok di lantai, memunguti kartu-kartu itu satu per satu, mengelapnya dengan ujung kerudung supaya tidak terkena debu.

Ia menyusunnya kembali menjadi tumpukan rapi dan meletakkannya di pangkuanku. Lalu ia duduk di kursi kecil di samping kursi dental unit, kursi tempatku biasa duduk saat memeriksa pasien.

“Dok,” katanya pelan.

Aku tidak menjawab. Suaraku belum kembali.

“Selama ini,” kata Tika, “A’ Danu yang booking. Tiap minggu. Bayar resmi, nggak pernah telat, nggak pernah minta diskon.” Ia mengambil buku biru dari pangkuannya dan membukanya di halaman kosong, halaman setelah jadwal minggu ini. Lalu ia menyodorkan pulpen merahnya padaku.

“Kali ini,” katanya, “Dokter yang harus booking.”

Aku menatap pulpen itu.

Di luar, Jalan Cempaka sore hari ramai dengan angkot dan motor. Di seberangnya, rolling door hijau dengan cat mengelupas tetap tertutup, diam, menunggu seseorang menariknya ke atas.

Aku mengambil pulpen itu.