Chapter Twenty Eight
Rahasia Keluarga Valemont
POV: Aurelia
Kamarku di kastil Valemont masih sama seperti waktu aku meninggalkannya lima bulan lalu.
Ranjang berkanopi biru dengan tirai sutra yang diikat pita perak. Lemari pakaian tinggi berisi gaun-gaun yang dipilih Ayah untuk setiap acara, disusun menurut warna. Meja rias dengan cermin berbingkai mawar, lebih kecil dari yang di Arcblade, tapi sama dinginnya. Jendela besar yang menghadap ke taman labirin di belakang kastil, tempat aku dulu berlatih pedang delapan jam sehari sampai telapak tanganku berdarah.
Semuanya rapi. Semuanya bersih. Semuanya persis di tempatnya.
Seolah tidak ada yang pernah tinggal di sini.
Aku bangun di ranjang itu tiga hari setelah alun-alun menara jam. Aku tidak ingat perjalanannya. Aku hanya ingat sepotong-sepotong. Suara Ayah, dalam dan pelan: Lepaskan putriku. Lengan yang memelukku mengencang, sekali, sebentar, lalu perlahan melepaskan. Lalu lengan lain, berbalut zirah perak yang dingin, mengangkatku ke atas kuda.
Dan suara Kael, dari jauh, makin jauh:
Aurelia. Janji kelingking. Ingat.
Aku mengangkat tangan kiriku dari selimut.
Retakan hitam itu sudah sampai ke tulang selangka. Aku bisa merasakannya di bawah kain baju tidur, dingin seperti logam, berdenyut pelan. Dari pergelangan tangan, naik ke lengan, ke bahu, ke leher bagian bawah. Bercabang-cabang. Seperti seseorang menggambar peta sungai hitam di kulitku.
Masih tidak sakit.
Di meja samping ranjang, ada botol kaca berisi cairan ungu. Lebih besar dari yang biasa kubawa ke Arcblade. Dua kali lebih besar. Di sampingnya, secarik kertas dengan tulisan tangan Ayah yang rapi dan melengkung:
Tiga kali sehari. Jangan lupa.
Tidak ada Ayah bangga. Tidak ada salam dari pangeran mana pun.
Hanya itu.
Ayah datang ke kamarku sore harinya.
Ia berdiri di ambang pintu, tidak masuk. Jas biru tua dengan lambang singa bersayap di dada. Rambut perak keabu-abuan disisir ke belakang. Mata emas yang sama seperti mataku, tapi lebih dingin. Lebih tua.
“Kamu sudah bangun,” katanya.
“Sudah, Ayah.”
“Kamu sudah minum obatnya?”
“Sudah.”
Ia mengangguk. Matanya bergerak ke lengan kiriku, yang kututup dengan selimut. Hanya sedetik. Lalu kembali ke wajahku.
“Kamu tidak akan kembali ke Arcblade,” katanya.
Aku diam.
“Archmaster Ashgrove sudah mengirim tiga surat. Aku tidak membalasnya. Anak itu, Rank F itu, sudah mengirim tujuh surat. Aku membakarnya.” Suaranya tidak berubah sedikit pun. “Kamu akan tinggal di kastil. Tabib akan memeriksamu setiap pagi. Kamu tidak akan melakukan Spirit Call lagi. Tidak akan berlatih pedang lagi. Tidak akan bertarung lagi.”
“Sampai kapan?”
Ayah tidak menjawab.
Ia hanya menatapku. Lama sekali. Dan untuk sesaat, sesaat yang sangat singkat, aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang retak. Seperti lenganku.
Lalu ia berbalik dan pergi.
Aku menatap pintu yang tertutup. Lalu menatap botol ungu di meja.
Sampai kapan.
Ia tidak menjawab karena ia tahu jawabannya.
Dan aku harus tahu juga.
Gudang pusaka keluarga Valemont terletak di bawah kastil. Tiga lantai di bawah ruang bawah tanah. Pintunya dari besi hitam setebal telapak tangan, dikunci dengan segel lilin biru yang hanya bisa dibuka oleh darah keturunan langsung Duke.
Aku keturunan langsung Duke.
Tidak ada yang pernah memberitahuku itu artinya aku bisa membukanya.
Jam dua pagi, aku turun ke ruang bawah tanah dengan lilin di tangan, memakai jubah tidur dan sweter krem dari Arcblade. Kakiku telanjang lagi. Aku tidak mau sepatu berbunyi di lantai batu.
Pintu besi hitam itu ada di ujung lorong terakhir. Segel lilin birunya berbentuk singa bersayap, sama seperti di setiap surat Ayah.
Aku menggigit ibu jari kananku sampai berdarah. Menekannya ke segel.
Segel itu meleleh. Seperti es di bawah matahari. Pintu besi berderit terbuka.
Aku membayangkan gudang pusaka penuh dengan pedang-pedang leluhur, baju zirah, piala perang, dan artefak sihir yang dikunci karena terlalu berbahaya. Seperti yang selalu Ayah katakan.
Ada semua itu. Di rak-rak di sepanjang dinding. Berdebu.
Tapi di tengah ruangan, di atas meja batu panjang, ada sesuatu yang lain.
Buku-buku. Puluhan. Disusun rapi berderet, dari yang paling tua di ujung kiri sampai yang paling baru di ujung kanan. Sampulnya kulit, berwarna biru tua, dengan lambang singa bersayap di setiap sampulnya. Dan di punggung setiap buku, sebuah nama ditulis dengan tinta emas.
Nama-nama perempuan.
Aku berjalan menyusuri meja batu itu, membaca nama-nama di punggung buku, satu per satu.
Seraphine Valemont. Isadora Valemont. Elara Valemont. Cassia Valemont. Rosalind Valemont.
Empat puluh tujuh nama. Aku menghitungnya. Empat puluh tujuh buku.
Di ujung kanan meja, buku terakhir. Nama di punggungnya ditulis dengan tinta yang masih baru:
Aurelia Valemont.
Bukunya kosong. Aku membukanya. Halaman-halamannya putih bersih, kecuali halaman pertama, yang berisi satu kalimat dalam tulisan tangan Ayah:
Wadah generasi keempat puluh delapan. Bangun pada usia dua belas.
Lilin di tanganku bergetar.
Aku menutup buku itu. Pelan-pelan. Lalu aku berjalan ke ujung kiri meja, ke buku paling tua, yang punggungnya sudah begitu usang sampai tinta emasnya hampir tidak terbaca.
Seraphine Valemont.
Aku membukanya.
Seraphine Valemont adalah salah satu dari tujuh pendiri Arcblade Academy, empat ratus tahun lalu.
Ia juga wadah pertama.
Ia menulis catatannya sendiri, dengan tulisan tangan yang kecil dan miring, dalam bahasa kuno yang untungnya pernah dipaksa Ayah untuk kupelajari waktu aku berumur sepuluh.
Seribu tahun yang lalu, sebelum Velmora punya nama, dunia ini dijaga oleh satu dewa. Dewa itu menjaga dengan baik pada awalnya. Lalu ia mulai mengukur. Ia mengukur setiap manusia, setiap jiwa, setiap senjata. Ia menentukan siapa yang berharga dan siapa yang tidak, sejak sebelum mereka lahir. Dunia menjadi dingin. Yang lemah dibuang. Yang kuat diangkat.
Lalu datang penjaga baru. Seseorang dari luar dunia ini, yang tidak punya nama, yang hanya menyebut dirinya Penjaga Loket. Ia membelah dewa lama itu menjadi dua bagian, Cahaya dan Gelap, dan menyegelnya.
Tapi dewa tidak bisa disegel di dalam batu saja. Ia butuh wadah yang hidup. Darah yang mengalir. Jantung yang berdetak.
Keluarga Valemont menawarkan diri. Satu putri setiap generasi. Sebagai gantinya, keluarga kami diberi kekuatan, kehormatan, dan tempat di antara tujuh pendiri. Dan tujuh batu segel dipasang di bawah akademi yang kami bangun, untuk memperkuat segel di dalam darah kami.
Selama tujuh batu itu utuh, wadah akan tetap tertutup. Ia akan hidup normal. Ia bahkan akan dianugerahi bakat, karena bocoran kekuatan dewa itu mengalir ke dalam senjatanya. Cahaya dan Gelap. Dual attribute.
Tapi setiap kali wadah melakukan Spirit Call dengan kekuatan penuh, segelnya akan retak. Dan ketika retakan itu mencapai jantung, segel akan pecah, wadah akan mati, dan dewa itu akan mencari wadah baru di generasi berikutnya.
Tidak ada wadah yang hidup melewati usia dua puluh lima.
Lilin di tanganku bergetar terlalu keras. Lelehan lilin menetes ke jari-jariku. Panas. Aku tidak melepaskannya.
Aku membalik halaman.
Halaman terakhir buku Seraphine, ditulis dengan tulisan tangan yang lebih goyah:
Aku berumur dua puluh tiga. Retakannya sudah di leher. Aku tidak menyesal. Keluargaku akan hidup dalam kehormatan selamanya.
Tapi aku ingin, sekali saja, ada yang bertanya apakah aku kesakitan.
Aku membaca semuanya. Empat puluh tujuh buku. Sampai lilinku habis dan aku harus menyalakan lilin baru dari lentera di dinding.
Isadora, wadah kedua, meninggal di usia dua puluh. Elara, dua puluh dua. Cassia, dua puluh empat. Rosalind, sembilan belas.
Setiap buku punya pola yang sama. Bangun di usia dua belas. Dianugerahi dual attribute, Cahaya dan Gelap. Dipuja sebagai prodigy. Dikirim ke Arcblade. Bersinar. Lalu retakan pertama. Lalu obat ungu. Lalu retakan yang menjalar.
Obat ungu.
Di buku Cassia, wadah ketiga puluh dua, aku menemukan catatan tentang itu. Ditulis bukan oleh Cassia, tapi oleh ayahnya, Duke Valemont dua ratus tahun lalu.
Tabib keluarga telah meracik obat baru. Obat ini tidak memperlambat retakan. Tidak ada yang bisa memperlambat retakan. Tapi obat ini menghilangkan rasa sakitnya. Wadah tidak akan merasakan apa pun, sampai akhir.
Dengan begitu, ia bisa tetap bersinar. Tetap bertarung. Tetap menjadi kebanggaan keluarga. Sampai saatnya tiba.
Ini adalah kasih sayang terbesar yang bisa kuberikan.
Aku menutup buku itu.
Aku duduk di lantai gudang pusaka, bersandar di kaki meja batu, dengan buku Cassia di pangkuanku dan lilin di sampingku.
Retakan di tanganku tidak sakit.
Bukan karena retakan itu tidak berbahaya.
Karena obatnya membuatku tidak merasakan apa pun. Sampai akhir.
Jangan lupa minum obatmu.
Ayah menulis kalimat itu di setiap akhir surat. Selama lima tahun. Aku selalu mengira itu kalimat kasih sayang yang canggung, satu-satunya cara Ayah bilang ia peduli.
Ternyata memang begitu.
Itu memang kalimat kasih sayang. Kasih sayang yang membuat putrinya bersinar sampai mati tanpa merasakan sakit sedikit pun.
Aku menekan wajahku ke lutut.
Valemont tidak menangis.
Aku tidak menangis.
Aku hanya duduk di sana, di lantai batu yang dingin, memeluk lutut, dengan bahu yang bergetar dan napas yang tidak mau teratur, dan sesuatu yang basah dan hangat mengalir dari mataku ke lutut, ke kain sweter krem dari Arcblade, ke saku tempat aku menyimpan kertas-kertas kecil bertanda A. dan K.
Buku terakhir yang kubaca sebelum fajar adalah buku wadah keempat puluh tujuh.
Liselle Valemont.
Bibiku. Adik Ayah. Aku tidak pernah bertemu dengannya. Ayah tidak pernah menyebut namanya. Di kastil tidak ada lukisannya. Di taman tidak ada makamnya. Aku hanya tahu ia pernah ada karena seorang pelayan tua pernah keceplosan menyebut Nona Liselle waktu aku masih kecil, lalu buru-buru minta maaf dan tidak pernah menyebutnya lagi.
Buku Liselle berbeda dari yang lain.
Bukan catatan. Surat. Puluhan surat, ditulis Liselle untuk seseorang. Seorang laki-laki. Ksatria pengawal keluarga, anak pandai besi dari desa di kaki bukit, bernama Tomas.
Tomas, hari ini aku menang turnamen lagi. Kamu lihat dari tribun? Aku melambai padamu. Ayah marah karena aku melambai pada ksatria.
Tomas, retakannya sudah sampai siku. Aku tidak bilang padamu. Aku tidak mau kamu khawatir.
Tomas, kamu melamarku hari ini. Di taman labirin. Dengan cincin dari besi yang kamu tempa sendiri. Aku bilang iya. Aku seharusnya bilang tidak. Tapi aku bilang iya.
Tomas, retakannya sudah di bahu. Pernikahan kita tiga bulan lagi. Aku akan bertahan. Aku janji.
Surat terakhir. Tulisan tangannya hampir tidak terbaca, goyah, seperti ditulis dengan tangan yang sangat lemah.
Tomas.
Aku tidak akan sampai ke hari pernikahan. Aku tahu sekarang. Retakannya sudah di leher.
Aku menyesal bilang iya. Bukan karena aku tidak mencintaimu. Karena aku mencintaimu. Sekarang kamu harus menunggu. Kamu akan menunggu di depan makamku. Aku kenal kamu. Kamu tidak akan pernah berhenti menunggu.
Aku seharusnya tidak membuat seseorang menunggu orang yang tidak akan lama.
Kalau ada wadah setelah aku, siapa pun dia, aku harap dia lebih bijak dariku. Jangan biarkan seseorang mencintaimu. Jangan biarkan seseorang menunggumu.
Maafkan aku, Tomas.
— L.
Di bawah surat itu, di halaman terakhir buku, ada satu catatan dengan tulisan tangan yang lain. Tulisan tangan Ayah. Lebih muda. Lebih goyah.
Liselle meninggal tiga bulan sebelum pernikahannya, di usia dua puluh empat. Tomas menolak pergi dari makamnya. Ia menunggu di sana setiap hari. Musim dingin, musim panas, hujan, salju. Dua puluh tahun. Sampai ia sendiri meninggal di sana.
Aku memindahkan makam Liselle ke tempat yang tidak bisa ditemukan siapa pun. Aku menghapus namanya dari kastil.
Supaya putriku, kalau ia ternyata wadah berikutnya, tidak perlu tahu.
Fajar menyusup dari jendela kecil di langit-langit gudang pusaka. Cahaya kelabu, tipis, jatuh di atas meja batu dan empat puluh delapan buku biru tua.
Aku duduk di lantai, buku Liselle di pangkuanku, dan memikirkan Kael.
Memikirkan meja kantor jam tiga pagi. Memikirkan nggak ada yang nungguin aku pulang. Memikirkan janji kelingking kami. Semuanya. Soal dua hidup. Soal QA.
Memikirkan wajahnya waktu aku bilang ada aku.
Ia sudah pernah mati tanpa ada yang menunggu. Dan sekarang, untuk pertama kalinya dalam dua hidupnya, ia punya seseorang untuk ditunggu.
Aku.
Wadah generasi keempat puluh delapan. Yang retakannya sudah sampai di tulang selangka. Yang tidak akan hidup melewati usia dua puluh lima.
Jangan biarkan seseorang menunggumu.
Aku memeluk buku Liselle di dadaku.
Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti kenapa Ayah membakar tujuh surat dari Kael tanpa membacanya.
- 1 Jam Tiga Pagi
- 2 Pedang yang Tidak Bersuara
- 3 Water Surface Slash
- 4 Teman Sekamar yang Menyembahku
- 5 Perpustakaan Jam Malam
- 6 Hutan Latihan
- 7 Gosip Satu Koin
- 8 Mata Pedang Terbalik
- 9 Kenapa Kamu Tidak Pakai Atribut?
- 10 Pelatihan Neraka Profesor Ingrid
- 11 GETSUGAAA TENSHOU
- 12 Rumor Rank F Terkutuk
- 13 Limiter Lepas
- 14 Undangan Turnamen Lima Akademi
- 15 Gaun Biru di Pesta Pembukaan
- 16 Tiga Pedang di Mulut
- 17 Cedric Minta Tanding Ulang (Lagi)
- 18 Enam Belas Tebasan
- 19 Hadiah yang Ia Minta
- 20 Kota Festival Lentera
- 21 Godspeed
- 22 Retakan di Pergelangan Tangan
- 23 Pedang Pembunuh Sihir
- 24 Surat dari Valemont
- 25 Dead Calm
- 26 Pengakuan di Atap
- 27 BANKAI
- 28 Rahasia Keluarga Valemont reading
- 29 Dia Menjauh Karena Sayang
- 30 Arise
- 31 Operator Minta Maaf
- 32 Ayah yang Ingin Putrinya Bersinar
- 33 Tiga Ribu Dunia
- 34 Malam Sebelum Gerhana
- 35 Hinokami Kagura
- 36 Wadah yang Terbuka
- 37 Mugetsu
- 38 Pedang Kosong Itu Akhirnya Bersuara
- 39 All Heroes Assemble
- 40 Hanya Aurelia
- 41 Epilog — Kali Ini Ada yang Menunggu