Chapter Twenty Two
Retakan di Pergelangan Tangan
POV: Aurelia
Aku bangun karena bunyi gelembung.
Bunyinya kecil dan teratur. Blup. Blup. Blup. Seperti seseorang meniup air dengan sedotan sangat pelan, berulang-ulang, tanpa bosan.
Aku membuka mata.
Langit-langit putih berukir bunga matahari emas, lambang kerajaan Solmere. Tirai tipis di jendela, bergoyang ditiup angin pagi. Bau obat herbal dan sesuatu yang manis, mungkin madu.
Di meja kecil di samping ranjangku, ada mangkuk kaca bundar berisi air jernih. Di dalamnya, seekor ikan mas merah kecil berenang berputar-putar, sesekali naik ke permukaan dan membuat gelembung.
Blup.
Kael Kecil.
Aku menatapnya lama. Ia menatapku balik dengan mata bulat hitam yang sama sekali tidak mengerti apa pun. Lalu ia berbalik dan berenang ke sisi lain mangkuk, seolah sudah selesai memeriksa bahwa aku masih hidup.
Seseorang memindahkannya dari kantong air ke mangkuk kaca. Seseorang mengganti airnya. Seseorang menaruhnya di sini, di samping ranjangku, supaya hal pertama yang kulihat saat bangun adalah sesuatu yang hidup.
Aku tahu siapa.
Tubuhku terasa seperti habis diremas lalu dijemur.
Setiap tarikan napas menyakitkan, bukan sakit yang tajam, tapi sakit yang berat dan dalam, seperti ada batu kecil di dasar paru-paruku. Kepalaku berdenyut. Lidahku terasa seperti logam.
Aku mengangkat tangan kiriku untuk menyibakkan rambut dari wajahku.
Lalu aku berhenti.
Di pergelangan tangan kiriku, tepat di bagian dalam, di tempat urat nadi berdenyut, ada sesuatu.
Retakan.
Seperti retakan di porselen. Tipis, bercabang, sepanjang jari kelingking. Tapi yang ada di dalam retakan itu bukan daging, bukan darah. Yang ada di dalamnya adalah cahaya. Cahaya hitam. Kalau ada hal seperti itu. Bukan gelap. Bukan bayangan. Cahaya yang berwarna hitam, berpendar pelan, berdenyut seiring detak jantungku.
Aku menyentuhnya dengan ujung jari kanan.
Tidak sakit. Itu yang paling menakutkan. Tidak sakit sama sekali. Hanya dingin. Dingin seperti logam di musim dingin.
Aku menarik lengan baju tidurku turun, menutupi pergelangan tangan sampai ke buku jari.
Lalu aku duduk di ranjang dengan kedua tangan di pangkuan, menatap dinding putih, dan berusaha bernapas pelan-pelan supaya batu di dasar paru-paruku tidak bergerak.
Wadah generasi ini.
Aku mendengarnya semalam. Samar-samar, di antara rasa sakit dan suara api. Pria bertopeng itu menyebutku wadah. Bukan sekali. Berkali-kali.
Dan Kael, yang menggendongku di puncak menara, menjawab: Dia bukan wadah. Namanya Aurelia. Dan dia suka kue beras isi kacang.
Aku menekan pergelangan tangan kiriku dengan tangan kanan, keras-keras, sampai retakan di bawah kain itu terasa berdenyut melawan telapak tanganku.
Aku tidak menangis. Valemont tidak menangis.
Tapi Kael Kecil, di mangkuknya, berhenti berenang dan menatapku lama sekali, dan aku harus memalingkan wajah darinya.
Ingrid Halvard tiba di Solmere siang itu.
Ia masuk ke ruang tabib tanpa mengetuk, masih memakai jubah perjalanan biru tua yang berdebu, membawa gulungan surat bersegel lilin ungu. Segel Archmaster Ashgrove.
Ia berdiri di samping ranjangku, memandangiku dari atas sampai bawah dengan mata biru pucat yang tidak berkedip. Lalu matanya berhenti di lengan baju tidur kiriku. Hanya sedetik. Lalu bergerak lagi.
Aku tidak tahu apakah ia melihat sesuatu. Dengan Profesor Halvard, aku tidak pernah tahu.
“Valemont,” katanya.
“Profesor.”
“Utusan keluargamu tiba di Solmere tadi pagi. Enam ksatria. Mereka membawa perintah dari Duke untuk membawamu pulang ke kastil hari ini juga.”
Dadaku mengencang.
“Mereka tidak akan membawamu,” lanjut Ingrid datar, dan menaruh gulungan surat di atas selimutku. “Archmaster sudah menulis surat ke ayahmu. Aturan akademi: perwakilan turnamen yang terluka dalam tugas wajib menjalani pemulihan di bawah pengawasan tabib akademi sampai dinyatakan sembuh. Kamu kembali ke Arcblade bersama tim. Ayahmu bisa menjengukmu di sana kalau mau.”
Aku menatap gulungan surat itu.
“Ayah tidak akan senang,” kataku pelan.
“Ayahmu,” kata Ingrid, “tidak pernah senang dengan aturan Archmaster sejak empat puluh tahun lalu. Itu bukan urusanmu.”
Ia berbalik untuk pergi. Lalu berhenti di ambang pintu.
“Ashford duduk di bangku di luar sejak semalam,” katanya tanpa menoleh. “Tidak tidur. Tidak makan. Holloway sudah tiga kali membawakannya sup, dan ia menghabiskan semuanya tanpa sadar sambil menatap pintu ini.” Jeda. “Kalau kamu sudah cukup kuat, suruh dia masuk. Bangku itu milik kerajaan Solmere, dan aku tidak mau membayar ganti rugi kalau ia membuatnya aus.”
Lalu ia pergi.
Aku duduk di ranjang, menatap pintu yang setengah terbuka.
Dari celahnya, aku bisa melihat sepotong koridor. Lantai marmer. Bangku kayu panjang. Dan di ujung bangku itu, seorang anak laki-laki berambut hitam berantakan, duduk dengan siku di atas lutut, tangan saling menggenggam, menatap lantai.
Ada tiga mangkuk sup kosong di sampingnya.
“Kamu bisa masuk,” kataku, cukup keras supaya terdengar sampai koridor.
Kael mengangkat kepala begitu cepat sampai aku khawatir lehernya terkilir.
Ia berdiri. Hampir menjatuhkan mangkuk-mangkuk sup. Menangkapnya. Menaruhnya kembali di bangku. Merapikan kemejanya, yang masih kemeja putih pinjaman dari Garrick, sekarang kusut dan bernoda abu dan, di bagian kerah, ada noda merah kecokelatan. Darahku.
Ia masuk pelan-pelan, seperti orang yang masuk ke kuil.
“Hai,” katanya.
“Hai.”
Ia berdiri di samping ranjang. Lalu duduk di kursi di sebelahnya. Lalu berdiri lagi, karena ia baru sadar sedang membawa sesuatu.
Sebuah apel. Merah. Mengilap.
“Aku bawa apel,” katanya, dengan nada orang yang sudah berlatih kalimat itu di koridor selama setengah jam dan masih merasa kalimatnya bodoh. “Nina bilang orang sakit di Velmora biasanya dikasih apel.”
“Nina menjual informasi itu ke kamu?”
“Satu koin.”
Aku menahan senyum. “Terima kasih.”
Ia menatap apel di tangannya. Lalu menatapku. Lalu menatap apel lagi.
“Kamu mau dipotongin?” tanyanya.
“Kamu bawa pisau?”
Kael tidak menjawab. Ia mengangkat apel itu di telapak tangan kirinya, setinggi dada. Lalu tangan kanannya bergerak ke pinggang, ke tempat yang kosong, dan di tempat kosong itu tiba-tiba muncul sarung pedang hitam.
“Kael,” kataku. “Ini ruang tabib kerajaan.”
“Aku nggak akan merusak apa-apa.”
“Kamu merusak tembok arena.”
“Itu kan beda.” Ia menarik napas pelan. “Hiten Mitsurugi-ryuu.”
Aku tidak melihat pedangnya keluar. Aku tidak pernah bisa melihat pedangnya keluar kalau ia memakai jurus ini. Aku hanya mendengar bunyi klik kecil, satu kali, seperti bunyi gembok ditutup.
“Kuzuryuusen.”
Apel di telapak tangannya tidak bergerak.
Lalu, pelan-pelan, apel itu terbuka. Seperti bunga. Delapan potongan sama besar, melengkung, terlepas satu per satu dari tengah dan jatuh membentuk lingkaran di telapak tangan Kael. Di tengahnya, potongan kesembilan, bagian bijinya, terlepas utuh dan jatuh ke lantai.
Dan setiap potongan, aku sadar, kulitnya sudah dipotong membentuk telinga. Dua telinga kecil yang berdiri tegak di setiap potongan.
Kelinci. Delapan kelinci apel.
Kael menyerahkan semuanya kepadaku di atas sapu tangan yang ia keluarkan dari sakunya.
Aku menatap delapan kelinci apel itu lama.
“Jurus legendaris dengan sembilan arah serangan,” kataku pelan. “Yang membuat Archmaster tertawa sampai permennya hampir jatuh. Dan kamu pakai untuk membuat kelinci apel.”
“Iya.”
“Di ruang tabib kerajaan Solmere.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Kael menggaruk tengkuknya. “Ibuku dulu suka bikin kelinci apel kalau aku sakit,” katanya. “Aku nggak tahu cara bikinnya pakai pisau. Jadi...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Aku tidak memintanya.
Aku mengambil satu kelinci apel dan menggigitnya. Manis. Renyah. Dingin.
Rasanya sama sekali tidak seperti logam.
Kami makan kelinci apel dalam diam. Aku makan lima. Kael makan tiga, karena aku memaksanya. Ia jelas tidak makan apa-apa selain tiga mangkuk sup sejak semalam.
Kael Kecil, di mangkuk kacanya, berenang ke dinding kaca terdekat dan menempelkan mulutnya di sana, menatap kami.
“Aku pindahkan dia ke mangkuk,” kata Kael. “Semalam. Airnya sempat ada darahnya. Aku takut dia keracunan.”
“Terima kasih.”
“Mira yang cari mangkuknya. Dia ambil dari kedai permen. Pemiliknya nggak tahu.”
“...Itu mencuri.”
“Mira bilang itu meminjam untuk keadaan darurat. Dia sudah titip uang di bawah pintu kedainya.”
Aku tertawa, pelan. Tawa itu membuat batu di dasar paru-paruku bergerak, dan aku batuk. Kecil. Aku menutup mulut dengan tangan kiri.
Lengan baju tidurku tersingkap sedikit.
Hanya sedikit. Hanya sesaat. Hanya setengah jari dari pergelangan tanganku yang terbuka ke udara.
Tapi Kael melihatnya.
Aku tahu ia melihatnya, karena tiba-tiba ia berhenti mengunyah. Karena matanya, abu-abu seperti langit sebelum hujan, tertuju ke pergelangan tanganku dan tidak bergerak lagi.
Aku menarik lengan bajuku turun. Cepat. Terlalu cepat.
Diam.
Di luar jendela, burung-burung Solmere berkicau. Dari koridor, terdengar suara Bram yang samar-samar bertanya apakah tabib kerajaan punya resep sup penyembuh, dan suara tabib yang menjawab dengan sabar bahwa ini bukan dapur.
Kael menaruh sisa kelinci apelnya di sapu tangan.
Lalu ia bertanya. Pelan sekali. Dengan suara yang sama seperti waktu aku bertanya padanya di air mancur Arcblade, di hari pertama, tiga bulan lalu.
“Apa itu sakit?”
Aku menatapnya.
Aku ingin bilang ya. Aku ingin bilang tidak sakit, tapi dingin, dan dinginnya menakutkan. Aku ingin bilang ada batu di paru-paruku dan logam di lidahku, dan aku tidak tahu sudah berapa lama, dan tabib keluargaku tidak pernah memberitahuku apa pun, dan ayahku hanya menulis jangan lupa minum obatmu di setiap akhir surat seolah itu kalimat kasih sayang.
Aku ingin bilang aku takut.
“Nggak,” kataku.
Kael tidak menjawab.
Ia menatapku dengan mata yang sudah tahu bahwa aku berbohong. Mata yang tidak marah. Tidak kecewa. Hanya sedih. Sedih dengan cara yang membuatku ingin memeluknya dan sekaligus ingin lari dari ruangan ini.
“Oke,” katanya akhirnya. Sama seperti di terowongan arena. Oke. Aku nggak tanya sekarang.
Tapi kali ini ia menambahkan sesuatu.
Ia mengulurkan tangan kanannya. Pelan. Dan meletakkannya di atas tangan kiriku, yang masih menekan pergelangan tangan di balik lengan baju. Telapak tangannya hangat. Ia tidak menyingkap lengan bajuku. Ia tidak memeriksa. Ia hanya meletakkan tangannya di sana, di atas kain, di atas retakan yang tidak boleh ia lihat.
“Kalau suatu hari kamu mau bilang,” katanya, “aku dengar.”
Kael Kecil membuat gelembung. Blup.
Aku menunduk menatap tangannya di atas tanganku, dan untuk pertama kalinya sejak bangun pagi ini, dingin di pergelangan tanganku terasa sedikit berkurang.
Sore harinya, sebelum tim berangkat pulang ke Arcblade, Tobias Wren datang ke ruang tabib membawa buku catatan nomor delapan.
“Putri Valemont,” katanya, membungkuk sangat dalam sampai kacamatanya hampir jatuh. “Maaf mengganggu. Aku cuma mau minta tolong.”
“Tolong apa?”
Ia membuka buku catatannya dan menyodorkannya kepadaku dengan dua tangan, seperti menyerahkan dokumen resmi.
Di halaman pertama, ditulis dengan huruf besar dan rapi:
KAMUS JURUS KAEL ASHFORD
Edisi Pertama (Belum Lengkap)
Disusun oleh: Tobias Wren
Di bawahnya, daftar panjang. Setiap baris berisi satu nama jurus, cara membacanya, artinya menurut Kael, dan catatan kecil di kolom terakhir.
Minamo Giri — mi-na-mo gi-ri — Tebasan Permukaan Air — Catatan: yang pertama. Dia pingsan.
Getsuga Tenshou — ge-tsu-ga ten-shou — Taring Bulan Menembus Langit — Catatan: menghancurkan arena. Jangan diulangi di dalam ruangan.
Santoryu Oni Giri — san-to-ryu o-ni gi-ri — Tebasan Iblis Tiga Pedang — Catatan: ada pedang di mulut. Bram pingsan.
Godspeed — god-spiid — Kecepatan Dewa — Catatan: bahasanya beda lagi. Kael bilang ini bahasa yang lain dari kampung yang sama. Aku bingung.
Di kolom paling kanan, dengan tulisan tangan yang berbeda, lebih besar dan berantakan, seseorang menambahkan nama alternatif:
Jurus Roda Air Yang Mulia.
Jurus Bulan Yang Mulia Yang Bikin Arena Bolong.
Jurus Tiga Pedang Satu Gigi.
“Bram yang menulis kolom itu,” kata Tobias dengan nada minta maaf. “Aku sudah bilang jangan. Dia nggak dengar.”
Aku membalik halaman demi halaman. Tiga puluh dua jurus. Semuanya dicatat dengan teliti.
“Anak-anak di Solmere sudah mulai meniru teriakannya,” lanjut Tobias. “Semalam, setelah menara itu. Tapi pelafalan mereka salah semua. Ada yang teriak Gesuga Tenso. Ada yang teriak Godsapid. Nina mau menjual kamus ini di pasar kota sebelum kita pulang, supaya mereka bisa meniru dengan benar.” Ia menunduk. “Tapi aku nggak yakin pelafalanku sudah benar. Kael nggak pernah mau mengajari langsung. Katanya malu.”
“Terus kenapa kamu minta tolong ke aku?”
Tobias mengangkat kepala. Di balik kacamatanya, matanya berkedip polos.
“Karena Putri yang paling sering dengar Kael ngomong,” katanya. “Di perpustakaan. Jam sebelas. Setiap malam.”
Aku membeku.
“Nina yang bilang,” tambah Tobias cepat. “Aku nggak ngintip. Sumpah.”
Kael Kecil membuat gelembung. Blup. Kedengarannya seperti tawa kecil.
Aku menatap buku catatan itu. Tiga puluh dua jurus. Tiga puluh dua kali seorang anak laki-laki dari kampung yang tidak ada di peta mengayunkan pedang dan menyebut nama-nama yang hanya ia mengerti.
Aku mengambil pena dari meja samping ranjang.
Di baris Godspeed, di kolom catatan, di bawah tulisan Tobias, aku menulis dengan tulisan tanganku yang kecil dan rapi:
Jurus yang menyelamatkanku dari menara lonceng Solmere. Bunyinya terdengar setelah ia sampai.
Lalu aku mengembalikan buku itu ke Tobias.
“Pelafalanmu sudah benar,” kataku. “Hampir semuanya.”
Tobias membaca tulisanku. Wajahnya pelan-pelan memerah. Ia membungkuk lagi, lebih dalam dari sebelumnya, dan berlari keluar ruangan sambil memeluk buku catatannya di dada.
Aku bersandar ke bantal, menarik lengan baju kiri lebih rendah lagi, dan menatap Kael Kecil di mangkuknya.
“Jangan bilang siapa-siapa,” kataku padanya.
Blup.
- 1 Jam Tiga Pagi
- 2 Pedang yang Tidak Bersuara
- 3 Water Surface Slash
- 4 Teman Sekamar yang Menyembahku
- 5 Perpustakaan Jam Malam
- 6 Hutan Latihan
- 7 Gosip Satu Koin
- 8 Mata Pedang Terbalik
- 9 Kenapa Kamu Tidak Pakai Atribut?
- 10 Pelatihan Neraka Profesor Ingrid
- 11 GETSUGAAA TENSHOU
- 12 Rumor Rank F Terkutuk
- 13 Limiter Lepas
- 14 Undangan Turnamen Lima Akademi
- 15 Gaun Biru di Pesta Pembukaan
- 16 Tiga Pedang di Mulut
- 17 Cedric Minta Tanding Ulang (Lagi)
- 18 Enam Belas Tebasan
- 19 Hadiah yang Ia Minta
- 20 Kota Festival Lentera
- 21 Godspeed
- 22 Retakan di Pergelangan Tangan reading
- 23 Pedang Pembunuh Sihir
- 24 Surat dari Valemont
- 25 Dead Calm
- 26 Pengakuan di Atap
- 27 BANKAI
- 28 Rahasia Keluarga Valemont
- 29 Dia Menjauh Karena Sayang
- 30 Arise
- 31 Operator Minta Maaf
- 32 Ayah yang Ingin Putrinya Bersinar
- 33 Tiga Ribu Dunia
- 34 Malam Sebelum Gerhana
- 35 Hinokami Kagura
- 36 Wadah yang Terbuka
- 37 Mugetsu
- 38 Pedang Kosong Itu Akhirnya Bersuara
- 39 All Heroes Assemble
- 40 Hanya Aurelia
- 41 Epilog — Kali Ini Ada yang Menunggu