Chapter Eight

Satu Payung

POV: Danu

Pesan WhatsApp itu masuk ke nomor bengkel hari Selasa jam enam pagi, dari nomor yang tidak kusimpan karena aku tidak pernah berani memintanya.

Selamat pagi. Saya Patricia, Klinik Gigi Tanuwijaya. Saya ingin booking servis berkala untuk motor saya hari Jumat. Mohon diinfokan biaya lengkapnya. Saya akan membayar sesuai tarif. Terima kasih.

Aku membacanya di kasur dengan rambut masih berantakan. Lalu membacanya lagi sambil duduk. Lalu membacanya untuk ketiga kalinya sambil berdiri, dan baru sadar aku berdiri di atas kasur seperti anak kecil yang baru dibelikan sepeda.

Lima kalimat. Formal. Rapi. Ada kata booking. Ada kata tarif. Ada terima kasih.

Aku membalasnya dengan rincian harga paling jujur yang pernah kubuat seumur hidup: ganti oli, filter udara, cek rem, setel rantai, cuci. Tanpa diskon. Tanpa bonus. Aku bahkan menulis harga belum termasuk kalau ada kerusakan lain, nanti dikabari dulu supaya ia tidak merasa aku menyembunyikan apa pun.

Balasannya masuk satu menit kemudian.

Baik. Jumat jam 8 pagi saya antar.

Dua menit kemudian, pesan kedua:

Rolling door Anda perlu diberi pelumas.

Aku tertawa sendirian di kamar sampai ibu kos mengetuk dinding.


Jumat pagi, motor matic putih itu ada di bengkelku. Dokter Patricia mengantarnya sendiri, menyerahkan kuncinya dengan ujung jari, lalu menyeberang ke klinik dengan langkah cepat. Ucup menatap motor itu seperti menatap relik suci.

“Bang. Ini motor dokter.”

“Iya, Cup.”

“Saya boleh pegang?”

“Kamu montir, Cup. Itu tugasmu.”

Ucup mengusap jok motor itu pelan, seperti mengusap kepala kucing. “Wangi, Bang.”

“Cup, jangan cium joknya.”

Pekerjaannya selesai sebelum makan siang. Tapi Dokter Patricia tidak bisa mengambilnya, karena kliniknya penuh sampai malam: Jumat adalah hari yang dipilih separuh pelanggan bengkelku untuk kontrol gigi, dan sejak klasemen ditutup, Tika mengubah sistemnya menjadi jadwal antre sesuai urutan bayar, yang entah bagaimana membuat semua orang datang lebih banyak.

Jam tujuh malam, hujan turun.

Bukan gerimis. Hujan Bandung yang datang seperti seseorang membalik ember raksasa dari langit, deras, berisik, membuat Jalan Cempaka berubah menjadi sungai dangkal dalam lima menit. Atap seng bengkel berbunyi seperti drum band.

Aku duduk di bangku kayu depan bengkel, di bawah atap, dengan payung hitam besar di samping kakiku. Bukan di depan pintu klinik. Bukan di bawah kanopinya. Di sini, di seberang, di tempat yang sama dengan setiap hari, dengan jarak satu jalan yang lebar.

Aku sudah janji tidak akan menunggu di depan pintunya malam-malam. Janji itu tetap berlaku meski hujannya deras.

“Bang,” kata Ucup, muncul dari dalam bengkel dengan payung kedua di tangannya. Payung lipat warna merah muda, entah punya siapa. “Bang, bawa ini juga. Biar dokter nggak harus sepayung sama Bang.”

Aku menatap payung itu. Lalu menatap Ucup.

Ucup menatap payung itu. Lalu menatapku. Pelan-pelan, otaknya yang bekerja seperti karburator belum disetel itu akhirnya menyelesaikan proses berpikirnya.

“Oh,” katanya. “Oh.”

Ia menyembunyikan payung merah muda itu di balik punggungnya dan mundur ke dalam bengkel seperti petugas yang salah masuk ruangan.


Jam delapan lewat dua puluh, lampu ruang tunggu klinik padam. Tika keluar lebih dulu, dijemput ojek daring, melambaikan tangan ke arahku dengan semangat yang tidak perlu. Lalu pintu kaca terbuka lagi, dan Dokter Patricia berdiri di bawah kanopi kecil kliniknya, menatap hujan.

Ia tidak membawa payung. Jas hujannya, kuingat, ada di jok motor yang sekarang di bengkelku.

Ia menatap ke seberang. Ke bengkel. Ke aku.

Aku berdiri, membuka payung hitam, dan menyeberang.

Air menggenang sampai mata kaki, membasahi sepatuku, tapi aku tidak peduli. Aku berhenti di depan kanopinya, satu langkah di bawah, dan mengangkat payung lebih tinggi.

“Motornya sudah beres, Dok. Saya antar ke seberang.”

Ia menatap payung itu. Payung hitam besar, cukup untuk satu orang dewasa dan setengah.

“Hanya satu?”

“Cuma ada satu, Dok,” kataku, dan di belakangku, aku yakin Ucup sedang memeluk payung merah muda itu di balik etalase oli.

Ia ragu sebentar. Lalu ia melangkah keluar dari kanopi, ke bawah payungku.

Jarak kami tiba-tiba hanya sejengkal.

Aku bisa mencium wangi antiseptik yang selalu menempel padanya, dan di bawahnya, wangi bedak bayi itu lagi. Bahunya menyentuh lenganku. Rambutnya, dicepol rapi seperti biasa, ada di bawah daguku, dan aku bisa melihat satu helai yang akhirnya berhasil kabur, melengkung di tengkuknya.

Kami menyeberang pelan-pelan. Hujan memukuli payung seperti seribu jari kecil. Di tengah jalan, angin bertiup dari samping, payungnya miring, dan ia refleks mengangkat tangan untuk menahan gagangnya.

Tangannya menutupi tanganku di gagang payung.

Dingin. Kecil. Kulit yang dicuci terlalu sering dengan sabun antiseptik, sedikit kasar di buku jari.

Ia tidak menariknya.

Aku juga tidak bergerak. Kami berdiri di tengah Jalan Cempaka, di tengah hujan, satu tangan di atas tangan lain di gagang payung hitam, selama mungkin dua detik. Lalu angin reda, dan ia melepaskan tangannya pelan-pelan, seperti melepas sarung tangan setelah prosedur yang panjang.

Bahu kiriku basah kuyup. Bahu kanannya juga. Kami sampai di bengkel tanpa berkata apa-apa.


Hujan tidak berhenti. Kami duduk di bangku kayu panjang, di bawah atap seng yang berisik, menunggu. Ada jarak satu jengkal di antara kami di bangku itu, dan aku menjaganya dengan hati-hati, seperti menjaga celah busi.

Ucup sudah pulang, setelah membuatkan dua gelas teh manis panas dan menaruhnya di antara kami tanpa berkata apa-apa, dengan wajah serius seperti pelayan restoran mahal. Ia berjalan pulang memakai payung merah muda.

Dokter Patricia memegang gelas teh itu dengan dua tangan, menghangatkan jarinya.

“Ayah saya,” katanya tiba-tiba, menatap hujan, “selalu bilang hujan Bandung itu cuma lewat. Kalau ditunggu sabar, pasti berhenti.”

Aku tidak menjawab. Aku tahu, dengan cara yang sama aku tahu kapan mesin perlu didengarkan dan bukan disetel, bahwa ini bukan saatnya bercanda.

“Ia meninggal waktu saya koas,” lanjutnya. Suaranya datar, seperti membaca rekam medis. “Serangan jantung. Saya sedang jaga malam. Ponsel saya di loker. Mama menelepon tujuh belas kali.” Ia menyesap tehnya. “Seminggu sebelumnya, ia mengantar martabak ke rumah sakit jam sebelas malam. Ia tidak menunggu saya keluar karena tidak mau mengganggu. Saya belum sempat bilang terima kasih untuk martabak itu.”

Hujan berbunyi di atap seng. Aku menatap tanganku sendiri, yang ada bekas oli di sela kuku.

“Rangka Si Hitam,” kataku pelan, “itu dari motor Bapak. Motor bebek tua. Bapak meninggal waktu saya semester tiga. Saya nggak punya uang buat beli rangka baru untuk skripsi, jadi saya bongkar motornya.” Aku tertawa kecil, tanpa suara. “Tiap kali saya naik Si Hitam, rasanya kayak dibonceng Bapak lagi. Terbalik, sih. Sekarang saya yang di depan.”

Ia menoleh padaku. Untuk waktu yang lama, ia hanya menatap, dan hujan di belakangnya terlihat seperti tirai.

“Itu sebabnya Anda menjahit joknya dua kali,” katanya.

“Iya, Dok. Bapak nggak suka yang miring.”

Ia kembali menatap hujan. Tapi jarak satu jengkal di bangku kayu itu, entah sejak kapan, menyusut menjadi setengah jengkal.


Hujan reda jam sembilan lewat sepuluh. Ia naik ke motornya yang sudah bersih, memakai jas hujan yang sudah kuangin-anginkan di dalam bengkel, dan menyalakan mesin.

“Terima kasih,” katanya. Bukan terima kasih untuk perbaikannya. Bukan terima kasih atas ucapannya. Hanya terima kasih. Kalimat paling pendek yang pernah ia ucapkan padaku, dan entah kenapa paling berat.

“Hati-hati, Dok.”

Ia mengangguk. Lalu, sebelum menurunkan kaca helm, ia merogoh saku jas hujannya dan menyerahkan sesuatu padaku.

Kartu janji temu.

Sisi depannya sudah terisi: Kontrol — Kamis depan. 16.00. Sisi belakangnya, di kolom yang selama ini hanya kuisi sendiri, ada tulisan tangannya yang rapi, sedikit miring:

CATATAN DOKTER: Pasien jangan kehujanan.

Motor matic putih itu melaju pelan di jalan yang basah, lampu belakangnya memantul di genangan. Aku berdiri di depan bengkel memegang kartu itu sampai Ucup mengirim pesan: Bang, payung pinky-nya punya siapa ya? Saya pakai pulang, warga pada ngeliatin.

Aku tidak membalas. Aku duduk lagi di bangku kayu, di tempat yang masih hangat, dan membaca empat kata itu sampai lampu jalan berkedip.