Chapter One
Rolling Door Hijau
POV: Danu
Rolling door bengkelku warnanya hijau, catnya mengelupas di sana-sini, dan bunyinya seperti kambing yang dipaksa ikut lomba nyanyi.
Sudah tiga tahun aku menariknya tiap pagi jam tujuh kurang lima, dan sudah tiga tahun pula aku berjanji akan mengoleskan gemuk ke relnya. Belum pernah kulakukan. Ada sesuatu yang menenangkan dari bunyi itu: kreeeek-krak-krak-KRANG. Seperti alarm yang mengumumkan ke seluruh Jalan Cempaka bahwa Bengkel Yanuar Motor sudah buka, dan siapa pun yang knalpotnya batuk boleh datang.
Pagi itu aku menariknya setengah, lalu berhenti.
Karena di seberang jalan, ruko yang tiga bulan kosong itu sudah punya penghuni.
Papan nama putih dengan huruf biru tua: KLINIK GIGI TANUWIJAYA. Kaca depannya baru dilap sampai bening, dan di baliknya ada seorang perempuan yang sedang berjinjit menempel stiker jam praktik di pintu.
Aku tidak tahu bagaimana orang lain jatuh cinta. Di film, biasanya ada musik. Di kehidupanku, yang ada cuma radio Ucup memutar dangdut koplo dari dalam bengkel, dan tanganku yang masih memegang tali rolling door.
Perempuan itu cantik dengan cara yang bikin aku lupa kosakata. Kulitnya pucat seperti susu yang belum diaduk kopi. Rambut hitamnya dicepol tinggi, rapi sekali, tanpa satu helai pun yang berani kabur. Ia memakai kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku, dan wajahnya… serius. Serius sekali. Ia menempel stiker itu seperti sedang melakukan operasi jantung. Lalu ia mundur selangkah, memiringkan kepala, mengernyit, mencabut stiker itu, dan menempelnya lagi dua milimeter lebih ke kiri.
Dua milimeter.
Aku menarik rolling door sisanya. KRANG.
Ia menoleh. Mata kami bertemu di atas aspal Jalan Cempaka yang lebarnya cuma cukup untuk dua motor dan satu tatapan lama.
Ia tidak tersenyum. Ia cuma menatapku seperti menatap karang gigi: sesuatu yang mengganggu dan sebaiknya dibersihkan. Lalu ia masuk.
“Bang.” Ucup muncul dari balik etalase oli, rambutnya masih basah habis mandi. “Bang kenapa? Kesurupan?”
“Cup,” kataku. “Aku mau nikah.”
“Sama siapa, Bang?”
Aku menunjuk ke seberang.
Ucup melihat klinik itu, lalu melihatku, lalu melihat klinik itu lagi. Umurnya dua puluh, montir paling jujur yang pernah kupekerjakan, dan otaknya bekerja dengan kecepatan karburator yang belum disetel.
“Sama kliniknya, Bang?”
Aku butuh alasan untuk menyeberang. Masalahnya, aku tidak punya.
Gigiku sehat. Ibuku dulu galak soal sikat gigi, dan aku satu-satunya anak di kampung yang tidak pernah takut ke dokter gigi karena memang tidak pernah perlu. Waktu kuliah di kampus swasta kecil di pinggir Bandung — yang namanya bahkan tidak muncul kalau diketik di mesin pencari tanpa tanda kutip — aku pernah ikut pemeriksaan gigi gratis dari fakultas kedokteran gigi kampus sebelah. Mahasiswinya bilang gigiku “membosankan, Kak, nggak ada yang bisa dikerjain.”
Jadi aku memakai cara klasik: bawa sesuatu.
“Bunga,” kataku pada Ucup. “Perempuan suka bunga.”
“Tukang bunga baru buka jam sembilan, Bang.”
Aku melihat sekeliling. Di bengkel ada ban dalam, kunci ring, tiga jeriken oli, dan sebuah motor bebek yang sedang ganti kampas rem. Di dasbor motor itu ada vas kecil berisi setangkai mawar plastik merah, agak pudar, dengan debu tipis di kelopaknya.
Aku mengambilnya. Kutiup debunya. Kubersihkan pakai lap yang paling sedikit olinya.
“Bang—”
“Nanti kuganti, Cup.”
Aku menyeberang. Jalan Cempaka jam setengah delapan pagi cukup sepi: satu angkot hijau, dua anak SD naik sepeda, tukang bubur yang melambat karena penasaran. Pintu klinik berbunyi ting saat kubuka, dan udara di dalamnya dingin, wangi, bersih — kebalikan total dari bengkelku.
Ruang tunggunya kecil. Enam kursi biru, satu meja resepsionis, dan sebuah akuarium bulat berisi ikan cupang biru yang langsung menatapku curiga. Di meja resepsionis duduk seorang perempuan muda berkerudung pastel, matanya bulat, dan nametag-nya bertuliskan TIKA.
“Selamat pagi, ada yang bisa dibantu?” katanya ramah. Lalu matanya turun ke mawar plastik di tanganku, dan alisnya naik setinggi mungkin.
“Pagi, Teh. Saya tetangga depan. Mau kenalan sama… dokternya.”
Tika menatapku. Menatap mawar. Menatapku lagi. Lalu ia menekan bel kecil di mejanya dengan semangat yang mencurigakan.
Pintu ruang praktik terbuka.
Dari dekat, ia lebih cantik lagi, dan itu tidak adil. Bulu matanya panjang tanpa maskara. Bibirnya tipis, pucat, terkatup rapat. Ia sudah memakai jas putih, dan di dada kirinya tersulam nama: drg. Patricia Tanuwijaya.
Patricia. Aku mengulang nama itu dalam kepala seperti mengulang nomor seri mesin.
“Ya?” katanya. Suaranya rendah, datar, jernih.
“Pagi, Dok. Saya Danu, yang punya bengkel di depan.” Aku mengulurkan mawar. “Selamat atas pembukaan kliniknya. Semoga laris, semoga pasiennya rajin sikat gigi tapi tetap rajin datang ke sini.”
Ia menatap mawar itu. Lama. Kemudian matanya naik ke wajahku.
“Ini bunga plastik.”
“Tahan lama, Dok. Kayak niat baik saya.”
“Ada debunya.”
“Itu… debu yang sudah saya bersihkan sebagian.”
Tika menutup mulutnya dengan dua tangan.
Dokter Patricia tidak mengambil bunga itu. Ia hanya mengangguk sekali, sangat sopan dan sangat dingin, seperti petugas bank yang menolak pengajuan kredit.
“Terima kasih atas ucapannya, Pak Danu. Tapi saya tidak bisa menerima itu. Klinik akan buka jam sembilan. Kalau Bapak ada keluhan gigi, silakan daftar melalui resepsionis.”
“Panggil Danu aja, Dok. Saya baru dua puluh delapan.”
“Pak Danu,” ulangnya, tegas. “Permisi.”
Pintu ruang praktik tertutup. Klik.
Aku berdiri di ruang tunggu memegang mawar plastik berdebu. Ikan cupang di akuarium berenang berputar seakan sedang menertawakanku.
“Namanya Molar,” bisik Tika.
“Siapa?”
“Ikannya. Saya yang kasih nama.” Ia mencondongkan badan. “A’, jangan sedih. Dokter Patricia memang begitu ke semua orang. Kemarin sales alat medis aja dia tolak sampai salesnya nanya alamat masjid terdekat buat menenangkan diri.”
“Dia nggak pernah senyum?”
Tika berpikir serius. “Pernah sekali. Waktu Molar berhasil makan pelet pertamanya.”
Aku mengangguk pelan. Berarti peluangku setara dengan ikan cupang. Itu bukan nol.
Waktu aku menyeberang kembali, Ucup sudah berdiri di depan bengkel, wajahnya pucat.
“Bang. Bang, gawat.”
“Kenapa?”
“Itu bunga punya Pak RT.”
Aku melihat mawar di tanganku. Lalu melihat motor bebek di dalam bengkel. Lalu melihat Pak RT, yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping motornya, tangan di pinggang, menatap vas kosong di dasbor.
“Dari almarhumah istri saya,” kata Pak RT pelan.
Aku langsung memasukkan mawar itu ke vas, mengelap dasbornya, mengganti kampas rem motornya gratis, dan menambah servis karburator tanpa ditanya. Pak RT pulang dengan motor yang larinya lebih mulus daripada waktu ia pertama beli, dan dengan ekspresi orang yang masih belum memutuskan apakah ia harus marah atau berterima kasih.
Siangnya aku duduk di bangku kayu panjang depan bengkel, kopi hitam di tangan, menatap klinik di seberang.
Pasien pertamanya datang jam sembilan lewat sepuluh: seorang ibu dan anaknya yang menangis. Empat puluh menit kemudian anak itu keluar sambil menjilat stiker bintang, sudah tidak menangis. Pasien kedua bapak-bapak berkumis yang masuk dengan wajah ragu dan keluar dengan wajah orang yang baru jatuh cinta. Aku mengerti perasaannya.
Sesekali, melalui kaca, aku melihat Dokter Patricia berjalan dari ruang praktik ke meja resepsionis. Rambutnya tetap dicepol sempurna. Punggungnya tegak. Ia tidak pernah melihat ke seberang.
Aku tidak keberatan. Aku orang bengkel. Aku terbiasa menunggu mesin yang tidak mau hidup.
Menjelang sore, Tika keluar membawa papan berdiri dan menaruhnya di depan pintu klinik. Tulisannya besar, dengan spidol biru:
TERIMA BOOKING SCALING — PEMBERSIHAN KARANG GIGI.
HUBUNGI RESEPSIONIS.
Aku menatap papan itu. Kopi di tanganku sudah dingin.
“Cup,” panggilku.
“Ya, Bang?”
“Scaling itu apa?”
Ucup mengeluarkan ponselnya, mengetik lama dengan dua jari, lalu membaca keras-keras dengan nada orang yang baru menemukan kebenaran semesta. “Membersihkan karang gigi, Bang. Pakai alat getar. Disarankan tiap enam bulan.” Ia mendongak. “Bang punya karang gigi?”
Aku menyesap kopi dingin itu sampai habis. Kopi hitam, tanpa gula, tiga gelas sehari, tiga tahun berturut-turut.
“Kalau belum,” kataku sambil berdiri, “sebentar lagi pasti punya.”
Di seberang jalan, lampu klinik menyala satu per satu. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak sabar menunggu besok pagi untuk menarik rolling door yang berisik itu.
- 1 Rolling Door Hijau reading
- 2 Scaling Pertama
- 3 Rasa Kangen: 8
- 4 Daftar Penolakan
- 5 Si Hitam
- 6 Saya Cuma Minta Dijadwalin
- 7 Ritual
- 8 Satu Payung
- 9 Dokter Ortodonti
- 10 Tisu dan Oli
- 11 Tekanan
- 12 Jangan Ganggu Aku Lagi
- 13 Laci
- 14 Kopi Senin, Arah Sebaliknya
- 15 Sepupu dari Surabaya
- 16 Aku Booking Kamu
- 17 Satu-satunya yang Bisa Kukasih
- 18 Seumur Hidup, Boleh?