Chapter Twenty Five

Dead Calm

POV: Kael

Lonceng peringatan menara Water berbunyi jam sepuluh malam keesokan harinya.

Tiga dentang panjang. Jeda. Tiga dentang panjang lagi.

Aku tidak tahu artinya. Tapi dari jendela kamar kami, aku melihat Profesor Ingrid berlari melintasi halaman tengah akademi dengan pedang es terpanggil, jubah birunya berkibar, menuju menara Water. Di belakangnya, Profesor Vexley dan tiga profesor senior lain. Lalu Archmaster Ashgrove sendiri, berjalan dengan langkah kecil-kecilnya yang cepat sekali, jubah ungu bertambalnya berkibar.

“Batu segel ketiga,” kataku pelan.

Bram, di ranjangnya, mengangkat kepala dari buku resep yang sedang ia baca. “Apa?”

“Profesor Ingrid bilang keluarganya menjaga batu segel ketiga. Di bawah menara Water.” Aku sudah memakai sepatu. “Ada yang menyerang ke sana.”

Aku membuka pintu kamar.

Lalu berhenti.

Di ujung koridor asrama F, di dekat tangga, berdiri seseorang.

Sosok berjubah abu-abu. Bertudung. Bertopeng putih polos. Di dadanya, lingkaran kosong dibelah satu garis.

Di belakangnya, di tangga, ada lebih banyak. Lima. Sepuluh. Lima belas. Dan dari jendela-jendela di sepanjang koridor, di luar, di halaman asrama, aku melihat cahaya ungu kehitaman berkobar. Api hitam. Membakar pohon-pohon di halaman.

“Bram,” kataku pelan, tanpa menoleh. “Bangunkan semua orang.”


Asrama F adalah bangunan paling tua dan paling jauh dari pusat akademi. Tiga lantai, kayu dan batu, dihuni sekitar delapan puluh siswa Rank F. Tidak ada profesor yang tinggal di sini. Tidak ada penjaga. Tidak ada yang pernah berpikir asrama ini perlu dijaga.

Malam ini, seluruh profesor senior Arcblade berlari ke menara Water.

Malam ini, asrama F sendirian.

“Itu pengalihan,” gumamku, memanggil pedang abu-abu. “Mereka menyerang batu segel supaya semua profesor pergi. Lalu mereka datang ke sini.”

“Kenapa ke sini?” Bram sudah berdiri di belakangku, gada batu di tangan, wajan di tangan yang lain.

Aku tidak menjawab. Karena aku sudah tahu jawabannya.

Mereka tidak datang untuk asrama F. Mereka datang untukku.

Sosok bertopeng di ujung koridor mengangkat tangannya. Bola energi ungu kehitaman terbentuk di telapaknya.

Di belakangku, pintu-pintu kamar mulai terbuka. Wajah-wajah mengantuk mengintip keluar. Mira, rambut kepangnya acak-acakan, pisau dapur api di tangan. Tobias, kacamatanya miring, memeluk buku catatan nomor sembilan. Anak-anak Rank F lain yang tidak kukenal namanya, yang sejak hari pertama kulihat di barisan belakang setiap upacara, setiap ujian, setiap kali.

Bola ungu kehitaman itu melesat ke arah kami.

Aku tidak menangkisnya. Aku memotongnya.

[Copy: Sung Jin-Woo — Dual Daggers]

Kamish’s Wrath di kedua tanganku. Satu tebasan menyilang, dan bola sihir itu terbelah empat, menghantam dinding kayu di kiri-kanan koridor dan meledak tanpa mengenai siapa pun.

“Semua masuk kamar!” teriakku. “Kunci pintu! Mira, Tobias, bantu yang di lantai atas turun ke ruang bawah tanah! Bram, jaga tangga belakang!”

Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang ragu.

Tiga bulan lalu, aku Pedang Kosong yang ditertawakan seluruh angkatan. Sekarang, waktu aku berteriak di koridor asrama F, delapan puluh siswa Rank F bergerak serentak, seperti kami sudah berlatih ini bertahun-tahun.

Sosok-sosok bertopeng menyerbu dari tangga.

Aku melesat ke arah mereka.

“Mutilation,” kataku.

Bukan satu tebasan. Puluhan. Seratus. Kedua belati Jin-Woo bergerak terlalu cepat untuk dilihat, menebas, menusuk, memotong, dalam rangkaian serangan beruntun yang tidak punya jeda. Bukan untuk membunuh. Aku mengarahkan setiap tebasan ke senjata mereka, ke tangan mereka, ke topeng mereka. Lima sosok bertopeng pertama jatuh berguling menuruni tangga dengan senjata patah dan topeng terbelah dua.

Lima lagi menyusul. Aku menebas lagi.

Di belakangku, aku mendengar Bram berteriak, lalu bunyi gada batu menghantam sesuatu, lalu bunyi wajan menghantam sesuatu yang lain. TONG.

“Itu buat telur yang gosong tadi pagi!” teriak Bram.

Aku tidak tahu apa hubungannya. Aku tidak bertanya.


Kami bertahan sepuluh menit.

Sepuluh menit melawan gelombang demi gelombang sosok bertopeng yang datang dari tangga, dari jendela, dari atap. Kami menahan mereka di koridor lantai satu. Aku di depan. Bram di tangga belakang. Mira dan Tobias di ujung koridor, menjaga pintu ke ruang bawah tanah tempat anak-anak lain bersembunyi. Pisau dapur Mira menyala lebih terang dari yang pernah kulihat. Tobias, entah bagaimana, berhasil meniupkan angin cukup kuat untuk menjatuhkan dua sosok bertopeng dari jendela.

Lalu, tiba-tiba, mereka berhenti.

Semua sosok bertopeng yang tersisa, mungkin dua puluh, berhenti menyerang. Mereka mundur. Ke tangga. Ke jendela. Ke luar. Ke halaman asrama yang terbakar api hitam.

Dan berbaris di sana. Rapi. Seperti prajurit yang menyambut jenderal mereka.

Aku melangkah keluar pintu depan asrama F.

Di tengah halaman, di antara pohon-pohon yang terbakar, seseorang berjalan pelan ke arahku.

Bukan bayangan kali ini. Bukan proyeksi.

Lucan Vire. Tinggi, kurus, rambut hitam panjang diikat longgar. Jubah hitam di atas seragam Arcblade model lama. Mata ungu gelap.

Di belakangnya, melingkar di udara seperti asap yang hidup, ada sesuatu yang sangat besar.

Seekor naga. Bukan naga bersisik dan bersayap seperti di buku Seratus Roh Senjata. Naga yang terbuat dari kegelapan. Tubuhnya panjang dan berliku seperti ular raksasa, tanpa sayap, tanpa kaki. Sisiknya tidak memantulkan cahaya. Matanya, kalau itu mata, adalah dua lubang hitam pekat di wajah yang tidak punya bentuk pasti. Ia melingkar di sekitar Lucan, perlahan, berputar, dan setiap kali tubuhnya melewati pohon yang terbakar, apinya padam. Bukan karena disiram air. Karena ditelan.

[Spirit Detected: Abyssal Wyrm]

[Threat Level: — ]

Garis. Sama seperti rank skill-ku sendiri di hari pertama. Sistem tidak bisa mengukurnya.

Lucan berhenti sepuluh langkah di depanku.

“Rank F,” katanya. Suaranya lembut seperti kemarin. “Kita bertemu langsung akhirnya.”

“Kamu nggak datang ke batu segel ketiga?” tanyaku.

“Sable ada di sana. Ia sedang menyibukkan guruku dan teman-temannya.” Lucan tersenyum. “Aku tidak tertarik pada batu. Batu-batu itu akan retak sendiri, cepat atau lambat. Aku tertarik padamu.”

“Kenapa?”

“Karena kamu seperti aku.”

Aku tidak menjawab.

Lucan mengangkat tangannya, menunjuk ke arah asrama F di belakangku. Bangunan tua tiga lantai, kayu dan batu, jendela-jendelanya pecah, pintu depannya rusak.

“Delapan puluh siswa Rank F,” katanya. “Tidur di bangunan paling tua, paling jauh, paling tidak dijaga. Malam ini, waktu bahaya datang, semua profesor berlari ke menara Water. Ke batu. Ke benda mati yang dianggap lebih berharga daripada delapan puluh nyawa.” Ia menurunkan tangannya. “Itulah dunia ini, Rank F. Dunia yang mengukur orang dengan kristal. Yang memutuskan nilai seseorang sejak umur lima belas, dari seberapa keras senjatanya bersuara.”

“Profesor Ingrid nggak tahu kalian bakal ke sini.”

“Tentu saja tidak. Tidak ada yang pernah memikirkan asrama F.” Lucan memiringkan kepala. “Dulu aku juga tidak dipikirkan. Kristal tidak bisa membacaku. Mereka memberiku Rank A karena tidak tahu harus memberi apa. Aku lulus terbaik. Aku melindungi kerajaan di perang perbatasan. Dan saat aku kembali, mereka menghapus namaku dari semua catatan, karena aku bertanya hal yang tidak boleh ditanyakan.”

“Hal apa?”

“Kenapa seorang anak harus menjadi wadah sejak lahir.” Mata ungunya tidak berkedip. “Kenapa keluarga Valemont mengorbankan satu putri setiap generasi, dan seluruh kerajaan menutup mata.”

Jantungku berhenti sesaat.

“Aku bertanya itu,” kata Lucan pelan, “dan jawabannya adalah pengasingan.”

Abyssal Wyrm di belakangnya berputar lebih cepat.

“Bergabunglah denganku, Rank F,” katanya. “Kita bisa mengubah dunia ini. Kita bisa membangunkan apa yang disegel di dalam Valemont, dan dengan kekuatan itu, menghapus kristal, menghapus rank, menghapus sistem yang membuang orang-orang seperti kita.”

Aku memandangi Lucan Vire lama.

Lalu aku tertawa. Pelan. Tidak bisa ditahan.

Lucan mengangkat alis.

“Maaf,” kataku. “Aku cuma... dulu, di tempat asalku, aku kerja di kantor yang mengukur orang pakai angka juga. Bukan kristal. Namanya target kinerja. Tiap bulan dinilai. Kalau angkanya jelek, dipanggil HRD.” Aku menggeleng. “Aku juga benci sistem itu. Aku mati gara-gara sistem itu.”

Lucan diam, mendengarkan.

“Tapi kamu tahu apa yang aku pelajari?” lanjutku. “Sistem yang jelek nggak bisa diperbaiki dengan menghancurkan orang-orang di dalamnya. Kamu mau membangunkan sesuatu di dalam Aurelia. Itu berarti Aurelia mati.”

“Satu nyawa untuk mengubah dunia.”

“Itu juga yang dibilang keluarga Valemont,” kataku. “Satu nyawa tiap generasi untuk menjaga dunia. Kamu sama saja dengan mereka. Cuma beda arah.”

Wajah Lucan tidak berubah. Tapi Abyssal Wyrm di belakangnya berhenti berputar.

“Sayang sekali,” kata Lucan pelan.

Ia mengangkat satu tangan.

Abyssal Wyrm membuka mulutnya. Mulut yang tidak punya bentuk, hanya lubang hitam yang semakin lebar dan semakin dalam. Dari dalamnya, kegelapan mulai berputar. Memadat. Menjadi bola. Bola kegelapan sebesar rumah, berdenyut, menelan cahaya dari api-api di sekitarnya.

Dan bola itu tidak diarahkan kepadaku.

Bola itu diarahkan ke asrama F.

Ke delapan puluh siswa Rank F di ruang bawah tanahnya.


Aku punya sepersekian detik untuk memilih.

Aku bisa menyerang Lucan. Aku bisa memanggil Getsuga, Rengoku, Starburst Stream, apa pun, dan menghantamnya langsung, sebelum bola kegelapan itu dilepaskan. Mungkin aku bisa menang. Mungkin aku bisa mengakhiri semuanya malam ini.

Tapi kalau aku gagal, kalau aku tidak cukup cepat, bola itu akan menghantam asrama F.

Aku tidak menyerang.

Aku berbalik. Membelakangi Lucan. Menghadap asrama F. Berdiri di antara bola kegelapan dan bangunan tua tiga lantai itu.

Dan aku memikirkan Tomioka Giyu.

Hashira Air. Pria pendiam yang selalu berdiri sendirian, yang tidak pernah merasa dirinya pantas menjadi Hashira, karena ia hidup dan sahabatnya mati. Yang menciptakan jurus kesebelas Water Breathing, jurus yang tidak ada di ajaran aslinya. Jurus yang bukan untuk menyerang.

Jurus untuk bertahan. Untuk tidak membiarkan satu serangan pun lewat.

[Copy: Tomioka Giyu — Water Breathing]

[Copy Complete]

Bilahku berubah menjadi biru tua. Lebih gelap dari pedang Tanjiro. Lebih tenang.

Aku menarik napas. Bukan napas yang dalam dan panjang. Napas yang sangat, sangat pelan. Begitu pelan sampai hampir berhenti.

Aku memejamkan mata.

Di belakangku, Abyssal Wyrm melepaskan bola kegelapannya.

“Water Breathing,” bisikku. “Eleventh Form.”

Air mengalir dari bilahku. Tidak menyerang. Tidak berputar. Hanya mengalir ke sekelilingku, membentuk permukaan yang sangat tenang. Seperti danau di malam tanpa angin. Seperti air yang tidak pernah beriak.

“Nagi.”

Dead Calm.

Bola kegelapan itu menghantamku.

Dan tidak lewat.

Permukaan air yang tenang di sekelilingku menyentuhnya. Dan di titik itu, bola kegelapan itu berhenti. Tidak meledak. Tidak menembus. Berhenti, seperti batu yang dilempar ke danau dan tenggelam tanpa riak.

Lalu aku mulai bergerak. Pedangku bergerak. Tidak cepat. Tidak dalam pola apa pun yang bisa dilihat. Setiap bagian bola kegelapan yang menyentuh permukaan air, terpotong. Diam-diam. Satu irisan, dua, sepuluh, seratus. Seperti air memotong batu selama ribuan tahun, tapi dalam beberapa detik.

Rasanya berat. Sangat berat. Seperti menahan seluruh lautan dengan satu tangan.

Lenganku robek di beberapa tempat. Bukan dari dalam, seperti dulu saat limiter masih ada. Dari luar. Serpihan kegelapan yang lolos dari irisan pedangku menggores kulitku seperti pecahan kaca. Bahu. Pipi. Pinggang.

Aku tidak bergerak dari tempatku.

Aku tidak menyerang balik.

Satu langkah ke samping, dan bola itu akan lewat. Ke asrama F. Ke ruang bawah tanah.

Aku tidak melangkah.

Bola kegelapan sebesar rumah itu menyusut. Semakin kecil. Sebesar kereta. Sebesar kuda. Sebesar kepala manusia. Sebesar kepalan tangan.

Lalu lenyap. Dipotong habis oleh permukaan air yang tidak pernah beriak.

Aku membuka mata.

Napasku pendek. Darah mengalir dari luka-luka di lengan dan pipiku, menetes ke tanah halaman asrama. Kakiku gemetar. Tapi aku masih berdiri. Tepat di tempat yang sama. Di antara Lucan dan asrama F.

Di belakangku, asrama F masih utuh. Tidak satu batu pun jatuh.


Hening.

Sosok-sosok bertopeng yang berbaris di halaman tidak bergerak. Abyssal Wyrm melingkar di belakang Lucan, mulutnya tertutup kembali.

Lucan menatapku. Lama sekali.

“Kamu tidak menyerang,” katanya pelan.

“Nggak.”

“Kamu bisa menyerangku. Kamu punya waktu. Kamu bisa mengakhiri semuanya.”

“Mungkin.”

“Tapi kamu memilih bertahan. Untuk delapan puluh Rank F yang bahkan tidak kamu kenal namanya.”

Aku tidak menjawab. Darah menetes dari ujung jari kiriku ke tanah. Tes. Tes.

Lucan tersenyum. Bukan senyum mengejek. Senyum yang aneh. Hampir seperti rindu.

“Guruku dulu mengajarkan jurus seperti itu,” katanya. “Pertahanan yang tidak pernah bergerak. Aku tidak pernah bisa menguasainya.” Ia memiringkan kepala. “Aku selalu terlalu ingin menyerang.”

Dari arah menara Water, terdengar bunyi langkah kaki yang sangat cepat. Banyak. Dan bunyi es yang meretak di udara.

Lucan menoleh ke arah suara itu. Lalu kembali menatapku.

“Batu segel ketiga sudah kami ambil malam ini,” katanya. “Itu dua. Lima lagi.” Ia mulai mundur, pelan, dan sosok-sosok bertopeng di belakangnya mulai memudar menjadi abu satu per satu. “Gerhana total akan terjadi dalam dua bulan. Saat dua bulan Velmora menutupi matahari bersamaan. Saat itu, segelnya tidak akan bertahan lagi.”

Abyssal Wyrm melingkari tubuhnya seperti selimut.

“Kamu tidak bisa melindungi semuanya selamanya, Rank F,” katanya. “Kamu harus memilih. Asrama ini, atau dia.”

Lalu ia lenyap. Bersama naganya. Bersama sosok-sosok bertopengnya. Bersama api hitam di pohon-pohon halaman, yang padam serentak.

Profesor Ingrid tiba tiga detik kemudian, pedang esnya terangkat, napasnya terengah, wajahnya pucat. Di belakangnya, Archmaster Ashgrove, Vexley, dan profesor-profesor lain.

Mereka semua berhenti di tepi halaman. Menatap asrama F yang utuh. Menatap halaman yang hangus. Menatapku, berdiri sendirian di tengahnya, berdarah.

“Ashford,” bisik Ingrid.

Aku ingin menjawab. Tapi lututku memutuskan untuk menyerah lebih dulu.

Aku jatuh berlutut.

Dan dari arah gerbang asrama F, dari jalan setapak yang menuju ke menara bangsawan, seseorang berlari ke arahku.

Rambut perak dengan ujung hitam, tergerai, tanpa ikat. Sweter krem yang lengannya terlalu panjang. Sarung tangan putih di lengan kiri. Tanpa sepatu.

Aurelia.

Ia sampai di depanku. Berlutut. Kedua tangannya, satu bersarung tangan dan satu tidak, memegang wajahku.

Aku menatapnya. Mata emasnya merah. Basah. Pipinya basah.

“Kamu lihat?” tanyaku serak.

“Semuanya,” bisiknya. “Dari jendela kamarku. Waktu kamu berbalik. Waktu kamu membelakangi dia. Waktu kamu nggak bergerak.”

Ia menyentuh luka di pipiku dengan ibu jari. Pelan sekali.

“Kamu bisa menyerang,” katanya. Suaranya pecah. “Kamu bisa menang. Aku lihat matamu. Kamu tahu kamu bisa menang.”

“Mungkin.”

“Tapi kamu nggak menyerang.”

“Ada delapan puluh orang di belakangku.”

Aurelia menunduk. Dahinya menyentuh dahiku. Air matanya jatuh ke pipiku, bercampur dengan darah.

“Kamu bodoh,” bisiknya. “Kamu sangat, sangat bodoh.”

“Profesor Ingrid juga bilang begitu.”

Ia tertawa. Tawa yang basah dan pecah, setengah tangis. Lalu ia tidak bicara lagi. Ia hanya berlutut di sana, di tengah halaman yang hangus, dahi menempel di dahiku, kedua tangan di wajahku, sementara para profesor dan siswa Rank F yang keluar dari ruang bawah tanah berdiri di sekeliling kami dan tidak ada satu pun yang berani mendekat.

Kamu harus memilih, kata Lucan. Asrama ini, atau dia.

Aku memejamkan mata.

Bug report. Expected: aku harus memilih.

Actual: ...

Aku tidak menulis actual-nya.

Karena aku sudah memutuskan bahwa aku tidak akan memilih.

Aku akan menyelamatkan semuanya.