Chapter Seven
Ritual
POV: Patricia
Aku bisa membedakan bunyi rolling door bengkel itu dari bunyi rolling door lain di seluruh Jalan Cempaka.
Ini bukan sesuatu yang kubanggakan.
Rolling door toko kelontong di sebelah klinik berbunyi greeek pendek dan selesai. Rolling door laundry di ujung jalan berbunyi seperti gerobak yang didorong di jalan berbatu. Rolling door Bengkel Yanuar Motor berbunyi kreeeek-krak-krak-KRANG, dengan KRANG terakhir yang keras dan percaya diri, seperti seseorang yang mengumumkan kedatangannya tanpa minta izin pada siapa pun.
Bunyi itu terdengar setiap pagi jam tujuh kurang lima. Aku tahu karena aku datang ke klinik jam tujuh lewat lima belas, dan selama enam minggu pertama, aku tidak pernah memperhatikannya.
Sekarang aku memperhatikannya dari rumah.
Rumahku dan Mama ada di Jalan Cihapit, dua kilometer dari Jalan Cempaka. Tidak mungkin bunyi rolling door itu terdengar dari sana. Tapi setiap pagi, ketika jam dinding di dapur menunjukkan pukul enam lima puluh lima, aku berhenti mengoles mentega di roti, dan kepalaku memutar bunyi itu sendiri. Kreeeek-krak-krak-KRANG. Lalu aku melanjutkan mengoles mentega dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Ini, menurut semua literatur yang pernah kubaca, adalah gejala.
Aku dokter. Aku tahu gejala.
Senin pagi, kopi susu gula aren sudah ada di meja resepsionis waktu aku masuk.
Gelas plastik, tutup rapat, es sedikit. Tanpa nama. Di sebelahnya, termos teh manis milik Tika yang tidak pernah ia sentuh lagi sejak dua minggu lalu, karena menurut Tika, “kalau dokter minum kopi orang lain, masa saya minum teh sendiri, Dok, nggak solider.”
Aku mengambil gelas itu. Dingin di telapak tangan. Aku membawanya ke ruang praktik, menaruhnya di meja kerja, dan menatapnya sambil menunggu komputer menyala.
Tiga minggu lalu aku membuang kopi yang sama ke tempat sampah. Aku berdiri sebelas detik di depan tempat sampah itu. Tika menghitung, tentu saja. Tika menghitung semuanya. Dan yang tidak diketahui Tika adalah: aku tidak sedang ragu apakah harus membuangnya. Aku sedang mencoba mengingat kapan terakhir kali seseorang membelikanku sesuatu tanpa meminta apa pun.
Jawabannya: Papa. Empat tahun lalu. Martabak manis keju-cokelat, setengah porsi, karena aku sedang koas dan bilang sedang diet. Ia mengantarnya ke rumah sakit jam sebelas malam, menitipkannya di pos satpam, dan pulang tanpa menunggu karena tidak mau mengganggu jagaku.
Seminggu kemudian, ia meninggal karena serangan jantung. Aku sedang jaga malam di IGD. Ponselku di loker. Aku baru membaca tujuh belas panggilan tak terjawab dari Mama jam lima subuh.
Sejak itu, aku tidak suka menerima apa pun. Karena setiap kali menerima, aku merasa berutang. Dan utang yang paling berat adalah yang tidak sempat dibayar.
Aku membuka tutup gelas kopi itu dan meminumnya.
Manis. Terlalu manis. Persis seperti yang kusukai dan tidak pernah kuizinkan untuk diriku sendiri.
Sejak kartu itu, kartu yang kutulis Kamis depan dengan tangan yang entah kenapa gemetar, Danu Yanuar datang setiap Kamis jam empat.
Ia tidak lagi mengarang keluhan. Ia duduk di kursi dental unit, aku memeriksa giginya yang tetap sehat dan membosankan, lalu kami berbicara. Kadang lima menit. Kadang lima belas, kalau pasien berikutnya terlambat. Ia bercerita tentang bengkelnya, tentang pelanggan yang membawa motor dengan mesin berisi sarang tikus, tentang Ucup yang pernah memasang ban terbalik dan bersikeras bahwa itu tren baru. Aku mendengarkan sambil mengisi rekam medis yang sebenarnya tidak perlu diisi.
Aku harus jujur pada diri sendiri, karena di kepalaku tidak ada Tika yang mencatat: ia tampan.
Bukan tampan seperti model iklan sampo. Tampan seperti mesin yang bagus. Tingginya hampir menyentuh lampu dental unit kalau ia berdiri. Kulitnya sawo matang, gelap di lengan karena matahari. Senyumnya lebar dan sedikit miring ke kanan, dan gigi depannya, yang kuperiksa setiap minggu, rapi dan putih dengan cara yang membuatku iri sebagai profesional. Rambutnya selalu sedikit berantakan, seperti ia menyisirnya dengan jari dalam perjalanan menyeberang jalan. Dan tangannya. Tangannya besar, kasar, dengan bekas oli permanen di sela kuku yang tidak bisa hilang meski ia jelas sudah menggosoknya sebelum datang. Tangan yang menjahit jok motor dua kali karena yang pertama miring.
Di setiap akhir kunjungan, ia bertanya hal yang sama.
“Jadwal berikutnya?”
Dan setiap minggu, aku menulis Kamis berikutnya di kartu.
Lalu ia menyerahkan kartu lamanya, yang sisi belakangnya sudah ia isi dengan tinta putus-putus. Aku membacanya di depannya dengan wajah datar. Lalu malamnya, setelah klinik tutup dan Tika pulang, aku membuka laci meja kerja dan membacanya lagi.
Rasa kangen: 8. Tidak tahu harus konsultasi ke dokter apa.
Hari ini kayaknya bakal ditolak. Rasa kangen tetap 8.
Motor Dokter sudah sehat. Pemiliknya jangan lupa makan. Rasa kangen: 8,5.
Rasa kangen: 9. Dokter tertawa minggu lalu. Saya belum tidur yang benar sejak itu.
Tumpukannya sudah tujuh kartu. Aku tidak tahu kenapa aku menyimpannya. Secara prosedural, kartu-kartu itu seharusnya masuk map rekam medis. Secara pribadi, aku tidak bisa menjelaskan kenapa aku merasa map itu terlalu dingin untuknya.
Kamis ini, Danu terlambat.
Jam empat tepat, ruang tunggu kosong. Aku keluar dari ruang praktik dan menatap kursi-kursi biru itu. Tika menatapku dari balik meja. Molar menatapku dari akuarium.
“Belum datang, Dok,” lapor Tika, sangat pelan, seperti melaporkan pasien kritis.
“Saya tidak bertanya.”
“Iya, Dok.”
Aku kembali ke ruang praktik. Aku merapikan nampan alat yang sudah rapi. Aku mengecek kompresor yang tidak bermasalah. Aku menatap jam dinding. Empat lewat satu menit. Aku menatap jendela kecil yang menghadap ke jalan, tapi dari ruang praktik aku hanya bisa melihat sepotong trotoar dan tiang listrik.
Mungkin ia sakit. Mungkin ia kecelakaan dengan motor aneh itu. Mungkin ia akhirnya menyadari bahwa menyukai perempuan yang menolaknya dengan kalimat lengkap adalah ide yang buruk, dan ia sudah berhenti. Itu reaksi yang rasional. Itu yang seharusnya kuharapkan.
Dadaku terasa tidak enak. Aku menyalahkan kopi pagi tadi. Terlalu manis. Gula aren dalam jumlah itu pasti menyebabkan palpitasi.
Empat lewat dua menit, pintu klinik berbunyi ting.
Danu masuk dengan napas terengah-engah, kaus bengkel abu-abu dengan noda oli di dada, rambut basah keringat. Ia berhenti di depan pintu ruang praktik yang terbuka dan menatapku.
“Maaf, Dok. Motor Pak RT mogok di tanjakan depan masjid, saya dorong dulu sampai bengkel.”
Aku berdiri di samping kursi dental unit dengan tangan terlipat. Wajahku datar. Suaraku, aku yakin, juga datar.
“Anda telat dua menit.”
“Iya, Dok. Maaf.”
“Saya bilang jangan telat.”
“Iya, Dok.”
Aku mendengar diriku berkata, “…Bukan berarti saya menunggu.”
Hening. Danu menatapku. Di belakangnya, di meja resepsionis, Tika menjatuhkan pulpen merahnya.
Aku tidak pernah menginginkan lubang di lantai sebesar aku menginginkannya saat itu.
Danu tidak tertawa. Ia tidak menggoda. Ia hanya tersenyum, perlahan, dengan senyum miring ke kanan itu, lalu masuk dan duduk di kursi dental unit.
“Saya juga nggak nunggu-nunggu banget hari Kamis kok, Dok,” katanya ringan. “Cuma udah mandi dari jam dua.”
Aku memasang masker dengan cepat. Untuk pertama kalinya, aku bersyukur pekerjaanku menuntutku menutup separuh wajah.
Di akhir kunjungan, ia menyerahkan kartu lamanya dan membuka mulut untuk bertanya.
“Jadwal ber—”
“Kamis depan,” kataku. “Jam empat.”
Ia berhenti dengan mulut setengah terbuka. Aku menulis tanggalnya di kartu baru, terlalu cepat, dan menyerahkannya tanpa menatapnya. Ia menerima kartu itu, membaca, lalu menatapku dengan mata yang berbinar seperti lampu bengkel yang baru dinyalakan.
“Dokter jawab sebelum saya selesai nanya.”
“Saya menghemat waktu.”
“Iya, Dok.” Ia berdiri, tapi senyumnya tidak hilang. “Hemat dua detik.”
Setelah ia pergi, aku duduk di kursi kerja dan membuka ponsel untuk mengalihkan pikiran.
Empat belas pesan dari Mama.
Cia, sudah makan? 🙏
Cia, Mama ketemu Tante Hadinata di arisan.
Anaknya dokter gigi juga lho, spesialis behel. Ganteng. 😍
Ini CV-nya ya, Mama kirim.
[Dokumen: CV_drg_Reza_Hadinata_SpOrt.pdf]
Katanya kalian dulu satu koas?? Kok kamu nggak pernah cerita!!
Mama sudah kasih nomormu. 😊
Jangan marah ya. Mama cuma mau kamu ada yang jagain.
Aku menatap pesan terakhir itu lama.
Lalu, tanpa sadar, mataku berpindah ke jendela kecil di ruang praktik. Ke sepotong trotoar dan tiang listrik. Di baliknya, tidak terlihat dari sini, ada rolling door hijau yang berbunyi KRANG setiap pagi, dan seseorang yang mendorong motor Pak RT di tanjakan supaya bisa datang terlambat dua menit dengan alasan yang masuk akal.
Aku membuka laci dan memasukkan kartu kedelapan ke tumpukan.
SKALA RASA SAKIT (0–10): 0
CATATAN PASIEN: Rasa kangen: 9. Hari ini Kamis. Itu aja alasannya saya senang.
Aku membacanya tiga kali. Lalu aku menutup laci, mematikan lampu ruang praktik, dan menyadari aku sedang tersenyum sendirian dalam gelap, seperti orang bodoh.
Gejala. Jelas gejala.
- 1 Rolling Door Hijau
- 2 Scaling Pertama
- 3 Rasa Kangen: 8
- 4 Daftar Penolakan
- 5 Si Hitam
- 6 Saya Cuma Minta Dijadwalin
- 7 Ritual reading
- 8 Satu Payung
- 9 Dokter Ortodonti
- 10 Tisu dan Oli
- 11 Tekanan
- 12 Jangan Ganggu Aku Lagi
- 13 Laci
- 14 Kopi Senin, Arah Sebaliknya
- 15 Sepupu dari Surabaya
- 16 Aku Booking Kamu
- 17 Satu-satunya yang Bisa Kukasih
- 18 Seumur Hidup, Boleh?