Chapter Eight
Mata Pedang Terbalik
POV: Kael
Arena utama Arcblade bisa menampung tiga ribu orang.
Hari ini, menurut Nina, yang datang tiga ribu dua ratus.
“Dua ratus sisanya berdiri di tangga,” katanya puas, menghitung koin di ruang tunggu di bawah tribun. Kantong kulit di pangkuannya sudah begitu penuh sampai jahitannya mengerang. “Aku juga jual tempat berdiri. Satu koin. Murah meriah.”
“Kamu menjual tempat berdiri di tangga darurat.”
“Tangganya nggak darurat kalau nggak ada kebakaran.”
“Lawanku,” kataku, “atribut Fire.”
Nina berhenti menghitung sejenak. Lalu mengangkat bahu dan melanjutkan. “Ya sudah. Doakan saja Lorne nggak terlalu emosional.”
Ruang tunggu itu sempit dan lembap, dengan bangku kayu panjang dan satu jendela kecil berjeruji yang menghadap ke lapangan pasir di atas. Dari jendela itu, aku bisa mendengar gemuruh tiga ribu dua ratus orang yang sedang menunggu melihat Rank F dipukuli. Suaranya seperti ombak. Ombak yang lapar.
Bram duduk di sebelahku, menggenggam tanganku dengan kedua tangannya seperti seorang ibu yang anaknya mau dioperasi. Tangannya basah keringat.
“Kael,” katanya. “Kamu yakin?”
“Nggak.”
“Kamu nggak harus bertarung. Kamu bisa bilang sakit perut.”
“Kalau aku bilang sakit perut, Cedric bakal bilang aku pengecut. Terus dia bakal nantang lagi minggu depan. Terus minggu depannya lagi.”
“Kalau begitu sakit perutnya tiap minggu.”
Aku menepuk tangan Bram. “Aku nggak apa-apa. Aku sudah punya rencana.”
Itu bukan sepenuhnya bohong.
Masalahnya begini. Menurut jendela biru, tubuhku sekarang ada di [Vessel Training: 12.4%]. Lebih baik dari dua minggu lalu, jauh lebih baik dari hari pertama. Tapi Ingrid benar. Kalau aku memakai empat jurus Water Breathing berturut-turut lagi seperti di hutan, aku tidak akan pingsan tiga hari. Aku akan pingsan selamanya.
Jadi aku butuh jurus yang berbeda.
Bukan jurus yang panjang. Bukan rangkaian tebasan yang menguras napas. Aku butuh satu gerakan yang menentukan. Satu tarikan, satu tebasan, selesai. Efisien. Sesedikit mungkin beban untuk tubuh.
Dan, kalau bisa, jurus yang tidak melukai Cedric.
Bukan karena aku kasihan padanya. Oke, mungkin sedikit kasihan. Tapi lebih karena aku tidak mau jadi orang yang melukai sesama siswa di depan tiga ribu dua ratus orang. Kalau aku melukainya, aku hanya akan jadi berandal Rank F yang beruntung. Tapi kalau aku mengalahkannya tanpa melukainya...
Itu cerita yang berbeda.
Untungnya, aku tahu persis pendekar yang tepat untuk itu.
“Kael.”
Aku menoleh ke pintu ruang tunggu.
Aurelia berdiri di sana. Seragam lengkap, rambut diikat tinggi, wajah tanpa ekspresi seperti biasa di siang hari. Tapi tangannya, aku perhatikan, menggenggam ujung jasnya sendiri dengan erat.
Bram langsung berdiri dan membungkuk begitu dalam sampai kepalanya hampir menyentuh lutut. Nina berhenti menghitung koin, matanya menyipit seperti kucing yang mencium sesuatu yang menarik.
“Siswa yang bukan peserta nggak boleh masuk ruang tunggu,” kataku.
“Aku punya izin khusus,” jawab Aurelia.
“Kamu punya izin khusus untuk semuanya, ya.”
“Hampir semuanya.” Ia melangkah masuk satu langkah. Hanya satu. Seolah ruangan ini garis batas yang tidak boleh ia lewati lebih jauh. “Aku cuma mau bilang satu hal.”
Aku menunggu.
Aurelia memandangiku. Mata emasnya bergerak dari wajahku ke tanganku, ke kakiku, lalu kembali ke wajahku, seolah sedang memeriksa apakah semua bagian tubuhku masih di tempatnya.
“Jangan mati,” katanya.
Hanya itu. Dua kata. Diucapkan dengan nada datar, cepat, seperti perintah.
Lalu ia berbalik dan pergi sebelum aku sempat menjawab.
Hening.
“Wah,” kata Nina pelan, menulis sesuatu dengan cepat di buku catatannya. “Wah, wah, wah. Itu lima koin. Nggak, sepuluh. Itu sepuluh koin dan aku nggak akan jual ke siapa pun karena terlalu berharga.”
“Nina.”
“Aku cuma mencatat, Klienku tersayang. Untuk arsip.”
Lapangan arena dilapisi pasir putih halus yang berkilau di bawah matahari siang. Di sekelilingnya, tribun batu menjulang dalam lima tingkat, penuh sesak dengan seragam biru gelap.
Waktu aku melangkah keluar dari terowongan, suara tiga ribu dua ratus orang berubah menjadi sesuatu yang aneh. Bukan sorakan. Bukan ejekan. Lebih seperti tawa yang ditahan, bisik-bisik yang menular.
“Itu dia. Si Pedang Kosong.”
“Katanya Lorne dikalahkan dia di belakang dapur.”
“Mana mungkin. Lorne pasti cuma kepleset.”
“Kayak babinya?”
Aku menahan senyum.
Di sisi lain lapangan, Cedric Lorne sudah menunggu. Rambut merah gelapnya disisir sempurna. Seragamnya baru, jelas dijahit khusus untuk hari ini. Wajahnya tenang, tapi matanya tidak.
Di tengah lapangan berdiri wasit dari dewan siswa, seorang siswa tingkat tiga bertubuh tinggi dengan jubah putih dan wajah orang yang lebih suka berada di mana pun selain di sini.
“Duel kehormatan antara Cedric Lorne, Rank A, dan Kael Ashford, Rank F,” umumnya. Suaranya diperbesar oleh sihir angin, menggema ke seluruh tribun. “Aturan: soul weapon diperbolehkan. Teknik atribut diperbolehkan. Spirit Call tidak diperbolehkan. Duel selesai jika salah satu peserta menyerah, keluar dari lingkaran, atau tidak mampu melanjutkan. Membunuh lawan dilarang dan akan dihukum dengan pengusiran.”
Ia melirik ke arahku. Lalu ke arah Cedric. Lalu ke arahku lagi, dengan ekspresi kasihan.
“Kalian siap?”
“Siap,” kata Cedric.
“Siap,” kataku.
Di baris depan tribun, aku melihat mereka. Bram, yang menggigit kepalan tangannya sendiri. Nina, yang memegang kantong koin di satu tangan dan buku catatan di tangan lain. Tobias dan Mira, yang ternyata datang juga, Mira mengacungkan pisau dapur kecilnya tinggi-tinggi seperti bendera.
Dua kursi di sebelah mereka, Profesor Ingrid Halvard duduk dengan kaki bersilang dan tangan terlipat di dada. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun.
Dan di tribun kehormatan, di tempat duduk khusus bangsawan yang dinaungi kanopi biru, seorang gadis berambut perak duduk sendirian, menggenggam kedua tangannya di pangkuan.
“Mulai!”
Cedric tidak membuang waktu.
“Weapon Summon!”
Pedang api merah menyala di tangannya, dengungnya meraung keras, jauh lebih keras dari di belakang dapur. Kali ini ia tidak meremehkanku. Kali ini ia datang untuk menang.
“Arte,” katanya. “Crimson Fang.”
Api di bilahnya berkobar, lalu memadat, membentuk sesuatu seperti rahang harimau raksasa yang terbuat dari nyala merah. Udara di sekitarnya bergetar karena panas. Pasir di bawah kakinya mulai meleleh menjadi kaca.
Tribun bersorak. Ini yang mereka tunggu. Teknik Arte, jurus khas senjata, tahap ketiga. Kebanyakan siswa tahun pertama bahkan belum bisa melakukannya.
Aku mengangkat tangan.
“Weapon Summon.”
Pedang abu-abu. Bisu. Tribun tertawa.
Aku memejamkan mata.
Aku memikirkan seorang pria bertubuh kecil, berambut merah panjang yang diikat ekor kuda, dengan bekas luka berbentuk silang di pipi kirinya. Seorang pembunuh bayaran legendaris di masa perang, yang setelah perang berakhir bersumpah tidak akan pernah membunuh lagi. Seorang pengembara yang membawa pedang dengan mata bilah di sisi yang salah. Mata pedang terbalik, supaya setiap tebasannya hanya memukul, tidak membelah.
Himura Kenshin.
Aku memikirkan aliran pedangnya. Hiten Mitsurugi-ryuu. Kecepatan dewa. Dan teknik yang menjadi jantung aliran itu: battoujutsu, seni menarik pedang dari sarungnya dan menebas dalam satu gerakan.
[Copy: Himura Kenshin — Hiten Mitsurugi-ryuu]
[Copy Complete]
Pedang di tanganku berubah.
Bilahnya ramping dan sedikit melengkung, berkilau seperti cermin. Tapi ada yang aneh. Mata tajamnya menghadap ke arahku. Sisi tumpulnya menghadap keluar, ke arah lawan. Sakabatou. Pedang bermata terbalik.
Dan di pinggangku, dari udara kosong, muncul sarung pedang berwarna hitam. Pedang itu meluncur masuk ke dalamnya sendiri, klik, seperti kembali ke rumah.
Tribun berhenti tertawa.
“Pedangnya berubah,” bisik seseorang, cukup keras untuk terdengar sampai lapangan.
“Kenapa matanya terbalik?”
“Dia nggak tahu cara pegang pedang, ya?”
Cedric menatap sarung hitam di pinggangku. Lalu menatap wajahku. Rahangnya mengeras.
“Kamu mengejekku,” katanya pelan.
“Nggak.”
“Kamu masuk ke duel kehormatan dengan pedang tumpul.”
“Pedang ini nggak tumpul,” kataku. “Cuma nggak mau melukai orang.”
Wajah Cedric memerah. Bukan karena malu. Karena marah.
“Kalau begitu,” katanya, “biar aku yang melukaimu.”
Ia menyerang.
Harimau api itu meraung dan melesat ke arahku, rahang terbuka lebar, pasir meleleh di sepanjang jalurnya. Cepat. Jauh lebih cepat dari di belakang dapur. Panasnya terasa di wajahku bahkan dari lima langkah jauhnya.
Aku tidak bergerak.
Aku menurunkan tubuhku sedikit. Kaki kanan di depan, kaki kiri di belakang. Tangan kiri menahan sarung pedang. Tangan kanan melayang di atas gagang, tidak menyentuhnya. Belum.
Aku menarik napas. Satu napas. Hanya satu.
Empat langkah.
Tiga.
Dua.
Sekarang.
Tanganku bergerak.
Aku tidak benar-benar melihatnya. Tidak ada yang benar-benar melihatnya. Satu detik pedang itu masih di dalam sarung. Detik berikutnya ia sudah di luar, melintas dalam garis perak yang terlalu cepat untuk ditangkap mata, lalu sudah kembali masuk ke sarung dengan bunyi klik yang kecil dan bersih.
Battoujutsu.
Harimau api itu terbelah dua di udara.
Bukan terpotong. Terbelah. Seperti asap yang ditiup angin kencang. Dua bagiannya berputar ke kiri dan kanan, lalu padam, lalu menghilang menjadi percikan bara yang berjatuhan ke pasir seperti hujan kembang api.
Cedric masih meluncur ke depan karena momentum. Pedang apinya masih terangkat, tapi nyalanya sudah tinggal setengah.
Aku tidak menunggunya berhenti.
Pedangku keluar lagi. Kali ini bukan menyamping. Ke atas. Dari bawah, dengan sisi tumpul di depan, dalam lengkungan naik yang cepat seperti naga melompat dari air.
“Hiten Mitsurugi-ryuu,” kataku pelan. “Ryuushousen.”
Rising Dragon Flash.
Sisi tumpul sakabatou menghantam bagian bawah dagu Cedric.
Bunyinya tok. Kecil. Hampir lucu. Seperti mengetuk pintu.
Cedric Lorne, Rank A, putra Count Lorne, terangkat sedikit dari tanah. Matanya berputar ke atas. Pedang apinya lepas dari tangannya dan padam sebelum menyentuh pasir. Lalu tubuhnya jatuh ke belakang, telentang, lurus seperti papan, dengan bunyi buk yang lembut di atas pasir putih.
Ia tidak berdarah. Tidak ada luka. Tidak ada bekas tebasan. Hanya seorang pemuda berambut merah yang terbaring di tengah arena dengan mata terpejam dan napas teratur, seperti sedang tidur siang.
Klik. Sakabatou kembali ke sarungnya.
Hening.
Tiga ribu dua ratus orang, dan tidak satu pun bersuara.
Wasit dari dewan siswa berdiri mematung di pinggir lingkaran, mulutnya terbuka. Ia menatap Cedric. Lalu menatapku. Lalu menatap Cedric lagi, seperti berharap pemandangannya berubah kalau ia menatap cukup lama.
“...Lorne?” panggilnya.
Cedric mendengkur pelan.
Wasit itu menelan ludah. Ia mengangkat tangannya, gemetar, ke arahku.
“Lawan tidak mampu melanjutkan. Pemenang...” Suaranya pecah. Ia berdeham. “Pemenang, Kael Ashford. Rank F.”
Hening berlanjut satu detik lagi.
Lalu, dari baris depan, satu suara berteriak sangat keras:
“ITU KLIENKU!”
Nina berdiri di atas kursinya, mengangkat kantong koinnya tinggi-tinggi seperti piala.
Dan tribun meledak.
Bukan sorakan untukku, sebenarnya. Lebih seperti kekacauan. Ada yang berteriak curang. Ada yang berteriak sihir ilusi. Ada yang berteriak Lorne pasti sakit. Ada yang berdiri dan menunjuk-nunjuk. Ada yang tertawa terbahak-bahak. Ada yang duduk diam saja, menatap lapangan dengan wajah orang yang baru melihat hantu.
Di tengah semua itu, Bram berlari menuruni tangga tribun, melompati pagar pembatas, dan berlari melintasi pasir ke arahku dengan tangan terbuka lebar.
“KAEL! KAEL, KAMU MENANG! KAMU MENANG PAKAI PEDANG TERBALIK!”
Ia memelukku. Mengangkatku dari tanah. Memutarku.
Di saat itulah hidungku mulai berdarah.
“Bram,” kataku lemah. “Bram, turunin aku. Pelan-pelan.”
“Kamu berdarah lagi!”
“Iya. Tapi cuma hidung. Nggak dari mulut.”
Bram menurunkanku dengan sangat hati-hati, seperti menaruh telur di atas bantal. Ia memandangi hidungku. “Cuma hidung itu bagus?”
“Itu kemajuan,” kataku.
[Vessel Status: Strained]
[Muscle strain: Moderate]
[Estimated recovery: 6 hours]
Enam jam. Bukan tiga hari. Bukan sembilan belas jam. Enam jam.
Aku tersenyum, dengan darah menetes ke bibir atasku.
Cedric bangun sepuluh menit kemudian di pinggir arena, dikelilingi petugas kesehatan.
Aku berjalan ke arahnya sebelum keluar dari lapangan. Bram mengikutiku dari belakang seperti pengawal raksasa yang siap meninju siapa saja.
Cedric duduk di atas tandu, memegang dagunya, menatap pasir dengan pandangan kosong. Waktu bayanganku jatuh di depannya, ia mengangkat kepala.
Di matanya tidak ada kemarahan lagi. Hanya kebingungan. Dan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih tajam dan lebih rumit.
“Kamu bisa membelahku,” katanya serak. “Tadi. Kamu bisa membelahku jadi dua.”
“Bisa,” kataku jujur.
“Kenapa nggak?”
Aku memikirkan pria berambut merah dengan bekas luka silang di pipinya. Pria yang membunuh terlalu banyak orang di masa perang, lalu menghabiskan sisa hidupnya membawa pedang yang tidak bisa membunuh.
“Karena kamu nggak perlu terluka buat kalah,” kataku.
Cedric menatapku lama sekali.
Lalu ia memalingkan wajah, dan aku melihat telinganya merah.
“Tanding ulang,” gumamnya.
“Apa?”
“Aku mau tanding ulang.” Ia masih tidak mau menatapku. “Minggu depan. Bukan duel kehormatan. Latihan biasa. Di lapangan belakang. Kalau kamu menolak, berarti kamu pengecut.”
Aku berkedip. Lalu tertawa.
“Oke,” kataku. “Minggu depan. Bawa sarapan.”
“Kenapa aku harus bawa sarapan?”
“Karena aku mulai latihan jam lima pagi, dan teman sekamarku cuma masak dua telur.”
Bram mengangguk serius di belakangku. “Telurnya cuma dua. Jangan berharap dapat.”
Cedric membuka mulut. Menutupnya lagi. Lalu, dengan wajah merah sampai ke leher, ia berbaring kembali di tandu dan menutup matanya dengan lengan.
“Pergi sana,” katanya.
Aku pergi.
Di pintu terowongan, sebelum masuk ke kegelapan, aku menoleh sekali ke tribun kehormatan.
Aurelia sudah berdiri. Kedua tangannya tidak lagi menggenggam di pangkuan. Salah satunya menekan dadanya, tepat di atas jantung, seperti seseorang yang baru saja ingat cara bernapas.
Matanya bertemu mataku dari seberang arena.
Ia tidak tersenyum. Ia tidak melambai. Ia hanya mengangguk sekali, pelan, seperti anggukan di lapangan latihan subuh itu.
Tapi kali ini aku tidak menganggapnya sekadar sopan santun.
Bug report, pikirku, menyeka darah di hidung dengan lengan baju. Expected: aku dipermalukan di depan tiga ribu orang. Actual: aku menang, Cedric minta tanding ulang, dan Aurelia memegang dadanya waktu aku keluar arena.
Severity: tidak tahu.
Status: aku mau lihat dia memegang dada seperti itu lagi.
- 1 Jam Tiga Pagi
- 2 Pedang yang Tidak Bersuara
- 3 Water Surface Slash
- 4 Teman Sekamar yang Menyembahku
- 5 Perpustakaan Jam Malam
- 6 Hutan Latihan
- 7 Gosip Satu Koin
- 8 Mata Pedang Terbalik reading
- 9 Kenapa Kamu Tidak Pakai Atribut?
- 10 Pelatihan Neraka Profesor Ingrid
- 11 GETSUGAAA TENSHOU
- 12 Rumor Rank F Terkutuk
- 13 Limiter Lepas
- 14 Undangan Turnamen Lima Akademi
- 15 Gaun Biru di Pesta Pembukaan
- 16 Tiga Pedang di Mulut
- 17 Cedric Minta Tanding Ulang (Lagi)
- 18 Enam Belas Tebasan
- 19 Hadiah yang Ia Minta
- 20 Kota Festival Lentera
- 21 Godspeed
- 22 Retakan di Pergelangan Tangan
- 23 Pedang Pembunuh Sihir
- 24 Surat dari Valemont
- 25 Dead Calm
- 26 Pengakuan di Atap
- 27 BANKAI
- 28 Rahasia Keluarga Valemont
- 29 Dia Menjauh Karena Sayang
- 30 Arise
- 31 Operator Minta Maaf
- 32 Ayah yang Ingin Putrinya Bersinar
- 33 Tiga Ribu Dunia
- 34 Malam Sebelum Gerhana
- 35 Hinokami Kagura
- 36 Wadah yang Terbuka
- 37 Mugetsu
- 38 Pedang Kosong Itu Akhirnya Bersuara
- 39 All Heroes Assemble
- 40 Hanya Aurelia
- 41 Epilog — Kali Ini Ada yang Menunggu