Chapter Seventeen
Satu-satunya yang Bisa Kukasih
POV: Danu
Sabtu jam tujuh kurang tujuh menit, sebuah Honda Jazz merah tua berhenti di depan bengkel dan membunyikan klakson dua kali.
Aku sudah menunggu di bangku kayu sejak jam enam. Kemeja wisuda lagi. Ucup bilang aku kelihatan seperti sales asuransi yang akhirnya diterima, dan ia menganggap itu pujian.
Kaca jendela mobil turun. Patricia duduk di kursi pengemudi.
Rambutnya tidak dicepol.
Aku berhenti di tengah trotoar. Rambut hitamnya tergerai lurus sampai punggung, diselipkan ke belakang satu telinga, dan ia memakai blus putih sederhana dengan lengan pendek. Tanpa jas dokter. Tanpa masker. Tanpa apa pun yang membuatnya terlihat seperti seseorang yang akan memberitahuku bahwa gigiku sehat dan tidak perlu kembali.
“Kenapa berdiri di situ?” tanyanya.
“Lagi lupa napas.”
Telinganya memerah. Bahkan dalam lampu jalan yang kuning, aku bisa melihatnya.
“Masuk,” katanya. “Ini mobil Mama. Kalau lecet, kamu yang ganti.”
Aku masuk. Di dasbornya ada vas kecil berisi setangkai mawar plastik merah, agak pudar, tanpa debu sama sekali.
Aku menatapnya. Ia menatap jalan.
“Pak RT yang kasih,” katanya datar. “Katanya almarhumah istrinya pasti setuju.”
Ia membawaku ke Jalan Burangrang.
Aku mengenali kedai itu begitu ia memarkir mobil: tenda biru, gerobak besar dengan wajan hitam lebar, papan nama dengan tulisan merah yang sama seperti di kotak kardus malam itu. Perutku mengencang. Aku menoleh padanya, dan ia sedang menatap kedai itu dengan rahang yang sedikit terkatup, seperti orang yang akan masuk ke ruang ujian.
“Pat,” kataku hati-hati. “Kita nggak harus ke sini.”
“Harus.” Ia melepas sabuk pengaman. “Aku belum makan martabak dari empat tahun lalu.”
Kami duduk di bangku plastik di bawah tenda. Ia memesan sendiri, dengan suara yang tenang dan jelas. Martabak manis, keju cokelat. Setengah porsi. Lalu, setelah ragu sebentar: Dua garpu.
Martabaknya datang di atas kertas minyak, mengepul, dengan keju parut yang meleleh di atas cokelat meses. Ia menatapnya lama. Aku tidak berkata apa-apa. Aku sudah belajar kapan sebuah mesin perlu didengarkan, bukan disetel.
Lalu ia mengambil garpu, memotong satu bagian kecil, dan memakannya.
Ia mengunyah pelan. Matanya berkaca-kaca. Ia menelan, menarik napas, dan berkata dengan suara yang hampir tidak terdengar di antara bunyi wajan dan kendaraan:
“Terima kasih, Pa.”
Lalu ia mengambil potongan kedua dan menyodorkannya ke mulutku.
Kami makan sampai habis. Ia bercerita tentang Mama, yang sekarang setiap hari mengirim rantang ke klinik dan menanyakan Danu sudah makan belum lebih sering daripada menanyakan dirinya sendiri. Aku bercerita tentang Kang Kurnia, yang menangis waktu aku pamit dari Cimahi dan memberiku kenang-kenangan berupa satu set kunci sok bekas.
Lalu, waktu kertas minyak itu sudah kosong, aku mengatakan hal yang kusimpan sejak malam itu.
“Pat. Soal kenapa aku pergi.”
Ia meletakkan garpunya.
“Bukan cuma karena kamu yang minta.” Aku menatap tanganku sendiri, bekas oli di sela kuku yang tidak pernah hilang. “Malam itu kamu bilang kamu nggak punya tempat. Dan aku mikir… aku udah kasih semua yang aku bisa. Kopi. Kartu. Servis motor. Si Hitam. Dan semuanya cuma bikin kamu tambah berat.” Aku tertawa kecil, tanpa suara. “Jadi aku pikir, satu-satunya yang masih bisa aku kasih ke kamu cuma… nggak ada. Hilang aja. Biar kamu ringan.”
Ia tidak menjawab. Matanya menatapku, dan aku tidak bisa membaca apa yang ada di sana.
“Terus ada satu lagi,” kataku, karena kalau tidak sekarang, aku tidak akan pernah mengatakannya. “Dokter Reza. Unpad lantai empat. Sertifikat cum laude di dinding ruang praktik kamu.” Aku memaksakan senyum. “Aku cuma lulusan kampus yang orang nggak tahu namanya, Pat. Lift-nya rusak dari angkatan pertama. Kadang aku mikir, kamu pantes dapet orang yang—”
“Danu.”
Aku berhenti.
Ia mencondongkan badan di atas meja plastik, rambutnya jatuh ke depan bahu, dan menatapku dengan tatapan yang sama seperti waktu ia menemukan karang gigi yang tersembunyi: tajam, teliti, tidak memberi ruang untuk berkelit.
“Aku jatuh cinta sama orang,” katanya pelan, “bukan sama ijazah.”
Aku tidak bisa bernapas lagi. Untuk ketiga kalinya dalam hidupku, gara-gara perempuan yang sama.
“Dan soal hilang biar aku ringan.” Ia menggeleng. “Waktu kamu hilang, aku nggak jadi ringan. Aku jadi kosong. Itu beda.” Ia mengambil tanganku di atas meja, tangan yang ada bekas olinya, dan menggenggamnya. “Aku belajar sesuatu dari Mama minggu lalu. Menerima itu bukan utang. Menerima itu butuh keberanian. Aku lagi belajar.” Matanya menatapku lurus. “Kamu juga harus belajar.”
“Belajar apa?”
“Nerima. Kamu nggak bisa nerima apa-apa, Danu. Kamu kasih harga normal ke aku supaya aku nggak merasa utang. Tapi kamu sendiri? Kamu jual motor bapakmu, terus kerja sampai tidur di bengkel, terus nggak pernah bilang ke siapa pun. Kamu sama kayak aku. Cuma arahnya kebalik.”
Aku menatapnya. Ia benar. Aku tidak pernah memikirkannya dengan cara itu.
“Jadi mulai sekarang,” katanya, “kalau aku kasih sesuatu, kamu terima. Nggak usah bilang nggak usah, Pat. Nggak usah bayar balik. Terima aja.”
“Kayak gimana?”
Ia melepaskan tanganku, menegakkan punggung, dan berkata dengan nada dokter yang menyampaikan resep:
“Kayak aku. Aku kasih diriku ke kamu. Mulai malam ini. Terima.”
Aku menatapnya. Ia menatapku. Penjual martabak menjatuhkan spatula.
“Itu…” Suaraku serak. “Itu artinya kita…”
“Pacaran,” katanya tegas. “Resmi. Aku nggak mau ada yang ditebak-tebak.”
Di belakangku, dari balik pot bunga kamboja besar di sudut kedai, terdengar bunyi seperti seseorang menahan jeritan dengan dua tangan. Aku menoleh. Dua kepala langsung menunduk di balik daun-daun kamboja, tapi tidak cukup cepat. Satu berkerudung pastel. Satu lagi berambut basah habis mandi, memegang ponsel yang direkam miring.
“Tika,” kata Patricia tanpa menoleh. “Ucup.”
Hening.
“Kalian ketahuan dari tadi. Pot itu terlalu kecil buat dua orang.”
Daun kamboja bergoyang. Lalu suara Ucup, sangat pelan: “Dok, boleh di-upload nggak?”
“Tidak.”
Hujan turun dalam perjalanan pulang, tentu saja. Bandung tidak pernah membiarkan momen penting lewat tanpa hujan.
Patricia memarkir Honda Jazz itu di depan bengkel di Jalan Cempaka dan mematikan mesin. Rolling door hijau sudah tertutup. Lampu klinik di seberang sudah mati. Hujan memukuli atap mobil dengan bunyi yang rapat dan menenangkan, dan kaca depan perlahan mengabur oleh tetes air.
Kami tidak langsung turun.
Ia menyandarkan kepala di sandaran kursi, menoleh padaku. Aku menoleh padanya. Di dalam mobil yang kecil, dengan hujan di luar dan lampu jalan yang buram di balik kaca, jarak di antara kami cuma tuas persneling.
“Kamu kebanyakan mikir,” katanya pelan.
“Aku lagi mikir, boleh nggak aku—”
“Diam dulu.”
Ia menarik kerah kemeja wisudaku, lagi, untuk kedua kalinya dalam dua minggu, dan menciumku.
Tidak seperti di bawah rolling door. Tidak miring, tidak terburu-buru, tidak tumpah kopi. Kali ini pelan, dan dalam, dan lama. Tanganku naik ke tengkuknya, ke bawah rambut yang tergerai, dan jariku menemukan kulit hangat yang selama ini tersembunyi di balik cepol sempurna. Ia membuat bunyi kecil di bibirku, sesuatu di antara napas dan tawa, lalu jarinya mencengkeram kerah kemejaku lebih erat, menarikku lebih dekat melewati tuas persneling yang menusuk pinggangku dan sama sekali tidak kupedulikan.
Hujan makin deras. Kaca mobil berembun dari dalam, seluruhnya, sampai lampu jalan hanya tinggal bercak kuning yang buram. Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar tidak menghitung apa pun.
Ketika akhirnya ia menarik diri, napasnya tersengal, bibirnya merah, dan rambutnya berantakan di satu sisi karena tanganku. Ia menatapku dari jarak sejengkal dengan mata yang setengah tertutup.
“Terima?” bisiknya.
Aku menyentuh pipinya dengan ibu jari. Di tempat yang sama dengan tempat ia membersihkan oli dari pipiku dulu.
“Terima,” jawabku.
Ia tersenyum. Lesung pipit kecil di pipi kirinya muncul. Lalu ia mengangkat tangan dan, dengan ujung jari, menulis sesuatu di kaca jendela yang berembun di sampingku. Huruf-hurufnya miring, rapi, seperti tulisan di kartu janji temu.
Jadwal berikutnya: besok.
- 1 Rolling Door Hijau
- 2 Scaling Pertama
- 3 Rasa Kangen: 8
- 4 Daftar Penolakan
- 5 Si Hitam
- 6 Saya Cuma Minta Dijadwalin
- 7 Ritual
- 8 Satu Payung
- 9 Dokter Ortodonti
- 10 Tisu dan Oli
- 11 Tekanan
- 12 Jangan Ganggu Aku Lagi
- 13 Laci
- 14 Kopi Senin, Arah Sebaliknya
- 15 Sepupu dari Surabaya
- 16 Aku Booking Kamu
- 17 Satu-satunya yang Bisa Kukasih reading
- 18 Seumur Hidup, Boleh?