Chapter Four

Daftar Penolakan

POV: Danu

Masalahnya dimulai dari Ucup, seperti kebanyakan masalah di Bengkel Yanuar Motor.

Selasa siang, tiga pengemudi ojek daring mampir untuk ganti oli. Mereka duduk di bangku kayu menunggu, dan salah satu dari mereka, Kang Dadang yang helmnya ditempeli stiker klub motor, menatapku sambil menyipitkan mata.

“Danu, maneh kok giginya putih pisan sekarang? Pake pemutih?”

Sebelum aku sempat menjawab, Ucup muncul dari kolong motor dengan muka berlumur oli dan semangat seorang juru bicara.

“Bang Danu habis di-scaling, Kang! Di klinik depan! Dokternya cantik pisan, kayak bidadari tapi galak. Dibersihin pakai alat yang bunyinya nging-nging. Abis itu dikasih kartu! Ada kolom rasa kangennya!”

“Cup,” kataku pelan.

“Kenapa, Bang?”

“Nggak ada kolom rasa kangen.”

“Ada, Bang. Bang yang nulis.”

Kang Dadang dan dua temannya saling pandang. Lalu, tanpa diskusi, ketiganya menyeberang jalan dengan helm masih di kepala.

Sore itu, buku biru Tika penuh.


Dalam empat hari, Klinik Gigi Tanuwijaya menerima sebelas pasien baru dari kalangan yang belum pernah tersentuh dunia kedokteran gigi modern: pengemudi ojek daring, tukang parkir minimarket, satpam kompleks, dan seorang penjual cilok yang mengaku giginya “kerasa ada yang nyangkut sejak 2019”. Semuanya pelanggan bengkelku. Semuanya datang karena cerita Ucup, yang setiap kali diulang makin dramatis. Di versi terakhir yang kudengar, Dokter Patricia bisa membersihkan karang gigi “cuma pakai tatapan”.

Kamis pagi, Tika menyeberang dengan wajah bersinar.

“A’, sumpah, minggu ini pemasukan klinik naik. Dokter sampai pesan tambahan sarung tangan.”

“Bagus dong.”

“Bagus, A’.” Ia merendahkan suara. “Tapi dokter tahu itu semua dari bengkel.”

“Terus?”

Tika meringis. “Terus beliau minta A’ datang jam empat. Katanya ada yang mau dibicarakan.”

“Booking?”

“Nggak, A’.” Tika menggeleng pelan, seperti dokter yang menyampaikan kabar buruk. “Bukan booking. Panggilan.”


Jam empat kurang tujuh menit, aku sudah di ruang tunggu. Aku membawa kartu janji temu yang sisi belakangnya sudah kuisi semalam. Kali ini Dokter Patricia tidak memanggilku ke kursi dental unit. Ia menyuruhku duduk di kursi di depan meja kerjanya, di sudut ruang praktik, dan ia duduk di seberang dengan tangan terlipat di atas meja.

Tanpa masker. Tanpa topi bedah. Hanya jas putih, cepol rapi, dan wajah yang terlalu cantik untuk dipakai menegur orang.

“Pak Danu.”

“Danu aja, Dok.”

“Pak Danu,” ulangnya. “Saya akan bicara langsung, supaya tidak ada salah paham.”

Aku menegakkan punggung. Di luar, Molar berenang pelan, seakan ikut mendengarkan.

“Saya berterima kasih atas pasien-pasien dari bengkel Anda,” katanya. “Tapi saya tidak meminta itu. Saya tidak suka dibantu tanpa diminta. Saya tidak suka berutang pada orang.”

“Itu bukan saya, Dok. Itu Ucup. Saya malah sempat larang.”

“Dan saya tidak tertarik.”

Kalimat itu jatuh di antara kami dengan bunyi yang rapi, seperti sendok stainless jatuh ke lantai keramik.

“Tidak tertarik pada Anda,” lanjutnya, tenang. “Tidak tertarik pada hubungan apa pun. Saya baru membuka klinik ini. Saya punya pinjaman bank, saya punya ibu yang setiap hari mengirimi saya pesan, saya punya pasien yang harus saya urus. Saya tidak punya waktu untuk kopi tanpa nama dan catatan di kartu janji temu.” Ia berhenti. “Jadi tolong, berhenti membuang uang Anda untuk konsultasi gigi yang sehat.”

Aku mendengarkan semuanya tanpa memotong. Dari jarak sedekat ini, tanpa masker dan tanpa lampu dental unit yang menyilaukan, aku melihat hal-hal yang tidak terlihat dari seberang jalan: lingkaran samar keunguan di bawah matanya yang ditutup bedak tipis, kuku jari yang dipotong terlalu pendek, dan cara ia menekan pelipis dengan ujung jari sekali, cepat, seperti menahan sakit kepala yang sudah jadi langganan. Perempuan ini bukan dingin karena sombong. Ia dingin seperti mesin yang dipaksa jalan terus tanpa pernah dimatikan.

Waktu ia selesai, aku mengangguk perlahan.

“Siap, Dok.”

Matanya sedikit menyipit, seperti tidak percaya semudah itu.

“Saya juga nggak tertarik ditolak,” kataku. “Jujur. Rasanya kayak ganti oli tapi lupa pasang baut tap-nya. Bocor semua.” Aku mengeluarkan kartu janji temu dan meletakkannya di atas meja, menghadap ke arahnya. “Tapi ya sudah. Kita jalani saja.”

“Jalani… apa?”

“Ditolaknya, Dok. Dokter nolak, saya tetap datang. Lewat booking. Bayar resmi. Nggak nunggu di depan pintu malam-malam, nggak ngikutin Dokter pulang, nggak maksa. Kalau Dokter bilang jangan bawa kopi, saya nggak bawa.” Aku mengangkat bahu. “Tapi saya tetap boleh jadi pasien, kan? Klinik ini nggak nolak pasien.”

Dokter Patricia menatapku lama. Lalu menatap kartu di atas meja.

“Konsultasi itu seratus lima puluh ribu,” katanya. “Tiap minggu. Itu mahal untuk gigi yang tidak sakit.”

“Masih lebih murah daripada ke psikolog, Dok. Lagian saya dapat bonus lihat ikan.”

Sudut bibirnya bergerak. Sedikit sekali. Kurang dari satu milimeter, mungkin setengah. Lalu ia menekannya kembali menjadi garis lurus, seakan menyadari ada kebocoran di sistem pertahanannya dan segera menambalnya.

Ia membalik kartu itu dan membaca sisi belakangnya.

SKALA RASA SAKIT (0–10): 0
CATATAN PASIEN: Hari ini kayaknya bakal ditolak. Rasa kangen tetap 8. Pasiennya bandel, Dok, mohon maaf.

Ia membacanya. Telinganya, sekali lagi, perlahan memerah.

“Anda menulis ini sebelum datang.”

“Firasat, Dok.”

Ia menghela napas panjang, napas orang yang lelah tapi tahu tidak ada gunanya berdebat dengan karburator yang memang sudah rusak dari pabriknya. Lalu ia membuka laci meja kerjanya untuk mengambil pulpen.

Dan aku melihatnya.

Hanya sekilas, satu detik sebelum laci itu didorong tertutup lagi. Di sudut laci, di samping kotak pulpen dan sebungkus permen mint, ada dua kartu janji temu bertumpuk. Kartu yang sisi belakangnya ditulis dengan tinta yang putus-putus, huruf kapital, miring ke kanan. Tulisanku. Paling atas, aku bisa membaca separuh baris: …kangen: 8. Tidak tahu harus…

Bukan di map rekam medis cokelat. Bukan di arsip pasien.

Di lacinya sendiri.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku bahkan tidak yakin apa yang barusan kulihat berarti sesuatu. Mungkin dokter gigi memang menyimpan kartu-kartu aneh di laci sebagai bukti kalau ada pasien yang perlu dirujuk ke psikiater. Mungkin itu prosedur.

Tapi kalau itu prosedur, aku tidak mengerti kenapa ia mendorong laci itu tertutup dengan begitu cepat, dan kenapa ia tidak menatapku waktu menyerahkan kartu baru.

Kontrol rutin — enam bulan lagi.

April tahun depan. Untuk ketiga kalinya.

“Selamat sore, Pak Danu.”

“Selamat sore, Dok.” Aku berdiri, lalu berhenti di pintu ruang praktik. “Oh ya, Dok. Kopinya.”

Ia mendongak.

“Dokter bilang nggak usah. Jadi Senin depan nggak saya kirim.” Aku tersenyum. “Tapi kalau Dokter berubah pikiran, saya di seberang. Bunyi rolling door-nya jelek, gampang dicari.”

Aku keluar sebelum ia sempat menjawab.


Di ruang tunggu, Tika sedang menulis di buku birunya. Ia mendongak dengan tatapan penuh pertanyaan.

“Ditolak,” kataku. “Resmi. Dengan kalimat lengkap. Subjek, predikat, objek.”

“Ya ampun, A’.” Tika menatapku seperti menatap kucing yang kehujanan. “Terus A’ gimana?”

“Booking minggu depan. Jam empat.”

Ia menatapku lebih lama. Lalu, pelan-pelan, ia membuka buku biru di halaman klasemen dan memperlihatkannya padaku. Daftarnya sudah panjang sekarang. Pak Hamid turun ke peringkat empat, disalip Kang Dadang dan penjual cilok yang ternyata sudah datang dua kali. Namaku masih di atas.

Tapi di samping namaku, dengan pulpen merah, Tika menambahkan catatan kecil:

Ditolak 1x. Tetap datang. Status: BAHAYA (buat dokter).

“Kenapa bahaya buat dokter?” tanyaku.

Tika menutup buku itu, lalu menatap pintu ruang praktik yang tertutup rapat.

“Karena, A’,” katanya pelan, “selama saya kerja di sini, dokter belum pernah buka laci itu buat ambil pulpen. Pulpennya kan selalu di saku jas.”

Aku menatap pintu itu. Aku menatap Tika. Lalu aku menyeberang jalan pulang dengan dada yang rasanya seperti mesin dua tak yang baru diservis.

Di bengkel, Ucup sedang menjelaskan prosedur scaling ke seorang pelanggan baru dengan gerakan tangan yang dramatis.

“Cup,” panggilku. “Mulai besok berhenti promosiin klinik depan.”

“Kenapa, Bang? Kan bantu.”

Aku duduk di bangku kayu dan memandangi kaca klinik yang mulai memantulkan cahaya senja.

“Karena,” kataku, “ada orang yang nggak suka dibantu, Cup. Kalau mau bantu dia, harus pelan-pelan. Diam-diam. Sampai dia nggak sadar.”

Ucup mengangguk serius, seolah aku baru saja mengajarinya cara menyetel klep.

“Kayak nambal ban tubeless, ya, Bang?”

Aku tertawa untuk pertama kalinya hari itu. Iya, Cup. Persis kayak gitu.