Chapter Eleven

Tekanan

POV: Patricia

Aku menelepon Pak Hendra hari Jumat pagi, sebelum pasien pertama datang.

“Pak, saya mohon dipertimbangkan lagi. Klinik saya baru jalan tiga bulan. Enam puluh persen itu—”

“Bu Dokter,” potongnya. Suaranya serak, tenang, tidak terburu-buru, seperti orang yang sudah menyampaikan kalimat yang sama kepada puluhan penyewa sebelum aku. “Harga tanah di Cempaka naik. Ruko sebelah sudah ada yang nawar dua kali lipat. Saya kasih Ibu enam puluh persen itu sudah karena saya kasihan.”

“Saya bisa bayar setengahnya dulu—”

“Kontraknya sampai akhir bulan, Bu. Kalau tidak cocok, silakan cari tempat lain. Saya tidak memaksa.”

Telepon ditutup.

Aku duduk di kursi kerja dan menghitung di selembar kertas resep. Sewa baru. Cicilan bank. Gaji Tika. Bahan habis pakai. Listrik untuk kompresor yang tidak pernah berhenti berdengung. Aku menghitungnya tiga kali, dengan tiga cara berbeda, dan hasilnya tetap sama: klinik ini bisa bertahan empat bulan dengan harga sewa baru. Mungkin lima, kalau aku berhenti makan siang.

Aku melipat kertas resep itu dan memasukkannya ke saku jas. Di luar, kopi susu gula aren di meja resepsionis berembun. Aku tidak meminumnya hari itu.


Masalah kedua datang Selasa, dalam bentuk seorang ibu dan anak laki-lakinya yang berumur sembilan tahun.

Gigi geraham susu anak itu goyang, berlubang besar, dan sudah menyebabkan abses kecil di gusinya. Aku menjelaskan pada ibunya dengan perlahan, dengan gambar, dengan model gigi, bahwa gigi itu harus dicabut supaya infeksinya tidak menyebar ke benih gigi tetap di bawahnya. Ibu itu mengangguk. Menandatangani formulir persetujuan tindakan. Anaknya menangis sedikit, lalu berhenti setelah kuberi stiker dinosaurus.

Ruang tunggu siang itu berisi tiga orang: seorang mahasiswi, bapak-bapak pensiunan, dan Ucup.

Aku tidak tahu kenapa Ucup ada di sana. Tika bilang ia booking scaling atas nama sendiri, dibayar lunas di muka oleh seseorang dari bengkel. Ucup duduk di kursi paling ujung, memegang ponselnya miring, dan menatap ruang praktik dengan wajah tegang seperti penonton film horor. Aku menduga ia sedang main game. Aku terlalu sibuk untuk peduli.

Pencabutannya berjalan lancar. Lima belas menit. Gigi susu itu keluar utuh, akarnya sudah hampir habis teresorpsi. Aku menunjukkannya pada anak itu dalam kantong plastik kecil, dan ia memandanginya dengan bangga seperti piala.

Masalahnya mulai waktu mereka di meja resepsionis.

Ibunya melihat lubang di gusi anaknya, lalu tiba-tiba berteriak. Ia bilang aku mencabut gigi yang salah. Ia bilang ia hanya setuju untuk ditambal. Ia bilang formulir yang ia tanda tangani tidak dijelaskan. Suaranya makin keras, makin tinggi, dan dalam dua menit, ia sudah mengeluarkan ponsel dan merekamku dari jarak dekat.

“Lihat! Lihat, ini dokternya! Cabut gigi anak orang sembarangan!”

Aku mencoba menjelaskan. Aku menunjukkan formulirnya. Aku menunjukkan rontgen. Tapi ia tidak mendengar, dan semakin tenang aku berbicara, semakin keras ia berteriak, seakan ketenanganku adalah bukti kesalahanku.

Ia pergi tanpa membayar. Pintu kaca berbunyi ting begitu keras sampai Molar bersembunyi di balik batu akuarium.

Malamnya, video itu ada di TikTok. Durasi empat puluh detik. Dipotong di bagian yang membuatku terlihat dingin dan tidak peduli, dengan wajahku jelas dan papan nama klinik di latar belakang. Judulnya ditulis huruf besar dengan emoji marah: DOKTER GIGI CABUT GIGI ANAK TANPA IZIN!! HATI-HATI KLINIK INI!!

Rabu pagi, video itu sudah ditonton tiga ratus ribu kali.

Rabu siang, ulasan Google klinikku turun dari empat koma delapan menjadi dua koma satu, dipenuhi bintang satu dari akun-akun yang belum pernah datang ke sini.

Rabu sore, tujuh pasien membatalkan janji.


Mama menelepon Rabu malam. Bukan pesan, bukan pesan suara. Telepon.

“Cia. Mama lihat videonya.”

“Itu tidak benar, Ma.”

“Mama tahu, Sayang. Mama tahu.” Suaranya bergetar. Mama tidak pernah menangis di telepon, dan sekarang ia hampir menangis. “Tapi Cia, orang-orang di grup arisan semua kirim ke Mama. Tante Hadinata juga. Mama malu, Cia. Bukan karena kamu. Mama malu karena Mama nggak bisa bantu apa-apa.”

Aku diam.

“Cia, pinjaman bank itu,” lanjut Mama pelan. “Jaminannya sertifikat rumah. Kalau klinik tutup…”

“Klinik tidak akan tutup, Ma.”

“Kalau kamu sama Reza, setidaknya ada yang—”

“Ma.”

“Mama cuma takut, Cia. Papa dulu juga begitu. Semua ditanggung sendiri, nggak pernah cerita, sampai jantungnya…”

Aku menutup mata. “Ma, aku capek. Aku telepon besok, ya.”

Aku tidak menelepon besoknya. Aku juga tidak tidur malam itu. Aku berbaring di kasur dan menatap langit-langit kamar, dan di kepalaku angka-angka berputar seperti mesin cuci: enam puluh persen, empat bulan, tiga ratus ribu penonton, tujuh pembatalan, sertifikat rumah, tujuh belas panggilan tak terjawab jam lima subuh empat tahun lalu.

Jam empat pagi, aku bangun dan berangkat ke klinik. Aku membersihkan dental unit yang sudah bersih. Aku menyusun ulang lemari bahan. Aku menghapus dua ratus komentar di Instagram klinik satu per satu, lalu berhenti di komentar ke dua ratus satu karena tanganku gemetar.

Jam delapan, Tika datang dan menemukanku di kursi resepsionis dengan mata merah. Ia tidak bertanya. Ia hanya mengambil ponselnya, duduk di sebelahku, dan mulai mengetik dengan kecepatan yang belum pernah kulihat.

“Kamu sedang apa?”

“Membela, Dok.”

Aku melirik layarnya. Ia membalas komentar-komentar di video itu dengan akun yang foto profilnya Molar. Nama akunnya @saksi_molar_cempaka. Isinya huruf kapital semua: SAYA KERJA DI SINI SETIAP HARI DAN DOKTER INI JELASIN SEMUA PAKAI GAMBAR PAKAI MODEL GIGI PAKAI SABAR. ANDA SENDIRI KAPAN TERAKHIR SIKAT GIGI???

“Tika, jangan.”

“Satu lagi, Dok.”

“Tika.”

Ia mengetik satu lagi, menekan kirim dengan jempol penuh dendam, lalu menyimpan ponselnya. “Sudah, Dok. Saya berhenti.” Lalu, pelan: “Dokter harus makan. Saya beliin bubur ya.”

Aku tidak menjawab. Ia tetap membelikannya. Aku makan tiga sendok, dan itu pertama kalinya dalam dua hari ada sesuatu yang hangat di perutku.


Danu masih datang.

Ia masih membawa kopi setiap Senin. Ia masih datang setiap Kamis jam empat kurang tujuh menit, dengan kartu janji temu yang sisi belakangnya penuh tinta putus-putus. Ia masih bercanda tentang Ucup dan Pak RT dan truk boks yang knalpotnya copot.

Tapi aku tidak bisa tertawa. Aku memeriksa giginya, menulis Kamis berikutnya di kartu, dan menjawab setiap pertanyaannya dengan kalimat yang sama.

“Dokter kurang tidur?”

“Saya nggak apa-apa.”

“Dokter udah makan?”

“Saya nggak apa-apa.”

“Video itu—”

“Saya nggak apa-apa, Danu.”

Ia menatapku lama setelah kalimat terakhir itu. Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya menyerahkan kartunya dan pergi, dan aku tidak membaca sisi belakangnya. Aku memasukkannya ke laci tanpa melihat.

Hari Kamis itu juga, waktu aku berdiri di depan kaca klinik menunggu pasien yang ternyata membatalkan, aku melihat Danu datang ke bengkelnya.

Jalan kaki. Dari arah halte angkot.

Aku mengernyit. Biasanya ia datang dengan motor bebek bengkel, atau kalau ada urusan penting, dengan motor hitam aneh itu. Si Hitam. Aku menatap sudut bengkel, tempat motor itu selalu terparkir di bawah terpal biru, menghadap jalan seperti kucing besar yang tidur.

Sudut itu kosong.

Mungkin dipinjam teman. Mungkin sedang diservis di tempat lain. Mungkin dijual — tapi tidak, tidak mungkin. Itu skripsinya. Itu rangka motor ayahnya. Ia menjahit joknya dua kali. Orang tidak menjual hal seperti itu.

Aku tidak bertanya. Aku tidak punya ruang di kepalaku untuk satu pertanyaan lagi.


Jumat sore, Pak Hendra datang ke klinik tanpa memberi tahu.

Ia memakai kemeja batik cokelat dan duduk di kursi biru ruang tunggu seperti pemilik tempat itu, yang memang benar. Tika menatapnya dengan curiga. Molar menatapnya dari balik batu.

“Bu Dokter,” katanya, tanpa basa-basi. “Soal surat kemarin. Batal.”

Aku menatapnya. “Batal?”

“Sewanya tetap. Harga lama. Kontrak saya perpanjang dua tahun.” Ia mengeluarkan surat baru dari tas kulitnya, sudah ditandatangani, sudah bermaterai. “Tanda tangan di sini.”

“Kenapa, Pak?”

Ia tidak langsung menjawab. Ia menatap jendela, ke seberang jalan, sebentar sekali, lalu kembali menatapku dengan wajah orang yang sedang menghitung kerugian negara.

“Anggap saja saya lagi baik,” katanya. “Jarang-jarang, Bu. Manfaatkan.”

Aku menandatangani surat itu. Tanganku masih gemetar. Pak Hendra pergi tanpa minum teh yang Tika suguhkan.

Seharusnya aku lega. Satu masalah dari tiga sudah hilang, begitu saja, seperti hujan Bandung yang kata Papa selalu lewat kalau ditunggu sabar.

Tapi aku duduk di kursi kerja dengan surat kontrak baru di tangan, dan rasa leganya tidak datang. Yang datang adalah perasaan aneh di belakang leher. Perasaan yang sama seperti waktu menemukan tambalan yang terlalu rapi di gigi pasien baru: seseorang sudah mengerjakan ini sebelum aku. Seseorang sudah menutup lubangnya. Dan aku tidak tahu siapa.

Aku tidak suka tidak tahu. Aku lebih tidak suka berutang pada orang yang tidak kukenal.

Di seberang jalan, bengkel itu masih buka. Di sudutnya, di bawah terpal biru yang sekarang terlipat rapi, tidak ada apa-apa.