Chapter Eighteen
Seumur Hidup, Boleh?
POV: Patricia
Tiga bulan kemudian, rolling door bengkel itu masih belum diberi pelumas.
Aku sudah mengingatkannya sebelas kali. Dua kali lewat pesan WhatsApp, empat kali secara lisan, tiga kali dengan catatan di sisi belakang kartu janji temu, dan dua kali dengan membawa sendiri sekaleng gemuk rel ke bengkelnya dan menaruhnya di bangku kayu. Kaleng itu masih di sana, belum dibuka, dipakai Ucup sebagai ganjal pintu.
“Kalau dikasih pelumas,” kata Danu suatu sore, sambil memeluk pinggangku di depan bengkel dan menaruh dagunya di bahuku, “nanti kamu nggak bisa dengar aku buka bengkel dari Cihapit.”
“Aku nggak pernah dengar dari Cihapit. Itu dua kilometer.”
“Tapi kamu bilang kamu dengar di kepala.”
Aku menyesal pernah menceritakan itu padanya.
Banyak yang berubah dalam tiga bulan.
Klinik Gigi Tanuwijaya sekarang penuh setiap hari, sebagian besar karena video Ucup yang, entah bagaimana, menjadi semacam iklan gratis. Orang datang dan bertanya, ini klinik yang di video itu, ya? lalu menatap Molar dengan penuh hormat seakan ikan itu selebritas. Tika menaikkan harga stiker dinosaurus untuk pasien anak dari gratis menjadi gratis-tapi-harus-foto-sama-Molar.
Cicilan bank berjalan lancar. Mama berhenti mengirim CV calon menantu dan mulai mengirim resep sayur asem dengan keterangan buat Danu, katanya suka. Pak Hendra memperpanjang kontrak sewa bengkel tanpa kenaikan, dengan syarat Danu menservis mobilnya gratis setiap bulan, yang Danu terima dengan wajah seperti orang yang baru menang lotre.
Tika dan Ucup, sejauh yang bisa kutangkap, mulai pacaran. Tidak ada yang mengumumkannya. Aku hanya tahu karena grup Seberang Jalan berganti foto profil dari Molar menjadi foto mereka berdua, lalu diganti lagi menjadi Molar dalam lima menit, lalu Tika masuk ruang praktik dengan wajah merah dan berkata Dok, itu salah pencet.
Dan aku belajar menerima.
Kopi setiap Senin. Martabak setiap Sabtu malam, setengah porsi, dua garpu. Danu yang menjemputku di Cihapit dengan motor bebek bengkel karena ia tidak mau aku menyetir sendirian kalau hujan. Danu yang memijat bahuku di bangku kayu setelah aku menangani tujuh pasien anak berturut-turut. Aku menerima semuanya, satu per satu, dan setiap kali aku menerima, aku tidak lagi merasa berutang.
Aku merasa disayang. Mama benar. Itu beda.
Tapi Danu belum.
Ia masih menolak saat aku membelikannya sepatu kerja baru. Ia masih membayar setiap kali kami makan di luar, bahkan saat aku sudah menyerahkan uang ke kasir lebih dulu. Ia masih menyetir motor bebek tua bengkel yang setangnya bengkok, dan tidak pernah sekali pun membicarakan Si Hitam.
Aku tahu ia memikirkannya. Aku melihatnya menatap sudut bengkel yang kosong setiap pagi, sebentar saja, sebelum menarik rolling door sampai habis.
Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan seumur hidup.
Aku meminta tolong pada semua orang.
Kamis jam empat sore, Danu duduk di kursi dental unit untuk kontrol rutin, yang sekarang sudah tidak rutin dan tidak ada hubungannya dengan kontrol.
Aku menyerahkan kartu janji temu padanya sebelum ia sempat bertanya. Ia membacanya, dan wajahnya berubah.
Sisi depannya kutulis sendiri. Bukan di kolom tanggal. Di seluruh permukaannya.
Pasien: Danu Yanuar.
Keluhan: aku kangen.
Jadwal: setiap hari.
Ia menatap kartu itu lama sekali. Lalu menatapku. Lalu menatap kartu itu lagi, seperti orang yang memeriksa nomor seri mesin untuk memastikan itu bukan barang palsu.
“Ini tulisanmu,” katanya.
“Iya.”
“Kamu nggak pernah nulis kangen.”
“Sekarang nulis.”
Ia memegang kartu itu dengan dua tangan, hati-hati sekali, seakan kartu itu bisa sobek kalau ia bernapas terlalu keras. Lalu ia memasukkannya ke saku kemeja, di dada kiri, tepat di tempat aku dulu menyimpan kartunya di saku jas.
Klinik sudah tutup. Tika sudah pulang. Lampu ruang tunggu sudah mati, hanya lampu dental unit yang menyala terang di atas kami.
Aku melepas jas putihku dan menyampirkannya di kursi kecil. Lalu, sambil menatapnya, aku mengangkat tangan dan melepas jepit rambut.
Cepolku terurai. Rambutku jatuh ke punggung.
Danu menelan ludah. Aku bisa melihat jakunnya bergerak.
“Pat,” katanya pelan. “Ini ruang praktik. Steril.”
“Aku dokternya. Aku yang tentuin.”
Aku naik ke kursi dental unit dan duduk di pangkuannya.
Kursi itu berdengung protes, turun beberapa senti karena berat kami berdua. Tangannya refleks menangkap pinggangku. Wajahnya ada tepat di bawah wajahku, dengan lampu dental unit di belakang kepalaku seperti lingkaran cahaya, dan ia menatapku dari bawah seperti setiap Kamis selama lima bulan, kecuali kali ini tidak ada masker di antara kami. Tidak ada sarung tangan. Tidak ada kartu.
“Buka mulut,” kataku.
Ia mengerjap. “Mau diperiksa?”
“Bukan.” Aku menunduk. “Ini bukan pemeriksaan.”
Aku menciumnya. Dalam. Lama. Tangannya naik dari pinggang ke punggungku, ke bawah rambutku yang tergerai, menarikku lebih dekat sampai tidak ada jarak lagi di antara kami selain kain tipis blusku dan kemejanya yang bau oli dan sabun. Jariku menyusuri rahangnya, garis yang sama yang dulu kubersihkan dengan tisu, dan ia membuat suara rendah di bibirku yang membuat seluruh punggungku meremang. Kursi dental unit berdengung lagi karena tanganku tidak sengaja menekan tombol, dan kami turun pelan-pelan, makin rendah, dan aku tidak peduli.
Pintu kaca berbunyi ting.
Kami membeku.
“Dok, maaf, dompet saya ketinggal—”
Tika berdiri di ambang pintu ruang praktik. Ia menatap kami. Kami menatapnya. Aku masih di pangkuan Danu, rambut berantakan, bibir merah. Tangan Danu masih di punggungku.
Tika mengambil dompetnya dari meja kerja dengan gerakan sangat lambat, sangat hati-hati, tanpa melepaskan pandangannya dari kami, seperti orang yang mundur pelan-pelan dari beruang di hutan.
“Saya nggak lihat apa-apa, Dok,” katanya. “Sumpah. Saya buta. Saya mau ke dokter mata.”
Pintu kaca berbunyi ting lagi.
Aku membenamkan wajah di bahu Danu. Bahunya berguncang. Ia tertawa, tawa yang keras dan lepas, kepala mendongak, sama seperti waktu Sasa menggandeng lengannya di Cimahi, dan aku ikut tertawa sampai perutku sakit.
Ketika tawa kami reda, ia tidak melepaskanku. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu yang kecil dan berkilau di bawah lampu dental unit.
Sebuah cincin. Perak sederhana. Bagian dalamnya, kulihat nanti, diukir dengan huruf kecil yang miring ke kanan.
Ia memegangnya di antara kami. Tangannya gemetar sedikit. Tangan yang bisa menyetel karburator dalam lima menit dan menjahit jok motor dua kali.
“Patricia,” katanya. Suaranya serak. “Jadwal berikutnya?”
Aku menatapnya.
“Seumur hidup,” lanjutnya pelan. “Boleh?”
Aku menatap cincin itu lama sekali. Lalu aku tersenyum, dan mencium ujung hidungnya, dan berkata:
“Besok pagi aku jawab.”
Wajahnya berubah total. “Pat. Pat. Kamu nggak bisa—”
“Jam enam lima puluh lima,” kataku. “Jangan telat.”
Aku tidak tidur malam itu, tapi bukan karena angka-angka yang berputar.
Jam lima subuh, Ucup mengirim pesan: Dok, aman. Udah masuk. Disusul foto yang buram karena diambil dalam gelap. Disusul pesan dari Pak Hendra: Kolektornya minta tambahan dua juta. Om udah tawar. Om yang bayar. Jangan protes. Disusul pesan dari Mama: Cia, Mama doain. 😭🙏 Disusul pesan dari Kang Kurnia yang tidak pernah kusimpan nomornya: Bu Dokter, joknya saya lap ulang. Masih rapi. Disusul pesan suara dari Sasa dari Surabaya yang isinya hanya jeritan selama delapan detik.
Jam enam empat puluh, aku berdiri di depan kaca Klinik Gigi Tanuwijaya. Tanpa jas putih. Tanpa masker.
Jam enam lima puluh tiga, Danu datang dengan motor bebek bengkel. Ia turun dan menatap ke seberang, ke arahku, dengan mata yang jelas tidak tidur semalaman. Aku mengangguk ke rolling door.
Ia memegang talinya. Menariknya.
Kreeeek-krak-krak-KRANG.
Lalu ia berhenti.
Di dalam bengkel, di sudut yang tiga bulan kosong, di bawah terpal biru yang sudah dilipat, berdiri sebuah motor hitam doff. Tanpa stiker. Tanpa nama. Rangka motor bebek tua, tangki dari tukang las Cibaduyut, setang rendah, dan jok yang dijahit tangan dua kali karena yang pertama miring.
Di setangnya, terikat dengan pita merah yang Tika pilih sendiri, tergantung sebuah kartu janji temu.
Danu berjalan ke sana pelan-pelan, seperti orang yang takut motor itu akan menghilang kalau didekati terlalu cepat. Ia mengambil kartu itu. Aku tahu apa yang tertulis di sana, karena aku menulisnya tiga kali sebelum puas dengan hurufnya.
Pasien: Danu Yanuar.
Keluhan: tidak bisa menerima.
Terapi: terima ini. Nggak usah bayar.
Dan di sisi belakang, di kolom catatan dokter:
Jawaban: iya. Seumur hidup.
Danu membalik kartu itu. Membacanya. Lalu ia berdiri diam di samping Si Hitam, dengan bahu yang perlahan mulai berguncang, dan tangannya menutup wajahnya.
Aku menyeberang.
Ia mendengar langkahku. Ia menurunkan tangannya, dan matanya basah, dan ia menatapku seperti hari pertama ia menarik rolling door ini dan melihatku menempel stiker jam praktik dua milimeter lebih ke kiri.
Aku berhenti di depannya, di bawah rolling door hijau yang sudah terbuka sampai habis. Aku mengulurkan tangan kiriku.
“Pasangin,” kataku. “Aku terima.”
Ia memasang cincin itu di jariku dengan tangan gemetar. Lalu ia memelukku begitu erat sampai kakiku terangkat dari lantai semen, dan aku tertawa di bahunya, keras dan lepas, tanpa menutup mulut, tanpa masker, tanpa menghitung apa pun.
Di seberang jalan, seseorang bertepuk tangan. Lalu satu Jalan Cempaka ikut.
- 1 Rolling Door Hijau
- 2 Scaling Pertama
- 3 Rasa Kangen: 8
- 4 Daftar Penolakan
- 5 Si Hitam
- 6 Saya Cuma Minta Dijadwalin
- 7 Ritual
- 8 Satu Payung
- 9 Dokter Ortodonti
- 10 Tisu dan Oli
- 11 Tekanan
- 12 Jangan Ganggu Aku Lagi
- 13 Laci
- 14 Kopi Senin, Arah Sebaliknya
- 15 Sepupu dari Surabaya
- 16 Aku Booking Kamu
- 17 Satu-satunya yang Bisa Kukasih
- 18 Seumur Hidup, Boleh? reading