Chapter Ten

Tisu dan Oli

POV: Patricia

Aku menelepon Reza hari Sabtu dan mengatakannya dengan kalimat lengkap.

“Aku nggak bisa, Za. Bukan karena kamu. Kamu baik. Mama juga baik, dengan caranya sendiri.” Aku menatap jendela kamarku, ke atap-atap rumah di Cihapit yang masih basah sisa hujan. “Aku cuma… nggak bisa.”

Di ujung telepon, Reza diam sebentar. Lalu ia tertawa, pelan dan tanpa sakit hati, tawa yang sama seperti waktu kami berdua dimarahi Prof. Hartono karena salah memasang model rahang.

“Karena tukang bengkel itu?”

Aku tidak menjawab.

“Ci, aku bukan orang bodoh. Kamu nyeberang jalan pakai jas putih. Kamu nggak pernah keluar ruang praktik pakai jas putih. Kamu bilang itu nggak steril.”

“Itu situasi darurat.”

“Darurat apa?”

“Pasien melewatkan jadwal.”

Reza tertawa lagi, lebih keras. “Oke. Aku bilang ke Mama-ku kita nggak cocok. Mamamu urusanmu sendiri ya. Semoga beruntung.”

Mama, tentu saja, adalah urusan yang tidak bisa diselesaikan dengan satu telepon. Malam itu ia mengirim dua puluh tiga pesan, tiga pesan suara, dan satu foto Reza dengan jas dokter yang diambil dari Instagram rumah sakitnya. Pesan terakhirnya, jam sebelas malam:

Cia, Mama nggak marah. Mama cuma takut kamu sendirian terus. Kamu itu kayak Papa, semua ditanggung sendiri. 😢

Aku membacanya lama di bawah selimut, lalu mematikan ponsel tanpa membalas.

Aku memang seperti Papa. Itu masalahnya.


“Dok, A’ Danu beda sekarang.”

Tika mengatakannya Senin pagi sambil meletakkan kopi susu gula aren di meja kerjaku, tutupnya sudah ia buka, sedotannya sudah ia tusukkan. Tika selalu memperlakukan kopi itu seperti benda suci. Kadang aku curiga ia lebih menantikannya daripada aku.

“Beda bagaimana?”

“Lebih ganteng, Dok.”

“Tika.”

“Serius, Dok.” Ia duduk di kursi pasien tanpa izin, wajahnya bersinar seperti orang yang membawa kabar dari medan perang. “Sejak dokter nyeberang Kamis kemarin, A’ Danu nyanyi tiap pagi. Ucup bilang suaranya jelek, tapi semangat. Kemarin dia ganti oli motor nenek-nenek sambil joget.”

“Itu bukan urusan klinik.”

“Dan, Dok,” lanjut Tika, sama sekali mengabaikanku, “Ucup sama saya sekarang punya grup.”

“Grup apa?”

“Grup koordinasi, Dok. Namanya Seberang Jalan. Anggotanya dua.” Tika menunjukkan ponselnya dengan bangga. Foto profil grupnya adalah foto Molar. “Biar informasinya akurat, Dok. Nggak ada gosip, semua terverifikasi.”

“Tika, kamu menyebarkan informasi tentang saya ke montir bengkel.”

“Bukan menyebarkan, Dok. Koordinasi.” Ia berdiri, merapikan kerudung. “Contohnya, Ucup bilang A’ Danu kemarin malam nulis kartu janji temu sampai tiga kali karena tulisannya jelek. Yang dua dibuang. Ucup ambil dari tempat sampah, difoto, dikirim ke grup.” Ia menyodorkan ponselnya lagi. “Mau lihat, Dok?”

Aku tidak menjawab.

Tika menunggu.

“…Tinggalkan ponselnya di meja,” kataku. “Lima menit.”


Kamis jam empat kurang dua menit, Danu datang dengan noda oli di pipi.

Ia tidak menyadarinya. Aku tahu karena ia masuk ke ruang praktik dengan senyum lebar, miring ke kanan, dan tidak ada orang yang sadar wajahnya cemong yang bisa tersenyum sepercaya diri itu. Noda hitamnya memanjang dari tulang pipi kiri sampai dekat rahang, seperti ia mengusap keringat dengan tangan yang baru keluar dari mesin.

“Sore, Dok. Maaf mepet, tadi ada truk boks yang knalpotnya copot di depan bengkel.”

“Duduk.”

Ia duduk. Kursi dental unit turun dengan bunyi dengung. Aku memakai sarung tangan dan masker, menyalakan lampu, dan mengarahkan cahayanya ke wajahnya.

Noda itu terlihat lebih jelas di bawah lampu.

“Ada oli,” kataku.

“Di mana, Dok? Di gigi?”

“Di pipi.”

“Oh.” Ia mengangkat tangan untuk mengusapnya, dan aku tahu, sebelum tangannya sampai, bahwa ia akan memperparahnya. Telapak tangannya masih ada sisa hitam di garis-garisnya.

Aku menahan pergelangan tangannya.

Itu refleks. Aku tidak memikirkannya. Aku menangkap pergelangan tangannya di udara, menurunkannya ke sandaran kursi, lalu mengambil tisu basah dari meja instrumen. Aku melepas sarung tangan kananku, karena tisu basah lebih mudah dipegang tanpa sarung tangan, dan mulai membersihkan noda itu.

Pelan. Dari tulang pipi. Turun ke dekat rahang.

Kulitnya hangat. Lebih kasar dari kulitku, dengan sedikit bayangan janggut yang belum dicukur pagi tadi. Tisu itu menghitam. Aku mengambil tisu baru dan mengulanginya. Ia diam sepenuhnya. Ia bahkan tidak bernapas, atau kalau bernapas, aku tidak bisa mendengarnya di atas bunyi kompresor.

Noda itu hilang. Pipinya bersih.

Ibu jariku masih ada di rahangnya.

Aku tidak tahu sejak kapan tisu itu sudah tidak ada di antara jariku dan kulitnya. Aku tidak tahu sejak kapan aku berhenti membersihkan dan mulai sekadar… memegang. Ibu jari di garis rahang, telapak tangan hampir menempel di pipinya. Dan ia menatapku dari bawah lampu dental unit yang terang, matanya cokelat gelap dan sangat tenang, seperti mesin yang dimatikan setelah perjalanan jauh.

Satu detik. Dua. Lima.

Aku menarik tanganku begitu cepat sampai sikuku menabrak nampan instrumen. Kaca mulut dan sonde jatuh ke lantai dengan bunyi berdenting. Aku membungkuk memungutnya, terlalu cepat, kepalaku hampir membentur lengan kursi.

“Dok—”

“Diam.”

“Dok, nggak apa-apa—”

“Buka mulut.”

Ia membuka mulut. Aku memasang sarung tangan baru, mengambil kaca mulut steril yang baru, dan memeriksa giginya dengan konsentrasi seorang dokter bedah saraf. Gigi depan. Geraham. Gigi bungsu yang tumbuh normal. Semuanya sehat. Semuanya membosankan. Semuanya tidak membantu sama sekali.

Wajahku panas. Di balik masker, aku tahu wajahku pasti semerah telingaku yang ia lihat setiap minggu.


Ia pergi jam empat dua puluh, setelah bertanya jadwal berikutnya dan aku menjawab Kamis depan dengan suara yang terdengar terlalu tinggi bahkan di telingaku sendiri. Ia tidak menggodaku. Ia tidak berkata apa-apa tentang pipi atau tisu atau ibu jari. Ia hanya tersenyum, menyerahkan kartu lamanya, dan pergi.

Aku duduk di kursi kerjaku dan membalik kartu itu.

SKALA RASA SAKIT (0–10): 0
CATATAN PASIEN: Rasa kangen: 10. Sudah mentok skala. Mohon disediakan kartu yang skalanya sampai 100.

Kartu kesebelas. Aku memasukkannya ke laci bersama yang lain. Lalu aku tidak menutup laci itu. Aku duduk di sana dan menatap tumpukan kartu dengan tinta putus-putus, dan aku mengakuinya, akhirnya, dengan kata-kata yang jelas di kepalaku sendiri, karena aku dokter dan dokter harus menulis diagnosis dengan jelas.

Aku suka padanya.

Bukan gejala. Bukan efek gula aren. Bukan palpitasi. Aku suka laki-laki yang menyetut motorku di tengah hujan tanpa menyentuhnya. Yang memberiku harga normal karena tahu aku tidak bisa menerima yang gratis. Yang menunggu di bangku kayu di seberang jalan, bukan di depan pintuku. Yang cemburu pada mawar dan mengatakannya dengan jujur sambil memegang kacamata las.

Aku suka padanya, dan aku tidak tahu harus melakukan apa dengan perasaan itu.

Karena di tasku ada surat pemberitahuan dari bank tentang cicilan bulan depan. Di ponselku ada dua puluh tiga pesan dari Mama. Di meja resepsionis ada buku jadwal yang masih punya terlalu banyak slot kosong di hari Selasa dan Rabu. Dan aku tidak punya tempat, di mana pun dalam hidupku yang sudah penuh sesak ini, untuk menaruh sesuatu yang serapuh perasaan.

“Dok?”

Tika berdiri di pintu ruang praktik. Wajahnya tidak sedang bergosip. Wajahnya serius, dan di tangannya ada amplop putih panjang.

“Ada surat, Dok. Diantar langsung tadi sore. Dari Pak Hendra.”

Pak Hendra. Pemilik ruko. Laki-laki enam puluhan yang selalu memakai kemeja batik dan menagih uang sewa dengan wajah seperti orang yang sedang menghitung kerugian negara.

Aku membuka amplop itu.

Satu lembar. Kop surat, tanda tangan, materai. Kalimat-kalimat formal tentang penyesuaian harga sewa sehubungan dengan kenaikan nilai properti di kawasan Jalan Cempaka. Dan di paragraf ketiga, sebuah angka.

Kenaikan enam puluh persen. Berlaku mulai bulan depan.

Aku membaca angka itu tiga kali. Lalu aku melipat surat itu dengan rapi, memasukkannya kembali ke amplop, dan menutup laci yang berisi sebelas kartu janji temu.

“Dok?” tanya Tika pelan. “Dokter nggak apa-apa?”

“Saya nggak apa-apa,” jawabku.

Di seberang jalan, rolling door bengkel itu masih terbuka. Lampunya masih menyala. Dan untuk pertama kalinya sejak aku bisa mengenali bunyinya dari dua kilometer jauhnya, aku tidak berani menatap ke sana.