Chapter Five
Si Hitam
POV: Danu
Si Hitam lahir dari skripsiku.
Judul lengkapnya Rancang Bangun Modifikasi Sepeda Motor Bergaya Café Racer Berbasis Rangka Standar dengan Optimalisasi Rasio Kompresi. Dosen pembimbingku membacanya, menghela napas, lalu bilang judul itu terlalu panjang untuk kampus yang gedungnya cuma tiga lantai. Tapi ia meluluskanku dengan nilai A-, dan motor itu menjadi satu-satunya benda di dunia yang membuatku merasa empat tahun kuliah di kampus yang tidak dikenal siapa pun ternyata ada gunanya.
Rangkanya dari motor bebek tua milik almarhum bapak. Tangkinya kupesan dari tukang las di Cibaduyut. Joknya kujahit sendiri, dua kali, karena yang pertama miring. Catnya hitam doff, tanpa stiker, tanpa nama. Ucup yang menamainya Si Hitam, karena katanya motor sebagus itu harus punya nama seperti kuda di film koboi.
Aku jarang memakainya. Si Hitam hanya keluar untuk urusan penting: kondangan, beli suku cadang ke Jalan Kiaracondong, dan sekarang, sepertinya, untuk menyelamatkan seorang dokter gigi yang tidak mau diselamatkan.
Hujan turun Rabu sore, deras dan tiba-tiba, seperti Bandung sedang menumpahkan sisa air dari seluruh bulan sebelumnya.
Aku sedang dalam perjalanan pulang dari Kiaracondong dengan dua kotak kampas rem diikat di jok belakang ketika melihatnya di trotoar Jalan Riau.
Seorang perempuan dengan jas hujan transparan, mendorong motor matic putih di tengah hujan. Cepolnya sudah setengah lepas. Ujung celana kainnya basah sampai lutut. Dan ia mendorong motor itu dengan rahang terkatup, punggung tegak, wajah yang menolak menyerah pada cuaca, pada mesin, atau pada siapa pun.
Aku menepi di depannya.
Dokter Patricia berhenti. Ia menatapku dari balik tudung jas hujan yang dibasahi air, dan matanya yang biasanya tajam itu sekarang merah karena kedinginan dan, kurasa, kesal.
“Kenapa, Dok?”
“Mati,” jawabnya singkat. “Tidak mau hidup.”
“Boleh saya lihat?”
“Tidak perlu. Saya bisa dorong ke bengkel terdekat.”
“Bengkel terdekat itu bengkel saya, Dok. Dua kilo lagi.”
Ia menatap ke ujung jalan. Hujan makin deras. Ada genangan setinggi mata kaki di depan kami, dan angkot yang lewat mencipratkan air cokelat ke betisnya. Ia tidak bergerak sedikit pun, seperti patung yang memutuskan untuk tidak peduli.
“Saya tidak minta dibantu, Pak Danu.”
“Saya tahu, Dok.”
Aku turun dari Si Hitam. Ia langsung mundur selangkah, tangannya mencengkeram setang motornya lebih erat, dan aku mengerti. Aku mengangkat kedua tangan, seperti orang yang menyerah ke polisi.
“Saya nggak akan sentuh motor Dokter,” kataku. “Sumpah. Dokter naik aja ke motornya, pegang setangnya, rem kalau perlu. Saya di belakang pakai Si Hitam, kaki kanan saya taruh di footstep belakang motor Dokter, terus saya setut pelan-pelan sampai bengkel.”
“Itu namanya membantu.”
“Bukan, Dok.” Aku naik lagi ke Si Hitam, memutar kunci. Mesinnya menyala dengan bunyi rendah yang dalam, seperti kucing besar yang mendengkur. “Saya cuma kebetulan searah. Dan kaki saya kebetulan capek, butuh tempat istirahat.”
Ia menatapku lama. Air hujan menetes dari ujung hidungnya. Lalu, dengan gerakan yang sangat pelan seperti orang yang menelan obat pahit, ia naik ke motornya sendiri dan memegang setang.
Dua kilometer terasa seperti dua puluh.
Bukan karena jauh, tapi karena aku harus menjaga kecepatan tetap di bawah lima belas kilometer per jam, kaki kanan menempel di footstep motornya, tangan kiri di kopling, mata di jalan, dan sesekali di punggungnya. Punggung kecil berbalut jas hujan transparan yang tidak membungkuk sedikit pun, bahkan ketika air dari genangan terciprat sampai pinggangnya.
Di lampu merah perempatan, ia berbicara tanpa menoleh.
“Motor Anda.”
“Ya, Dok?”
“Bentuknya aneh.”
“Itu café racer, Dok. Skripsi saya.”
Ia akhirnya menoleh sedikit. “Skripsi?”
“S1 Teknik Mesin. Kampusnya di pinggir kota, Dokter pasti nggak pernah dengar namanya. Gedungnya tiga lantai, lift-nya rusak dari angkatan pertama.” Aku tertawa. “Akreditasinya B, Dok. Tapi hatinya A.”
Lampu berubah hijau sebelum ia sempat menjawab. Tapi aku melihatnya, dari samping, di bawah tudung jas hujan yang basah. Sudut bibirnya bergerak. Setengah milimeter. Lalu ditambal lagi.
Di bengkel, Ucup langsung melompat dari bangku kayu waktu melihat kami datang.
“Bang! Bang ngapain bawa dokter—”
“Handuk, Cup. Yang baru. Yang masih ada labelnya.”
Ucup lari ke dalam dan kembali dengan handuk biru yang masih terlipat dalam plastik. Aku menyerahkannya pada Dokter Patricia tanpa menyentuh tangannya. Ia menatap handuk itu, menatap labelnya yang bertuliskan harga dua puluh lima ribu, lalu menatapku.
“Saya ganti.”
“Nanti aja, Dok. Duduk dulu.”
Ia duduk di bangku kayu panjang, di bawah atap seng yang berisik ditimpa hujan. Ia melepas jas hujan dan mengeringkan rambutnya yang sudah lepas dari cepol. Aku belum pernah melihat rambutnya tergerai. Hitam, lurus, jatuh sampai punggung, dan basah. Aku cepat-cepat berbalik ke motornya sebelum Ucup menyadari aku melongo seperti orang yang baru melihat gerhana.
Masalahnya sederhana: busi basah dan filter udara yang sudah terlalu lama tidak diganti. Lima belas menit kemudian motor matic putih itu menyala lagi dengan bunyi halus. Aku mengelap tanganku dengan lap, lalu menoleh.
Dokter Patricia tidak sedang melihat motornya. Ia sedang melihat Si Hitam.
Ia berdiri di depan motor hitam itu, memiringkan kepala seperti waktu menempel stiker di pintu kliniknya, matanya meneliti tangki, jok, setang rendah. Tangannya terangkat sedikit, seakan ingin menyentuh, lalu turun lagi.
“Anda yang membuat ini?”
“Rangkanya punya Bapak. Sisanya saya.”
“Jok ini dijahit tangan.”
“Dua kali, Dok. Yang pertama miring.”
Ia menatap jahitan di jok itu dengan keseriusan yang sama seperti waktu ia memeriksa gigiku. Lalu ia berkata, tanpa menoleh, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya:
“Rapi.”
Hanya satu kata. Tapi aku merasakannya di dada, tempat yang sama di mana aku merasakan bunyi mesin Si Hitam pertama kali menyala di halaman kampus empat tahun lalu.
“Berapa?” tanyanya sambil mengeluarkan dompet.
Aku menghitung di kepala. Busi, filter, jasa. Aku bisa saja menggratiskan semuanya. Aku ingin menggratiskan semuanya. Tapi aku ingat wajahnya di ruang praktik waktu bilang saya tidak suka berutang pada orang, dan lingkaran keunguan di bawah matanya.
“Tujuh puluh lima ribu, Dok. Plus handuk dua puluh lima. Jadi seratus.”
Ia menatapku seperti sedang memeriksa apakah aku berbohong soal harga. Lalu ia mengeluarkan selembar seratus ribu dan menyerahkannya. Aku menerimanya, memasukkannya ke laci kasir, dan menuliskan kuitansi dengan pulpen yang tintanya putus-putus.
Ia menerima kuitansi itu dan menatapnya sebentar. Di wajahnya ada sesuatu yang mengendur. Seperti baut yang selama ini dikencangkan terlalu keras, lalu diputar seperempat putaran.
“Terima kasih,” katanya. “Untuk… perbaikannya.”
“Itu kerjaan saya, Dok. Dokter bayar. Kita impas.”
Ia mengangguk. Lalu ia naik ke motornya, memakai jas hujan yang masih basah, dan menyalakan mesin. Hujan sudah reda menjadi gerimis tipis. Lampu-lampu Jalan Cempaka mulai menyala, memantul di genangan seperti serpihan kaca.
Sebelum melaju, ia menoleh padaku.
Dan untuk pertama kalinya, ia menatapku tidak seperti menatap karang gigi. Ia menatapku lama, dengan mata yang masih merah karena dingin, dengan rambut basah yang terurai di bahunya, seperti sedang mencoba memahami mesin yang tidak ada di buku manual mana pun.
Lalu ia pergi.
Ucup berdiri di sampingku, tangan di pinggang. “Bang.”
“Apa?”
“Bang kasih harga normal.”
“Iya.”
“Bang nggak pernah kasih harga normal ke orang yang Bang suka. Pak RT aja kemarin gratis.”
Aku menatap jalan tempat lampu belakang motor matic putih itu menghilang di tikungan.
“Justru karena aku suka, Cup,” kataku. “Orang yang nggak bisa nerima, jangan dikasih terlalu banyak. Nanti dia lari.”
Kamis jam empat, aku kembali ke kursi dental unit untuk konsultasi yang entah keberapa. Di sisi belakang kartu janji temu, aku menulis:
SKALA RASA SAKIT (0–10): 0
CATATAN PASIEN: Motor Dokter sudah sehat. Pemiliknya jangan lupa makan. Rasa kangen: 8,5. Naik karena kemarin hujan.
Dokter Patricia membacanya. Telinganya memerah. Ia menulis kartu baru — enam bulan lagi — dan memasukkan kartu lamaku ke saku jas.
Bukan ke map. Bukan ke laci.
Ke saku jas, di dada kiri, tepat di bawah sulaman namanya.
- 1 Rolling Door Hijau
- 2 Scaling Pertama
- 3 Rasa Kangen: 8
- 4 Daftar Penolakan
- 5 Si Hitam reading
- 6 Saya Cuma Minta Dijadwalin
- 7 Ritual
- 8 Satu Payung
- 9 Dokter Ortodonti
- 10 Tisu dan Oli
- 11 Tekanan
- 12 Jangan Ganggu Aku Lagi
- 13 Laci
- 14 Kopi Senin, Arah Sebaliknya
- 15 Sepupu dari Surabaya
- 16 Aku Booking Kamu
- 17 Satu-satunya yang Bisa Kukasih
- 18 Seumur Hidup, Boleh?