Chapter Three

Rasa Kangen: 8

POV: Danu

Ternyata kartu janji temu Klinik Gigi Tanuwijaya punya dua sisi.

Aku baru sadar malam itu, waktu mengeluarkannya dari dompet untuk dipandangi untuk kesekian kalinya. Sisi depan berisi nama klinik, tanggal, dan jam. Sisi belakang berisi kotak kecil bertuliskan:

SKALA RASA SAKIT (0–10): __
CATATAN PASIEN: ____________

Di bawahnya ada keterangan dengan huruf miring: Mohon diisi dan diserahkan saat kunjungan berikutnya.

Aku menatap kotak kosong itu lama sekali. Lalu aku mengambil pulpen dari laci kasir bengkel, yang tintanya hampir habis dan harus dijilat dulu ujungnya, dan mulai menulis.


Kamis jam empat kurang tujuh menit, aku sudah duduk di ruang tunggu.

Kali ini aku tidak pakai kemeja wisuda. Ucup bilang aku kelihatan “kayak sales asuransi yang ditolak tiga kali”. Jadi aku pakai kaus polo hitam yang paling sedikit nodanya, dan jaket denim untuk menutupi noda yang tidak bisa hilang.

Di ruang tunggu ada dua pasien lain: nenek dengan gigi palsu yang longgar, dan bapak-bapak berkumis yang kemarin keluar dengan wajah jatuh cinta. Ia melirikku. Aku meliriknya. Kami saling mengenali sebagai sesama pria yang datang ke sini dengan alasan yang meragukan.

“Pak Hamid,” bisik Tika padaku sambil pura-pura membagikan brosur. “Sudah tiga kali kontrol tambalan. Tambalannya cuma satu.”

“Saingan?”

“Beliau umur enam puluh dua, A’. Istrinya dua.” Tika menunjuk buku biru di mejanya. “Di klasemen beliau peringkat dua.”

“Aku peringkat satu?”

“Untuk sementara, A’. Jangan lengah.”

Jam empat tepat, pintu ruang praktik terbuka.

“Pak Danu Yanuar.”


“Keluhan Anda gigi bungsu,” kata Dokter Patricia, membaca catatan dari Tika. Ia sudah memakai masker. Rambutnya, seperti biasa, tercepol tanpa cela. “Di mana sakitnya?”

“Belakang, Dok.”

“Kiri atau kanan?”

“Kiri.” Aku berpikir. “Atau kanan. Pokoknya belakang.”

Matanya menatapku di atas masker. Aku menatap lampu.

“Buka mulut.”

Ia memeriksa dengan teliti, mengetuk, menekan gusi di bagian paling belakang dengan sonde. Sekali, ia menekan agak keras, dan aku berjengit.

“Sakit?”

“Kaget, Dok.”

“Gigi bungsu Anda tumbuh normal,” katanya, menarik alatnya keluar. “Keempat-empatnya. Posisi tegak, tidak impaksi, tidak ada peradangan. Tidak perlu tindakan apa pun.”

“Wah. Syukurlah.”

“Pak Danu.”

“Ya, Dok?”

“Anda datang untuk gigi yang tidak sakit.”

Aku duduk tegak. Kursi dental unit berdengung naik. Untuk pertama kalinya, aku menatap matanya langsung tanpa lampu di antara kami.

“Saya datang untuk memastikan gigi saya tidak sakit, Dok. Itu namanya pencegahan. Bukannya dokter gigi selalu bilang pencegahan lebih baik dari pengobatan?”

Ia diam. Di balik masker, aku tidak bisa melihat ekspresinya. Tapi ia melepas sarung tangan dengan bunyi jepret yang sedikit lebih keras dari biasanya.

“Kartu janji temu Anda.”

Aku menyerahkan kartu itu. Ia membalik kartunya untuk membaca skala rasa sakit, seperti prosedur standar.

Lalu ia berhenti.

Di sisi belakang, dengan pulpen yang tintanya putus-putus, aku menulis:

SKALA RASA SAKIT (0–10): 0
CATATAN PASIEN: Rasa kangen: 8. Tidak tahu harus konsultasi ke dokter apa.

Dokter Patricia menatap kartu itu. Lama. Lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk membaca dua baris.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak kuduga: ia menurunkan masker sampai ke dagu.

Wajahnya datar. Benar-benar datar, seperti permukaan meja kaca. Tapi di sisi kepalanya, di bawah cepolnya yang sempurna, telinganya merah. Bukan merah muda. Merah, seperti lampu rem motor.

“Ini bukan kolom untuk itu,” katanya.

“Kolom catatan pasien, Dok. Itu catatan saya.”

“Ini dokumen medis.”

“Perasaan juga medis, Dok. Kalau dipikirin terus bisa naik tensi.”

Ia memejamkan mata sebentar, seperti sedang menghitung sampai sepuluh dalam bahasa yang hanya dimengerti dokter. Ketika membuka mata, telinganya masih merah, dan suaranya sedingin wastafel stainless.

“Pak Danu. Saya dokter gigi. Saya tidak menangani keluhan… itu.”

“Saya tahu, Dok. Makanya delapan, bukan sepuluh. Masih bisa ditahan.”

Ia menulis sesuatu di kartu baru. Tangannya bergerak cepat, garis-garisnya tegas, seperti orang yang ingin cepat-cepat menyelesaikan sesuatu. Ia menyerahkannya padaku.

Kontrol rutin — enam bulan lagi.

Lagi-lagi April tahun depan.

Lalu ia memasukkan kartu lamaku, yang ada tulisan rasa kangen itu, ke dalam map rekam medis cokelat bertuliskan namaku.

“Kartu lama disimpan di arsip pasien,” katanya, tanpa melihatku. “Prosedur.”

“Siap, Dok.”

“Selamat sore.”

Aku keluar dari ruang praktik dengan kartu baru di tangan. Tika menatapku penuh harap. Aku hanya mengangkat bahu, lalu menunjuk telingaku sendiri.

Tika mengerti. Matanya membulat, lalu ia menunduk ke buku biru dan menulis sesuatu dengan pulpen merah, sangat cepat.


Rencana kopi lahir hari Minggu malam, di bangku kayu depan bengkel, setelah Ucup bertanya kenapa aku memandangi klinik yang sudah gelap.

“Bang, Bang tahu nggak Dokter itu datang jam berapa?”

“Jam tujuh lewat lima belas,” jawabku tanpa berpikir. “Parkir motor di samping. Bawa tas hitam sama termos biru. Termosnya selalu dia taruh di meja resepsionis dulu sebelum masuk, terus diambil lagi pas mau buka praktik.”

Ucup menatapku lama. “Bang, itu kayak polisi yang lagi ngintai bandar.”

“Aku cuma memperhatikan.”

“Itu namanya ngintai, Bang.”

Aku mengabaikannya. Tapi hal tentang termos biru itu menggangguku. Ia datang terlalu pagi untuk orang yang praktiknya mulai jam sembilan. Ia pulang terlalu malam untuk orang yang pasien terakhirnya selesai jam tujuh. Dan termos itu, kuduga, isinya kopi yang ia bikin sendiri di rumah sebelum subuh, yang pasti sudah dingin waktu jam istirahat siang tiba.

Lalu aku ingat suaranya di ruang praktik, yang tiba-tiba memelan saat menyebut kopi susu gula aren. Orang yang minum kopi dengan gula aren dan susu tiga kali sehari biasanya sudah berlubang di sini. Dokter gigi tidak menyebut minuman sespesifik itu kalau tidak ada alasannya. Itu bukan contoh. Itu pengakuan.

“Cup,” kataku. “Kedai kopi depan gang buka jam berapa?”

“Jam enam, Bang. Kenapa? Bang mau ganti kopi?”

“Bukan buat aku.”

Ucup menatapku dengan mata menyipit, lalu pelan-pelan tersenyum lebar dengan cara yang tidak kusukai. “Bang. Bang beneran ngintai.”

“Memperhatikan, Cup.”

Senin pagi jam tujuh kurang sepuluh, aku membeli kopi susu gula aren di kedai depan gang. Gelas plastik, tutup rapat, es batu sedikit. Aku tidak menulis nama di gelasnya. Aku menyuruh Ucup yang mengantarnya, karena kalau aku sendiri yang menyerahkan, Dokter Patricia pasti akan menolak di tempat.

Ucup menyeberang dengan gelas kopi seperti membawa bom. Ia meletakkannya di meja resepsionis yang masih kosong, lalu lari balik ke bengkel dengan kecepatan yang tidak pernah ia tunjukkan waktu kusuruh beli busi.

Jam tujuh lewat lima belas, Dokter Patricia datang. Motor di samping. Tas hitam. Termos biru.

Dari bangku kayu, melalui kaca bening klinik, aku melihat ia masuk, berhenti di depan meja resepsionis, dan menatap gelas kopi itu.

Ia menatapnya lama. Lalu ia menoleh ke kaca, ke seberang jalan, langsung ke arahku.

Aku pura-pura mengelap spion motor yang sudah bersih.

Ia mengambil gelas kopi itu. Berjalan ke tempat sampah di sudut ruang tunggu. Berdiri di sana.

Satu detik. Dua. Lima.

Lalu gelas itu masuk ke tempat sampah.

“Yah,” kata Ucup di sampingku, dengan nada orang yang menonton timnya kebobolan di menit terakhir.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku menghabiskan kopi hitamku sendiri, yang tiba-tiba terasa lebih pahit dari biasanya.

Jam sembilan kurang lima, pintu bengkel diketuk. Tika berdiri di sana dengan kerudung pastel dan senyum lebar. Di tangannya ada gelas kopi susu gula aren. Masih utuh, tutupnya masih rapat, sedikit berembun.

“Saya selamatkan, A’,” bisiknya, menyerahkan gelas itu padaku. “Masih bersih. Dibuangnya di bagian atas, di atas kertas brosur.”

Aku menerima gelas itu. “Makasih, Teh.”

“A’ mau tahu sesuatu?” Tika mencondongkan badan, matanya berbinar seperti orang yang baru menemukan gosip kelas kakap. “Dokter berdiri di depan tempat sampah itu sebelas detik. Saya hitung dari balik pintu.”

“Terus?”

“Terus, A’, dokter yang buang kopi ke tempat sampah biasanya nggak butuh mikir sebelas detik.”

Tika kembali ke seberang. Aku duduk di bangku kayu, membuka tutup gelas itu, dan meminum kopi susu yang ditolak itu sambil memandangi klinik.

Rasanya manis. Terlalu manis untuk lidahku.

Tapi Senin depan, aku akan membelinya lagi.