Chapter Thirty Five

Hinokami Kagura

POV: Kael

Gerhana dimulai tepat tengah hari.

Aku berdiri di alun-alun menara jam, di tengah lingkaran sihir yang sudah padam tiga minggu lalu, dan menatap ke atas. Matahari berada di puncak langit, putih dan terik. Di sisi kirinya, bulan besar. Di sisi kanannya, bulan kecil. Keduanya bergerak pelan, sangat pelan, saling mendekat, ke arah matahari.

Bulan besar menyentuh tepi matahari lebih dulu. Seperti gigitan kecil di pinggir koin perak.

Lalu bulan kecil, dari sisi yang lain.

Cahaya di seluruh Arcblade mulai berubah. Bukan meredup. Berubah warna. Dari putih menjadi kuning pucat, lalu jingga, lalu sesuatu yang aneh, keemasan dan sedikit kehijauan, seperti cahaya di dalam akuarium. Bayangan-bayangan di tanah menjadi tajam. Terlalu tajam. Setiap helai rumput punya bayangan yang jelas seperti digambar dengan tinta.

Burung-burung berhenti berkicau.

Di sudut pandanganku, jendela biru berkedip.

[Celestial Event: Total Eclipse]

[Duration: 7 minutes]

Tujuh menit.


Rencananya sudah disusun selama tiga minggu.

Tiga batu segel tersisa di Arcblade. Batu kedua, di bawah perpustakaan. Batu keempat, di bawah asrama bangsawan. Batu keenam, di bawah kolam teratai di taman timur.

Archmaster Ashgrove menjaga perpustakaan. Bersama Pak Grumm, yang, ternyata, bukan hanya penjaga perpustakaan. Ia golem penjaga yang dibuat oleh pendiri pertama, untuk menjaga batu kedua. Empat ratus tahun ia duduk di kursi yang sama di dekat pintu, membaca puisi, dan tidak pernah memberi tahu siapa pun bahwa di bawah kursinya ada batu yang lebih tua dari akademi.

Profesor Ingrid dan Profesor Vexley menjaga kolam teratai. Bersama Ravel Kain dan Leviathan-nya, karena kolam butuh pengendali air.

Garrick, Selene, Torvald, dan Liora menjaga asrama bangsawan.

Aurelia ada di ruang kesehatan. Retakan di dadanya sudah satu jari dari jantung. Ia tidak boleh melakukan Spirit Call. Ia tidak boleh bertarung. Edric Harrowgate, yang ternyata Rank A dengan atribut Light walaupun lebih suka menulis puisi, menjaga pintu ruang kesehatan. Nina menjaga jendela.

Aku di alun-alun. Di tengah. Bersama Bram, Cedric, Mira, Tobias, dan delapan puluh siswa Rank F yang menolak bersembunyi di ruang bawah tanah lagi.

Dan tiga ratus empat puluh tujuh bayangan monster, yang sudah keluar dari bayanganku dan berbaris di sepanjang tembok akademi.

Bulan besar dan bulan kecil sudah menutup separuh matahari.

Cahaya keemasan berubah menjadi kelabu.

“Mereka datang,” kata Tobias pelan, menunjuk ke arah utara.


Mereka tidak datang lewat gerbang.

Mereka datang lewat bayangan.

Di seluruh Arcblade, setiap bayangan yang tajam seperti digambar tinta mulai bergerak. Bayangan pohon. Bayangan menara. Bayangan pagar. Bayangan orang-orang. Memanjang, menghitam, dan dari dalamnya, sosok-sosok berjubah abu-abu muncul. Seperti keluar dari air.

Ratusan.

Lalu ribuan.

Mereka muncul di mana-mana. Di halaman. Di atap. Di koridor. Di bawah kaki para siswa yang berdiri di alun-alun.

“Ingat latihannya!” teriak Cedric. Suaranya pecah, tapi lantang. “Kelompok tiga orang! Punggung ke punggung! Jangan ada yang sendirian!”

Delapan puluh siswa Rank F bergerak. Membentuk kelompok-kelompok kecil. Punggung ke punggung. Soul weapon mereka menyala, kecil dan lemah dibandingkan Rank A dan S, berdengung, berdesir, bergemuruh pelan.

Tapi tidak ada yang lari.

Bram berdiri di depan kelompok terbesar, gada batu di satu tangan, wajan di tangan lain. Mira di sampingnya, pisau dapur api menyala lebih terang dari yang pernah kulihat. Tobias di belakang mereka, buku catatan diselipkan di ikat pinggang, kedua tangannya terangkat, angin berputar di sekelilingnya.

Pendeta-pendeta Hollow menyerbu.

Aku menarik napas.


Sejak hari pertama di Velmora, ada satu jurus yang tidak pernah kusentuh.

Bukan karena terlalu kuat. Bukan karena tubuhku belum siap. Aku sudah memakai Bankai. Aku sudah memakai Sanzen Sekai. Tubuhku sudah sanggup memakai apa pun.

Aku tidak menyentuhnya karena jurus itu bukan milik satu orang.

Jurus itu milik sebuah keluarga. Diwariskan dari ayah ke anak, dari generasi ke generasi, sebagai tarian. Bukan teknik pedang. Tarian. Untuk dewa api, setiap malam tahun baru, di puncak gunung bersalju, dari matahari terbenam sampai matahari terbit, tanpa berhenti. Tiga belas gerakan, diulang terus-menerus, sampai fajar.

Ayah Tanjiro menarikannya setiap tahun, walaupun tubuhnya sakit-sakitan. Tanjiro kecil menontonnya dari tepi salju, tidak tahu bahwa tarian itu adalah jurus pedang tertua di dunianya. Tidak tahu bahwa tarian itu adalah Sun Breathing. Asal mula semua pernapasan lain.

Dan tidak tahu bahwa tiga belas gerakan itu, kalau ditarikan tanpa henti, membentuk lingkaran sempurna yang tidak punya awal dan akhir.

Hari ini matahari akan tertutup.

Hari ini aku akan menarikannya.

[Copy: Kamado Tanjiro — Sun Breathing / Hinokami Kagura]

[Copy Complete]

Pedangku berubah. Bukan biru seperti Water Breathing. Hitam. Hitam pekat, nichirin yang sepenuhnya hitam, warna yang di dunia Tanjiro dianggap pertanda buruk, karena tidak ada yang tahu pernapasan apa yang cocok untuknya.

Sampai mereka tahu. Hitam adalah warna Matahari.

Anting-anting hanafuda bergemerincing di telingaku. Aku tidak memakai anting-anting. Tapi aku mendengarnya.

Aku menarik napas. Napas yang panas. Lebih panas dari Rengoku. Panas yang bukan api, tapi cahaya.

“Hinokami Kagura,” kataku. “Dance.”

Aku melangkah.


Gerakan pertama, Enbu. Tebasan vertikal, lurus dari atas ke bawah. Pendeta Hollow pertama terbelah bersama bayangan yang ia naiki.

Aku tidak berhenti. Aku tidak boleh berhenti.

Gerakan kedua, Hekira no Ten. Clear Blue Sky. Tebasan melingkar di atas kepala, membentuk lingkaran api. Lima pendeta yang melompat dari atap terbakar di udara.

Gerakan ketiga, Retsujitsu Kokyo. Raging Sun. Dua tebasan horizontal, kiri lalu kanan, membelah barisan pendeta yang menyerbu dari bayangan menara jam.

Aku bergerak melintasi alun-alun. Tidak berlari. Menari. Setiap langkah, setiap putaran, setiap tebasan mengalir ke yang berikutnya tanpa jeda. Seperti air sungai yang tidak pernah berhenti. Seperti api yang tidak pernah padam.

Gerakan keempat, Shakkotsu Enyo. Burning Bones Summer Sun. Gerakan kelima, Shayo Tenshin. Setting Sun Transformation. Keenam, Solar Heat Haze.

Di sekelilingku, para siswa Rank F bertarung. Kelompok-kelompok kecil, punggung ke punggung. Bram menghantam pendeta Hollow dengan gada di tangan kanan dan wajan di tangan kiri, berteriak ITU UNTUK SUP JAMUR! setiap kali wajannya mengenai kepala. Mira menusuk dengan pisau dapur apinya, terlalu bersemangat, tapi akurat. Tobias meniup angin, menjatuhkan pendeta dari atap, sambil berteriak nama-nama jurus dari kamusnya untuk memberi semangat, dengan pelafalan yang sempurna.

Dan Cedric. Cedric bertarung di sampingku. Pedang apinya berkobar merah, menebas pendeta yang mencoba menyerangku dari belakang.

“Jangan berhenti!” teriaknya. “Aku jaga punggungmu! Jangan berhenti menari!”

Gerakan ketujuh, Beneficent Radiance. Kedelapan, Sunflower Thrust. Kesembilan, Dragon Sun Halo Head Dance. Naga api melingkar di sekelilingku, menyapu dua puluh pendeta sekaligus.

Bulan besar dan bulan kecil sudah menutup tiga perempat matahari. Langit menjadi ungu gelap. Bintang-bintang mulai muncul di siang hari.

Di kejauhan, dari arah perpustakaan, aku mendengar raungan seperti longsor. Pak Grumm, berdiri dari kursinya untuk pertama kalinya dalam empat ratus tahun, menghantam pendeta Hollow dengan buku puisi seukuran pintu.

Dari arah kolam teratai, gelombang air raksasa menyembur ke langit. Leviathan. Lalu membeku menjadi menara es. Ingrid. Lalu dipenuhi sulur-sulur bayangan. Vexley.

Dari arah asrama bangsawan, tanah bergetar. Torvald dan Garrick, bersama.

Gerakan kesepuluh, Fire Wheel. Kesebelas, Fake Rainbow. Kedua belas, Flame Dance.

Dan para siswa yang di hari pertama tertawa waktu pedangku tidak bersuara, siswa-siswa bangsawan dari asrama yang sama yang memilihku ke turnamen sebagai lelucon, mereka keluar dari menara mereka. Mereka turun ke alun-alun. Mereka bertarung di samping siswa-siswa Rank F. Punggung ke punggung.

Aku tidak berhenti menari.

Gerakan ketiga belas.

Gerakan ketiga belas bukan jurus. Gerakan ketiga belas adalah menyambungkan dua belas gerakan sebelumnya menjadi satu lingkaran tanpa akhir. Dari gerakan kedua belas kembali ke gerakan pertama. Dari pertama ke kedua. Terus-menerus. Tanpa jeda. Tanpa awal dan akhir.

Seperti matahari yang terbit dan terbenam selamanya.

Aku memulai lingkaran itu.

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh. Sebelas. Dua belas.

Satu. Dua. Tiga.

Aku menari melintasi seluruh alun-alun menara jam. Lalu keluar dari alun-alun. Ke halaman tengah. Ke taman. Ke koridor-koridor antara menara. Pedang hitamku meninggalkan jejak api keemasan di udara, dan jejak-jejak itu tidak padam. Mereka menggantung di udara, membentuk pola, membentuk lingkaran besar yang mengelilingi seluruh Arcblade.

Di langit, bulan besar dan bulan kecil menutup matahari sepenuhnya.

Gerhana total.

Arcblade gelap.

Kecuali satu hal. Cincin api keemasan yang mengelilingi seluruh akademi, yang kutarikan dengan tiga belas gerakan tanpa henti.

Matahari tertutup. Tapi di bawahnya, di tanah, aku menari sebagai matahari pengganti.

Para pendeta Hollow yang tersisa berhenti menyerang. Mereka menatap cincin api itu. Bayangan-bayangan yang mereka naiki menyusut, terbakar, lenyap. Tanpa bayangan, mereka tidak bisa bergerak. Satu per satu, mereka mundur. Lari. Hilang.

Aku berhenti menari.

Napasku terengah. Pedang hitamku masih menyala keemasan. Di sekelilingku, ratusan siswa berdiri di alun-alun, kotor, terluka, dan hidup. Semua.

Bram, dengan wajan penyok di tangan, menatapku dengan mulut terbuka. Cedric, dengan pedang api yang mulai padam, menatapku dengan mata yang merah.

Tidak ada yang bersorak.

Semua orang hanya diam, menatap cincin api keemasan yang masih menggantung di udara di sekeliling Arcblade, bersinar di bawah gerhana.

“Hinokami Kagura,” bisik Tobias, menulis di buku catatannya dengan tangan gemetar. “Hi-no-ka-mi ka-gu-ra. Tarian Dewa Api.”

Ia berhenti menulis. Menatapku.

“Kael,” katanya pelan. “Batunya. Tiga batu. Semuanya aman.”

Dari perpustakaan, dari kolam teratai, dari asrama bangsawan, cahaya biru muda menyala. Tanda dari para penjaga. Batu kedua aman. Batu keempat aman. Batu keenam aman.

Kami berhasil.


Lalu aku mendengar suara itu.

Lembut. Jernih. Seperti guru yang memuji murid.

“Indah sekali.”

Aku menoleh.

Di puncak menara jam, di tepi jam raksasa yang jarumnya menunjuk tepat jam dua belas, Lucan Vire berdiri.

Bukan proyeksi. Kali ini ia benar-benar ada.

Di belakangnya, Abyssal Wyrm melingkar di sekeliling menara jam seperti ular yang membelit pohon. Dan di sekeliling kakinya, di atas atap batu menara jam, empat benda berbaris dalam lingkaran.

Empat batu. Abu-abu kehijauan, berlumut, berukir simbol-simbol kuno.

Batu pertama, yang kubelah dengan Getsuga. Batu ketiga, dari bawah menara Water. Batu kelima, dari bawah menara jam ini. Batu ketujuh, dari bawah gudang pusaka Valemont.

“Kamu menjaga tiga batu dengan sangat baik, Rank F,” kata Lucan. “Aku tidak pernah butuh tiga batu itu.”

Jantungku berhenti.

“Empat dari tujuh,” lanjutnya. “Lebih dari separuh. Dan di saat gerhana total, saat matahari tertutup dan semua bayangan di dunia tersambung menjadi satu...” Ia mengangkat tangannya. “...empat batu sudah cukup untuk membuka pintu.”

Keempat batu itu menyala ungu kehitaman.

Dan di seluruh Arcblade, di bawah gerhana total, bayangan-bayangan bergerak lagi. Bukan bayangan pohon atau menara. Bayangan cincin api keemasan yang kutarikan. Bayangan cahaya itu sendiri.

Dari arah ruang kesehatan, aku mendengar Edric berteriak. Lalu Nina. Lalu bunyi kaca jendela pecah.

Lalu, dari bayangan di kaki Lucan, di atas menara jam, seseorang muncul.

Seperti ditarik dari dalam air.

Rambut perak dengan ujung hitam. Sweter krem. Kaki telanjang.

Aurelia.

Ia tergantung lemas di lengan Lucan, matanya setengah terpejam. Dan retakan hitam di dadanya, yang tadi pagi masih satu jari dari jantung, menyala terang. Sangat terang. Berdenyut. Menjalar.

Setengah jari.

“Tidak,” bisikku.

Lucan menatapku dari puncak menara. Matanya ungu gelap. Tidak ada senyum di wajahnya. Hanya kesedihan yang sangat dalam.

“Maafkan aku, Rank F,” katanya. “Kamu sudah bertanya padaku: kenapa seorang anak harus menjadi wadah sejak lahir. Aku sudah bertanya hal yang sama sepuluh tahun lalu.”

Ia mengangkat Aurelia tinggi-tinggi, ke arah matahari yang tertutup.

“Ini jawabanku,” katanya. “Kalau dunia ini tidak mau berhenti mengukur, biarkan dewa itu bangun dan mengukur ulang semuanya. Dari awal.”

Abyssal Wyrm membuka mulutnya.

Aku berlari.

Tapi menara jam itu lima puluh meter tingginya, dan seribu pendeta Hollow yang tadi lari kini muncul lagi dari bayangan-bayangan di bawah kakiku, menahan lenganku, kakiku, bahuku. Aku menebas. Mereka muncul lagi. Aku menebas. Mereka muncul lagi.

Di puncak menara jam, Aurelia membuka matanya.

Mata emasnya menemukanku di antara ribuan bayangan.

Ia membuka mulutnya. Aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Terlalu jauh. Terlalu banyak suara.

Tapi aku bisa membaca bibirnya.

Kael.

Lalu retakan hitam di dadanya menyentuh jantungnya.

Dan dunia menjadi putih.