Chapter Sixteen
Tiga Pedang di Mulut
POV: Kael
Aturan Turnamen Lima Akademi ditulis di gulungan perkamen sepanjang lenganku, dan Nina membacakannya untuk kami di ruang tunggu tim Arcblade seperti seorang pendeta membaca kitab suci.
“Babak grup,” katanya. “Tiga hari. Setiap perwakilan bertarung satu lawan satu melawan perwakilan dari akademi lain. Menang dapat tiga poin, seri satu, kalah nol. Lima peserta dengan poin tertinggi masuk babak gugur. Babak gugur tiga hari. Final di hari ketujuh.” Ia membalik gulungan. “Soul weapon boleh. Atribut boleh. Spirit Call dilarang sampai final.”
“Kenapa dilarang sampai final?” tanya Bram, yang sedang mengupas kentang di pojok ruangan. Ia sudah mengubah ruang tunggu tim menjadi dapur darurat. Panitia sudah dua kali datang menegur. Dua kali mereka pulang membawa sepiring kentang goreng dan tidak kembali lagi.
“Karena dua puluh tahun lalu,” kata Garrick, kapten kami, sambil mengasah ujung tombak batunya, “ada peserta dari Kragheim yang melakukan Spirit Call dan memanggil roh banteng raksasa di babak pertama. Bantengnya mengamuk dan menghancurkan setengah tribun. Sejak itu, roh hanya boleh di final, dan finalnya dipindah ke arena yang lebih kuat.”
“Arena yang lebih kuat,” gumamku.
Seluruh ruangan menoleh ke arahku.
“Apa?”
“Kamu,” kata Selene, kepang pirangnya bergoyang waktu ia memiringkan kepala, “menghancurkan arena Arcblade tanpa Spirit Call.”
“Itu kecelakaan.”
“Tembok luar arena Arcblade masih ditutup terpal,” kata Cedric, tidak mengangkat kepala dari pedang api yang sedang ia poles. “Itu bukan kecelakaan. Itu bencana.”
Aurelia, duduk di kursi di sebelahku dengan seragam tempur Arcblade, tidak bicara. Tapi bahunya bergetar sedikit, seperti menahan tawa.
Lawan pertamaku dari Kragheim Academy.
Kragheim adalah akademi di pegunungan utara, dan menurut Nina, siswa-siswanya dilatih dengan cara yang membuat Kolam Batu Profesor Ingrid terlihat seperti pemandian air hangat. Mereka berlatih di salju, tidur di gua, dan konon sarapan dengan batu.
“Sarapan batu?” tanya Bram, ngeri.
“Kiasan,” kata Nina. “Mungkin.”
Lawanku bernama Torvald Hask. Rank A, atribut Earth, tinggi dua meter lebih, dengan janggut cokelat lebat dikepang dua dan otot lengan sebesar paha orang biasa. Soul weapon-nya sepasang kapak bermata ganda, masing-masing sebesar daun pintu. Waktu ia memanggilnya, dengungnya terdengar seperti tanah longsor yang marah.
Arena Solmere jauh lebih besar dari arena Arcblade. Lapangannya berlapis batu putih yang diperkuat sihir, dan tribunnya menampung sepuluh ribu orang. Hari ini penuh. Bendera lima akademi berkibar di puncak-puncak menara arena: biru Arcblade, emas Solmere, abu-abu Kragheim, hijau Veylin, dan merah laut Tidecrest.
“Perwakilan Arcblade, Kursi Rakyat,” seru pembawa acara, suaranya diperbesar sihir angin. “Kael Ashford. Rank... F.”
Sepuluh ribu orang tertawa.
Sebagian besar dari mereka belum pernah mendengar tentang Getsuga Tenshou. Mereka hanya mendengar bahwa Arcblade, akademi tertua di benua, mengirim Rank F ke turnamen karena pemungutan suara lelucon. Di tribun Kragheim, para siswa berambut cepak itu tertawa paling keras.
Torvald Hask tidak tertawa. Ia memandangiku dengan mata kecil yang serius.
“Aku tidak suka bertarung melawan anak lemah,” katanya. Suaranya dalam dan pelan. “Menyerah sekarang, dan aku tidak akan melukaimu.”
“Terima kasih,” kataku jujur. “Tapi aku belum mau menyerah.”
“Hm.” Ia mengangguk sekali, seperti menghormati keputusanku. “Kalau begitu, maaf.”
“Mulai!”
Torvald menyerang seperti longsoran.
Kedua kapaknya berputar, kiri dan kanan bergantian, setiap ayunan cukup kuat untuk membelah pohon ek. Batu putih arena retak di setiap langkahnya. Debu mengepul.
Aku memanggil pedang abu-abu dan mundur, menghindar, menghindar, menghindar.
Satu pedang tidak akan cukup. Dua kapak, dua arah serangan, kekuatan gunung. Aku butuh sesuatu yang bisa menahan kekuatan dari dua sisi sekaligus, dan membalas dengan kekuatan yang lebih besar.
Aku butuh tiga pedang.
Aku memikirkan Zoro lagi. Tapi kali ini bukan Zoro dengan satu pedang. Zoro yang sesungguhnya. Zoro yang membawa tiga katana di pinggangnya, memegang satu di tangan kanan, satu di tangan kiri, dan satu, demi semua dewa di Loket 3, di mulutnya.
[Copy: Roronoa Zoro — Santoryu]
[Copy Complete]
Pedang abu-abuku pecah menjadi tiga.
Satu menjadi Wado Ichimonji putih di tangan kiri. Satu menjadi Sandai Kitetsu, bilah bergelombang dengan gagang bermotif merah, di tangan kanan. Dan yang ketiga, Shusui, katana hitam legendaris dengan bilah gelap seperti malam, melayang di depan wajahku.
Aku menggigit gagangnya.
Sepuluh ribu orang berhenti tertawa.
Rasanya aneh. Gagang kayu berbalut kain di antara gigiku, bilah sepanjang lengan menjulur keluar dari sisi mulutku, berat di rahang. Bagaimana Zoro bisa bicara dan berteriak dengan pedang di mulut? Aku tidak tahu. Tapi skill ini tidak bertanya. Rahangku terkunci, kokoh, seolah aku sudah melakukannya seumur hidup.
Di tribun Arcblade, Bram berdiri, menatapku, dan wajahnya perlahan berubah putih.
“Kael,” katanya pelan. “Kael, ada pedang di mulutmu.”
Lalu ia pingsan. Jatuh ke belakang, menimpa dua siswa Veylin yang duduk di barisan belakangnya.
“Bram!” teriak Mira.
“Dia nggak apa-apa,” kata Tobias, memeriksa nadinya dengan tangan gemetar. “Cuma... syok budaya.”
Di lapangan, Torvald Hask berhenti menyerang. Ia memandangi tiga pedangku. Matanya yang kecil menyipit, lalu, perlahan, melebar.
“Kamu,” katanya, “punya tiga soul weapon?”
Aku tidak bisa menjawab karena ada pedang di mulutku. Jadi aku hanya mengangguk sedikit, hati-hati, supaya Shusui tidak mengenai hidungku sendiri.
Torvald tersenyum. Senyum pertama yang kulihat di wajahnya. Senyum orang yang akhirnya menemukan lawan yang layak.
“Bagus,” katanya. “Aku tarik kembali permintaan maafku.”
Ia menyerang lagi. Kali ini dengan sungguh-sungguh. Kedua kapaknya bersinar cokelat keemasan, Arte atribut Earth, dan setiap ayunan diikuti gelombang batu yang menyembur dari lantai arena.
Aku menyilangkan kedua pedang di tanganku di depan dada, membentuk huruf X. Shusui di mulutku miring ke samping, sejajar dengan keduanya.
Torvald melompat tinggi, kedua kapak terangkat, turun dengan seluruh berat tubuhnya.
Aku melesat ke depan, di bawahnya, melewatinya.
Dengan suara yang teredam karena pedang di mulut, tapi tetap terdengar sampai tribun teratas:
“Santoryu... Oni Giri!”
Demon Slash.
Tiga bilah, satu tebasan. Tangan kiri dan kanan menebas menyilang, Shusui di mulut menebas lurus di tengahnya, ketiganya bertemu di satu titik di udara, tepat di tempat kedua kapak Torvald turun.
Bunyinya seperti tiga gong dipukul bersamaan.
Kedua kapak Torvald terlempar dari tangannya. Berputar di udara. Satu menancap di dinding arena. Satu lagi menancap di lantai, setengah bilahnya terbenam di batu putih.
Torvald mendarat di belakangku, berlutut, tangan kosong.
Aku berbalik. Tiga pedang masih terangkat.
Torvald menatap kedua tangannya. Lalu menatapku.
“Lagi,” katanya, dan memanggil ulang kapaknya.
Aku menghela napas melalui hidung, karena mulutku penuh.
Kali ini ia menyerang dari jauh. Ia menghentakkan kakinya, dan dari lantai arena, puluhan pilar batu menyembur ke atas di sekelilingku, membentuk sangkar. Lalu ia melompat ke atas salah satu pilar dan turun dari atas, kedua kapak berputar seperti baling-baling.
Aku memutar tubuhku. Rendah. Kedua tangan terentang. Shusui di mulut sejajar bahu.
“Santoryu... Tora Gari!”
Tiger Hunt.
Aku melompat ke atas, menyongsong Torvald yang turun, dan ketiga pedangku menebas dari atas ke bawah secara bersamaan, seperti cakar harimau yang menerkam.
Kami bertemu di udara.
Kapak-kapaknya terlempar lagi. Kali ini, tubuh Torvald ikut terlempar, jatuh menghantam salah satu pilar batunya sendiri, yang hancur menimpanya.
Pilar-pilar batu lain di sekitarku runtuh satu per satu, seperti domino.
Debu mengepul. Lalu perlahan menipis.
Torvald Hask duduk di tengah reruntuhan batunya, kepalanya penuh debu, janggut kepangnya terurai. Ia mengangkat satu tangan.
“Aku menyerah,” katanya. Lalu, lebih pelan: “Itu luar biasa.”
Aku melepaskan ketiga pedangku. Shusui keluar dari mulutku terakhir, dan aku langsung menggerak-gerakkan rahangku yang pegal.
“Terima kasih,” kataku. “Rahangku sakit.”
Torvald tertawa. Tawa dalam yang menggelegar.
“Pemenang,” seru pembawa acara, suaranya pecah, “Kael Ashford. Arcblade. Rank... F?”
Ia mengatakannya seperti pertanyaan.
Sepuluh ribu orang tidak tertawa kali ini. Mereka diam. Lalu satu per satu, dimulai dari tribun Kragheim, tempat siswa-siswa berambut cepak itu berdiri dan mengangkat kepalan tangan ke udara sebagai penghormatan, tepuk tangan mulai terdengar.
Pertandinganku berikutnya di hari kedua melawan perwakilan dari Veylin, akademi di hutan barat. Lawanku seorang gadis berambut hijau bernama Liora Thorne, Rank A, atribut Wind, dengan busur panjang yang anak panahnya bisa berbelok di udara.
“Rank F,” katanya sambil tersenyum manis waktu kami bersalaman. “Aku sudah lihat pertandinganmu kemarin. Aku tidak akan mendekat. Aku akan menembakmu dari jauh sampai kamu tidak bisa berdiri.”
“Itu strategi yang bagus,” kataku jujur.
“Aku tahu.”
Ia benar-benar tidak mendekat. Begitu wasit berteriak mulai, ia melompat mundur ke sudut terjauh arena dan mulai menembak. Anak panah angin melesat ke arahku, puluhan, berbelok di udara, menyerang dari kiri, kanan, atas, belakang.
Tiga pedang Zoro tidak akan cukup cepat untuk ini.
Aku butuh api. Api yang bergerak seperti kilat.
Aku memikirkan seorang pria berambut kuning keemasan dengan ujung merah menyala, alis bercabang, mata yang selalu menatap lurus ke depan dengan semangat yang tidak pernah padam. Hashira Api. Yang bertarung sampai napas terakhir di atas kereta, melindungi lebih dari dua ratus penumpang, dan meninggal dengan senyum. Rengoku Kyojuro.
Aku pernah menangis menonton film itu. Di bioskop, sendirian, jam sebelas malam, di kursi paling belakang.
[Copy: Rengoku Kyojuro — Flame Breathing]
[Copy Complete]
Bilahku berubah. Merah menyala, dengan pelindung tangan berbentuk nyala api. Dan untuk pertama kalinya sejak aku punya skill ini, pedangku tidak bergemericik, tidak berdesir. Pedangku meraung. Seperti tungku yang dibuka lebar.
Anak-anak panah angin Liora berbelok ke arahku dari enam arah.
Aku menarik napas. Napas yang panas. Napas yang membakar dari dalam.
Aku melesat ke depan.
“Flame Breathing,” kataku. “First Form.”
Bukan melesat. Meledak. Kakiku menghantam lantai, dan aku meluncur lurus ke depan dalam garis api, membelah udara, membakar setiap anak panah yang melintas di jalurku menjadi abu sebelum menyentuh tubuhku.
“Shiranui!”
Unknowing Fire.
Dalam satu kedipan mata, aku melintasi seluruh panjang arena dan berhenti tepat di depan Liora. Ujung pedang apiku berhenti satu jari dari busurnya.
Di belakangku, jejak api lurus membelah arena, membakar batu putih menjadi hitam.
Liora menatap pedangku. Lalu menatap jejak api di belakangku. Lalu menatapku.
“Kamu bilang strategiku bagus,” bisiknya.
“Memang bagus,” kataku. “Cuma aku lebih cepat.”
Ia menurunkan busurnya. Pelan-pelan. Lalu, entah kenapa, ia tertawa kecil.
“Aku menyerah,” katanya. “Tapi aku mau tahu satu hal. Dari mana kamu belajar teknik api seperti itu? Atributmu nggak ada.”
Aku memikirkan pria berambut kuning merah itu. Yang berteriak bakar hatimu kepada anak-anak yang ia lindungi, sebelum ia sendiri terbakar habis.
“Dari seorang pahlawan,” kataku. “Yang nggak pernah berhenti tersenyum, bahkan waktu kalah.”
Malam kedua di Solmere, aku duduk di balkon penginapan tim Arcblade, memandangi lampu-lampu kota.
Dua pertandingan, dua kemenangan. Enam poin. Di papan klasemen di alun-alun kota, namaku sekarang ada di urutan ketiga, di bawah Aurelia dan seorang Rank S dari Tidecrest bernama Ravel Kain. Di bawahku, Pangeran Aldren.
Pintu balkon terbuka. Aurelia keluar, membawa dua cangkir teh. Ia menyerahkan satu padaku tanpa bicara, lalu berdiri di sebelahku di pagar.
Kami minum teh dalam diam. Sejak malam pesta, kami tidak membicarakan apa yang terjadi di balkon Aula Kristal. Tapi setiap kali kami berdiri bersebelahan, jarak di antara kami sedikit lebih kecil dari sebelumnya.
“Tiga pedang,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Satu di mulut.”
“Iya.”
“Bram masih belum bangun sepenuhnya. Tadi sore ia makan malam sambil bergumam pedang di mulut, pedang di mulut.”
“Aku harus minta maaf ke dia.”
“Nggak usah.” Aurelia meniup tehnya. “Nina sudah menjual cerita Bram pingsan ke semua akademi. Tiga koin. Laku dua ratus.”
Aku tertawa.
Aurelia tidak tertawa. Ia menatap cangkirnya. Uap tipis naik dari permukaan teh, menyentuh wajahnya.
“Pertandinganku besok,” katanya. “Melawan Ravel Kain. Tidecrest.”
“Kamu pasti menang.”
“Mungkin.” Ia diam sebentar. “Kael.”
“Hm?”
“Kalau aku kalah besok,” katanya pelan, “jangan kaget.”
Aku menoleh ke arahnya. Ia tidak menoleh balik.
Di bawah cahaya dua bulan, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Dan tangannya, yang memegang cangkir teh, lagi-lagi sedikit gemetar.
“Kenapa kamu bakal kalah?” tanyaku.
Ia tidak menjawab.
Ia hanya meneguk tehnya sampai habis, menaruh cangkirnya di pagar balkon, dan masuk kembali ke dalam tanpa bicara lagi.
Aku memandangi cangkir kosong itu lama.
Di pinggir cangkir, di tempat bibirnya menyentuh porselen, ada noda kecil. Bukan noda teh. Warnanya lebih gelap. Merah kecokelatan.
Aku mengambil cangkir itu. Memeriksanya di bawah cahaya bulan.
Lalu aku membuka tiket VALEMONT di kepalaku dan menambahkan satu baris baru.
Bukti: ada darah di cangkir teh.
Aku tidak menulis severity-nya.
Aku sudah tahu jawabannya, dan aku tidak suka.
- 1 Jam Tiga Pagi
- 2 Pedang yang Tidak Bersuara
- 3 Water Surface Slash
- 4 Teman Sekamar yang Menyembahku
- 5 Perpustakaan Jam Malam
- 6 Hutan Latihan
- 7 Gosip Satu Koin
- 8 Mata Pedang Terbalik
- 9 Kenapa Kamu Tidak Pakai Atribut?
- 10 Pelatihan Neraka Profesor Ingrid
- 11 GETSUGAAA TENSHOU
- 12 Rumor Rank F Terkutuk
- 13 Limiter Lepas
- 14 Undangan Turnamen Lima Akademi
- 15 Gaun Biru di Pesta Pembukaan
- 16 Tiga Pedang di Mulut reading
- 17 Cedric Minta Tanding Ulang (Lagi)
- 18 Enam Belas Tebasan
- 19 Hadiah yang Ia Minta
- 20 Kota Festival Lentera
- 21 Godspeed
- 22 Retakan di Pergelangan Tangan
- 23 Pedang Pembunuh Sihir
- 24 Surat dari Valemont
- 25 Dead Calm
- 26 Pengakuan di Atap
- 27 BANKAI
- 28 Rahasia Keluarga Valemont
- 29 Dia Menjauh Karena Sayang
- 30 Arise
- 31 Operator Minta Maaf
- 32 Ayah yang Ingin Putrinya Bersinar
- 33 Tiga Ribu Dunia
- 34 Malam Sebelum Gerhana
- 35 Hinokami Kagura
- 36 Wadah yang Terbuka
- 37 Mugetsu
- 38 Pedang Kosong Itu Akhirnya Bersuara
- 39 All Heroes Assemble
- 40 Hanya Aurelia
- 41 Epilog — Kali Ini Ada yang Menunggu