Chapter Fourteen
Kopi Senin, Arah Sebaliknya
POV: Patricia
Di buku biru Tika, di halaman kosong setelah jadwal minggu itu, aku menulis satu baris dengan pulpen merah.
Pasien: Danu Yanuar. Jadwal: secepatnya.
Lalu aku menatap tulisan itu dan menyadari sesuatu yang sangat memalukan untuk seorang dokter: aku tidak tahu di mana pasienku.
“Cimahi,” kata Tika, yang membaca dari balik bahuku. “Kata Pak Hendra.”
“Cimahi itu luas, Tika.”
“Iya, Dok.” Tika berpikir sebentar, lalu matanya menyipit dengan cara yang sudah kukenal. Cara orang yang sedang merencanakan sesuatu yang melibatkan grup WhatsApp. “Tapi ada satu orang yang pasti tahu.”
Ucup muncul hari Senin jam enam lewat empat puluh pagi, dan aku menangkapnya basah.
Aku sengaja datang lebih pagi dari biasanya, jam setengah tujuh, dan bersembunyi di balik tirai ruang praktik seperti tokoh di film detektif murahan. Tika yang menyarankannya. Menurut Tika, Ucup masih datang ke Jalan Cempaka setiap Senin, tapi tidak pernah membuka bengkel.
“Terus dia ngapain, Tika?”
“Itu dia, Dok. Rahasia.”
Jam enam lewat empat puluh, sebuah motor bebek berhenti di samping klinik, tepat di sebelah motor matic putihku yang kuparkir di sana sejak semalam. Ucup turun. Ia melihat kiri dan kanan dengan gerakan yang sangat mencurigakan, lalu berjongkok di samping motorku.
Ia mengeluarkan alat pengukur tekanan ban dari saku. Mengecek ban depan. Ban belakang. Menambahkan angin dengan pompa tangan kecil. Lalu membuka jok motorku dengan kunci cadangan — kunci cadangan! — dan mengecek aki, oli, dan air radiator dengan senter ponsel.
Aku membuka pintu klinik.
“Selamat pagi, Ucup.”
Ucup menjatuhkan senternya. Ponselnya jatuh ke selokan kering. Ia berdiri, berbalik, dan menatapku dengan wajah seperti maling ayam yang tertangkap warga.
“D-Dok. Pagi, Dok. Saya cuma… lewat.”
“Dengan kunci cadangan motor saya?”
“Itu… itu kuncinya nemu, Dok.”
“Di mana?”
Ucup menatap kunci di tangannya. Lalu menatapku. Lalu menatap langit, seperti berharap ada pesawat jatuh untuk mengalihkan perhatian.
“Dok,” katanya akhirnya, dengan suara yang sangat kecil. “Bang Danu yang nyuruh. Dari dulu, Dok. Sejak motor Dokter mogok pas hujan itu. Tiap Senin pagi, sebelum Dokter datang, saya cek motor Dokter. Bang Danu bikin kunci cadangan waktu servis berkala. Katanya biar motor Dokter nggak pernah mogok lagi, tapi Dokter nggak boleh tahu, nanti Dokter ngerasa dibantu.”
Aku berdiri di trotoar dengan jas putih dan tidak bisa berkata apa-apa.
Motor matic putih itu tidak pernah mogok lagi sejak hari hujan itu. Aku pikir itu karena servis berkala yang kubayar dengan harga normal. Aku pikir aku yang merawatnya.
“Dan sekarang,” kataku pelan, “Bang Danu masih nyuruh?”
Ucup menunduk. “Masih, Dok. Kemarin malam dia telepon, nanya ban belakang Dokter udah diganti apa belum. Katanya udah tipis.” Ia menggaruk kepala. “Bang Danu bilang Dokter nyuruh dia berhenti datang. Bukan berarti motor Dokter juga harus berhenti dirawat.”
Aku harus menekan pelipis dengan ujung jari. Bukan karena sakit kepala.
“Ucup,” kataku. “Kenapa kamu cerita sekarang? Kamu bisa saja bohong.”
Ucup menatap ponselnya yang terbungkus tisu, lalu menatapku dengan wajah polos yang menyakitkan.
“Soalnya saya capek, Dok. Tiap Senin bohong. Tiap Senin Bang Danu nanya, Dokter kelihatan sehat nggak, Cup? Saya jawab sehat. Padahal Dokter kelihatan kayak Bang Danu sekarang.” Ia mengusap hidung. “Dua-duanya kayak motor nggak diservis.”
Aku pergi ke kedai kopi di ujung gang. Aku belum pernah ke sana. Baristanya, laki-laki muda dengan apron cokelat, menatapku dengan mata membulat.
“Kopi susu gula aren, es sedikit ya, Teh?” tanyanya otomatis.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Itu pesanan A’ Danu tiap Senin, Teh. Katanya buat dokter cantik di seberang.” Ia berhenti, wajahnya memerah. “Eh. Maaf, Teh.”
“Bukan itu,” kataku. “Saya mau pesan… kopi yang biasa ia minum.”
Barista itu menatapku lama. Lalu tersenyum, sangat lebar.
“Kopi hitam, Teh. Tanpa gula. Panas.”
Aku membawa kopi hitam itu menyeberang jalan, ke bangku kayu panjang di depan rolling door hijau yang tertutup. Ucup sudah duduk di sana, menunggu dengan wajah pasrah, ponselnya yang basah dibungkus tisu.
Aku menyerahkan gelas kopi itu padanya.
“Untuk Bang Danu.”
Ucup menatap gelas itu, lalu menatapku dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca. “Dok,” bisiknya. “Ini kayak di film, Dok.”
“Ucup, di mana dia?”
Ucup menarik napas panjang, seperti agen rahasia yang akhirnya memutuskan membelot. “Bengkel Kurnia Motor, Dok. Cimahi, dekat kampus Bang Danu dulu. Punya Kang Kurnia, temen kuliahnya. Saya juga kerja di sana sekarang.” Ia menunduk lagi. “Tapi, Dok. Bang Danu… beda.”
“Beda bagaimana?”
“Nggak nyanyi lagi, Dok. Nggak joget. Kerja dari subuh sampai malam, terus tidur di bengkel. Kang Kurnia bilang Bang Danu kayak mesin yang nggak pernah dimatiin.” Ucup menatap kopi di tangannya. “Kayak Dokter dulu.”
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, aku menelepon Mama.
Bukan membalas pesan. Menelepon. Dan sebelum Mama sempat bertanya apakah aku sudah makan, aku menceritakan semuanya. Sewa. Si Hitam. Kartu-kartu di laci. Martabak setengah porsi. Berhenti searah. Suaraku pecah di tengah-tengah, dan aku tidak menyembunyikannya.
Mama tidak memotong. Ketika aku selesai, ia diam lama sekali.
Lalu ia berkata: “Cia, Mama ke klinik besok pagi.”
Ia datang jam tujuh, membawa rantang berisi nasi, sayur asem, dan ikan asin goreng. Ia memelukku di ruang tunggu, di depan Molar dan Tika, dan aku membiarkannya. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku membiarkan Mama memelukku.
“Cia,” katanya, mengelus punggungku. “Kamu tahu kenapa Papa antar martabak malam-malam itu?”
“Karena aku bilang lagi diet,” jawabku di bahunya. “Ia tahu aku bohong.”
“Bukan.” Mama menarik diri dan menatapku. Matanya merah. “Papa antar martabak karena ia sayang kamu. Bukan supaya kamu bilang terima kasih. Bukan supaya kamu balas. Papa nggak pernah ngitung, Cia. Kamu yang ngitung.” Ia memegang wajahku dengan dua tangan. “Menerima itu bukan utang, Sayang. Menerima itu… cara bilang iya, aku juga sayang kamu.”
Aku menangis lagi. Kedua kalinya dalam seminggu. Tika menyodorkan tisu dari meja resepsionis sambil ikut menangis, dan Molar berenang berputar-putar seakan tidak tahu harus berbuat apa dengan semua manusia yang bocor di ruang tunggunya.
Sabtu siang, aku menutup klinik jam dua belas tepat dan mengisi bensin motor sampai penuh.
Ban belakangnya baru. Aku tidak memasangnya. Tidak perlu bertanya siapa.
Perjalanan ke Cimahi memakan waktu satu jam lebih karena macet di Jalan Pasteur. Aku tidak memikirkan apa yang akan kukatakan. Aku menyalakan peta di ponsel, mengikuti suara navigasi, dan membiarkan kepalaku kosong. Mungkin itu kesalahan. Mungkin seharusnya aku menyusun kalimat lengkap seperti biasanya. Subjek, predikat, objek, permintaan maaf.
Bengkel Kurnia Motor ternyata lebih besar dari bengkel di Jalan Cempaka. Tiga pintu rolling door berwarna biru, papan nama besar dengan logo kunci inggris, dan deretan motor yang menunggu diperbaiki. Di seberang jalannya, ada warung bakso dengan tenda oranye dan bangku plastik.
Aku memarkir motorku di depan warung bakso itu. Di seberang jalan.
Lalu aku melihatnya.
Danu berdiri di depan salah satu pintu bengkel, memegang kunci ring, kaus abu-abu yang sama, rambut berantakan yang sama. Tapi ia lebih kurus. Pipinya lebih tirus. Ia sedang mendengarkan seorang pelanggan menjelaskan sesuatu tentang motornya, dan ia mengangguk, dan ia tidak tersenyum.
Aku berdiri di samping motorku, di seberang jalan, dan menyadari dengan sangat jelas posisi kami sekarang.
Selama dua bulan, ia yang duduk di bangku kayu dan memandangiku dari seberang. Ia yang harus mencari alasan untuk menyeberang. Booking scaling. Gigi bungsu. Konsultasi pasta gigi. Mawar plastik Pak RT. Ia selalu menemukan alasan, dan ia selalu menyeberang.
Sekarang aku yang di seberang.
Dan aku tidak punya alasan apa pun. Gigiku sehat. Motorku tidak mogok. Aku tidak membawa mawar, plastik atau asli. Yang kubawa hanya diriku sendiri, jantung yang berdetak terlalu cepat, dan kalimat-kalimat yang tidak pernah selesai kususun.
Aku menarik napas, menatap jalan, dan melangkah turun dari trotoar.
- 1 Rolling Door Hijau
- 2 Scaling Pertama
- 3 Rasa Kangen: 8
- 4 Daftar Penolakan
- 5 Si Hitam
- 6 Saya Cuma Minta Dijadwalin
- 7 Ritual
- 8 Satu Payung
- 9 Dokter Ortodonti
- 10 Tisu dan Oli
- 11 Tekanan
- 12 Jangan Ganggu Aku Lagi
- 13 Laci
- 14 Kopi Senin, Arah Sebaliknya reading
- 15 Sepupu dari Surabaya
- 16 Aku Booking Kamu
- 17 Satu-satunya yang Bisa Kukasih
- 18 Seumur Hidup, Boleh?