Chapter Thirty One

Operator Minta Maaf

POV: Kael

Ruang kerja Archmaster Ashgrove terletak di puncak menara pusat, satu lantai di atas ruang dewan, dan bentuknya seperti seseorang memindahkan seluruh isi toko permen ke dalam perpustakaan, lalu lupa membersihkannya selama enam puluh tahun.

Toples-toples kaca berisi permen berwarna-warni berjajar di setiap rak, di antara buku-buku tebal dan gulungan peta. Ada permen di meja kerja. Ada permen di kursi tamu, yang harus kupindahkan sebelum duduk. Ada permen di jendela, di ambang pintu, di atas kepala patung pendiri Arcblade di sudut ruangan.

“Ambil satu,” kata Archmaster, mendorong toples ke arahku. “Yang hijau rasa apel. Yang ungu rasa anggur. Yang hitam rasanya seperti penyesalan, jangan ambil yang hitam.”

Aku mengambil yang hijau.

Di sekeliling meja kerja yang penuh permen itu duduk lima orang. Archmaster Ashgrove. Profesor Ingrid. Profesor Vexley. Aku. Dan, di ujung meja, dengan kaki bersilang dan buku catatan terbuka, Nina Faye.

“Kenapa Nina di sini?” tanyaku.

“Karena,” kata Nina, tidak mengangkat kepala dari buku catatannya, “aku punya informasi tentang gerakan Hollow Order di tiga kerajaan selama dua bulan terakhir, yang kukumpulkan dari jaringan pedagang, kusir kereta, dan penjaga penginapan. Dan Archmaster membayarku sepuluh koin emas untuk itu.”

Archmaster mengangguk ramah. “Nona Faye adalah sumber intelijen terbaik yang dimiliki Arcblade. Aku menyesal baru menyadarinya sekarang.”

Nina tersenyum lebar. Tapi ada lingkaran hitam di bawah matanya, dan senyumnya tidak sampai ke mata. Sejak surat dari Valemont, ia tidak pernah lagi menjual gosip tentang aku kepada siapa pun. Aku tahu, karena Tobias yang bilang.


Rapat itu berlangsung tiga jam.

Ingrid membentangkan peta Arcblade di atas meja, menggeser toples-toples permen ke pinggir. Di peta itu, tujuh titik ditandai dengan tinta merah. Tujuh batu segel fondasi.

Batu pertama, di bawah arena utama. Terbelah. Olehku.

Batu ketiga, di bawah menara Water. Dicuri. Hollow mencabutnya dari tanah dan membawanya pergi.

Batu kelima, di bawah menara jam. Retak. Oleh ritual di alun-alun.

“Tiga dari tujuh,” kata Ingrid. “Empat tersisa. Batu kedua di bawah perpustakaan. Keempat di bawah asrama bangsawan. Keenam di bawah kolam teratai di taman timur. Ketujuh...” Ia berhenti.

“Ketujuh di mana?” tanyaku.

Ingrid menatap Archmaster. Archmaster mengulum permennya lama.

“Tidak ada yang tahu,” katanya akhirnya. “Catatan tentang batu ketujuh hilang tiga ratus tahun lalu. Bersama catatan tentang untuk apa batu-batu itu sebenarnya dibuat.”

“Untuk menahan segel Valemont,” kataku.

Semua orang di meja menoleh.

“Aurelia menulis surat,” kataku pelan. “Dia sudah masuk gudang pusaka. Dia sudah baca semuanya.”

Aku menceritakan isi surat itu. Tidak semuanya. Bukan bagian tentang Liselle dan Tomas. Bukan bagian tentang kertas kecil pertama. Tapi semua yang perlu mereka tahu: wadah, dewa lama yang dibelah, empat puluh tujuh putri Valemont, obat ungu yang hanya menghilangkan rasa sakit.

Waktu aku selesai, ruangan itu sunyi.

Profesor Vexley menatap meja. Tangannya, yang biasanya terlipat rapi di pangkuan, mengepal.

“Empat puluh tujuh,” katanya pelan. “Selama empat ratus tahun, kita mengirim empat puluh tujuh anak perempuan ke akademi ini. Memuji mereka sebagai prodigy. Mengirim mereka ke turnamen. Dan tidak satu pun dari kita bertanya.”

“Kita tidak tahu, Morwen,” kata Archmaster lembut.

“Kita tidak mau tahu,” kata Vexley tajam. “Itu berbeda.”

Tidak ada yang membantah.


Rencana yang kami buat sederhana, dan aku tidak menyukainya.

Gerhana total tinggal enam minggu. Saat itu, menurut Lucan, segel tidak akan bertahan lagi. Hollow pasti akan menyerang Arcblade untuk meretakkan batu-batu yang tersisa. Para profesor akan menjaga keempat batu itu. Siswa-siswa tahun ketiga dan perwakilan turnamen akan membantu.

“Dan Aurelia?” tanyaku.

“Ia di Valemont,” kata Ingrid. “Di bawah perlindungan ayahnya. Dua puluh ksatria. Tembok kastil setebal tiga meter.”

“Itu nggak cukup.”

“Ashford...”

“Itu nggak cukup,” ulangku. “Hollow bisa menarik orang lewat bayangan mereka sendiri. Tembok tiga meter nggak ada artinya.”

Archmaster Ashgrove menatapku lama. Lalu ia berdiri, dengan susah payah, dan berjalan ke jendela.

“Nak,” katanya. “Ikut aku sebentar.”


Ia membawaku ke balkon di luar ruang kerjanya. Balkon kecil, dikelilingi pagar batu rendah, menghadap ke seluruh akademi. Angin bertiup kencang di ketinggian ini, membuat jubah ungu bertambalnya berkibar.

Ia tidak bicara. Ia mengangkat tangan keriputnya, dan dari udara di depannya, pedang awan itu terbentuk lagi. Tipis, transparan, nyaris tidak terlihat.

“Kamu mau ke Valemont,” katanya.

Aku tidak menyangkal.

“Kalau kamu pergi ke sana, kamu harus melawan dua puluh ksatria Valemont, Duke Valemont sendiri, dan mungkin Hollow. Sendirian. Lalu kamu harus membawa Aurelia keluar dari kastil yang ia tolak untuk tinggalkan.” Ia memiringkan kepala. “Kamu yakin kamu cukup kuat?”

“Nggak tahu.”

“Mari kita cari tahu.”

Ia menebas.

Tidak ada peringatan. Tidak ada kuda-kuda. Pedang awan itu bergerak, dan udara di balkon terbelah. Bukan menjadi dua. Menjadi tiga. Tiga tebasan dari tiga arah sekaligus, yang ia bilang butuh tiga puluh tahun untuk dikuasai. Tebasan yang tidak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan sebagai dingin yang tiba-tiba di kulit.

Aku sudah memanggil sakabatou sebelum tebasan pertama sampai. Kenshin lagi. Tapi bukan Kuzuryuusen.

Aku memikirkan jurus terakhir Hiten Mitsurugi-ryuu. Jurus yang hanya diajarkan dari guru ke murid sekali seumur hidup, di saat terakhir. Jurus yang membutuhkan satu hal yang lebih penting dari kecepatan: kemauan untuk hidup. Langkah kaki kiri yang maju ke depan, ke arah serangan lawan, bukan menjauh. Menyerang dengan seluruh tubuh, karena kalau gagal, tidak ada kesempatan kedua.

[Copy: Himura Kenshin — Hiten Mitsurugi-ryuu Ougi]

[Copy Complete]

Aku melangkah maju. Kaki kiri. Ke arah tiga tebasan awan yang datang.

“Amakakeru Ryu no Hirameki.”

Flash of the Heavenly Soaring Dragon.

Battoujutsu. Satu tarikan. Dari dalam sarung, lurus, secepat cahaya. Begitu cepat sampai udara di depan bilahku tersedot ke belakang, menciptakan ruang hampa, dan ketiga tebasan awan Archmaster tertarik masuk ke dalam ruang hampa itu, kehilangan arah, lalu buyar.

Sakabatou-ku berhenti satu jari dari dada Archmaster.

Klik.

Hening. Hanya angin.

Archmaster Ashgrove menatap pedang di depan dadanya. Lalu menatapku. Permennya berhenti di antara gigi.

“Langkah kaki kiri,” katanya pelan. “Kamu melangkah maju. Ke arah seranganku.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena jurus ini cuma berhasil kalau penggunanya mau hidup,” kataku. “Kalau penggunanya ragu, kalau dia mikir boleh mati, jurusnya gagal.”

Archmaster Ashgrove menatapku lama sekali.

Lalu pedang awannya memudar. Ia menyandarkan diri di pagar balkon, menghela napas panjang, dan untuk pertama kalinya, ia tampak sangat, sangat tua.

“Enam puluh tahun aku memimpin akademi ini,” katanya. “Dan aku tidak pernah bertanya soal putri-putri Valemont. Aku tahu ada sesuatu yang aneh. Setiap generasi, satu putri prodigy dengan dual attribute, yang meninggal muda karena penyakit keluarga. Aku tahu. Dan aku tidak bertanya. Karena bertanya berarti harus melakukan sesuatu.”

Ia menatapku.

“Pergilah ke Valemont, Nak. Tidak sekarang. Kamu butuh rencana. Kamu butuh teman. Tapi pergilah.” Ia memasukkan permen baru ke mulutnya. “Dan kalau Duke Valemont bertanya siapa yang mengizinkanmu, bilang Pedang Awan yang menyuruh.”


Malam itu aku bermimpi tentang ruang putih tanpa batas.

Tapi kali ini, mejanya berbeda.

Meja kayu imitasi yang sama. Monitor tabung yang sama. Papan kecil bertuliskan LOKET 3. Tapi tidak ada gelas kopi dingin. Tidak ada headset. Dan Operator, yang biasanya duduk menguap di balik meja, tidak duduk.

Ia berdiri. Di depan meja. Menungguku.

Rambut putih panjangnya tidak berantakan lagi. Disisir rapi, diikat di belakang. Matanya terbuka penuh. Untuk pertama kalinya, aku melihat warnanya. Abu-abu. Abu-abu seperti langit sebelum hujan.

Seperti mataku. Mata Kael.

“Bapak Kael,” katanya.

“Operator.”

Ia membungkuk. Dalam. Sangat dalam. Seperti Bram membungkuk di depan altar telur di hari keempat.

“Saya minta maaf,” katanya.

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

Ia menegakkan tubuh. Tapi matanya tidak menatapku. Matanya menatap monitor tabung di atas meja. Di layarnya, tulisan merah berkedip.

VALEMONT — SEAL INTEGRITY: 38%

“Seribu tahun lalu,” kata Operator pelan, “saya bukan dewa. Saya penjaga. Seperti pegawai loket. Saya bertugas memastikan jiwa-jiwa yang masuk ke Velmora ditempatkan dengan benar. Atasan saya adalah dewa yang menjaga dunia ini.”

“Dewa lama.”

“Dewa lama.” Ia mengangguk. “Ia mulai mengukur. Setiap jiwa diberi nilai sebelum lahir. Yang bernilai rendah dibuang ke tempat yang buruk. Yang bernilai tinggi dimanjakan. Dunia menjadi dingin. Saya melihatnya dari balik loket ini selama ratusan tahun. Saya memproses jutaan jiwa yang dibuang karena nilainya rendah.”

Ia mengangkat tangannya. Menatap telapaknya.

“Lalu suatu hari, saya tidak tahan lagi. Saya membelahnya. Cahaya dan Gelap. Dan saya mengambil tempatnya. Tapi saya tidak bisa menghancurkannya. Dewa tidak bisa dihancurkan. Hanya bisa disegel. Dan segel butuh wadah.”

“Keluarga Valemont.”

“Mereka menawarkan diri.” Suaranya pecah sedikit. “Saya menerima. Saya bilang pada diri sendiri: satu putri per generasi, demi seluruh dunia. Itu harga yang adil.” Ia tertawa, pendek, pahit. “Saya baru saja mengulangi apa yang dilakukan atasan saya. Mengukur. Memutuskan satu nyawa bernilai lebih rendah dari yang lain.”

Aku tidak bicara.

“Empat puluh delapan,” katanya. “Saya memproses empat puluh tujuh di antaranya di loket ini. Satu per satu. Setiap kali, saya bertanya pada diri sendiri apakah ada cara lain. Setiap kali, jawabannya tidak. Saya tidak bisa menyentuh segel itu tanpa membunuh wadahnya. Saya bagian dari sistem dunia ini. Apa pun yang saya lakukan dari dalam sistem, sistem akan membaca dan menolak.”

Ia menatapku untuk pertama kalinya.

“Saya butuh sesuatu dari luar sistem. Sesuatu yang tidak bisa diukur. Anomali.”

Jantungku berdebar keras.

“Waktu Anda datang ke loket saya,” katanya pelan, “jam tiga lewat dua belas pagi, dengan nomor antrean delapan juta, saya sudah lelah sekali. Saya sudah seribu tahun tidak tidur. Saya menguap bukan karena bosan, Bapak Kael. Saya menguap karena saya hampir menyerah.”

“Lalu aku minta skill copy jurus manga.”

“Lalu Anda meminta sesuatu yang tidak bisa diukur sistem.” Ada sesuatu di matanya. Bukan air mata. Dewa mungkin tidak bisa menangis. Tapi sesuatu yang mirip. “Saya tidak menganggapnya remeh. Saya bohong waktu itu. Saya menganggapnya mustahil. Imajinasi manusia dari dunia lain, dari miliaran orang yang membaca dan percaya, dimasukkan ke dalam satu jiwa. Itu tidak pernah terjadi di Velmora. Sistem tidak tahu harus berbuat apa dengannya. Rank-nya kosong. Kristal membacanya sebagai F.”

“Kamu sengaja masukin aku ke tubuh dengan pedang kosong.”

“Tubuh Kael Ashford kosong di malam yang sama,” katanya. “Itu bukan saya. Itu kebetulan. Atau mungkin bukan kebetulan. Saya tidak tahu lagi.” Ia menunduk. “Tapi saya yang memilih untuk tidak memberitahu Anda. Saya membiarkan Anda masuk tanpa tahu apa-apa. Tanpa tahu tentang Valemont. Tentang wadah. Tentang gadis yang akan Anda temui di hari pertama, yang akan bertanya apakah pedang Anda sakit.”

Ia membungkuk lagi.

“Saya menggunakan Anda, Bapak Kael. Seperti atasan Anda yang dulu menggunakan Anda. Seperti dunia ini menggunakan putri-putri Valemont. Saya minta maaf.”


Lama aku diam.

Ruang putih tanpa batas itu sunyi. Tidak ada suara apa pun. Hanya dengung samar dari monitor tabung, dan tulisan merah yang berkedip.

38%

“Operator,” kataku akhirnya.

Ia mengangkat kepala.

“Kamu tahu apa yang paling aku benci dari kerjaanku dulu?” tanyaku. “Bukan lemburnya. Bukan gajinya. Bukan bosnya.” Aku menatap monitor tabung itu. “Yang paling aku benci adalah aku nggak pernah tahu kerjaanku buat apa. Aku ngetes aplikasi jam tiga pagi, nemu bug, laporin, terus besoknya ada bug baru. Selamanya. Nggak pernah ada yang bilang ke aku: ini penting. Ini nyelametin seseorang.”

Aku menatapnya.

“Kamu baru aja bilang ke aku.”

Operator membeku.

“Kamu pakai aku,” kataku. “Oke. Tapi kamu pakai aku buat nyelametin seseorang. Seseorang yang tanya apa pedangku sakit. Itu pertama kalinya dalam dua hidupku, kerjaanku punya arti.” Aku menarik napas. “Aku nggak butuh permintaan maafmu. Aku butuh kamu kasih tahu aku caranya.”

“Saya tidak tahu caranya,” kata Operator pelan. “Itu kebenarannya. Saya tidak tahu apakah skill Anda cukup. Tidak ada yang pernah mencoba.”

“Kalau gitu kita coba.”

Ia menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tersenyum. Senyum kecil. Lelah. Tapi senyum.

“Satu hal,” katanya. “Satu hal yang saya tahu pasti.”

“Apa?”

“Di Velmora, Spirit lahir dari legenda. Dari kepercayaan. Semakin banyak orang yang percaya pada sebuah legenda, semakin kuat roh yang lahir darinya.” Ia menatap monitor tabungnya. “Pedang Anda kosong. Belum ada roh di dalamnya. Tapi Anda membawa legenda dari dunia lain. Legenda yang dipercaya miliaran orang.”

“Maksudnya?”

“Maksudnya, saya tidak tahu apa yang akan lahir dari pedang Anda,” kata Operator. “Kalau sesuatu lahir. Tapi waktu Anda memakai Bankai di alun-alun menara jam, saya melihat sesuatu di belakang Anda. Hanya sesaat. Dan monitor ini...” ia mengetuk layar tabung itu, “...untuk pertama kalinya dalam seribu tahun, menampilkan error.”

ERROR: ENTITY UNMEASURABLE

“Saya tidak tahu itu apa,” kata Operator. “Tapi saya tahu itu bukan dari Velmora. Dan saya tahu dewa lama tidak akan bisa mengukurnya.”


Aku bangun di ranjangku di asrama F jam tiga lewat dua belas pagi.

Seperti biasa. Jantung berdebar. Tangan meraba-raba.

Tapi kali ini aku tidak mencari ponsel.

Aku duduk di tepi ranjang, di dalam kegelapan, dan menatap bayanganku di lantai. Bayangan yang sekarang berisi tiga ratus empat puluh tujuh prajurit dan satu Elder Wyvern.

Di meja di samping ranjang, mangkuk kaca berisi Kael Kecil. Ia sedang tidur, mengambang diam di tengah air.

Di ranjang seberang, Bram mendengkur seperti mesin diesel yang bermimpi indah.

Valemont — Seal Integrity: 38%.

Saya tidak tahu apa yang akan lahir dari pedang Anda.

Aku memanggil pedang abu-abu. Diam-diam. Tanpa suara.

Pedang itu muncul di tanganku. Abu-abu. Polos. Bisu.

Dan untuk pertama kalinya sejak hari pertama, aku merasakannya lagi. Di bawah kulit telapak tanganku. Getaran halus. Berulang-ulang. Cepat dan tipis.

Seperti halaman-halaman buku yang dibalik oleh angin.

Aku memegang pedang itu sampai subuh.