Chapter Thirty Nine
All Heroes Assemble
POV: Kael
Sang Penimbang tidak menyerang dengan tangannya sendiri.
Ia mengangkat jari. Satu jari cahaya. Dan di puncak menara jam, di samping patung Lucan Vire yang membeku, bayangan raksasa yang melingkar di sekeliling menara bergerak.
Abyssal Wyrm.
Naga kegelapan tanpa sayap dan tanpa kaki, yang dulu melingkar setia di sekitar Lucan. Sekarang matanya, dua lubang hitam pekat, menyala keemasan. Warna yang sama dengan mata ketiga di dahi Aurelia. Di lehernya, rantai cahaya melilit. Rantai yang mengalir dari tangan Sang Penimbang.
Roh Lucan. Dirampas.
Dan dari setiap bayangan di Arcblade, di bawah gerhana total, ribuan pendeta Hollow muncul lagi. Tapi kali ini mata mereka di balik topeng juga menyala keemasan. Mereka tidak lagi melayani Hierophant.
Mereka melayani Sang Penimbang.
“Yang tidak bisa ditimbang,” kata dua suara dari bibir Aurelia, “bisa dihancurkan.”
Abyssal Wyrm membuka mulutnya. Bola kegelapan terbentuk di dalamnya. Lebih besar dari yang di asrama F. Sebesar menara. Dan delapan sayap cahaya-dan-gelap di punggung Sang Penimbang, yang sudah tumbuh kembali sepenuhnya, terbentang, ujung-ujungnya mengeras menjadi tombak-tombak cahaya yang mengarah ke alun-alun.
Ke ratusan siswa. Ke para profesor. Ke Bram, Cedric, Nina, Mira, Tobias.
Ribuan pendeta bermata emas menyerbu dari segala arah.
Aku mengangkat pedangku.
Srek. Srek. Srek.
Di atasku, Myriad merendahkan kepalanya. Mata birunya, cahaya layar ponsel jam tiga pagi, menatapku. Menunggu.
Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu bagaimana aku tahu. Mungkin karena ini bukan jurus pinjaman. Ini milikku. Seperti Eclipse Lioness milik Aurelia, seperti Leviathan milik Ravel. Roh yang lahir dari pedangku sendiri.
Dan setiap roh punya ultimate.
“Myriad,” kataku. “Ultimate.”
Naga itu membentangkan kedelapan sayapnya.
“All Heroes Assemble.”
Halaman-halaman di tubuh Myriad terbuka.
Semuanya. Bersamaan. Ribuan halaman yang tadi berbalik pelan, sekarang terbentang lebar, seperti buku raksasa yang dibuka di tengah. Dan dari setiap halaman, cahaya mengalir keluar.
Bukan cahaya biasa. Cahaya yang membentuk sosok.
Siluet. Tidak berwajah, terbuat dari cahaya biru pucat dan garis-garis tinta hitam, seperti gambar sketsa yang hidup. Turun dari langit, dari sayap-sayap pedang Myriad, satu per satu, mendarat di alun-alun, di atap-atap, di tembok akademi.
Seorang anak laki-laki dengan anting-anting hanafuda berbunyi di telinganya, memegang pedang hitam.
Seorang pria berambut seperti nyala api, dengan senyum yang tidak pernah padam.
Seorang anak berambut kuning yang memegang pedang dengan tangan gemetar, dan matanya terpejam, karena ia selalu bertarung paling baik saat tertidur.
Seorang pria pendiam berhaori dua warna, berdiri di depan sekelompok siswa Rank F yang membeku ketakutan, dan mengangkat pedangnya dalam diam.
Seorang perempuan mungil dengan jepit kupu-kupu.
Seorang anak berambut panjang dengan mata kosong yang selalu melamun.
Seorang anak bertopeng kepala babi hutan, yang langsung berlari ke arah pendeta Hollow terdekat sambil berteriak tanpa suara.
Seorang pemuda berambut oranye dengan golok raksasa di punggung.
Seorang pendekar berambut hijau dengan tiga pedang. Satu di mulut.
Seorang pemuda berbaju hitam dengan dua pedang.
Seorang pria kecil berambut merah panjang dengan bekas luka silang di pipi, dan pedang yang matanya terbalik.
Seorang pemuda dengan dua belati, dan di belakangnya, tiga ratus empat puluh tujuh bayangan monster yang keluar dari bayanganku, berbaris bersama pasukan bayangan yang jauh lebih besar milik siluet itu, yang berlutut padanya seperti raja.
Seorang anak kecil berambut putih keabu-abuan, dengan pedang besar berkarat yang lebih besar dari tubuhnya.
Seorang ksatria perempuan berambut merah menyala, dengan seratus pedang melayang di sekelilingnya.
Seorang samurai berambut keriting perak, menguap, memegang pedang kayu.
Seorang pria bertopi lebar berbulu, dengan pedang hitam raksasa berbentuk salib di punggungnya, yang menatap Abyssal Wyrm dengan mata kuning seperti elang dan tidak tampak terkesan sama sekali.
Sebuah kerangka berambut afro bertopi tinggi, dengan biola di satu tangan dan pedang ramping di tangan lain, yang membungkuk sopan ke arah Mira dan sepertinya bertanya sesuatu yang membuat Cedric langsung berdiri di depan Mira dengan pedang terangkat.
Seorang pria berambut putih disisir ke belakang, dengan katana bersarung hitam, berdiri sendirian di atap perpustakaan, menatap langit dengan dingin.
Puluhan. Ratusan. Sosok-sosok dari halaman-halaman yang kubaca jam tiga pagi. Turun ke Velmora.
Satu per satu, mereka menoleh ke arahku.
Dan mengangguk.
Lalu mereka bergerak.
Semua. Bersamaan. Masing-masing dengan jurus pamungkasnya.
Anak dengan anting-anting hanafuda menarikan tiga belas gerakan, dan cincin api keemasan kembali menyala di sekeliling Arcblade, kali ini lebih terang dari yang kutarikan sendiri.
Pria berambut nyala api menebas ke atas, dan naga api yang membelit tubuhnya menyapu ratusan pendeta di langit.
Anak berambut kuning menghilang. Gemuruh petir menyusul satu detik kemudian, dan dua puluh pendeta di atap jatuh bersamaan.
Pria pendiam berhaori dua warna berdiri diam di depan siswa-siswa Rank F, dan air yang tidak pernah beriak mengalir di sekelilingnya. Tombak-tombak cahaya dari sayap Sang Penimbang menghantam permukaan air itu, dan tenggelam tanpa riak.
Pemuda berambut oranye mengangkat golok raksasanya. Gelombang bulan sabit hitam meluncur ke langit, menghantam salah satu sayap Sang Penimbang.
Pendekar tiga pedang. Tiga kepala. Enam lengan. Sembilan pedang. Sayap kedua terbelah.
Pemuda berbaju hitam. Enam belas tebasan biru. Sayap ketiga hancur jadi pelangi.
Pria kecil berambut merah melangkah maju dengan kaki kiri. Battoujutsu. Ruang hampa. Sayap keempat tersedot dan buyar.
Anak berambut putih dengan pedang berkarat melompat ke udara. Anti-Magic sword-nya menebas rantai cahaya yang melilit leher Abyssal Wyrm. Rantai itu lenyap, seperti tidak pernah ada.
Abyssal Wyrm meraung. Mata keemasannya berkedip. Lalu, perlahan, kembali hitam. Lubang hitam pekat. Bebas.
Pria bertopi lebar berbulu mengangkat pedang salib hitamnya, menatap Abyssal Wyrm yang baru bebas, lalu menurunkannya lagi. Ia menoleh ke arah patung Lucan di puncak menara jam, lalu kembali menatap naga kegelapan itu, dan menggeleng pelan. Seolah bilang: yang ini bukan musuh.
Sebagai gantinya, ia mengayunkan pedangnya ke arah sayap kelima Sang Penimbang. Satu tebasan. Sayap itu terbelah dari pangkal sampai ujung.
Ksatria berambut merah. Seratus pedang. Sayap keenam.
Samurai berambut keriting perak, masih menguap, mengayunkan pedang kayunya sekali, malas, dan sayap ketujuh retak dan runtuh. Ia menggaruk kepala, seperti bingung kenapa itu berhasil.
Dan di atap perpustakaan, pria berambut putih dengan katana bersarung hitam menarik pedangnya sejengkal. Klik.
Garis-garis biru tipis muncul di udara di sekeliling sayap kedelapan. Lusinan. Lalu semuanya terpotong bersamaan.
Delapan sayap Sang Penimbang. Hancur.
Di alun-alun, di tengah semua itu, aku mendengar suara yang sangat familier.
“Kael,” bisik Bram, menunjuk dengan jari gemetar ke arah siluet pendekar tiga pedang yang sedang menebas pendeta Hollow dengan Shusui di mulutnya. “Kael, itu... itu yang... pedang di mulut...”
“Iya, Bram.”
“Dia asli? Dia beneran ada?”
“Dia dari cerita.”
Bram menatap siluet itu. Siluet itu, entah kenapa, menoleh ke arahnya. Mengangguk sekali. Pedang di mulutnya berkilau.
Bram pingsan.
Cedric menangkapnya sebelum kepalanya menyentuh batu, menghela napas panjang, dan bergumam: “Lagi.”
Di sebelahnya, Tobias menulis dengan sangat cepat di buku catatan nomor sepuluh, air mata mengalir di balik kacamatanya, berusaha mencatat setiap siluet, setiap jurus, setiap nama yang diteriakkan tanpa suara.
Nina tidak mencatat apa pun. Ia hanya berdiri di samping Tobias, menatap langit, mulut sedikit terbuka. Untuk pertama kalinya, aku melihat Penyihir Gosip kehabisan kata-kata dan tidak peduli.
Di puncak menara jam, patung Lucan Vire retak.
Retakan tipis. Dari dada. Menjalar ke lengan. Ke kaki. Ke wajah. Lalu batu kelabu itu runtuh, seperti kulit yang dilepas, dan di baliknya, Lucan Vire terjatuh berlutut di atap menara jam, terengah-engah, hidup.
Abyssal Wyrm melingkar di sekelilingnya. Kepalanya yang tanpa bentuk menunduk, menyentuh bahu Lucan, pelan, seperti anak anjing yang menemukan pemiliknya lagi.
Lucan mengangkat tangannya yang gemetar. Menyentuh kepala naga kegelapan itu.
Lalu ia mendongak. Menatap langit. Menatap siluet-siluet cahaya yang bertarung di seluruh Arcblade. Menatap Myriad, naga halaman dan pedang yang melingkar di langit gerhana.
Matanya, ungu gelap, perlahan dipenuhi air.
“Mereka,” bisiknya. Suaranya terbawa angin sampai ke alun-alun. “Mereka semua dari cerita?”
Aku mendongak ke arahnya.
“Dari orang-orang yang nggak pernah berhenti berdiri,” kataku. “Walaupun nggak ada kristal yang mau mengukur mereka.”
Lucan Vire menatapku lama.
Lalu ia menunduk. Menempelkan dahinya ke kepala Abyssal Wyrm. Dan bahunya berguncang.
Sang Penimbang melayang di atas menara jam, di tubuh Aurelia. Tanpa sayap. Cahaya dan gelap di tubuhnya bergetar, berkedip-kedip, seperti lilin di tengah angin.
Mata ketiga di dahinya menatap ke bawah. Ke siluet-siluet cahaya. Ke Myriad. Ke aku.
“Apa,” kata dua suara itu. Tidak tenang lagi. Bergetar. “Apa kamu.”
“Rank F,” kataku.
“Bukan.” Mata ketiga itu menyipit. “Kamu bukan apa-apa. Kamu tidak punya nilai. Kamu tidak bisa ditimbang.”
“Iya.”
“Lalu kenapa...”
Aku tidak menjawab. Aku mengangkat pedangku.
Myriad merendahkan kepalanya di samping tubuhku. Halaman-halaman di sisiknya berhenti berbalik. Diam. Menunggu.
Satu halaman, di dekat leher naga itu, masih kosong. Putih. Seperti halaman terakhir sebuah buku, yang belum ditulis.
“Myriad,” kataku. “Ultimate kedua.”
Naga itu membuka mulutnya. Bukan untuk mengaum. Untuk membaca.
“Final Volume.”
Myriad melingkari Sang Penimbang.
Pelan. Hati-hati. Seperti seseorang memeluk buku yang sangat tua. Tubuh naga itu, halaman-halaman dan baja, melingkar di sekeliling tubuh Aurelia yang melayang, sampai yang terlihat dari bawah hanya lingkaran halaman-halaman yang berbalik pelan, membungkus cahaya dan gelap di tengahnya.
Dan aku mendengar suara Myriad. Bukan dengan telinga. Di dalam kepalaku. Suara jutaan halaman yang dibalik, membentuk kata-kata.
Setiap legenda punya awal.
Di halaman-halaman di sekeliling Sang Penimbang, gambar-gambar muncul. Bukan gambar dari manga. Gambar baru. Ditulis dengan tinta yang mengalir dari mata biru Myriad.
Seorang penjaga. Seribu tahun lalu. Sebelum Velmora punya nama. Penjaga yang mencintai dunia kecilnya, setiap jiwa di dalamnya. Yang takut dunia itu kacau. Yang takut jiwa-jiwa di dalamnya saling menyakiti. Yang mulai mengukur, karena ia pikir kalau semuanya diukur, semuanya akan teratur. Semuanya akan aman.
Yang tidak pernah bertanya pada satu jiwa pun apakah mereka kesakitan.
Setiap legenda punya akhir.
Mata ketiga Sang Penimbang menatap gambar-gambar itu. Menatap kisahnya sendiri, ditulis di halaman-halaman yang membungkusnya.
“Aku menjaga mereka,” katanya. Dua suara. Pelan. “Aku menjaga mereka dengan mengukur.”
“Aku tahu,” kataku.
“Kalau aku berhenti mengukur, siapa yang akan menjaga dunia?”
Aku memikirkan delapan puluh siswa Rank F di ruang bawah tanah, yang lari karena aku berteriak, dan tidak satu pun ragu. Bram yang memasak telur jam dua pagi dan melihat cahaya di arena. Cedric yang menangkap Bram sebelum kepalanya menyentuh batu. Nina yang mengirim surat ke empat akademi tanpa meminta bayaran. Profesor Vexley yang mengajari Aurelia cara bernapas melewati rasa sakit.
“Mereka,” kataku. “Mereka bakal saling jaga.”
Mata ketiga itu menatapku lama.
Lalu aku mengangkat pedangku, dan menulis.
Bukan dengan tinta. Dengan bilah abu-abu yang bersuara. Aku menggoreskan ujungnya ke udara, ke arah halaman terakhir yang kosong di leher Myriad. Dan setiap goresan menjadi kata.
Dan Sang Penimbang, untuk pertama kalinya dalam seribu tahun, berhenti menimbang.
Ia menutup mata ketiganya.
Dan ia tidur.
Bukan sebagai segel. Bukan di dalam wadah. Di dalam sebuah buku, sebagai sebuah cerita, yang akan dibaca oleh orang-orang yang tidak pernah ia timbang.
Tamat.
Cahaya dan gelap di tubuh Aurelia mengalir keluar.
Pelan. Seperti air yang ditarik ke laut. Dari kulitnya. Dari rambutnya. Dari mata ketiga di dahinya, yang perlahan menutup, lalu menghilang. Cahaya putih dan kegelapan hitam berputar bersama, menyatu, lalu mengalir ke halaman terakhir di leher Myriad.
Halaman itu menyerapnya. Menyala sekali. Lalu tenang.
Di permukaan halaman itu, sebuah gambar baru. Sederhana. Hanya satu mata, terpejam. Separuh putih, separuh hitam. Tidur.
Halaman itu berbalik pelan, dan menutup.
Myriad melepaskan lingkarannya.
Aurelia jatuh.
Aku sudah berlari.
Bukan Godspeed. Bukan Sonic Leap. Aku hanya berlari, dan melompat, dan Myriad merendahkan kepalanya di bawah kakiku, dan aku melompat dari kepala naga itu, ke udara, dan menangkapnya.
Kami jatuh bersama. Myriad menangkap kami berdua di punggungnya, di antara sayap-sayap pedangnya, di antara Zangetsu dan Wado Ichimonji dan Elucidator dan pisau kue dari Solmere.
Aku memeluknya.
Ia ringan. Hangat. Tidak dingin.
Aku menyingkap rambut perak dari wajahnya. Kulitnya pucat, tapi hanya satu warna. Kulit manusia. Tidak ada cahaya. Tidak ada kegelapan.
Aku menarik lengan sweter kirinya, pelan-pelan.
Retakan hitam itu tidak ada.
Dari pergelangan tangan sampai tulang selangka, yang ada hanya satu garis tipis. Perak. Sangat samar. Seperti bekas luka lama yang sudah sembuh. Seperti seseorang menggambar sungai kecil di kulitnya dengan tinta yang hampir habis.
Di sudut pandanganku, jendela biru berkedip.
[Vessel #48 — Aurelia Valemont]
[Status: Released]
Lalu tulisan itu memudar. Dan di bawahnya, tulisan yang tidak pernah kulihat di jendela itu sebelumnya.
Bukan tulisan sistem. Tulisan tangan. Jelek. Miring. Seperti ditulis dengan tangan yang lelah.
Bug report. Expected: aku mati.
Actual: aku pulang.
Status: Fixed.
Di atas kami, dua bulan Velmora bergeser. Pelan. Bulan besar ke kiri. Bulan kecil ke kanan.
Dan di antara keduanya, matahari muncul kembali.
Cahaya putih, terang, hangat, membanjiri Arcblade. Siluet-siluet cahaya di seluruh akademi berkilau satu kali, lalu memudar, kembali ke halaman-halaman di tubuh Myriad, satu per satu. Sebelum menghilang, masing-masing menoleh sekali ke arahku. Mengangguk. Lalu pulang.
Di pelukanku, Aurelia bergerak.
Matanya terbuka. Emas. Hangat. Seperti madu di bawah sinar matahari sore.
Dua mata. Tidak ada mata ketiga.
Ia menatapku lama, seperti tidak yakin aku nyata.
“Kael,” bisiknya.
“Hm.”
“Kamu telat lagi.”
Aku tertawa. Tawa yang pecah, basah, dan sama sekali tidak keren, di punggung naga halaman di atas Arcblade, di bawah matahari yang kembali bersinar.
“Maaf,” kataku.
Ia mengangkat tangan kirinya. Tangan yang dulu retak. Menyentuh pipiku. Jari-jarinya hangat.
“Aku bisa merasakannya,” bisiknya. “Tanganmu. Hangat.”
“Bagus.”
“Nggak sakit.”
“Bagus.”
Ia tersenyum.
Lalu ia menarikku ke bawah, dan menciumku. Di punggung Myriad. Di depan seluruh Arcblade yang menatap ke atas.
Dari alun-alun di bawah, aku mendengar Bram, yang baru sadar dari pingsannya, berteriak sekuat tenaga:
“NENEKKU BILANG...”
Dan aku mendengar ratusan orang, termasuk Cedric, Nina, Mira, Tobias, delapan puluh siswa Rank F, dan, entah bagaimana, Profesor Ingrid Halvard, berteriak bersamaan:
“BRAM!”
- 1 Jam Tiga Pagi
- 2 Pedang yang Tidak Bersuara
- 3 Water Surface Slash
- 4 Teman Sekamar yang Menyembahku
- 5 Perpustakaan Jam Malam
- 6 Hutan Latihan
- 7 Gosip Satu Koin
- 8 Mata Pedang Terbalik
- 9 Kenapa Kamu Tidak Pakai Atribut?
- 10 Pelatihan Neraka Profesor Ingrid
- 11 GETSUGAAA TENSHOU
- 12 Rumor Rank F Terkutuk
- 13 Limiter Lepas
- 14 Undangan Turnamen Lima Akademi
- 15 Gaun Biru di Pesta Pembukaan
- 16 Tiga Pedang di Mulut
- 17 Cedric Minta Tanding Ulang (Lagi)
- 18 Enam Belas Tebasan
- 19 Hadiah yang Ia Minta
- 20 Kota Festival Lentera
- 21 Godspeed
- 22 Retakan di Pergelangan Tangan
- 23 Pedang Pembunuh Sihir
- 24 Surat dari Valemont
- 25 Dead Calm
- 26 Pengakuan di Atap
- 27 BANKAI
- 28 Rahasia Keluarga Valemont
- 29 Dia Menjauh Karena Sayang
- 30 Arise
- 31 Operator Minta Maaf
- 32 Ayah yang Ingin Putrinya Bersinar
- 33 Tiga Ribu Dunia
- 34 Malam Sebelum Gerhana
- 35 Hinokami Kagura
- 36 Wadah yang Terbuka
- 37 Mugetsu
- 38 Pedang Kosong Itu Akhirnya Bersuara
- 39 All Heroes Assemble reading
- 40 Hanya Aurelia
- 41 Epilog — Kali Ini Ada yang Menunggu