Chapter Six

Saya Cuma Minta Dijadwalin

POV: Danu

Senin kedua tanpa kopi, aku mulai mengerti kenapa orang berhenti merokok itu susah.

Bukan karena kopinya. Aku tidak pernah meminum kopi susu gula aren itu kecuali yang diselamatkan Tika. Tapi ada ritual yang hilang: bangun lebih pagi, berjalan ke kedai depan gang, menunggu barista menuangkan gula aren dengan takaran yang sudah ia hafal, lalu menyuruh Ucup menyeberang seperti kurir rahasia. Ritual itu memberiku alasan untuk memulai hari dengan memikirkan seseorang.

Sekarang Senin pagi hanya berisi rolling door yang berbunyi kreeeek-krak-krak-KRANG, radio dangdut Ucup, dan aku yang menatap meja resepsionis kosong di seberang jalan.

“Bang,” kata Ucup, sambil memompa ban sepeda anak SD yang bocor. “Bang kayak kucing yang majikannya pindah rumah.”

“Aku baik-baik aja, Cup.”

“Bang udah ngelap spion motor Pak Hamid lima kali.”

Aku melihat kain lap di tanganku, lalu spion yang berkilau seperti cermin rias. Pak Hamid, yang sedang menunggu motornya selesai diservis sambil membaca koran, menatapku dari balik kacamata.

“Anak muda,” katanya bijak. “Saya peringkat empat sekarang. Saya sudah ikhlas. Kamu juga harus belajar ikhlas.”

“Bapak tahu soal klasemen?”

“Satu Jalan Cempaka tahu, Nak. Tika bikin grup WhatsApp-nya.”


Jam tujuh lewat dua puluh, sesuatu terjadi yang membuat Ucup menjatuhkan pompa ban.

Pintu klinik di seberang terbuka. Dokter Patricia keluar. Ia berdiri di trotoar, menatap kiri dan kanan, lalu menyeberang Jalan Cempaka dengan langkah yang terlalu cepat, seperti orang yang takut berubah pikiran di tengah jalan.

Ia belum pernah menyeberang jalan ini. Tidak sekali pun, dalam enam minggu kliniknya buka. Bahkan waktu motornya mogok, ia datang ke bengkel karena aku yang menyetutnya.

Ia berhenti di depan bangku kayu. Masih memakai kemeja biru muda dan celana kain hitam, belum pakai jas putih. Cepolnya rapi lagi. Di tangannya ada handuk biru, terlipat sangat rapi, wangi pelembut pakaian bahkan dari jarak satu meter.

“Pak Danu.”

“Pagi, Dok.”

“Handuk Anda.” Ia menyodorkannya. “Sudah saya cuci.”

“Itu kan sudah Dokter bayar. Punya Dokter.”

“Saya tidak butuh handuk.” Ia masih menyodorkannya, tangannya lurus dan kaku. Aku menerimanya. Lalu ia tidak langsung pergi.

Ia berdiri di sana. Menatap bengkelku, menatap Si Hitam yang terparkir di sudut, menatap Ucup yang pura-pura memompa ban yang sudah penuh sampai bunyinya mencicit. Lalu menatap kedai kopi di ujung gang.

“Pak Danu,” katanya lagi, lebih pelan.

“Ya, Dok?”

Ia membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi. Aku belum pernah melihatnya ragu-ragu. Dokter Patricia yang kukenal mengucapkan kalimat seperti menaruh alat-alat di nampan stainless: rapi, berurutan, tanpa suara berlebihan. Tapi pagi itu kalimatnya keluar seperti busi yang basah, tersendat-sendat.

“Senin ini…” Ia berhenti. Menelan ludah. “Senin ini nggak ada kopi?”

Ucup menjatuhkan pompa ban untuk kedua kalinya.

Aku menatapnya. Ia menatap pundakku, bukan mataku. Telinganya, di bawah cepol yang sempurna, sudah mulai berwarna seperti lampu rem.

“Dokter bilang nggak usah,” kataku hati-hati.

“Saya tahu.”

“Jadi saya nggak kirim.”

“Saya tahu.” Ia menarik napas. “Dua minggu ini Tika minum kopi sachet. Ia mengeluh setiap hari. Moral karyawan turun.”

“Oh. Jadi buat Tika.”

“Buat Tika,” ulangnya cepat. Terlalu cepat.

Aku berdiri dari bangku kayu. Aku tidak tersenyum, karena aku tahu kalau aku tersenyum, ia akan berbalik dan tidak pernah menyeberang jalan ini lagi. Aku hanya mengangguk serius, seperti tukang servis yang baru menerima pesanan.

“Kopi susu gula aren, es sedikit,” kataku. “Buat Tika.”

“…Ya.”

“Siap, Dok. Mulai Senin depan.”

Ia mengangguk sekali, lalu berbalik dan menyeberang lagi dengan langkah yang lebih cepat dari waktu datang. Ia hampir tersandung di trotoar. Ia memperbaiki langkahnya tanpa menoleh dan masuk ke klinik, dan pintu kaca tertutup di belakangnya dengan bunyi ting yang terdengar sampai seberang.

Ucup memandangiku dengan mulut terbuka.

“Bang. Bang. Itu tadi—”

“Cup.”

“—itu tadi Dokter Patricia minta dibeliin kopi, Bang—”

“Buat Tika, Cup.”

“Tika kan bawa termos sendiri, Bang! Isinya teh manis! Saya pernah lihat!”

Aku duduk lagi di bangku kayu. Handuk biru wangi pelembut di pangkuanku. Aku menatap klinik di seberang dan merasakan sesuatu yang tidak kurasakan bahkan saat Si Hitam lulus uji emisi pertama kalinya.

Lalu aku berdiri dan berjalan ke kedai kopi di ujung gang. Senin depan terlalu lama.


Kamis jam empat, aku tidak membawa keluhan palsu.

Aku duduk di kursi dental unit, tapi tidak berbaring. Dokter Patricia sudah memakai masker dan sarung tangan, siap memeriksa gigi bungsu atau gigi apa pun yang akan kuklaim sakit minggu ini. Tapi aku mengangkat tangan.

“Dok, hari ini saya nggak mau diperiksa.”

Matanya menyipit di atas masker.

“Saya mau ngomong sesuatu,” kataku. “Boleh?”

Ia menatapku lama. Lalu melepas sarung tangan, menurunkan masker sampai dagu, dan duduk di kursi kecilnya dengan tangan terlipat. Posisi yang sama seperti waktu ia menolakku. Tapi kali ini kakinya tidak menyilang. Kali ini ia mendengarkan.

“Saya suka Dokter,” kataku.

Tidak ada musik. Tidak ada hujan. Hanya bunyi dengung kompresor dari ruang belakang dan Molar yang berenang di akuarium, terlihat lewat celah pintu.

“Saya tahu Dokter sudah bilang nggak tertarik. Saya dengar. Saya hormati.” Aku memandang tanganku sendiri, yang ada bekas oli permanen di sela kuku. “Saya nggak akan maksa. Saya nggak akan nunggu di depan pintu. Saya nggak akan kirim apa-apa yang Dokter nggak mau. Saya cuma… mau Dokter tahu. Biar nggak ada yang ditebak-tebak.”

Ia diam. Aku menunggu, seperti menunggu mesin dingin yang baru di-starter.

“Lalu,” katanya akhirnya, “apa yang Anda minta?”

“Nggak ada, Dok.”

“Tidak ada.”

“Saya nggak minta dijawab.” Aku mengangkat kartu janji temu yang belum ia isi. “Saya cuma minta dijadwalin.”

Dokter Patricia menatap kartu itu. Lalu menatapku. Lalu menatap kartu itu lagi.

Kemudian, tanpa peringatan, ia tertawa.

Bukan tawa besar. Satu ledakan kecil, pendek, yang keluar dari hidungnya sebelum sempat ditahan, seperti bersin yang lolos di tengah rapat. Ia langsung menutup mulut dengan punggung tangan. Matanya membulat, kaget pada suaranya sendiri.

Aku membeku. Sungguh. Kalau saat itu ada yang menyemprotkan air dari alat scaler ke wajahku, aku tidak akan bergerak.

Tawa itu mengubah seluruh wajahnya. Selama satu detik, ia bukan dokter gigi dingin dengan cepol sempurna dan pinjaman bank. Ia perempuan dua puluh tujuh tahun yang menemukan sesuatu lucu dan tidak bisa menahannya. Matanya menyipit jadi bulan sabit. Ada lesung pipit kecil di pipi kirinya yang belum pernah kulihat dan sekarang tidak akan pernah bisa kulupakan.

Lalu ia menurunkan tangan, berdeham, dan wajahnya kembali datar. Tapi telinganya merah sampai ke leher.

“Itu,” katanya, dengan suara yang berusaha keras terdengar profesional, “permintaan paling tidak masuk akal yang pernah saya dengar.”

“Tapi bisa dikabulkan, Dok?”

Ia mengambil kartu itu dari tanganku. Mengambil pulpen dari saku jas. Pulpennya berhenti di atas kolom tanggal, lama, sampai titik tinta kecil menetes di kertas.

Lalu ia menulis.

Ia menyerahkan kartu itu tanpa menatapku, berdiri, dan berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan yang tidak kotor. Air mengalir lama sekali.

Aku menatap kartu itu.

Bukan enam bulan lagi. Bukan April tahun depan.

Kontrol — Kamis depan. 16.00.

Di bawahnya, dengan tulisan yang sedikit lebih kecil dan sedikit lebih miring dari biasanya:

Jangan telat.

Aku keluar dari ruang praktik dengan kartu itu di tangan, berjalan melewati Tika tanpa berkata apa-apa, dan menyeberang jalan dengan kaki yang rasanya tidak menyentuh aspal.

Ucup menyambutku di depan bengkel. “Bang? Bang kenapa senyum gitu? Bang ditambal?”

Aku menunjukkan kartunya. Ucup membaca, mengernyit, lalu membacanya lagi dengan suara keras, pelan-pelan, seperti anak SD yang belajar mengeja.

“Kamis… depan…” Ia mendongak. “Bang. Ini bukan enam bulan.”

“Bukan, Cup.”

Di seberang jalan, melalui kaca bening, aku melihat Tika berdiri dari meja resepsionis dan mengangkat buku biru tinggi-tinggi ke arahku, seperti wasit yang mengangkat kartu. Di halaman yang terbuka, dengan spidol merah besar, ia sudah menulis:

KLASEMEN DITUTUP. JUARA SUDAH ADA.