Chapter Thirty Two
Ayah yang Ingin Putrinya Bersinar
POV: Aurelia
Ruang kerja Ayah selalu berbau tinta dan kayu cendana.
Waktu aku kecil, aku sering bersembunyi di bawah meja kerjanya yang besar, di antara kaki-kaki kayu ek yang diukir kepala singa, dan mendengarkan bunyi pena bulunya menggores kertas. Ayah tidak pernah tahu aku di sana. Atau mungkin ia tahu, dan pura-pura tidak tahu. Aku tidak pernah bertanya.
Malam ini aku tidak bersembunyi.
Aku berdiri di tengah ruangan, di depan mejanya, memakai sweter krem dari Arcblade. Di tanganku, sebuah buku bersampul kulit biru tua, dengan tinta emas di punggungnya.
Liselle Valemont.
Ayah duduk di balik meja. Ia tidak sedang menulis. Ia sedang menatap perapian, di mana sisa-sisa abu masih berpendar merah samar. Abu kertas. Mungkin surat. Mungkin surat ketujuh belas dari seorang anak laki-laki di Arcblade.
Waktu aku menaruh buku itu di atas mejanya, di antara tumpukan dokumen dan tinta, Ayah tidak terkejut.
Ia menatap buku itu lama. Lalu menatapku.
“Kamu masuk ke gudang pusaka,” katanya.
“Ya.”
“Dengan darahmu.”
“Ya.”
Ayah mengangguk pelan. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah kulihat ia lakukan seumur hidupku.
Ia melepas cincin segel Valemont dari jari manisnya, cincin perak berukir singa bersayap yang tidak pernah ia lepas bahkan saat tidur, dan menaruhnya di atas meja. Di samping buku Liselle.
“Duduk,” katanya.
Aku duduk.
“Aku berumur sembilan belas waktu Liselle meninggal,” kata Ayah.
Suaranya datar. Tidak seperti suara yang biasa ia pakai untuk memberi perintah kepada ksatria atau membalas surat dari Raja. Datar seperti air yang membeku.
“Ia dua tahun lebih tua dariku. Ia kakak terbaik di dunia. Ia mengajariku memegang pedang waktu aku lima tahun, diam-diam, di taman labirin, karena ayah kami bilang anak laki-laki kedua tidak perlu belajar pedang. Ia memanjat pohon ek di taman sampai ke puncak dan menantangku menyusul. Aku tidak pernah bisa. Ia tertawa setiap kali aku jatuh.”
Ia menatap perapian.
“Rohnya bangun waktu ia dua belas. Eclipse Lioness. Sama seperti milikmu. Ayah kami mengadakan pesta besar. Lima ratus tamu. Sama seperti pestamu.” Ia diam sebentar. “Aku berumur sepuluh. Aku tidak mengerti kenapa Ibu menangis di kamarnya setelah pesta itu selesai.”
Aku mendengarkan. Tidak bergerak.
“Waktu aku lima belas, aku menemukan gudang pusaka. Seperti kamu. Dengan darahku sendiri. Aku membaca semuanya. Empat puluh enam buku.” Tangannya, di atas meja, mengepal pelan. “Aku pergi ke kamar Liselle malam itu dan bilang padanya. Bahwa ia wadah. Bahwa ia akan mati sebelum dua puluh lima. Aku menangis seperti anak kecil.”
“Bibi bilang apa?”
Ayah tersenyum. Senyum yang sangat tipis, sangat jarang, dan sangat sedih.
“Ia bilang, aku sudah tahu sejak umur dua belas, bodoh.” Ia menunduk. “Ia bilang ia sudah memutuskan. Kalau ia memang hanya punya waktu singkat, ia tidak mau menghabiskannya dengan bersembunyi. Ia mau bersinar. Ia mau bertarung di turnamen, memenangkan semuanya, membuat semua orang melihatnya. Ia bilang, biarkan aku bersinar selagi bisa, adikku. Itu satu-satunya hal yang bisa kumiliki.”
Ia mengambil buku Liselle dari meja. Membukanya. Bukan di halaman surat-surat untuk Tomas. Di halaman pertama.
Di sana, dengan tulisan tangan yang besar dan berantakan, tulisan tangan anak dua belas tahun:
Aku akan jadi bintang paling terang di langit Velmora. Supaya waktu aku padam, semua orang ingat aku pernah ada.
“Ia memang bersinar,” kata Ayah. “Juara Turnamen Lima Akademi dua kali. Pedang paling indah yang pernah dilihat kerajaan. Lalu ia jatuh cinta pada Tomas. Anak pandai besi dari desa di kaki bukit, yang menjadi ksatria karena kerja keras, bukan karena keturunan.” Suaranya mengeras sedikit. “Ayah kami melarang. Liselle tidak peduli. Tomas melamar dengan cincin besi buatannya sendiri.”
Ia membuka laci mejanya. Mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kain beludru biru. Membukanya.
Sebuah cincin. Besi. Sederhana. Sedikit berkarat. Tidak ada ukiran. Hanya lingkaran besi yang ditempa dengan tangan, dengan bekas-bekas palu kecil di permukaannya.
“Tomas memberikannya padaku,” kata Ayah. “Dua puluh tahun setelah Liselle meninggal. Waktu ia sendiri sudah sekarat. Di depan makam Liselle. Ia bilang, tolong jangan biarkan ini terjadi lagi.”
Cincin besi itu berkilau redup di bawah cahaya perapian.
“Dan aku membiarkannya terjadi lagi,” kata Ayah. Suaranya pecah. Sedikit. Hanya sedikit. “Waktu rohmu bangun di umur dua belas. Aku tahu. Aku tahu sejak detik pertama. Eclipse Lioness. Dual attribute. Aku tahu kamu adalah wadah berikutnya.”
“Kenapa Ayah nggak bilang?”
Ayah menatapku.
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun, aku melihat mata emasnya basah.
“Karena aku mau kamu bersinar,” katanya. “Seperti Liselle. Aku mau kamu punya pesta lima ratus tamu. Aku mau kamu juara turnamen. Aku mau seluruh kerajaan memujimu. Aku mau penyair menulis puisi tentang matamu.” Napasnya tidak teratur. “Aku mau kamu punya semua yang bisa kuberikan, selama waktu yang kamu punya. Dan aku mau kamu tidak merasakan sakit. Tidak sedikit pun. Sampai akhir.”
“Obat ungu.”
“Obat ungu.” Ia menunduk. “Liselle tidak punya obat itu. Tabib baru menemukan resepnya setelah ia meninggal. Aku melihatnya kesakitan di bulan-bulan terakhir. Ia tidak bisa tidur. Ia menggigit bantal supaya Tomas tidak mendengar teriakannya.” Tangannya gemetar di atas cincin besi itu. “Aku bersumpah, kalau ada wadah berikutnya, ia tidak akan merasakan itu.”
“Dan surat-surat Kael?”
Ayah tidak langsung menjawab. Ia menatap abu di perapian.
“Aku membaca surat pertama,” katanya pelan. “Sebelum membakarnya.”
Aku membeku.
“Ia menulis tentang telur mata sapi buatan teman sekamarnya. Tentang Kael Kecil. Tentang sarung tangan putihmu yang tertinggal di taman, yang ia simpan dan cuci sendiri, karena ia takut tanganmu kedinginan tanpa itu.” Ayah menelan ludah. “Ia menulis seperti Tomas menulis untuk Liselle. Aku punya surat-surat Tomas juga. Di laci yang sama.”
Ia menutup laci itu pelan.
“Aku melihat Tomas di anak itu,” katanya. “Aku melihat seorang laki-laki yang akan menunggu di depan makam putriku dua puluh tahun. Dan aku membakar surat-suratnya, karena aku pikir kalau kamu tidak membacanya, kamu tidak akan membalas. Dan kalau kamu tidak membalas, ia akan berhenti. Dan ia tidak perlu menunggu.”
Lama kami diam.
Perapian berderak pelan. Di luar jendela, dua bulan Velmora menggantung sangat dekat satu sama lain, hampir bersentuhan. Lima minggu lagi.
Aku menatap Ayah. Pria yang selalu menulis jangan lupa minum obatmu di akhir setiap surat. Pria yang membakar surat-surat seorang anak laki-laki karena tidak ingin anak laki-laki itu terluka. Pria yang memberiku pesta lima ratus tamu dan cermin dua kali tinggi badanku, karena ia tidak tahu cara lain untuk bilang aku sayang kamu.
Pria yang kehilangan kakaknya di umur sembilan belas, dan memutuskan bahwa cara terbaik mencintai putrinya adalah membuatnya bersinar tanpa merasakan sakit, sampai padam.
Kebaikan yang salah tempat.
Aku mengulurkan tangan. Mengambil botol ungu dari saku sweterku, botol yang ia letakkan di meja samping ranjangku setiap pagi. Aku menaruhnya di atas meja. Di samping buku Liselle. Di samping cincin besi Tomas.
“Ayah,” kataku.
Ia menatap botol itu.
“Aku nggak mau bersinar,” kataku. Suaraku bergetar. Aku membiarkannya. “Aku nggak pernah mau bersinar. Aku nggak mau pesta lima ratus tamu. Aku nggak mau puisi tentang mataku. Aku nggak mau jadi bintang paling terang supaya semua orang ingat aku waktu padam.”
Air mata mengalir di pipiku. Aku tidak menyekanya.
Valemont tidak menangis. Tapi aku tidak mau jadi Valemont lagi malam ini.
“Aku mau hidup,” kataku. “Dan kalau aku nggak bisa hidup lama, aku mau merasakan semuanya. Sakitnya juga. Supaya aku tahu aku masih hidup. Supaya waktu seseorang menggenggam tanganku, aku bisa merasakannya. Bukan cuma tangan yang dingin karena obat.”
Aku mendorong botol ungu itu ke arahnya.
“Aku berhenti minum ini,” kataku.
Ayah menatap botol itu lama sekali.
“Kalau kamu berhenti,” katanya pelan, “kamu akan merasakan semuanya. Retakan itu. Setiap kali menjalar. Setiap kali segel bergerak. Liselle menggigit bantal, Aurelia. Ia menggigit bantal sampai bibirnya berdarah.”
“Aku tahu.”
“Kamu akan kesakitan.”
“Aku tahu.”
“Kenapa?”
Aku memikirkan seorang anak laki-laki di air mancur Arcblade, di hari pertama, yang bilang pedangnya tidak sakit, cuma sepi. Aku memikirkan seorang anak laki-laki di menara lonceng Solmere, yang menangkapku dan bilang aku di sini. Aku memikirkan seorang anak laki-laki di atap ruang kesehatan, jam dua pagi, yang bilang di dua hidupku, nggak ada yang pernah tanya apa aku sakit.
“Karena ada orang yang selalu tanya apa aku sakit,” kataku. “Dan aku mau bisa jawab dengan jujur.”
Ayah tidak menjawab.
Ia mengambil botol ungu itu. Menatapnya. Lalu, dengan gerakan yang sangat pelan, ia membuka tutupnya, berdiri, berjalan ke perapian, dan menuangkan isinya ke abu yang masih berpendar.
Cairan ungu itu mendesis. Asap tipis naik, berbau logam.
Lalu Ayah berdiri di depan perapian, punggungnya menghadapku, bahunya yang lebar bergetar.
Aku tidak pernah melihat Ayah menangis.
Aku berdiri. Berjalan ke arahnya. Dan memeluk punggungnya, seperti waktu aku berumur lima tahun dan bersembunyi di bawah mejanya dan keluar untuk memeluk kakinya karena ia terlihat sedih membaca surat.
Ayah tidak berbalik. Tapi tangannya, yang besar dan kasar dan berkapalan karena pedang, naik dan menggenggam tanganku di depan dadanya.
Kami berdiri seperti itu lama sekali.
Sakitnya datang dua jam kemudian.
Aku sudah kembali ke kamarku. Berbaring di ranjang berkanopi biru. Dan tiba-tiba, tanpa peringatan, retakan di lengan kiriku berhenti terasa dingin.
Retakan itu terasa seperti terbakar.
Dari pergelangan tangan, naik ke siku, ke bahu, ke tulang selangka. Seperti seseorang menuangkan logam cair ke dalam setiap cabang retakan itu. Napasku tersentak. Tubuhku melengkung di atas ranjang. Aku menggigit bibir supaya tidak berteriak.
Jadi ini rasanya.
Lima tahun aku tidak merasakannya. Lima tahun obat ungu menahannya. Dan sekarang semuanya datang sekaligus, seperti bendungan yang retak.
Aku menangis. Aku berteriak ke bantal. Aku menggigit sudut selimut sampai rasanya seperti logam lagi, tapi kali ini logam dari darahku sendiri.
Liselle menggigit bantal.
Aku juga.
Tapi di tengah semua itu, di tengah rasa terbakar dan air mata dan teriakan yang tertahan, aku merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak kurasakan selama lima tahun.
Detak jantungku sendiri. Keras. Cepat. Hidup.
Aku masih hidup.
Hollow menyerang kastil Valemont tiga hari kemudian.
Aku tidak tahu jam berapa. Aku terbangun karena suara lonceng peringatan kastil, berdentang cepat dan kacau. Lalu suara teriakan. Lalu bau kertas terbakar.
Aku turun dari ranjang. Tubuhku masih sakit. Setiap langkah, retakan di lenganku berdenyut seperti dipukul palu. Tapi aku bisa berjalan.
Dari jendela kamarku, aku melihat taman labirin di belakang kastil. Taman tempat Liselle mengajari Ayah memegang pedang. Tempat Tomas melamar dengan cincin besi.
Taman itu terbakar api hitam.
Di tengahnya, berdiri sosok berjubah hitam. Bukan abu-abu. Hitam. Topeng putih dengan garis merah, seperti Sable. Tapi sosok ini lebih ramping. Rambut panjang hitam berkibar ditiup angin yang berputar di sekelilingnya. Perempuan. Di tangannya, dua kipas besar dengan bilah-bilah tajam seperti pisau. Dan di belakangnya, bayangan burung raksasa dengan wajah perempuan dan sayap yang terbuat dari angin hitam.
Dua puluh ksatria Valemont menyerang dari segala arah.
Angin hitam menyapu mereka. Seperti daun kering.
Lalu Ayah keluar dari pintu kastil.
Ia tidak memakai zirah. Hanya jas biru tua yang ia pakai di ruang kerjanya. Di tangannya, pedang panjang berwarna perak keemasan. Atribut Light. Dan di belakangnya, untuk pertama kalinya aku melihatnya, Spirit-nya. Singa jantan raksasa berwarna perak, bersurai cahaya.
Silver Lion. Roh Ayah. Aku tidak pernah tahu Ayah punya roh. Ia tidak pernah memanggilnya di depanku.
“Kamu tidak akan menyentuh putriku,” kata Ayah. Suaranya menggelegar di seluruh taman.
Perempuan bertopeng itu memiringkan kepala.
“Duke Valemont,” katanya. Suaranya seperti angin yang bersiul di celah jendela. “Kamu membuang empat puluh tujuh putri ke dalam api. Dan sekarang, di putri keempat puluh delapan, kamu tiba-tiba ingin melindunginya?”
Ayah tidak menjawab. Ia menyerang.
Silver Lion meraung dan menerjang. Pedang perak Ayah membelah angin hitam. Selama satu menit, dua menit, Ayah bertarung seperti yang belum pernah kulihat. Seperti Liselle di turnamen, mungkin. Seperti seseorang yang sudah menunggu dua puluh lima tahun untuk melindungi seseorang yang tidak bisa ia lindungi.
Lalu angin hitam itu membelit Silver Lion. Mencabik-cabiknya. Roh singa itu meraung, lalu buyar menjadi cahaya.
Ayah terlempar ke dinding taman labirin. Jatuh. Tidak bangun.
“Ayah!”
Perempuan bertopeng itu mendongak ke arah jendelaku.
“Wadah,” katanya. “Turunlah. Atau aku akan turun menjemputmu.”
Aku menggenggam ambang jendela. Retakan di lenganku membakar. Eclipse Lioness menggeliat di dadaku, meraung, ingin keluar. Aku bisa memanggilnya. Aku bisa melawan.
Dan retakan itu akan sampai ke jantungku.
Aku tidak memanggilnya.
Aku tidak mau bersinar lagi. Aku mau hidup.
Perempuan bertopeng itu mengangkat kipasnya. Angin hitam mulai berputar, naik, ke arah jendelaku.
Lalu, dari langit utara, sesuatu menutupi bulan.
Bayangan. Bayangan raksasa. Bentuknya seperti naga tanpa kaki, dengan sayap hitam yang terbentang lebar, menutupi separuh langit di atas kastil Valemont. Matanya menyala biru.
Di punggung bayangan raksasa itu, ada tiga sosok.
Seorang pemuda raksasa yang memeluk wajan. Seorang pemuda berambut merah dengan pedang api yang menyala seperti obor. Dan di depan mereka, berdiri di atas kepala bayangan itu, dengan mantel hitam berkibar dan pedang abu-abu di tangan, seorang anak laki-laki berambut hitam berantakan.
Aku tidak bisa melihat wajahnya dari sejauh ini.
Tapi aku tahu ia sedang menatapku.
Retakan di lenganku masih membakar. Air mataku masih mengalir. Angin hitam masih berputar di bawah jendela.
Tapi aku merasakan semuanya. Semuanya. Termasuk jantungku yang berdebar begitu keras sampai terasa di ujung jari.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tahu persis bahwa aku masih hidup.
Dan bahwa ia datang.
- 1 Jam Tiga Pagi
- 2 Pedang yang Tidak Bersuara
- 3 Water Surface Slash
- 4 Teman Sekamar yang Menyembahku
- 5 Perpustakaan Jam Malam
- 6 Hutan Latihan
- 7 Gosip Satu Koin
- 8 Mata Pedang Terbalik
- 9 Kenapa Kamu Tidak Pakai Atribut?
- 10 Pelatihan Neraka Profesor Ingrid
- 11 GETSUGAAA TENSHOU
- 12 Rumor Rank F Terkutuk
- 13 Limiter Lepas
- 14 Undangan Turnamen Lima Akademi
- 15 Gaun Biru di Pesta Pembukaan
- 16 Tiga Pedang di Mulut
- 17 Cedric Minta Tanding Ulang (Lagi)
- 18 Enam Belas Tebasan
- 19 Hadiah yang Ia Minta
- 20 Kota Festival Lentera
- 21 Godspeed
- 22 Retakan di Pergelangan Tangan
- 23 Pedang Pembunuh Sihir
- 24 Surat dari Valemont
- 25 Dead Calm
- 26 Pengakuan di Atap
- 27 BANKAI
- 28 Rahasia Keluarga Valemont
- 29 Dia Menjauh Karena Sayang
- 30 Arise
- 31 Operator Minta Maaf
- 32 Ayah yang Ingin Putrinya Bersinar reading
- 33 Tiga Ribu Dunia
- 34 Malam Sebelum Gerhana
- 35 Hinokami Kagura
- 36 Wadah yang Terbuka
- 37 Mugetsu
- 38 Pedang Kosong Itu Akhirnya Bersuara
- 39 All Heroes Assemble
- 40 Hanya Aurelia
- 41 Epilog — Kali Ini Ada yang Menunggu