Chapter Fifteen
Sepupu dari Surabaya
POV: Patricia
Aku sampai di tengah jalan ketika perempuan itu muncul.
Ia keluar dari dalam bengkel dengan langkah ringan, rambut panjang cokelat bergelombang yang diikat setengah, kaus putih kebesaran dan celana jeans robek di lutut. Cantik dengan cara yang terang dan berisik, seperti iklan minuman soda. Ia membawa dua gelas es teh plastik, menyerahkan satu ke Danu, lalu, tanpa ragu sedikit pun, menggandeng lengannya.
Menggandeng. Lengannya. Lengan yang memegang payung hitam di tengah hujan. Lengan yang tidak pernah menyentuhku tanpa izin.
Danu menoleh padanya. Dan ia tertawa.
Bukan senyum kecil miring ke kanan yang ia berikan padaku waktu bilang iya, Dok. Tertawa betulan. Kepala sedikit mendongak, mata menyipit, bahu terguncang. Tawa yang sama seperti waktu ia bercerita tentang Ucup yang memasang ban terbalik. Tawa yang, menurut laporan Ucup, sudah tidak pernah ia keluarkan lagi.
Sebuah angkot membunyikan klakson panjang. Aku sadar aku masih berdiri di tengah jalan.
Aku mundur ke trotoar. Ke warung bakso dengan tenda oranye. Aku duduk di bangku plastik dan berkata pada penjualnya, “Bakso. Satu.” dengan suara yang terdengar seperti dokter yang sedang menyampaikan diagnosis kanker.
Baksonya datang dengan kuah mengepul. Aku menuangkan sambal tiga sendok. Empat. Lima.
“Teh,” kata penjual bakso, bapak-bapak bertopi, dengan nada khawatir. “Itu sambalnya pedes pisan.”
“Saya tahu.”
Aku memotong bakso urat dengan sendok dan garpu seperti sedang membedah. Dari bangku plastik ini, aku bisa melihat bengkel di seberang dengan sangat jelas. Perempuan itu sudah melepaskan lengan Danu, tapi sekarang ia duduk di jok motor yang sedang diperbaiki, mengayun-ayunkan kaki, dan berbicara terus tanpa henti sementara Danu bekerja. Sesekali Danu menjawab. Sesekali perempuan itu menepuk bahunya.
Tentu saja. Tentu saja ia bertemu seseorang. Ia laki-laki baik yang menjahit jok dua kali dan mendorong motor Pak RT di tanjakan. Ia baru tiga minggu di Cimahi. Tiga minggu cukup untuk—
Aku menyuap bakso urat dengan lima sendok sambal ke mulutku.
Lalu aku tersedak.
Pedasnya meledak dari lidah ke hidung ke mata ke otak. Aku terbatuk, mataku berair, wajahku terbakar. Penjual bakso panik menyodorkan es teh manis. Aku meminumnya setengah gelas dalam satu tarikan.
“Teh? Teh nggak apa-apa?”
“Saya nggak apa-apa,” kataku dengan suara serak dan air mata mengalir, entah karena sambal entah karena hal lain.
“DOK?!”
Aku mendongak dengan mata berair. Ucup berdiri di samping tenda oranye, membawa kantong plastik berisi gorengan, menatapku dengan mulut menganga.
“Dok? Dokter di sini? Dokter nangis?”
“Sambal,” kataku.
Ucup menatap mangkuk baksoku yang kuahnya sudah merah seperti lava. Lalu ia menatap seberang jalan, ke perempuan berambut cokelat yang duduk di jok motor. Lalu kembali ke wajahku yang basah. Otaknya yang bekerja seperti karburator belum disetel itu memproses semuanya, perlahan, dan aku bisa melihat saat ia akhirnya sampai pada kesimpulan.
“Oh,” katanya. “Oh.” Ia mengangkat kedua tangan. “Dok, bukan, Dok, itu—”
Aku sudah berdiri.
Aku tidak menyusun kalimat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menyusun apa pun. Aku menyeberang jalan dengan mata masih berair karena sambal, bibir masih panas, napas tersengal, dan aku berjalan lurus ke pintu bengkel yang kedua.
Danu sedang membungkuk di atas mesin. Ia mendengar langkahku dan menoleh.
Wajahnya berubah. Kunci ring di tangannya berhenti di udara.
“Dok?”
Aku meraih kerah kausnya dan menariknya.
Ia tinggi. Aku harus berjinjit, dan ia harus membungkuk karena tarikanku, dan dalam satu detik wajahnya ada sejengkal dari wajahku. Lebih dekat dari kursi dental unit. Lebih dekat dari payung hitam. Aku bisa melihat bayangan janggut di dagunya yang belum dicukur beberapa hari, dan lingkaran gelap di bawah matanya yang dulu tidak ada, dan matanya yang cokelat gelap, membulat kaget, menatapku.
“Itu siapa?” tanyaku.
Suaraku keluar rendah, serak karena sambal, dan sama sekali tidak terdengar seperti dokter.
Danu menatapku. Ia membuka mulut, lalu menutupnya. Di belakangnya, perempuan berambut cokelat itu melompat turun dari jok motor.
“Ya ampun,” kata perempuan itu. Logatnya Surabaya, keras dan hangat. “Mas, ini Bu Dokter? Yang di kartu-kartu itu?”
Aku menoleh padanya. Masih memegang kerah Danu.
“Sasa,” kata Danu pelan, wajahnya masih sejengkal dariku. “Sepupu saya, Dok. Anaknya Bulik dari Surabaya. Lagi liburan semester, nginep di rumah Om Hendra.”
Sepupu.
Aku menatap Sasa. Sasa menatapku dengan senyum yang makin lebar, seperti orang yang baru menonton episode terakhir sinetron favoritnya.
“Mbak,” kata Sasa ramah. “Aku cuma nganterin es teh, lho. Mas Danu dari tadi diem terus, kayak robot. Aku gandeng biar dia ketawa. Mas Danu itu kalau digandeng geli, Mbak, dari kecil.”
Aku melepaskan kerah kaus Danu.
Pelan-pelan. Jari demi jari. Seperti melepas sarung tangan setelah prosedur yang memalukan. Kain kausnya kusut di bagian yang kucengkeram.
Wajahku, yang sudah merah karena sambal, sekarang pasti terbakar sepenuhnya. Ucup berdiri di belakangku, masih memegang kantong gorengan, dengan wajah orang yang tidak tahu harus tertawa atau menangis. Di pintu bengkel sebelah, seorang laki-laki gemuk berkumis yang kuduga Kang Kurnia berhenti mengelap tangan dan menatap kami dengan mulut terbuka.
Aku memutuskan, dalam satu detik, bahwa aku sudah terlalu jauh untuk mundur.
Di depan bengkel ada bangku kayu panjang. Bukan bangku yang sama dengan di Jalan Cempaka, tapi mirip. Di atasnya ada gelas kopi hitam yang masih setengah penuh. Aku tahu itu kopi hitam karena aku membelinya sendiri hari Senin lalu, gelas plastik yang sama dengan logo kedai di ujung gang, yang dibawa Ucup ke Cimahi. Ia menyimpannya. Ia meminumnya sedikit demi sedikit, dingin, selama lima hari.
Aku duduk di bangku itu. Aku mengambil gelas kopinya.
“Ini punyaku sekarang,” kataku, tanpa menatapnya. Lalu, karena aku sudah setengah gila, aku menambahkan: “Kamu juga.”
Sasa menjerit kecil sambil menutup mulut. Ucup menjatuhkan kantong gorengan. Kang Kurnia berkata “Astaghfirullah” dengan nada yang sama sekali tidak religius.
Danu tidak tersenyum.
Ia meletakkan kunci ringnya di atas jok motor, mengelap tangannya dengan lap, dan duduk di ujung bangku yang lain. Ada jarak. Bukan satu jengkal seperti di bawah atap seng waktu hujan. Satu lengan penuh.
Sasa, membaca suasana, menarik Ucup dan Kang Kurnia masuk ke dalam bengkel dengan alasan yang tidak masuk akal tentang mencari baut ukuran dua belas.
“Om Hendra cerita, ya, Dok,” kata Danu akhirnya. Bukan pertanyaan.
Aku diam.
“Saya udah duga.” Ia tersenyum kecil, menatap jalan. “Om itu nggak bisa nyimpen rahasia lebih dari sebulan. Dulu dia juga yang bocorin ke Ibu saya kalau saya bolos SD.”
“Danu—”
“Dok.” Suaranya lembut. Tidak marah. Itu yang membuatnya lebih sakit. “Dokter nggak harus ke sini. Dokter nggak harus ngerasa bersalah. Motor itu saya jual karena saya mau. Bengkel saya tutup karena saya mau. Bukan supaya Dokter balik.”
“Aku nggak ke sini karena merasa bersalah—”
“Dokter bilang Dokter nggak punya tempat.” Ia menoleh padaku. Matanya tenang, terlalu tenang. “Saya dengar, Dok. Saya percaya. Saya nggak mau jadi satu hal lagi yang Dokter harus simpan. Saya nggak mau Dokter balik ke saya karena Dokter ngerasa punya utang.” Ia tersenyum lagi, senyum yang tidak sampai ke mata. “Itu kan yang Dokter paling benci.”
Aku memegang gelas kopi hitam itu erat-erat. Tanganku gemetar.
Ia benar. Itu yang paling kubenci. Dan ia mengingatnya. Ia menjaganya, bahkan sekarang, bahkan setelah aku menyuruhnya pergi dengan kalimat paling kejam yang pernah kuucapkan. Ia masih melindungiku dari diriku sendiri.
“Pulang, Dok,” katanya pelan, berdiri. “Udah sore. Jalan Pasteur macet. Ban belakang Dokter baru, tapi tetep hati-hati.”
Ia masuk ke dalam bengkel tanpa menoleh.
Aku duduk di bangku kayu itu sendirian, memegang kopi hitam dingin yang ia minum sedikit demi sedikit selama lima hari, dan menyadari sesuatu yang lebih buruk dari ditolak.
Ia tidak menolakku. Ia terlalu sopan untuk menolakku. Ia hanya menjaga jarak, persis seperti yang dulu kuminta, dengan kesabaran yang sama seperti waktu ia menunggu di bangku kayu di seberang jalan, bukan di depan pintuku.
Dan sekarang aku tahu rasanya jadi orang yang menunggu di seberang.
- 1 Rolling Door Hijau
- 2 Scaling Pertama
- 3 Rasa Kangen: 8
- 4 Daftar Penolakan
- 5 Si Hitam
- 6 Saya Cuma Minta Dijadwalin
- 7 Ritual
- 8 Satu Payung
- 9 Dokter Ortodonti
- 10 Tisu dan Oli
- 11 Tekanan
- 12 Jangan Ganggu Aku Lagi
- 13 Laci
- 14 Kopi Senin, Arah Sebaliknya
- 15 Sepupu dari Surabaya reading
- 16 Aku Booking Kamu
- 17 Satu-satunya yang Bisa Kukasih
- 18 Seumur Hidup, Boleh?