Chapter Seven

Gosip Satu Koin

POV: Kael

Hari pertama setelah keluar dari ruang kesehatan, seorang gadis yang tidak kukenal duduk di kursiku di kantin.

Bukan di kursi kosong di sebelahku. Di kursiku. Tepat di atas bangku yang barusan kutinggalkan untuk mengambil sendok. Waktu aku kembali dengan sendok di tangan, ia sudah duduk di sana, kakinya bersila, memakan roti isi milikku dengan santai, seolah itu memang miliknya sejak lahir.

“Hai,” katanya dengan mulut penuh. “Duduk, duduk. Kursinya masih banyak.”

Aku memandangi kursi kosong di seberangnya. Lalu memandangi roti isiku yang tinggal setengah.

“Itu rotiku.”

“Iya, aku tahu. Enak.” Ia menelan, lalu mengulurkan tangan ke seberang meja. “Nina Faye. Rank D. Atribut Wind. Pekerjaan sampingan: menjual informasi.”

Aku menjabat tangannya, karena aku tidak tahu harus bagaimana lagi.

Nina Faye bertubuh kecil, lebih pendek dari Mira, dengan rambut cokelat muda yang dipotong pendek tidak rata, seolah ia memotongnya sendiri dalam gelap. Matanya hijau dan sangat, sangat cepat. Mata itu sudah memindai wajahku, seragamku, tanganku, dan sendokku dalam waktu tiga detik. Di pergelangan tangan kirinya ada gelang kulit yang digantungi belasan koin kecil, dan setiap kali ia bergerak, koin-koin itu bergemerincing.

“Informasi?” ulangku.

“Gosip,” koreksinya ringan. “Tapi informasi kedengarannya lebih profesional. Siapa pacaran sama siapa, guru mana yang lagi galak, soal ujian bocor atau nggak, Rank S mana yang diam-diam takut kecoak. Satu koin per gosip. Tiga koin kalau gosipnya panas. Lima kalau ada buktinya.”

Di belakangku, Bram datang membawa nampan berisi empat mangkuk sup. Ia berhenti mendadak waktu melihat Nina.

“Kael,” bisiknya keras-keras, bisikan yang terdengar sampai meja sebelah. “Itu Nina Faye. Penyihir Gosip. Katanya kalau dia tahu satu rahasiamu, dalam dua hari seluruh akademi tahu.”

“Itu fitnah,” kata Nina tanpa menoleh. “Aku butuh satu hari. Dan aku nggak pernah menjual gosip gratis. Itu merusak harga pasar.”

Bram duduk pelan-pelan di sebelahku, memeluk nampannya seperti melindungi sup dari pencurian.

Aku duduk juga. Kurasa sudah terlambat untuk kabur.

“Jadi,” kataku, “kamu mau jual gosip ke aku?”

“Nggak.” Nina tersenyum, senyum lebar yang memperlihatkan gigi taring kecil di sisi kanan. “Aku mau membeli gosip darimu. Sebenarnya, lebih dari itu. Aku mau menawarkan kontrak.”

“Kontrak apa?”

Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit dari saku jasnya, membukanya, dan mulai membaca dengan suara seperti petugas pengadilan.

“Hari pertama upacara Resonance. Kael Ashford, Rank F, tanpa atribut, pedangnya bisu. Ditertawakan satu angkatan. Lalu, di luar dugaan, Putri Valemont berjalan menghampiri dan bertanya sesuatu kepadanya.” Ia membalik halaman. “Sore harinya, uap tebal terlihat di belakang gudang dapur. Cedric Lorne kembali ke kamar dengan rambut basah dan pedang padam. Dia menolak bicara selama dua hari. Teman-temannya juga.”

Aku diam saja.

“Seminggu berikutnya, Kael Ashford terlihat digendong Bram Holloway setiap subuh dalam kondisi seperti cucian. Lalu, menurut laporan Pak Grumm yang kubeli dengan sebotol pelumas sendi, ada penyusup malam di perpustakaan, membawa selai.” Ia melirik Bram. Bram menunduk dalam-dalam ke supnya. “Dan seminggu lalu, di ujian lapangan, kelompok tujuh belas, isinya empat Rank F, bertemu Ironhide Boar. Threat Level C. Babinya mati.”

Nina menutup buku catatannya.

“Laporan resmi kelompok tujuh belas,” katanya, “bilang babinya kepleset akar.”

“Bisa saja, kan?” kataku.

“Babinya punya empat belas luka tebasan,” kata Nina. “Semuanya bekas air. Tidak ada satu pun anggota kelompok tujuh belas yang punya atribut Water.”

Diam.

Bram menyendok supnya dengan sangat pelan dan sangat hati-hati, seperti berharap suara sendok bisa menutupi suara jantungnya.

“Siapa lagi yang tahu soal luka-luka itu?” tanyaku akhirnya.

“Asisten pengajar yang memeriksa bangkainya. Tapi dia malas dan dia percaya babinya kepleset, karena itu lebih gampang ditulis di laporan.” Nina mengangkat bahu. “Dan Profesor Ingrid Halvard. Dia yang membawa bangkainya ke divisi Water untuk diperiksa. Dia nggak percaya babinya kepleset.”

Ingrid.

Tentu saja. Dari semua orang di akademi ini, tentu saja yang curiga adalah satu-satunya guru yang bisa mengenali bekas tebasan air.

“Oke,” kataku. “Jadi kamu tahu. Terus, kenapa kamu nggak jual saja gosip ini ke seluruh akademi? Pasti mahal.”

“Lima koin minimal. Bisa sepuluh kalau aku bumbui sedikit.” Nina mencondongkan tubuh ke depan, sikunya di atas meja. Suaranya merendah. “Tapi gosip yang dijual sekali, habis sekali. Gosip yang dikelola dengan benar, bisa jadi investasi.”

“Investasi.”

“Dengar, Kael Ashford.” Mata hijaunya bersinar seperti mata kucing yang melihat ikan. “Aku sudah tiga tahun mengumpulkan informasi di akademi ini. Aku tahu semua Rank S, semua anak bangsawan, semua bintang. Dan nggak satu pun dari mereka pernah membuatku sepenasaran ini. Kamu Rank F. Kamu nggak punya atribut. Tapi kamu bikin Cedric Lorne diam, bikin babi Threat Level C mati, dan bikin Putri Valemont, yang nggak pernah bicara dengan siapa pun, bicara denganmu.”

“Dari mana kamu tahu soal itu...”

“Pak Grumm juga melaporkan bahwa penyusup selai itu nggak sendirian di perpustakaan.” Ia tersenyum lebih lebar. “Ada yang lain di meja paling ujung. Rambutnya perak.”

Bram tersedak supnya.

Aku menepuk punggung Bram sambil menatap Nina. “Apa maumu?”

“Kontrak manajemen.” Nina mengeluarkan selembar kertas lain dari saku, sudah ditulisi rapi, sudah ada tanda tangannya di bawah. “Aku jadi manajermu. Aku kendalikan informasi tentangmu. Rumor apa yang boleh beredar, rumor apa yang harus dibunuh, siapa yang boleh tahu apa, kapan. Kalau ada yang mulai curiga, aku sebar gosip pengalihan. Kalau ada yang mau menantangmu, aku atur jadwalnya. Kalau suatu hari nanti kamu mau muncul ke permukaan, aku yang atur panggungnya.”

“Dan kamu dapat apa?”

“Dua puluh persen.”

“Dua puluh persen dari apa?”

“Dari apa pun yang kamu dapat nanti, waktu seluruh dunia akhirnya tahu siapa kamu.” Ia mengedip. “Hadiah turnamen. Undangan bangsawan. Tawaran pekerjaan. Kontrak dengan guild. Aku nggak serakah. Aku cuma visioner.”

Aku memandangi kertas itu.

Di kehidupanku yang dulu, aku tidak pernah punya manajer. Aku cuma punya atasan, yang tugasnya mengambil hasil kerjaku dan menyerahkannya ke atasan yang lebih tinggi dengan namanya sendiri di atasnya.

Ini pertama kalinya ada orang yang mau bertaruh padaku.

Dua puluh persen untuk bertaruh pada Rank F. Itu sebenarnya tawaran yang sangat berani.

“Kamu nggak takut rugi?” tanyaku.

“Aku Penyihir Gosip,” kata Nina, menekankan setiap kata. “Aku nggak pernah salah tebak soal siapa yang akan jadi berita besar. Aku tebak Aurelia Valemont jadi Rank S tiga bulan sebelum upacara. Aku tebak Cedric Lorne dapat Rank A dan bakal jadi tukang bully. Aku tebak kantin bakal ganti menu sup kacang jadi sup jamur minggu depan.”

“Sup kacangnya diganti?” tanya Bram, suaranya hancur.

“Minggu depan. Sedih, ya. Satu koin, tolong.”

Bram, dengan tangan gemetar, merogoh saku dan menyerahkan satu koin tembaga.

Aku menatap kertas kontrak itu. Lalu menatap Nina. Lalu menatap Bram, yang masih berduka atas sup kacang.

Aku mengambil pena dari tangan Nina.

“Lima belas persen,” kataku.

Nina berkedip.

Lalu tertawa, tawa nyaring yang membuat seluruh meja di sekitar kami menoleh. “Kamu nawar? Rank F tanpa atribut nawar ke Penyihir Gosip?”

“Aku dulu kerja di tempat yang tiap bulan nawar gajiku turun,” kataku. “Aku belajar dari ahlinya.”

“Delapan belas.”

“Lima belas, dan kamu dapat cerita eksklusif pertama waktu semuanya keluar nanti.”

Nina terdiam. Mata hijaunya menyipit. Aku bisa melihat roda-roda di kepalanya berputar, menghitung, menimbang.

“Deal,” katanya akhirnya, dan menyodorkan tangan lagi.

Kami berjabat tangan. Koin-koin di gelangnya bergemerincing seperti lonceng perayaan.

“Selamat,” kata Nina, mengambil kembali kertasnya, mencoret angka dua puluh dan menulis lima belas. “Kamu baru saja menyewa manajer terbaik di Arcblade. Tugas pertamaku: kasih tahu kamu dua hal.”

“Apa?”

“Pertama. Cedric Lorne baru saja mengajukan tantangan duel resmi atas namamu ke dewan siswa. Duel kehormatan, di arena utama, ditonton semua angkatan. Lusa.”

Sendokku berhenti di udara.

“Kenapa?”

“Karena,” kata Nina, menyeringai, “rumor soal uap di belakang dapur mulai bocor, dan Lorne butuh membuktikan ke seluruh akademi bahwa kekalahannya itu cuma kebetulan. Di depan semua orang. Dengan wasit resmi.” Ia mengangkat jari kedua. “Kedua. Aku sudah menjual tiket nonton baris depan. Tiga koin per kursi. Laku empat puluh.”

“Kamu menjual tiket untuk duelku sebelum aku setuju jadi klienmu?”

“Aku kan sudah bilang,” kata Nina, berdiri dan merapikan jasnya. “Aku visioner.”

Ia berjalan pergi, koin-koinnya bergemerincing. Di tengah jalan, ia berhenti, berbalik, dan menunjuk ke arah pintu kantin.

“Oh, satu lagi. Gratis, karena kamu klien baru.”

Aku menoleh ke pintu.

Profesor Ingrid Halvard berdiri di sana. Jubah biru tua, rambut perak pendek, wajah seperti patung es yang sedang kesal. Ia tidak bergerak. Ia tidak bicara. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap lurus ke arahku dengan mata biru pucat yang tidak berkedip.

Lalu, dengan satu gerakan kepala yang sangat kecil, ia memberi isyarat: ikut aku.

“Dia sudah berdiri di situ sejak kamu masuk,” bisik Nina dari balik bahuku. “Semoga beruntung, klienku tersayang.”


Kantor Profesor Ingrid ada di menara Water, di lantai paling atas, dan ruangannya dingin seperti di dalam lemari es.

Rak-raknya penuh botol kaca berisi air berbagai warna. Di tengah ruangan ada meja batu, dan di atas meja batu itu ada sesuatu yang dibungkus kain putih. Bentuknya seperti rahang. Rahang yang sangat besar, dengan empat taring melengkung.

Ingrid tidak menyuruhku duduk. Ia berdiri di belakang mejanya dan membuka kain itu.

Di kulit logam rahang Ironhide Boar, tepat di lipatan di bawahnya, ada lima bekas tebasan. Bekas-bekas itu tidak seperti luka pedang biasa. Pinggirannya halus, bergelombang, seperti batu yang terkikis ombak selama bertahun-tahun, tapi dalam waktu sedetik.

“Uchishio,” kata Ingrid.

Jantungku berhenti.

“...Maaf?”

“Itu yang diteriakkan anak laki-laki dari kelompok tujuh belas sebelum babi ini mati,” katanya datar. “Menurut Tobias Wren, yang kebetulan mencatat semua yang ia dengar di buku catatannya, karena itu kebiasaannya kalau sedang ketakutan.”

Tobias. Tobias dan tujuh buku catatannya.

“Aku sudah mengajar atribut Water selama dua puluh dua tahun,” lanjut Ingrid. “Aku tahu semua teknik air yang tercatat di Velmora. Aku tahu teknik-teknik terlarang. Aku tahu teknik yang hanya diwariskan di keluarga-keluarga bangsawan tertentu. Dan aku tidak tahu apa itu Uchishio.”

Ia menatapku.

“Kamu tidak punya atribut. Kristal sudah membacamu. Rank F. Tapi babi ini bilang lain.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu jawaban apa yang aman.

Ingrid memandangiku lama sekali. Mata biru pucatnya tidak marah. Tidak curiga juga, tidak dalam cara yang kuduga. Lebih seperti orang yang sedang membaca buku dengan bahasa asing dan mencoba menebak isinya dari gambar.

“Aku tidak akan bertanya dari mana kamu mempelajarinya,” katanya akhirnya.

Aku berkedip. “Nggak?”

“Tidak. Karena kalau aku bertanya, kamu akan berbohong, dan aku benci dibohongi.” Ia membungkus rahang itu kembali dengan kain putih. “Aku hanya akan bilang satu hal. Tubuhmu tidak sanggup menahan apa pun yang kamu lakukan. Menurut catatan ruang kesehatan, kamu pingsan tiga hari. Ototmu robek di sebelas tempat. Kalau kamu memakai teknik itu lagi tanpa persiapan, kamu akan mati.”

“Aku tahu,” kataku pelan.

“Bagus.” Ia berbalik ke jendela, memunggungiku. “Lusa kamu duel dengan Lorne.”

“Kok semua orang sudah tahu?”

“Nina Faye menjual tiketnya juga kepadaku.” Hening sebentar. “Baris depan.”

Aku hampir tertawa. Hampir.

“Kamu boleh pergi,” kata Ingrid.

Aku berjalan ke pintu. Tanganku sudah di gagang pintu ketika ia bicara lagi, masih menatap ke luar jendela, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

“Ashford.”

“Ya, Profesor?”

“Dulu aku punya murid. Ia juga melakukan hal-hal yang tidak bisa diukur kristal mana pun.” Jeda. “Jangan berakhir seperti dia.”

Ia tidak menjelaskan. Aku tidak bertanya.

Aku menutup pintu pelan-pelan dan berdiri lama di tangga menara yang dingin, mendengarkan bunyi angin di antara batu-batu tua, memikirkan murid yang tidak diukur kristal, dan apa yang terjadi padanya.


Malam itu, jam sebelas, aku kembali ke meja di lantai tiga perpustakaan untuk pertama kalinya dalam empat hari.

Aurelia sudah di sana. Lima buku terbuka. Pena bulu bergerak cepat. Ia tidak mengangkat kepala waktu aku duduk.

Aku mengeluarkan kertas kecil dari saku. Kertas yang ia selipkan di buku di ruang kesehatan. Aku menulis sesuatu di baliknya dengan pensil pinjaman, melipatnya, dan menggesernya ke seberang meja.

Aurelia meliriknya. Membukanya. Membaca.

Babinya kepleset. Sungguh.

Meja ini memang terlalu besar buat satu orang.

— K.

Ia membaca kertas itu lama. Lebih lama dari yang dibutuhkan untuk membaca tiga kalimat pendek.

Lalu, tanpa bicara, ia melipatnya kembali dan menyelipkannya ke dalam saku sweternya. Saku yang sama tempat ia menyimpan botol obat ungu.

Ia tidak tersenyum. Tapi pipinya sedikit merah. Dan sepanjang malam itu, pena bulunya bergerak jauh lebih lambat dari biasanya.