Chapter Sixteen
Aku Booking Kamu
POV: Patricia
Aku pergi ke rumah Pak Hendra hari Minggu pagi, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku meminta tolong.
Rumahnya di Jalan Pajajaran, besar, dengan pagar besi tinggi dan dua anjing kampung yang menggonggong seperti alarm mobil. Pak Hendra membukakan pintu dengan sarung dan kaus oblong, tanpa kemeja batik, dan aku hampir tidak mengenalinya.
“Bu Dokter?” Ia mengernyit. “Sewanya kan udah lunas.”
“Saya bukan mau bayar, Pak.”
“Terus?”
Aku berdiri di teras rumahnya, tanganku terkepal di sisi tubuh. Aku sudah berlatih kalimat ini sejak semalam, di depan cermin kamar, dan tetap saja rasanya seperti mencabut gigi bungsu yang impaksi tanpa anestesi.
“Saya mau minta tolong.”
Pak Hendra menatapku lama. Di belakangnya, di ruang tamu, Sasa muncul dari balik tirai dengan rambut acak-acakan dan wajah orang yang baru bangun, lalu melihatku dan langsung terjaga sepenuhnya.
“Mbak Dokter!” serunya. “Pa’de, ini Mbak Dokter yang kemarin narik kerah Mas Danu!”
“Saya tahu, Sa. Kamu udah cerita dua belas kali.”
Ternyata aku tidak perlu meminta banyak.
Pak Hendra mendengarkan permintaanku sambil minum kopi tubruk di teras. Aku tidak memintanya mengembalikan uang Danu. Aku tidak menawarkan diri membayar sisa cicilannya. Mama benar: kalau aku membayar, aku hanya mengubah hadiah menjadi utang lagi. Aku hanya meminta satu hal.
“Tolong suruh dia pulang ke Cempaka, Pak.”
Pak Hendra meletakkan cangkirnya.
“Bu Dokter,” katanya, “saya sudah suruh. Kemarin malam. Waktu Sasa pulang dan cerita soal kerah itu.” Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan layar padaku. Sebuah pesan WhatsApp, dikirim jam sepuluh malam, ke kontak bernama Danu (ponakan bandel).
Ruko kosong itu rugi. Om nggak mau rugi. Senin buka lagi atau Om jual ke orang. Cicilan motor nggak usah dilanjut, anggap Om yang beli bensin buat Si Hitam selama ini. Jangan bantah orang tua.
Di bawahnya, balasan Danu, satu jam kemudian:
Om, saya nggak bisa.
Lalu, dari Pak Hendra:
Bisa. Om udah tua, Om nggak mau lihat kamu kayak bapakmu dulu. Kerja terus, nggak pernah pulang.
Dan balasan terakhir Danu, jam dua dini hari:
Iya, Om.
Aku menatap pesan itu sampai layar ponsel Pak Hendra meredup.
“Saya orang pelit, Bu Dokter,” kata Pak Hendra, mengambil kembali ponselnya. “Tapi saya juga nggak bodoh. Anak itu bayar lebih dari cukup.” Ia menyesap kopinya lagi, lalu menatapku dari atas cangkir. “Sekarang giliran Ibu yang nggak bodoh.”
Senin pagi, aku sudah di klinik jam enam lewat tiga puluh.
Tika datang jam enam empat puluh, padahal shift-nya baru mulai jam delapan. Ucup datang jam enam empat puluh tiga, bukan untuk mengecek motorku, tapi untuk duduk di ruang tunggu klinik bersama Tika, keduanya menatap kaca depan seperti penonton yang sudah membeli tiket kelas VIP. Pak RT lewat jam enam lima puluh dengan sapu lidi, berhenti di trotoar, dan entah kenapa tidak menyapu apa-apa. Pak Hamid muncul jam enam lima puluh dua dengan alasan kontrol tambalan, padahal klinik buka jam sembilan.
“Kenapa semua orang di sini?” tanyaku.
“Grup WhatsApp warga, Dok,” jawab Tika tanpa menoleh dari kaca.
“Siapa yang kirim ke grup warga?”
Tika dan Ucup saling pandang. Lalu sama-sama menatap Pak RT, yang di luar sedang memegang sapu lidi dengan wajah tak berdosa.
Jam enam lima puluh empat, sebuah motor bebek bengkel berhenti di depan rolling door hijau. Danu turun. Ia berdiri sebentar di depan pintu besi dengan cat yang mengelupas, menatapnya seperti menatap rumah lama. Ia tidak menoleh ke klinik.
Jam enam lima puluh lima, ia memegang tali rolling door dan menariknya.
Kreeeek-krak-krak-KRANG.
Aku tidak sadar aku menahan napas sampai bunyi itu berhenti. Tiga minggu. Tiga minggu kepalaku sunyi setiap pagi jam enam lima puluh lima, dan sekarang bunyi itu kembali, keras, jelek, percaya diri, mengumumkan ke seluruh Jalan Cempaka bahwa seseorang sudah pulang.
Tika menangis. Ucup menangis. Pak Hamid mengelap kacamatanya.
Aku mengambil gelas kopi hitam yang sudah kubeli jam enam tepat di kedai ujung gang, dan aku menyeberang.
Ia mendengar langkahku sebelum aku sampai. Ia berbalik dari dalam bengkel, dan wajahnya, yang masih lebih tirus dari dulu, berubah sedikit ketika melihatku. Hanya sedikit. Seperti mesin yang baru dinyalakan setelah lama mati, masih ragu apakah akan jalan.
“Pagi, Dok.”
“Pagi.” Aku menyodorkan kopi itu. “Hitam. Tanpa gula. Panas.”
Ia menatap gelas itu, lalu menatapku. Ia tidak mengambilnya. “Dok, saya buka lagi karena Om—”
“Aku tahu. Aku yang ke rumah Om kemarin.”
Ia terdiam.
Aku masih memegang kopi itu di antara kami. Tanganku gemetar. Aku sudah menyusun kalimat semalaman. Kalimat lengkap, rapi, berurutan, seperti alat di nampan stainless. Tapi sekarang, berdiri di depannya di bawah rolling door yang baru setengah terbuka, semua kalimat itu jatuh berantakan ke lantai.
“Aku minta maaf,” kataku. “Soal malam itu. Soal martabak. Soal searah. Itu kalimat paling jahat yang pernah aku ucapkan dan aku ucapkan ke orang yang paling nggak pantas mendengarnya. Aku—” Napasku tersendat. “Aku bukan ke sini buat bayar utang. Aku nggak punya utang. Kamu bilang di kartu, nggak ada utang. Aku percaya.”
Danu tetap diam. Matanya menatapku dengan hati-hati, seperti orang yang menatap kaca retak.
“Aku ke sini buat minta,” kataku. “Aku nggak pernah minta apa-apa ke siapa pun. Ini pertama kali. Jadi jangan ditolak, aku belum jago.”
Lalu aku mengatakannya. Dua kata yang ia tanyakan setiap Kamis selama dua bulan. Dua kata yang tidak ia ucapkan malam itu, waktu ia berdiri di pintu ruang praktik dan aku menunggunya seperti orang bodoh.
“Jadwal berikutnya?”
Ia menatapku untuk waktu yang lama. Jakunnya bergerak. Lalu ia menunduk, tersenyum tipis, dan berkata pelan, “Dok, saya… saya buka bengkel dulu ya.”
Ia berbalik untuk masuk.
Dan aku, dokter gigi dengan cepol sempurna yang tidak pernah meminta tolong dan tidak pernah berteriak dan tidak pernah memeluk siapa pun di depan umum, melangkah maju dan memeluknya dari belakang.
Lenganku melingkar di pinggangnya. Kopi hitam itu masih di tanganku, tumpah sedikit ke kausnya. Wajahku menempel di punggungnya, di kaus abu-abu yang bau oli dan sabun cuci dan matahari. Aku bisa merasakan jantungnya berdetak di bawah pipiku, cepat, kacau, sama sekali tidak tenang seperti wajahnya.
Ia membeku.
“Jangan masuk dulu,” kataku ke punggungnya. Suaraku tenggelam di kain kausnya. “Kamu belum jawab.”
“Dok.” Suaranya serak. “Kalau Dokter peluk saya begini, saya nggak bisa pura-pura sopan lagi.”
“Jangan pura-pura.”
Ia berbalik di dalam pelukanku. Pelan. Aku masih memegang pinggangnya, dan sekarang ia menghadapku, dan wajahnya begitu dekat, dan matanya yang cokelat gelap tidak lagi tenang. Matanya basah.
Aku berjinjit.
Aku yang mencium duluan. Di bawah rolling door hijau yang setengah terbuka, di depan bengkel yang bau oli, dengan kopi hitam tumpah di antara kami. Ciuman pertama yang sama sekali tidak rapi, sedikit miring karena aku berjinjit terlalu tinggi, dan rasa kopi pahit di bibirnya. Satu detik. Dua. Lalu tangannya, tangan besar yang kasar dengan bekas oli di sela kuku, naik perlahan ke pipiku, dan ia membalas, dan dunia di sekitar Jalan Cempaka berhenti berbunyi.
Di seberang jalan, seseorang bertepuk tangan. Kurasa Pak RT. Lalu yang lain ikut. Tika berteriak sesuatu yang terdengar seperti KLASEMEN DIBUKA LAGI!!, dan Ucup berteriak BANG!! BANG!! tanpa kalimat lanjutan.
Aku menarik diri sedikit. Napasku tersengal. Wajahku pasti semerah lampu rem.
“Aku booking kamu,” kataku. “Sabtu. Jam tujuh. Nggak ada pembatalan.”
Danu menatapku. Senyumnya muncul pelan-pelan, miring ke kanan, dan kali ini sampai ke matanya.
“Iya, Patricia.”
Ia menyebut namaku. Pertama kali. Bukan Dok. Bukan Bu Dokter.
Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan itu, jadi aku menyodorkan kopi yang tinggal setengah, berbalik, dan menyeberang jalan dengan langkah yang terlalu cepat. Di tengah jalan, aku hampir tersandung. Aku memperbaiki langkahku tanpa menoleh.
Di belakangku, rolling door hijau ditarik ke atas sampai habis. KRANG.
- 1 Rolling Door Hijau
- 2 Scaling Pertama
- 3 Rasa Kangen: 8
- 4 Daftar Penolakan
- 5 Si Hitam
- 6 Saya Cuma Minta Dijadwalin
- 7 Ritual
- 8 Satu Payung
- 9 Dokter Ortodonti
- 10 Tisu dan Oli
- 11 Tekanan
- 12 Jangan Ganggu Aku Lagi
- 13 Laci
- 14 Kopi Senin, Arah Sebaliknya
- 15 Sepupu dari Surabaya
- 16 Aku Booking Kamu reading
- 17 Satu-satunya yang Bisa Kukasih
- 18 Seumur Hidup, Boleh?