Chapter Nine
Kenapa Kamu Tidak Pakai Atribut?
POV: Aurelia
Cermin di kamarku terlalu besar.
Ayah yang memesannya, dari pengrajin kaca terbaik di ibu kota, waktu aku diterima di Arcblade. Bingkainya perak berukir sulur mawar, tingginya dua kali tinggi badanku. Kata Ayah, putri Valemont harus selalu bisa melihat dirinya dengan jelas, supaya tidak pernah keluar kamar dalam keadaan kurang sempurna.
Aku berdiri di depannya malam ini, setelah duel itu, dengan rambut masih basah dari mandi dan handuk melingkar di bahu.
Gadis di dalam cermin itu cantik. Aku tahu itu. Aku sudah mendengarnya setiap hari sejak umur lima tahun, dari guru tari, dari tamu-tamu pesta, dari pelamar-pelamar yang dikirim keluarga bangsawan lain bahkan sebelum aku cukup umur untuk mengerti apa itu pelamar. Rambut perak dengan ujung hitam, yang kata orang seperti cahaya bulan dicelup tinta. Mata emas. Kulit pucat. Wajah yang, menurut seorang penyair yang pernah dibayar Ayah untuk menulis puisi tentangku, membuat matahari ragu untuk terbit.
Aku tidak pernah tahu harus berbuat apa dengan kalimat seperti itu.
Gadis di cermin itu juga punya lingkaran gelap di bawah mata yang tidak hilang walaupun ditutup bedak. Bibirnya lebih pucat dari bulan lalu. Ada garis tipis di antara alisnya, garis yang muncul setiap kali ia menahan sesuatu, dan akhir-akhir ini garis itu tidak pernah benar-benar hilang.
Penyair itu tidak menulis tentang garis itu.
Aku memalingkan wajah dari cermin.
Di meja rias ada surat dari Ayah. Datang sore tadi, dibawa elang pos keluarga Valemont, disegel lilin biru dengan lambang singa bersayap.
Isinya sama seperti surat-surat sebelumnya. Ayah bangga. Seluruh kerajaan membicarakan Rank S putri Valemont. Duke Harrowgate menanyakan kabarku untuk putranya. Pangeran Kedua Aldren mengirim salam. Ayah berharap aku tetap menjaga nama keluarga dengan menjadi yang terbaik di setiap ujian, setiap latihan, setiap turnamen.
Di paragraf terakhir, seperti biasa, satu kalimat pendek:
Jangan lupa minum obatmu.
Botol kaca kecil berisi cairan ungu pucat itu ada di samping surat. Aku sudah meminumnya tadi pagi. Rasanya pahit dan meninggalkan rasa logam di lidah. Tabib keluarga bilang obat itu untuk menenangkan resonansi. Waktu aku bertanya resonansi apa, ia tersenyum sabar dan bilang aku tidak perlu khawatir, itu hanya efek samping dari bakat yang terlalu besar.
Akhir-akhir ini, efek sampingnya terasa seperti seseorang meremas sesuatu di bawah tulang dadaku, setiap kali Eclipse Lioness bergerak terlalu dekat dengan permukaan.
Aku tidak menulis itu di surat balasanku. Aku tidak pernah menulis itu.
Aku menulis: Aku baik-baik saja, Ayah. Terima kasih atas perhatiannya.
Lalu aku duduk di tepi ranjang, memandangi botol ungu itu, dan memikirkan hal yang sama yang sudah kupikirkan sejak siang.
Pedang bermata terbalik.
Sebelum hari ini, aku sudah melihat Kael Ashford bertarung satu kali. Tidak secara langsung, tapi hasilnya. Seminggu lalu, waktu kelompok patroli Rank S dikirim ke area lima Hutan Thornwood karena laporan getaran, aku termasuk di dalamnya. Aku yang pertama sampai di lembah itu.
Aku melihat bangkai Ironhide Boar seukuran kereta. Aku melihat empat anak Rank F berdiri di sekitarnya, gemetar. Dan aku melihat Kael, tergantung tak sadar di bahu teman sekamarnya yang besar, darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya.
Waktu itu aku memanggil namanya. Ia tidak menjawab.
Aku tidak tahu kenapa aku memanggil namanya. Aku tidak pernah memanggil nama siapa pun di depan orang lain. Patroli lain menatapku aneh. Aku pura-pura tidak sadar.
Tiga malam berikutnya, aku duduk di meja perpustakaan sendirian, dan meja itu terasa terlalu besar.
Itu bukan hal yang pernah kurasakan sebelumnya. Aku sudah duduk sendirian sepanjang hidupku. Di meja makan Valemont yang panjangnya dua puluh kursi. Di pesta-pesta, di tengah lima ratus tamu. Sendirian tidak pernah terasa besar. Sendirian terasa normal.
Tapi tiga malam itu, kursi di seberangku kosong, dan entah kenapa kekosongannya punya bentuk.
Jadi aku menulis kertas kecil itu dan menyelipkannya di buku. Itu juga bukan hal yang pernah kulakukan. Aku menulisnya empat kali sebelum puas, dan versi yang kuselipkan pun masih terdengar bodoh.
Ia membalasnya dengan tulisan pensil yang jelek. Meja ini memang terlalu besar buat satu orang.
Kertas itu sekarang ada di saku sweterku. Bersama botol obat ungu. Bersama kertas pertama yang kutulis, yang ia kembalikan dengan balasan di baliknya.
Aku tidak tahu kenapa aku menyimpannya.
Atau mungkin aku tahu, dan aku belum mau mengakuinya.
Tadi siang, di tribun, aku melihat sesuatu yang tidak masuk akal.
Pedangnya berubah. Lagi. Tidak menjadi biru seperti yang diceritakan rumor tentang babi itu, tapi menjadi bilah perak ramping dengan mata tajam yang menghadap ke dirinya sendiri. Lalu muncul sarung pedang dari udara kosong. Lalu ia menarik pedang itu begitu cepat sampai aku, yang sudah bisa melakukan Spirit Call sejak umur dua belas, yang matanya dilatih membaca gerakan Rank S, tidak bisa melihatnya.
Lalu harimau api Cedric Lorne terbelah seperti asap.
Lalu Lorne terangkat dari tanah dan jatuh tertidur, tanpa satu luka pun.
Lalu ia mimisan, dan teman sekamarnya memeluknya, dan ia tersenyum dengan darah di bibir seperti anak kecil yang baru saja memenangkan sesuatu yang sangat berharga.
Aku tidak sadar aku sudah berdiri sampai pelayan keluarga yang duduk di belakangku menarik lengan bajuku.
Aku tidak sadar tanganku menekan dadaku sampai ia menoleh ke tribun dan mata abu-abunya menemukanku.
Rasanya seperti tertangkap basah melakukan sesuatu. Aku tidak tahu melakukan apa.
Ada ketukan di pintu kamarku.
Tiga ketukan cepat, lalu dua pelan. Aku tidak mengenali iramanya. Pelayan keluarga mengetuk dengan dua ketukan sopan. Teman-teman bangsawan, kalau bisa disebut teman, tidak pernah mengetuk pintuku.
Aku membuka pintu.
Seorang gadis kecil berambut cokelat pendek berdiri di koridor, tersenyum lebar, gelang koin di pergelangan tangannya bergemerincing.
“Selamat malam, Putri Valemont,” katanya. “Nina Faye. Rank D. Atribut Wind. Penjual informasi.”
Aku tahu siapa dia. Seluruh akademi tahu siapa dia. Ia gadis yang berdiri di atas kursi di arena tadi siang dan berteriak itu klienku.
“Aku tidak membeli gosip,” kataku.
“Oh, aku tahu. Aku sudah mencoba menjual ke Putri sebelas kali sejak hari pertama, dan Putri selalu menutup pintu.” Senyumnya tidak goyah sedikit pun. “Tapi malam ini aku nggak bawa gosip biasa. Malam ini aku bawa...”
Ia mengeluarkan buku catatan kulit dari sakunya dan mengangkatnya di depan wajahku seperti pedagang memamerkan permata.
“...arsip lengkap. Kael Ashford. Semuanya. Dari hari pertama sampai tadi siang. Termasuk beberapa hal yang bahkan Kael sendiri nggak tahu aku tahu.”
Aku menatap buku catatan itu.
Seharusnya aku menutup pintu. Ini tidak pantas. Putri Valemont tidak membeli gosip tentang siswa Rank F dari penjual informasi di koridor asrama jam sembilan malam.
“Kenapa kamu menawarkannya kepadaku?” tanyaku. “Bukannya dia klienmu?”
“Klienku, iya. Tapi kontrakku cuma bilang aku nggak boleh menyebarkan rahasianya ke publik.” Nina mengedip. “Putri bukan publik. Putri adalah... pihak yang berkepentingan.”
“Aku tidak berkepentingan.”
“Tentu saja tidak.” Nina mengangguk penuh pengertian. “Putri cuma kebetulan berdiri di tribun tadi siang. Sambil pegang dada. Selama dua menit tiga puluh detik. Aku menghitungnya.”
Aku merasakan pipiku memanas.
Nina menunggu, senyumnya lebar.
“Berapa,” kataku akhirnya, dengan suara yang sedatar mungkin.
“Satu koin per gosip. Tiga kalau panas. Lima kalau ada buktinya.” Nina membuka bukunya. “Malam ini aku punya empat puluh tiga.”
“Semuanya.”
Nina berhenti. “...Maaf?”
“Aku beli semuanya.”
Untuk pertama kalinya, senyum Nina Faye goyah. Ia menatapku dengan mata hijau yang sedikit melebar, seperti kucing yang ikan tangkapannya tiba-tiba melompat sendiri ke mangkuk.
Aku masuk ke kamar, membuka laci meja rias, mengambil satu keping koin emas, dan kembali ke pintu. Aku menaruhnya di telapak tangan Nina.
Nina menatap koin emas itu. Satu keping emas bernilai seratus koin tembaga. Mungkin lebih dari yang ia kumpulkan dari menjual tiket duel tadi siang.
“Kembaliannya,” katanya pelan, suaranya sedikit tercekik, “aku nggak bawa.”
“Simpan saja.” Aku mengambil buku catatan itu dari tangannya. “Dan Nina.”
“Y-ya, Putri?”
“Kalau kamu menjual informasi bahwa aku membeli informasi ini, kepada siapa pun...”
Aku tidak menyelesaikan kalimatku. Aku tidak perlu. Aku cukup membiarkan cahaya dan bayangan berputar sekilas di mata emasku, sekilas saja, seperti kilat di kejauhan.
Nina menelan ludah. “Rahasia ini mati bersamaku, Putri.”
“Bagus.”
Aku menutup pintu.
Lalu aku berdiri di balik pintu itu, memeluk buku catatan kulit di dada, dan menyadari bahwa jantungku berdebar seperti baru saja berlari keliling lapangan latihan tiga kali.
Seorang putri Rank S baru saja membeli empat puluh tiga gosip tentang anak laki-laki Rank F seharga satu keping emas.
Penyair yang dibayar Ayah tidak akan pernah menulis puisi tentang ini.
Aku membaca buku catatan itu sampai jam setengah sebelas.
Sebagian besar tidak berguna. Kael Ashford makan roti isi dengan selai stroberi, bukan blueberry. Kael Ashford push-up setiap subuh sampai mencium tanah. Kael Ashford pernah menyebut babi hutan Threat Level C “lumayan gede” dengan nada santai.
Sebagian lucu. Kael Ashford menawar kontrak manajemen dari 20% menjadi 15% dalam waktu dua menit. Kael Ashford menyebut Pak Grumm “satpam batu” di belakangnya. Kael Ashford mengaku ke Bram Holloway bahwa ia bukan dewa, tapi Bram tidak percaya.
Dan sebagian membuatku berhenti membaca dan menatap halaman lama sekali.
Kael Ashford anak yatim dari desa perbatasan. Tidak ada keluarga. Tidak ada yang mengantarnya ke upacara penerimaan.
Kael Ashford selalu menghabiskan sarapan buatan Bram, bahkan kalau gosong. Bram bilang Kael pernah bilang, “Udah lama nggak ada yang masakin aku.” Bram nggak tahu maksudnya “lama” itu berapa lama.
Kael Ashford kadang meneriakkan kata-kata aneh waktu bertarung. Bahasa yang tidak dikenal siapa pun. Tobias Wren mencatat beberapa: “Minamo Giri”, “Uchishio”, dan hari ini, “Ryuushousen”. Tidak ada di kamus mana pun di perpustakaan Arcblade. Aku sudah cek.
Aku menutup buku itu.
Jam di menara berdentang setengah sebelas.
Aku mengambil sweter krem dari lemari, menyelipkan buku catatan Nina di bawah bantal, dan berjalan ke perpustakaan.
Kael sudah di sana waktu aku datang.
Ini pertama kalinya ia sampai lebih dulu. Ia duduk di kursinya, di seberang kursiku, dengan kapas tergulung di satu lubang hidungnya dan buku tebal terbuka di depannya. Waktu aku duduk, ia mengangkat kepala dan tersenyum.
Itu senyum yang kedelapan belas.
Aku tahu, karena aku sudah menghitungnya. Dua minggu, delapan belas kali. Senyum yang ia berikan khusus padaku, bukan pada Bram, bukan pada Nina, bukan pada siapa pun yang kebetulan lewat. Aku tidak tahu kapan aku mulai menghitung. Aku hanya tahu bahwa suatu malam, di tengah membaca buku tentang penyakit resonansi, aku sadar aku sudah sampai angka sembilan.
“Kapas,” kataku, menunjuk hidungnya.
“Kenang-kenangan dari Lorne.”
“Lorne nggak menyentuhmu sama sekali.”
“Iya. Ini kenang-kenangan dari tubuhku sendiri.” Ia menyentuh kapas itu dengan hati-hati. “Tubuhku suka kasih oleh-oleh tiap kali aku melakukan sesuatu yang keren.”
Aku tidak tertawa. Tapi aku harus menggigit bagian dalam pipiku.
Kami membaca dalam diam selama beberapa menit. Atau dia membaca, dan aku memandangi halaman yang sama tanpa membaca satu kata pun.
Lalu aku bertanya. Pertanyaan yang sudah kupikirkan sejak siang. Pertanyaan yang mungkin seharusnya kutanyakan pertama kali di air mancur itu, di hari upacara.
“Kael.”
“Hm?”
“Kenapa kamu tidak pakai atribut?”
Ia mengangkat kepala.
“Pedangmu berubah,” lanjutku, pelan, supaya tidak terdengar seperti tuduhan. “Waktu melawan babi itu, air. Hari ini, bilah perak dengan sarung yang muncul sendiri. Itu bukan atribut. Aku tahu semua atribut. Air tidak bisa membuat sarung pedang dari udara. Dan kata-kata yang kamu teriakkan...”
“Kamu tahu soal itu juga?”
Aku diam. Buku catatan seharga satu keping emas itu ada di bawah bantalku. Ia tidak perlu tahu.
“Aku punya telinga,” kataku akhirnya.
Kael memandangiku lama. Mata abu-abunya, warna langit sebelum hujan, tampak sedang menimbang sesuatu.
“Itu nama jurus,” katanya. “Dari kampungku.”
“Kampungmu di perbatasan?”
“Bukan.” Ia tersenyum lagi. Senyum yang kesembilan belas, tapi yang ini berbeda. Lebih tipis. Lebih jauh. “Kampungku yang sebenarnya jauh sekali. Nggak ada di peta. Di sana ada banyak pendekar hebat. Aku cuma... ingat jurus-jurus mereka.”
“Cuma ingat,” ulangku.
“Iya.”
“Dan pedangmu bisa memakai apa yang kamu ingat.”
“Pedangku kosong,” katanya, mengangkat bahu. “Jadi dia bisa diisi apa saja.”
Aku tidak sepenuhnya percaya. Atau lebih tepatnya, aku percaya itu benar, tapi aku tahu itu bukan seluruh kebenarannya. Ada bagian yang ia sembunyikan, sama seperti aku menyembunyikan botol ungu di saku sweter.
Anehnya, aku tidak marah.
Mungkin karena aku tahu rasanya punya sesuatu yang belum bisa diceritakan.
“Kampung yang nggak ada di peta,” kataku pelan. “Kamu kangen?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam.
Ia menatap buku di depannya, tapi aku tahu ia tidak sedang membaca. Jari-jarinya, yang punya bekas lecet baru di setiap ruas, mengetuk-ngetuk sampul buku itu pelan.
“Nggak terlalu,” katanya akhirnya. “Di sana nggak ada yang nungguin aku pulang.”
Ia mengatakannya dengan ringan, seperti bercanda. Tapi suaranya tidak bercanda.
Lampu kristal di atas kami berkedip pelan.
Aku memikirkan meja makan Valemont yang panjangnya dua puluh kursi. Lima ratus tamu yang memuji. Surat-surat Ayah yang selalu bilang bangga dan selalu berakhir dengan jangan lupa minum obatmu.
Aku juga tidak yakin ada yang benar-benar menungguku pulang. Yang menunggu adalah Prodigy Valemont. Bukan aku.
“Kael,” kataku.
“Hm?”
Aku tidak tahu apa yang mau kukatakan. Semua kalimat yang muncul di kepalaku terdengar terlalu besar, terlalu berat, terlalu cepat untuk dua minggu dan delapan belas senyum.
Jadi aku hanya bilang:
“Kalau kamu menang lagi, jangan mimisan di depanku.”
Ia berkedip. “Kenapa?”
“Karena,” kataku, kembali menunduk ke bukuku, “aku nggak suka lihatnya.”
Hening sebentar.
Lalu ia tertawa, tawa pelan yang ditahan supaya tidak membangunkan Pak Grumm, dan waktu aku mengangkat kepala sedikit, ia sedang tersenyum ke arahku dengan cara yang membuat dadaku tiba-tiba terasa aneh. Bukan aneh yang menyakitkan, seperti saat Eclipse Lioness bergerak terlalu dekat. Aneh yang hangat.
Senyum yang kedua puluh.
Dan untuk pertama kalinya, tanpa sadar, aku tersenyum balik.
Aku lupa menghitung yang itu.
- 1 Jam Tiga Pagi
- 2 Pedang yang Tidak Bersuara
- 3 Water Surface Slash
- 4 Teman Sekamar yang Menyembahku
- 5 Perpustakaan Jam Malam
- 6 Hutan Latihan
- 7 Gosip Satu Koin
- 8 Mata Pedang Terbalik
- 9 Kenapa Kamu Tidak Pakai Atribut? reading
- 10 Pelatihan Neraka Profesor Ingrid
- 11 GETSUGAAA TENSHOU
- 12 Rumor Rank F Terkutuk
- 13 Limiter Lepas
- 14 Undangan Turnamen Lima Akademi
- 15 Gaun Biru di Pesta Pembukaan
- 16 Tiga Pedang di Mulut
- 17 Cedric Minta Tanding Ulang (Lagi)
- 18 Enam Belas Tebasan
- 19 Hadiah yang Ia Minta
- 20 Kota Festival Lentera
- 21 Godspeed
- 22 Retakan di Pergelangan Tangan
- 23 Pedang Pembunuh Sihir
- 24 Surat dari Valemont
- 25 Dead Calm
- 26 Pengakuan di Atap
- 27 BANKAI
- 28 Rahasia Keluarga Valemont
- 29 Dia Menjauh Karena Sayang
- 30 Arise
- 31 Operator Minta Maaf
- 32 Ayah yang Ingin Putrinya Bersinar
- 33 Tiga Ribu Dunia
- 34 Malam Sebelum Gerhana
- 35 Hinokami Kagura
- 36 Wadah yang Terbuka
- 37 Mugetsu
- 38 Pedang Kosong Itu Akhirnya Bersuara
- 39 All Heroes Assemble
- 40 Hanya Aurelia
- 41 Epilog — Kali Ini Ada yang Menunggu