Chapter Ten

Pelatihan Neraka Profesor Ingrid

POV: Kael

Surat itu diselipkan di bawah pintu kamar asrama kami jam tiga pagi.

Aku tahu jamnya karena aku sedang bangun. Bukan karena tidak bisa tidur. Kebiasaan lama. Tubuh ini sudah dua puluh hari di Velmora, tapi jiwaku masih sesekali terbangun jam tiga lewat dua belas menit, tepat di menit aku mati, dengan jantung berdebar dan tangan meraba-raba mencari ponsel yang tidak ada.

Biasanya aku hanya berbaring sampai debarannya reda, mendengarkan dengkuran diesel Bram, dan mengingatkan diri sendiri bahwa langit-langit di atasku terbuat dari kayu, bukan panel plafon kantor.

Malam ini, sebelum debarannya reda, terdengar bunyi kertas bergesekan dengan lantai.

Aku turun dari ranjang dan mengambilnya. Kertas tebal, terlipat rapi, disegel lilin biru pucat dengan lambang tetes air.

Isinya satu kalimat:

Kolam Batu, menara Water, jam lima. Jangan sarapan. — I.H.

Aku membaca kalimat itu dua kali. Jangan sarapan. Dari semua kalimat menakutkan yang pernah kubaca, dan aku pernah membaca kalimat Raka, bisa ke ruangan saya sebentar? dari HRD, kalimat ini masuk tiga besar.

Bram mendengkur lebih keras, seperti memprotes isi surat itu atas nama telur.


Kolam Batu ternyata bukan kolam.

Atau mungkin dulu kolam, sebelum seseorang memutuskan bahwa kolam biasa terlalu nyaman. Letaknya di halaman tertutup di belakang menara Water, dikelilingi dinding batu tinggi yang ditumbuhi lumut. Di tengahnya ada genangan air sedalam pinggang, gelap dan dingin seperti es yang belum memutuskan untuk membeku. Di sisi utara, air terjun kecil jatuh dari saluran di dinding, deras dan berisik. Di atas permukaan air berdiri tiang-tiang kayu setinggi lutut, puluhan jumlahnya, berjajar tidak beraturan, masing-masing hanya selebar telapak kaki.

Di tepi kolam, di atas batu datar, ada tumpukan batu bulat. Yang paling kecil sebesar kepala manusia.

Profesor Ingrid Halvard berdiri di samping tumpukan batu itu, memakai jubah latihan biru tua yang lengannya digulung sampai siku. Ia memegang secangkir teh yang mengepul. Ia jelas sudah sarapan.

“Kamu terlambat dua menit,” katanya.

“Menara jamnya bilang aku tepat waktu.”

“Menara jam itu lambat dua menit. Sudah sejak aku masih siswa.” Ia menyesap tehnya. “Itu bukan alasan. Masuk ke air.”

Aku menatap air hitam itu. Uap dingin naik dari permukaannya.

“Profesor, boleh aku tanya dulu kenapa...”

“Tidak.”

“...oke.”

Aku melepas sepatu dan masuk ke air.

Bug report singkat: Expected: air dingin. Actual: air dingin yang punya dendam pribadi.

Rasanya seperti ribuan jarum es ditusukkan ke kulitku sekaligus. Napasku tersentak keluar dalam satu hembusan panjang. Gigiku langsung bergemeletuk. Kakiku, yang menapak dasar kolam berlumut, hampir tergelincir.

“Napas,” kata Ingrid dari tepi kolam.

“S-sedang d-diusahakan.”

“Bukan napas seperti itu. Napas yang kamu pakai waktu melawan babi itu.”

Aku menoleh tajam ke arahnya.

Ia tidak menatapku. Ia sedang memandangi tehnya, meniup uapnya pelan.

“Aku tidak bertanya dari mana kamu mempelajarinya,” katanya. “Aku sudah bilang begitu. Tapi aku tahu satu hal. Teknik apa pun yang kamu pakai, semuanya dimulai dari napas. Napas panjang, dalam, sampai ke dasar perut. Napas yang membuat darahmu bergerak lebih cepat dan ototmu bekerja lebih keras. Aku benar?”

Aku tidak menjawab.

Ia mengangguk sedikit, seperti diam itu sudah cukup jadi jawaban.

“Masalahmu bukan tekniknya,” lanjutnya. “Masalahmu tubuhmu. Paru-parumu kecil. Jantungmu lemah. Ototmu seperti otot anak yang tiga bulan terakhir hanya makan bubur. Kamu bisa memanggil apa pun ke pedangmu, tapi tubuhmu adalah wadah yang retak. Kalau wadahnya retak, air sebanyak apa pun akan bocor.”

Wadah.

Aku teringat jendela biru di hari upacara. [Vessel Compatibility: 100%]. Pedangku adalah wadah sempurna. Tapi ternyata pedang bukan satu-satunya wadah. Tubuhku juga.

“Jadi,” kata Ingrid, menaruh cangkir tehnya di atas batu, “kita perbaiki wadahnya.”

Ia mengangkat satu batu bulat dari tumpukan, yang sebesar kepala manusia, dengan satu tangan, seolah itu bantal.

“Tangkap.”

“Apa...”

Batu itu sudah melayang ke arahku.

Aku menangkapnya. Atau lebih tepatnya, batu itu menghantam dadaku dan aku memeluknya dengan dua tangan supaya tidak jatuh. Beratnya luar biasa. Lututku langsung tenggelam lebih dalam ke lumpur dasar kolam.

“Angkat di atas kepala,” kata Ingrid. “Tahan. Dan napas. Napas yang benar.”


Tiga jam berikutnya adalah tiga jam paling menyakitkan dalam kedua hidupku.

Aku mengangkat batu di atas kepala sambil berdiri di air es, menarik napas panjang sampai ke perut, sampai Ingrid bilang cukup. Lalu aku berdiri di bawah air terjun dengan batu yang sama, membiarkan air menghantam bahu dan kepalaku dari ketinggian, sambil tetap bernapas dengan irama yang benar. Lalu aku melompat dari tiang ke tiang di atas permukaan air, dengan batu diikat di punggung, dan jatuh ke kolam tujuh belas kali.

Setiap kali jatuh, Ingrid hanya berkata satu kata.

“Lagi.”

Di jatuh yang kesembilan, aku mendengar suara langkah kaki di balik dinding batu. Lalu kepala raksasa berambut cokelat yang sangat familier muncul di atas dinding, mengintip ke bawah.

“Kael?” bisik Bram, bisikan yang terdengar sampai menara sebelah. “Kael, kamu masih hidup? Aku bawain telur. Nenekku bilang orang yang lagi disiksa harus tetap makan.”

Ingrid tidak menoleh.

“Holloway,” katanya. “Turun dari dinding.”

“Maaf, Profesor. Saya cuma...”

“Atau masuk ke kolam dan ikut latihan.”

Hening.

Lalu bunyi byur yang sangat besar, karena Bram, yang memang punya prioritas yang jelas dalam hidup, memutuskan bahwa menemani temannya disiksa lebih penting daripada menjaga kering seragamnya. Ia melompat dari atas dinding, langsung ke tengah kolam, dengan piring telur masih di tangan kanan, terangkat tinggi supaya tidak basah.

Ia muncul ke permukaan, megap-megap.

“DINGIN!”

“Pegang batu,” kata Ingrid.

“Tapi telurnya...”

Ingrid mengulurkan tangan. Bram, dengan wajah seperti seorang ayah yang menyerahkan bayinya, menyerahkan piring telur itu. Ingrid menaruhnya di samping cangkir tehnya. Lalu melempar batu ke arah Bram.

Bram menangkapnya dengan satu tangan. Tanpa terhuyung sedikit pun.

Ingrid berkedip. Hanya sekali. Tapi aku melihatnya.

“Dua batu,” katanya.


Di jam kedua, Cedric Lorne datang.

Ia muncul di pintu halaman, memakai seragam latihan merah yang jelas lebih mahal dari seragam latihan siapa pun di akademi, membawa keranjang anyaman yang ditutup kain putih.

“Ashford,” katanya, dengan nada orang yang sudah mempersiapkan kalimat ini selama perjalanan. “Aku datang untuk tanding ulang. Aku sudah bilang minggu depan, tapi aku memutuskan bahwa minggu depan terlalu lama, jadi...”

Ia berhenti.

Matanya menyapu pemandangan di depannya. Kolam batu. Air terjun. Aku, berdiri di atas tiang kayu dengan batu di punggung, gemetar seperti daun. Bram, berdiri di tengah kolam, mengangkat dua batu di atas kepala, wajahnya merah. Dan Profesor Ingrid Halvard, berdiri di tepi kolam dengan secangkir teh di tangan, menatapnya.

“Lorne,” kata Ingrid.

“P-Profesor.”

“Kamu membawa apa?”

Cedric memandangi keranjangnya, seolah lupa sendiri. “S-sarapan. Ashford bilang aku harus bawa sarapan kalau mau tanding ulang.”

Aku memang bilang begitu. Aku tidak menyangka ia serius.

Ingrid memandangi keranjang itu lama. Lalu memandangi Cedric. Lalu memandangiku, yang masih di atas tiang, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, sudut bibirnya bergerak sangat sedikit.

“Taruh di sana,” katanya, menunjuk batu di samping piring telur Bram. “Lalu masuk ke kolam.”

“Tapi aku datang untuk duel, bukan...”

“Kamu kalah dalam dua gerakan,” kata Ingrid datar. “Kamu tidak butuh duel. Kamu butuh latihan. Masuk.”

Cedric Lorne, putra Count Lorne, Rank A, berdiri di pintu halaman dengan wajah merah padam selama lima detik penuh.

Lalu ia menaruh keranjangnya, melepas sepatunya yang mahal, dan masuk ke air es dengan bunyi tersentak yang sangat tidak bangsawan.

“Ini,” katanya dengan gigi bergemeletuk, menatapku dengan dendam yang murni, “salahmu.”

“Aku tahu,” kataku, gemetar di atas tiang. “Maaf.”

“Jangan minta maaf!”

“Oke. Nggak jadi.”

Bram tertawa terbahak-bahak di tengah kolam sampai dua batunya hampir jatuh. Ingrid menyesap tehnya.


Kami selesai menjelang tengah hari.

Aku tergeletak di batu datar di tepi kolam, seluruh tubuh menggigil, kulit jariku keriput seperti kismis, telapak tanganku lecet di setiap ruas karena menggenggam batu berjam-jam. Bram tergeletak di sebelahku, terengah-engah, masih tersenyum. Cedric tergeletak di sebelahnya, menatap langit, sama sekali tidak tersenyum.

Isi keranjang Cedric ternyata roti manis berlapis gula, keju, buah-buahan dari kebun keluarga Lorne, dan sebotol susu madu. Kami bertiga memakannya dalam diam, ditambah telur Bram yang sudah dingin. Itu sarapan terenak yang pernah kumakan, mungkin karena aku hampir mati sebelum memakannya.

[Vessel Training: 15.8%]

Tiga koma empat persen dalam satu pagi. Biasanya aku butuh seminggu push-up untuk mendapat angka sebesar itu.

Ingrid berdiri di atas kami, cangkir tehnya sudah kosong.

“Besok,” katanya. “Jam lima. Bertiga.”

Cedric tersedak keju. “Bertiga?”

“Kecuali kamu mau aku mengirim surat ke Count Lorne bahwa putranya dikalahkan siswa Rank F di depan tiga ribu dua ratus orang, lalu menolak latihan karena airnya dingin.”

Cedric menutup mulutnya.

“Bagus.” Ingrid berbalik untuk pergi. Lalu berhenti, dan bicara tanpa menoleh, suaranya lebih pelan.

“Ashford.”

“Ya, Profesor?”

“Muridku yang dulu,” katanya, “juga datang ke kolam ini setiap pagi. Tiga tahun. Ia yang paling keras di antara semua muridku. Paling kuat. Paling berbakat.”

Aku menunggu.

“Ia juga bilang kristal tidak bisa mengukurnya. Ia benar.” Jeda. Angin bertiup di antara dinding batu, membawa bau lumut dan air. “Lalu suatu hari, ia memutuskan bahwa dunia yang tidak bisa mengukurnya tidak pantas untuk dilindungi.”

“Apa yang terjadi padanya?”

Ingrid tidak menjawab.

Ia mengambil cangkir tehnya yang kosong, piring telur Bram yang kosong, dan keranjang Cedric yang kosong, lalu berjalan keluar halaman tanpa menoleh lagi.

Kami bertiga diam lama.

“Profesor Halvard,” kata Cedric akhirnya, pelan, “nggak pernah cerita soal muridnya ke siapa pun.”

“Kamu tahu siapa?” tanyaku.

Cedric menggeleng. “Ayahku pernah bilang ada lulusan terbaik Arcblade, belasan tahun lalu, yang menghilang setelah lulus. Namanya dihapus dari semua catatan akademi. Nggak ada yang tahu kenapa.” Ia meneguk susu madunya. “Mungkin itu orangnya. Mungkin bukan.”

Aku menatap air kolam yang perlahan tenang kembali, dan memikirkan seorang murid yang datang ke sini setiap pagi selama tiga tahun, lalu memutuskan dunia tidak pantas dilindungi.

Di kepalaku, aku membuka tiket baru.

Bug report. Judul: Murid Profesor Ingrid yang menghilang. Severity: belum diketahui. Status: investigasi.

Lalu aku menandainya dengan prioritas tinggi, dan menutupnya untuk hari ini.


Malam itu, jam sebelas, aku sampai di perpustakaan dengan tangan dibalut kain bekas yang kurobek dari seprai.

Aurelia mengangkat kepala waktu aku duduk. Matanya langsung jatuh ke tanganku.

“Itu apa?”

“Kenang-kenangan dari Profesor Ingrid.”

Ia menutup bukunya. Gerakannya pelan, tapi entah kenapa terasa seperti seseorang yang baru saja menutup pintu dengan keras.

“Buka,” katanya.

“Nggak apa-apa, cuma lecet...”

“Kael. Buka.”

Aku membuka balutannya. Telapak tanganku merah dan lecet, kulit di beberapa ruas jari terkelupas, ada luka-luka kecil yang masih basah.

Aurelia menatap tanganku lama sekali.

Lalu ia merogoh saku sweternya, bukan saku tempat botol ungu, saku yang satunya lagi, dan mengeluarkan kaleng kecil berwarna perak. Ia membukanya. Isinya salep berwarna hijau pucat yang baunya seperti mint dan bunga.

“Tangan,” katanya.

Aku mengulurkan tangan kananku di atas meja.

Ia mengambil sedikit salep dengan ujung jarinya dan mengoleskannya ke lukaku. Pelan. Sangat pelan. Jari-jarinya dingin, dan sentuhannya begitu ringan sampai aku hampir tidak bisa merasakannya, kecuali di tempat-tempat di mana kulitku terkelupas, yang terasa seperti disentuh angin sejuk.

Aku tidak bernapas.

Sungguh. Aku lupa caranya. Profesor Ingrid menghabiskan tiga jam mengajariku bernapas dengan benar, dan semua pelajarannya hilang dalam tiga detik.

“Tangan kiri,” kata Aurelia, tanpa mengangkat kepala.

Aku mengulurkan tangan kiri.

Ia mengoleskan salep lagi. Rambut peraknya jatuh ke depan, menutupi sebagian wajahnya, dan aku hanya bisa melihat ujung hidungnya, bulu matanya yang panjang, dan bibirnya yang sedikit mengerut seperti waktu ia membaca kalimat yang sulit.

“Ini salep dari tabib keluargaku,” katanya pelan. “Untuk luka latihan. Aku dulu sering pakai.”

“Dulu?”

“Waktu umur sepuluh. Sebelum rohku bangun. Ayah menyuruhku latihan pedang delapan jam sehari.” Ia menutup kaleng salepnya. “Tanganku seperti ini setiap malam selama dua tahun.”

Ia mengatakannya dengan nada biasa. Tidak sedih. Tidak mengeluh. Hanya fakta, seperti membaca cuaca.

Seperti Operator membacakan bahwa aku mati sendirian.

“Aurelia,” kataku.

“Hm?”

“Waktu itu, ada yang olesin salep buat kamu?”

Ia berhenti. Kaleng perak itu masih di tangannya, setengah masuk ke saku.

Lalu ia memasukkannya sepenuhnya, dan kembali membuka bukunya.

“Nggak ada,” katanya.

Hanya itu. Lalu ia mulai membaca, atau pura-pura membaca, dan aku memandangi tanganku yang sekarang berbau mint dan bunga, yang sudah tidak terasa terlalu perih lagi.

Aku tidak bilang apa-apa lagi malam itu.

Tapi di kepalaku, aku membuat satu keputusan. Keputusan yang lebih penting dari semua tiket bug yang pernah kubuka.

Suatu hari nanti, kalau tangannya terluka, aku yang akan mengoleskan salepnya.

[Vessel Training: 15.9%]

[Note: Unknown factor detected. Heart rate elevated. Not related to training.]

Bug report, pikirku. Severity: kritis.

Status: jangan diperbaiki. Apa pun yang terjadi, jangan diperbaiki.