Chapter Forty One
Epilog — Kali Ini Ada yang Menunggu
POV: Kael
Jam saku di tanganku menunjukkan 03.12.
Aku membelinya di pasar Solmere enam bulan lalu. Jam saku perak murah dengan tutup yang agak penyok, dari seorang pedagang tua yang bersumpah jam itu tidak pernah terlambat satu menit pun dalam tiga puluh tahun. Ternyata jam itu terlambat dua menit, sama seperti menara jam Arcblade. Aku tidak mengembalikannya. Rasanya cocok.
Aku tahu persis angkanya karena aku sedang menatapnya, berdiri di depan gerbang utara Arcblade Academy, di bawah dua bulan yang terpisah jauh di langit. Bulan besar di timur. Bulan kecil di barat.
Tiga minggu aku pergi.
Misi gabungan Arcblade dan Tidecrest di pesisir selatan. Ada monster laut yang mulai muncul di dekat desa-desa nelayan setelah gerhana. Ravel Kain yang meminta bantuan. Ia bilang Leviathan-nya terlalu malas untuk menangani semuanya sendirian. Aku tidak tahu itu benar atau tidak. Leviathan memang malas. Ravel lebih malas.
Kami membereskan empat belas monster dalam tiga minggu. Elder Wyvern bayanganku menangani tujuh. Myriad tidak perlu dipanggil sekali pun.
Aku melangkah melewati gerbang.
Akademi sunyi. Menara-menara beratap biru, gelap dan tidur. Jembatan-jembatan batu di ketinggian. Arena utama dengan dinding luarnya yang akhirnya sudah diperbaiki, walaupun parit lurus di tengah lapangannya sengaja tidak ditutup. Archmaster bilang itu sekarang monumen sejarah. Nina menjual tiket untuk melihatnya.
Di kehidupanku yang dulu, jam tiga lewat dua belas pagi berarti aku sedang duduk di meja kantor, di bawah satu-satunya lampu yang menyala di seluruh lantai, menunggu build selesai.
Di sini, jam tiga lewat dua belas pagi berarti aku sedang berjalan pulang.
Aku melewati asrama F. Gelap. Bram pasti sedang mendengkur. Di jendela kamar kami, ada sesuatu yang ditempel di kaca, dari dalam. Kertas besar. Tulisannya dengan huruf arang yang berantakan.
SELAMAT DATANG KEMBALI YANG MULIA. TELURNYA ADA DI LEMARI. JANGAN MAKAN YANG KUNINGNYA PECAH, ITU PUNYAKU.
Aku tersenyum.
Aku melewati menara bangsawan. Satu jendela di lantai paling atas, yang dulu selalu menyala sampai larut malam, sekarang gelap.
Aku berhenti.
Lalu aku mendongak ke arah menara barat.
Perpustakaan.
Di lantai tiga, di jendela besar di sudut, satu lampu menyala.
Pak Grumm membukakan pintu sebelum aku sempat mengetuk.
Ia berdiri di ambang pintu, tiga meter batu, buku puisi di satu tangan. Mata batunya berkilat di bawah cahaya lampu kristal di dalam.
“Anak muda,” katanya. Suaranya seperti kerikil diaduk dalam ember.
“Pak Grumm.”
“Ia menunggu sejak jam sebelas.” Ia menyingkir dari pintu. “Ia bilang kamu akan pulang jam sepuluh. Ia bilang kamu sudah janji di surat terakhir.”
“Kapalnya telat.”
“Aku tahu.” Pak Grumm menutup buku puisinya. “Empat ratus tahun aku menjaga perpustakaan ini. Aku sudah melihat banyak orang menunggu di meja itu.” Ia diam sebentar. “Yang ini, aku suka melihatnya.”
Aku naik tangga spiral. Pelan. Supaya lantai kayu tidak berderit.
Lantai kayu berderit di anak tangga ketujuh. Seperti biasa.
Tidak ada yang mengangkat kepala.
Aurelia tertidur di meja.
Kepalanya bersandar di atas lengannya yang terlipat, di atas tumpukan buku sejarah yang terbuka. Rambut peraknya, yang sekarang dipotong sebahu karena katanya rambut panjang mengganggu latihan Rank B, jatuh menutupi sebagian wajahnya. Ujung-ujungnya masih gelap. Tidak sehitam dulu. Abu-abu tua, seperti bekas tinta yang sudah luntur.
Ia memakai sweter krem. Sweter baru. Dengan saku yang lebih besar.
Di tengah meja, mangkuk kaca berisi Kael Kecil. Ikan mas itu sudah dua kali lebih besar sekarang. Bram terlalu sering memberinya remah roti. Ia sedang tidur, mengambang diam di tengah air, tapi waktu bayanganku jatuh di atas mangkuknya, ia membuka mata dan berenang ke dinding kaca, menatapku.
Blup.
Di samping mangkuk, secarik kertas kecil. Dilipat dua.
Aku membukanya.
Kamu telat empat jam.
Meja ini terlalu besar.
— A.
Di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil dan lebih miring, seperti ditulis dengan mata setengah terpejam:
Bangunin aku kalau sudah sampai.
Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku jaketku. Bersama kertas-kertas kecil lain. Bersama cincin besi Tomas, yang sudah setahun kusimpan di saku yang sama.
Lalu aku menarik kursi di seberangnya. Pelan.
Aku tidak membangunkannya dulu.
Aku duduk. Menatapnya.
Lampu kristal di atas kami melayang rendah, menerangi wajahnya yang setengah tertutup rambut. Napasnya pelan dan teratur. Di pergelangan tangan kirinya, yang menjuntai dari tepi lengan sweter, garis perak tipis itu berkilau samar. Seperti sungai kecil yang digambar dengan tinta yang hampir habis.
Satu tahun.
Satu tahun sejak gerhana. Sejak naga halaman dan pedang. Sejak Final Volume. Sejak ia membuka mata di punggung Myriad dan bilang kamu telat lagi.
Satu tahun ia tidak pernah lagi berbohong waktu aku bertanya apakah ia baik-baik saja.
Musim dingin lalu, kami pulang ke Valemont untuk liburan. Aku memotong apel jadi delapan kelinci untuk Duke Valemont, yang memakannya dalam diam dan meminta dua apel lagi. Lalu, di ruang kerjanya, Aurelia membuka buku biru tua yang disimpan ayahnya di laci. Buku dengan namanya di punggung. Ia membaca kalimat yang ditulis ayahnya di bawah Wadah generasi keempat puluh delapan, lalu menutup buku itu, dan tidak memberitahuku isinya selama tiga hari.
Di malam ketiga, di taman labirin, di depan dua makam yang berdampingan di bawah pohon ek, ia membisikkannya.
Yang terakhir. Ia memilih untuk hidup. Dan seseorang menunggunya pulang.
Dulu, di kehidupanku yang lain, aku duduk di meja kantor jam tiga pagi dan tidak ada yang menunggu.
Sekarang aku duduk di meja perpustakaan jam tiga pagi, dan seseorang sudah menungguku sejak jam sebelas. Sampai tertidur. Dengan catatan kecil yang bilang bangunin aku.
Aku tidak tahu ada yang lebih baik dari ini di dua dunia.
“Aurelia.”
Ia bergerak. Kepalanya terangkat sedikit dari lengan. Matanya terbuka setengah. Emas. Mengantuk.
Ia menatapku lama, seperti tidak yakin aku nyata. Sama seperti di punggung Myriad.
“Kamu,” gumamnya.
“Aku.”
“Telat.”
“Kapalnya telat.”
“Alasan.” Ia menegakkan tubuh, mengusap mata dengan punggung tangan. Ada bekas lipatan lengan sweter di pipinya. “Empat jam, Kael.”
“Maaf.”
Ia menatapku lagi. Lalu matanya bergerak, cepat, dari wajahku ke bahuku, ke lenganku, ke tanganku. Memeriksa. Seperti dulu ia memeriksa apakah semua bagian tubuhku masih di tempatnya sebelum duel dengan Cedric.
“Kamu nggak luka?”
“Nggak.”
“Nggak mimisan?”
“Sudah setahun aku nggak mimisan.”
“Ravel bilang kamu bertarung dengan kraken sendirian di hari kedua.”
“Ravel bohong. Kraken-nya kecil.”
“Ravel bilang kraken-nya sebesar kapal.”
“Kapalnya kecil.”
Aurelia menyipitkan mata. Lalu, tanpa bisa menahannya, ia tersenyum. Senyum yang membuat matanya menyipit jadi dua lengkungan emas.
Aku tidak menghitungnya. Aku sudah lama berhenti menghitung.
“Aku pulang,” kataku.
Ia diam sebentar.
“Selamat datang,” katanya pelan.
Dua kata.
Dua kata yang tidak pernah diucapkan siapa pun kepadaku. Tidak di kehidupanku yang dulu, sejak Ibu meninggal. Tidak di kantor. Tidak di kamar kos. Tidak di mana pun.
Selamat datang.
Aku menunduk. Tiba-tiba aku tidak bisa menatapnya. Ada sesuatu di tenggorokanku. Ada sesuatu di mataku.
“Kael?” Aurelia mencondongkan tubuh. “Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu nangis.”
“Mataku kemasukan serbuk sari.”
“Ini perpustakaan. Nggak ada mawar.”
“Serbuk sari buku.”
Aurelia tertawa. Pelan. Lalu ia mengulurkan tangan, tangan kirinya yang dulu retak, dan menyeka pipiku dengan ibu jarinya. Seperti aku dulu menyeka kacang manis dari sudut bibirnya di Festival Lentera.
Aku merogoh saku jaketku.
Kertas-kertas kecil. Jam saku perak yang penyok. Dan di dasarnya, sesuatu yang kecil, bulat, dan terbuat dari besi.
Aku mengeluarkannya. Menaruhnya di atas meja, di antara kami, di samping mangkuk kaca berisi Kael Kecil.
Cincin besi. Sederhana. Sedikit berkarat. Bekas-bekas palu kecil di permukaannya.
Aurelia berhenti tertawa.
Ia menatap cincin itu. Lalu menatapku.
“Ayahmu kasih ini ke aku setahun lalu,” kataku. Suaraku tidak stabil. Aku membiarkannya. “Dia bilang Tomas minta dia nggak membiarkan ini terjadi lagi. Dia bilang, kamu jangan.”
Aurelia tidak bicara. Tangannya, di atas meja, mengepal pelan.
“Aku sudah setahun mikir mau ngomong apa,” lanjutku. “Aku sudah tulis tiga puluh dua versi. Di kapal tadi aku tulis versi ketiga puluh tiga. Semuanya jelek.”
“Kael...”
“Jadi aku nggak pakai yang ditulis.” Aku menarik napas. Napas Kolam Batu. Napas yang membuat darahku bergerak lebih cepat. “Aurelia. Nanti. Setelah kita lulus. Dua tahun lagi. Kamu mau...”
Aku tidak menyelesaikan kalimatku.
Karena Aurelia sudah berdiri, mengelilingi meja, dan memelukku dari samping, begitu erat sampai kursiku miring dan hampir jatuh.
“Kamu terlalu lambat,” bisiknya di bahuku. Suaranya basah. “Kamu selalu terlalu lambat.”
“Itu iya?”
“Itu iya.” Ia melepaskan pelukannya cukup jauh untuk menatapku. Mata emasnya merah dan basah dan bersinar. “Itu iya sejak di air mancur, bodoh.”
Lalu ia mengambil cincin besi itu dari meja. Menatapnya sebentar. Dan, tanpa menunggu aku, memakaikannya sendiri ke jari manis kirinya.
Cincin itu terlalu besar. Dibuat untuk jari Liselle, dua puluh lima tahun lalu. Ia longgar di jari Aurelia, berputar sedikit.
“Kebesaran,” kataku.
“Nanti dikecilkan,” katanya. “Di pandai besi. Di desa di kaki bukit Valemont. Tempat Tomas dulu belajar.”
Ia menatap cincin itu di jarinya. Lalu menatapku.
Lalu ia menciumku.
Di meja perpustakaan lantai tiga. Jam tiga lewat dua puluh pagi. Di samping mangkuk kaca berisi ikan mas merah yang berenang berputar-putar, membuat gelembung.
Blup.
Dari lantai bawah, terdengar suara batu digesek batu.
Pak Grumm tidak berdeham kali ini.
Ia hanya membalik halaman buku puisinya, pelan.
Srek.
Keesokan paginya, Bram memasak nasi goreng.
Aku menceritakan nasi goreng kepadanya setahun lalu. Masakan dari kampungku. Nasi yang digoreng dengan bawang, kecap manis, dan telur di atasnya. Bram tidak tahu apa itu kecap manis. Ia mencoba membuat penggantinya dari gula aren dan kacang kedelai fermentasi dari pasar Solmere. Butuh delapan bulan dan empat puluh tiga percobaan gagal.
Pagi ini, ia menaruh sepiring nasi goreng di depanku di meja kantin. Masih mengepul. Warnanya cokelat keemasan. Baunya manis dan gurih.
Di atasnya, sebutir telur mata sapi.
Kuningnya pecah.
“Maaf, Yang Mulia,” kata Bram, wajahnya merah. “Aku sudah coba empat kali. Kuningnya selalu pecah waktu dibalik. Aku nggak pernah bisa balik telur dengan rapi kalau masak nasi goreng. Aneh. Telur biasa nggak pernah pecah.”
Aku menatap telur itu.
Kuning yang pecah, mengalir pelan ke nasi cokelat keemasan di bawahnya.
Ibu tidak pernah bisa membalik telur dengan rapi.
Aku tidak bisa bicara.
Aurelia, di sebelahku, meletakkan tangannya di punggungku. Ia tahu. Aku sudah menceritakan semuanya padanya. Termasuk ini.
Di seberang meja, Cedric berhenti mengunyah. Nina berhenti menulis. Mira dan Tobias saling pandang.
“Yang Mulia?” kata Bram pelan. “Jelek, ya? Aku bikinin lagi...”
“Jangan,” kataku. Suaraku serak. Aku mengambil sendok. “Jangan bikin lagi. Ini sempurna.”
Aku makan nasi goreng dengan telur yang kuningnya pecah, di kantin Arcblade, di dunia dengan dua bulan, dikelilingi teman-teman yang tidak pernah kumiliki di kehidupanku yang dulu.
Rasanya tidak persis sama seperti buatan Ibu.
Tapi rasanya seperti pulang.
Malam itu, aku bermimpi tentang ruang putih tanpa batas.
Meja kayu imitasi. Monitor tabung. Papan kecil di atas meja.
Tapi papan itu tidak lagi bertuliskan LOKET 3. Seseorang sudah membaliknya. Di sisi belakangnya, dengan tulisan tangan yang rapi:
TUTUP
Operator ada di balik meja.
Tertidur.
Kepalanya bersandar di atas lengan yang terlipat, rambut putih panjangnya terurai di atas keyboard. Napasnya pelan dan teratur. Headset-nya tergeletak di samping monitor. Di gelas kopinya, yang biasanya berisi kopi dingin, ada teh. Masih hangat. Uap tipis naik dari permukaannya.
Seribu tahun ia tidak tidur.
Sekarang ia tidur.
Di layar monitor tabungnya, tidak ada tulisan merah. Tidak ada angka segel. Tidak ada error. Hanya satu baris teks, berkedip pelan, seperti kursor yang menunggu.
Terima kasih telah menggunakan layanan kami.
Aku tidak membangunkannya.
Aku hanya berdiri di depan meja itu sebentar, di ruang putih yang sunyi, mendengarkan napasnya yang pelan.
Lalu, di kepalaku, aku membuka tiket terakhir.
Tiket yang sudah terbuka sejak jam tiga lewat dua belas pagi, di lantai sembilan sebuah kantor di Jakarta. Tiket yang tidak pernah bisa kututup. Tiket yang kutulis dengan kepala menempel di permukaan meja yang dingin, saat lampu di atasku berkedip.
Bug report.
Judul: Kalau aku mati di sini, siapa yang akan sadar duluan?
Expected: nggak ada.
Actual: seorang gadis berambut perak, yang menunggu di meja perpustakaan sampai tertidur. Seorang pemuda raksasa yang memasak nasi goreng empat puluh tiga kali sampai berhasil. Seorang bangsawan yang bawa sarapan tiap jam lima. Seorang penjual gosip yang nggak pernah jual cerita kami. Seorang golem batu yang membaca puisi. Seorang guru yang menunggu di depan pintu ruang kesehatan semalaman. Delapan puluh anak Rank F. Seekor ikan mas merah yang bingung.
Dan seorang pegawai loket yang akhirnya bisa tidur.
Severity: —
Status: Closed.
Resolution: Fixed.
Aku menutup tiket itu.
Lalu aku terbangun di ranjangku di asrama F, jam tiga lewat dua belas pagi, seperti biasa.
Tapi kali ini jantungku tidak berdebar. Tanganku tidak meraba-raba.
Di ranjang seberang, Bram mendengkur seperti mesin diesel yang bermimpi indah.
Di meja di samping ranjangku, ada kertas kecil yang dilipat dua, diselipkan seseorang di bawah pintu sebelum tengah malam.
Jangan lupa tidur.
— A.
Aku menyimpannya di saku.
Lalu aku memejamkan mata dan tidur sampai pagi.
TAMAT
- 1 Jam Tiga Pagi
- 2 Pedang yang Tidak Bersuara
- 3 Water Surface Slash
- 4 Teman Sekamar yang Menyembahku
- 5 Perpustakaan Jam Malam
- 6 Hutan Latihan
- 7 Gosip Satu Koin
- 8 Mata Pedang Terbalik
- 9 Kenapa Kamu Tidak Pakai Atribut?
- 10 Pelatihan Neraka Profesor Ingrid
- 11 GETSUGAAA TENSHOU
- 12 Rumor Rank F Terkutuk
- 13 Limiter Lepas
- 14 Undangan Turnamen Lima Akademi
- 15 Gaun Biru di Pesta Pembukaan
- 16 Tiga Pedang di Mulut
- 17 Cedric Minta Tanding Ulang (Lagi)
- 18 Enam Belas Tebasan
- 19 Hadiah yang Ia Minta
- 20 Kota Festival Lentera
- 21 Godspeed
- 22 Retakan di Pergelangan Tangan
- 23 Pedang Pembunuh Sihir
- 24 Surat dari Valemont
- 25 Dead Calm
- 26 Pengakuan di Atap
- 27 BANKAI
- 28 Rahasia Keluarga Valemont
- 29 Dia Menjauh Karena Sayang
- 30 Arise
- 31 Operator Minta Maaf
- 32 Ayah yang Ingin Putrinya Bersinar
- 33 Tiga Ribu Dunia
- 34 Malam Sebelum Gerhana
- 35 Hinokami Kagura
- 36 Wadah yang Terbuka
- 37 Mugetsu
- 38 Pedang Kosong Itu Akhirnya Bersuara
- 39 All Heroes Assemble
- 40 Hanya Aurelia
- 41 Epilog — Kali Ini Ada yang Menunggu reading