Chapter Twenty Four
Surat dari Valemont
POV: Kael
“Tunangan,” kata Nina, dan menaruh secangkir teh di depanku dengan gerakan yang sangat hati-hati, seperti menaruh bom.
Aku menatap cangkir itu. Lalu menatap Nina.
“Siapa yang tunangan?”
“Aurelia.” Nina duduk di seberangku di meja kantin, menautkan jari-jarinya di bawah dagu. “Surat dari Valemont datang tadi pagi. Dua surat, sebenarnya. Satu untuk Archmaster, satu untuk Aurelia. Aku nggak baca isinya. Aku cuma dengar dari pelayan Archmaster, yang dengar dari sekretaris dewan, yang kebetulan lihat surat untuk Archmaster terbuka di meja.”
“Itu namanya baca isinya.”
“Itu namanya mendengar dari sumber tidak langsung.” Nina mengibaskan tangan. “Pokoknya. Duke Valemont sudah menetapkan pertunangan untuk Aurelia. Dengan Edric Harrowgate. Putra sulung Duke Harrowgate. Rank A, atribut Light, lulusan Solmere Royal Academy dua tahun lalu. Dia akan datang ke Arcblade lusa untuk menjemput Aurelia pulang setelah masa pemulihannya selesai.”
Aku tidak menjawab.
Aku menatap teh di depanku. Permukaannya bergetar sedikit. Aku sadar tanganku yang bergetar, di atas meja, di samping cangkir.
“Kael,” kata Nina pelan.
“Hm.”
“Kamu sudah meremas sendok itu sampai bengkok.”
Aku menunduk. Sendok di tanganku, sendok besi kantin yang biasa, sekarang melengkung seperti huruf U.
Aku menaruhnya pelan-pelan di meja.
Dari meja sebelah, Bram, yang sedang makan bubur porsi kelima, menoleh dengan mata berkaca-kaca. “Yang Mulia,” bisiknya, keras sekali, “Yang Mulia cemburu?”
“Aku nggak cemburu.”
“Yang Mulia membengkokkan sendok.”
“Sendoknya memang lemah.”
Cedric, di samping Bram, mendengus tanpa mengangkat kepala dari mangkuknya. “Sendok kantin bisa menahan gigitan Torvald Hask. Aku pernah lihat.”
“Torvald nggak pernah ke kantin kita.”
“Itu kiasan.”
Aku tidak cemburu.
Aku hanya berpikir. Banyak sekali. Sepanjang hari. Di kelas teori atribut, waktu Profesor Vexley menjelaskan sejarah batu-batu segel fondasi Arcblade dengan suara yang tidak sedingin biasanya, dan sesekali melirik ke arahku. Di kelas sejarah, waktu aku menulis nama Edric Harrowgate di pinggir buku catatanku tiga kali tanpa sadar, lalu mencoretnya sampai kertasnya bolong. Di Kolam Batu sore harinya, waktu aku mengangkat batu terlalu keras dan melemparnya terlalu jauh, sampai batu itu terbang melewati dinding halaman dan jatuh di kebun sayur divisi Earth.
“Ashford,” kata Profesor Ingrid, menatap lubang di dinding tempat batu itu lewat. “Fokus.”
“Maaf, Profesor.”
“Kamu tidak fokus sejak pagi.”
“Aku fokus.”
“Kamu mengangkat batu Holloway.”
Aku menunduk. Batu di tanganku memang dua kali lebih besar dari batu yang biasa kuangkat. Bram, di tengah kolam, memegang batuku yang kecil dengan wajah bingung.
Ingrid menatapku lama. Lalu menyesap tehnya.
“Duke Valemont dan Duke Harrowgate,” katanya, “sudah merencanakan pertunangan itu sejak Valemont berumur dua belas. Sejak hari rohnya bangun.”
Aku menoleh tajam ke arahnya.
“Kenapa umur dua belas?”
“Karena hari itu,” kata Ingrid, menatap permukaan tehnya, “Duke Valemont mengirim surat ke seluruh keluarga pendiri Arcblade. Termasuk keluarga Halvard. Isinya pendek. Segel generasi ini telah bangun. Mohon jaga batu-batu fondasi.”
Batu yang di tanganku jatuh ke kolam. Byur.
“Profesor,” kataku pelan. “Batu fondasi. Segel. Valemont. Semuanya terhubung, kan?”
Ingrid tidak menjawab langsung. Ia menatap ke kejauhan, ke arah menara asrama bangsawan.
“Keluarga Halvard juga keluarga pendiri,” katanya akhirnya. “Kami menjaga batu segel ketiga, di bawah menara Water. Aku tidak pernah tahu persis apa yang disegel. Ayahku tidak pernah tahu. Kakekku juga tidak. Yang kami tahu hanya: selama tujuh batu itu utuh, wadah di garis keturunan Valemont akan tetap tertutup. Dan setiap kali satu batu retak...”
Ia berhenti.
“Segelnya ikut retak,” selesaiku.
Ingrid tidak mengangguk. Tapi ia tidak membantah.
Aku menatap tanganku. Tangan yang memegang Zangetsu di ujian tengah semester. Tangan yang menebas Getsuga Tenshou sampai menembus tembok arena. Sampai menembus batu segel fondasi pertama, yang terkubur di bawah pasir, yang tidak pernah kuketahui ada di sana.
Valemont — Seal Integrity: 71%.
Operator menunjukkannya di mimpiku. Satu malam setelah limiter lepas. Tiga minggu setelah aku membelah arena.
Apakah angka itu dulu seratus persen? Apakah aku yang membuatnya turun?
“Ashford,” kata Ingrid.
Aku tidak mengangkat kepala.
“Kamu tidak tahu,” katanya. Suaranya tidak keras, tapi tegas, seperti air yang membeku. “Tidak ada yang tahu. Batu itu tidak tercatat di peta akademi mana pun. Bahkan aku tidak tahu letak persisnya. Kalau ada yang bersalah, itu kami. Keluarga pendiri yang tidak pernah bertanya. Bukan kamu.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab.
Karena aku tahu ia benar, dan aku tahu itu tidak mengubah apa pun.
Edric Harrowgate tiba di Arcblade dua hari kemudian, dan ia sama sekali tidak seperti yang kubayangkan.
Aku membayangkan bangsawan sombong seperti Aldren. Rambut pirang keemasan. Senyum percaya diri. Jas putih bersulam emas.
Edric Harrowgate punya rambut cokelat yang tersisir rapi, kacamata bulat berbingkai perak, dan wajah yang tampak seperti seseorang yang lebih suka membaca puisi di taman daripada bertarung di arena. Ia tinggi, kurus, memakai jas abu-abu sederhana. Ia membawa buku kecil bersampul kulit di satu tangan dan seikat bunga lili putih di tangan yang lain.
Ia turun dari kereta kudanya di depan gerbang utama, membungkuk sopan kepada Archmaster Ashgrove yang menyambutnya, lalu membungkuk lagi kepada Profesor Ingrid, lalu membungkuk sekali lagi kepada Bram, yang kebetulan berdiri di dekat gerbang membawa keranjang sayur dari kebun divisi Earth.
“Selamat siang,” kata Edric kepada Bram dengan sangat sopan. “Apakah Anda salah satu profesor?”
Bram menatapnya. Lalu menatap keranjang sayurnya. Lalu menatapnya lagi.
“Saya juru masak,” kata Bram.
“Ah. Maafkan saya.” Edric membungkuk lagi. “Juru masak adalah profesi yang mulia. Ibuku selalu berkata, tangan yang memberi makan lebih berharga dari tangan yang memegang pedang.”
Bram menatapnya dengan mata yang perlahan berkaca-kaca.
Aku, yang berdiri di belakang Bram dengan tangan terlipat dan wajah yang menurut Nina “seperti kucing yang mau mencakar tirai”, merasakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.
Aku tidak bisa membenci orang ini.
Ia terlalu sopan. Ia terlalu tidak berbahaya. Ia membungkuk kepada juru masak.
“Itu bukan adil,” gumamku.
“Apanya?” tanya Nina, muncul di sebelahku dengan buku catatan terbuka.
“Dia baik.”
“Kelihatannya begitu.”
“Itu nggak adil. Kalau dia jahat, aku bisa memotong kancingnya.”
Nina menulis sesuatu dengan cepat di buku catatannya. “Kael Ashford kesal karena saingan cintanya terlalu baik. Lima koin. Nggak, sepuluh.”
“Nina.”
“Untuk arsip, Klienku tersayang.”
Aurelia keluar dari menara asrama bangsawan sore harinya, untuk menemui tunangannya di taman mawar akademi.
Ia memakai seragam lengkap. Rambutnya diikat tinggi. Lengan kirinya, aku perhatikan, ditutup sarung tangan putih panjang sampai siku. Ia tidak pernah memakai sarung tangan sebelumnya.
Edric berdiri dari bangku taman waktu melihatnya. Membungkuk. Menyerahkan bunga lili putih.
Aurelia menerimanya dengan sopan. Mereka duduk di bangku taman, berjarak satu lengan, dan bicara.
Aku menonton dari balik pagar tanaman di ujung taman, berjongkok di antara semak-semak, bersama Bram, Cedric, Nina, Mira, dan Tobias.
“Ini memalukan,” bisik Cedric, yang juga berjongkok di semak-semak.
“Kamu ikut,” bisikku.
“Aku cuma memastikan kamu nggak melakukan hal bodoh.”
“Kayak apa?”
“Kayak memotong kancingnya.”
“Dia nggak pakai kancing. Jasnya pakai pengait.”
“Kamu sudah memperhatikan?”
Mira menyipitkan mata ke arah bangku taman. “Mereka cuma ngobrol. Nggak pegangan tangan. Nggak apa-apa.”
“Edric baru saja membacakan puisi,” lapor Tobias, yang membawa teropong kecil dari kelas astronomi. “Dari buku kecilnya. Aurelia mengangguk-angguk. Wajahnya... sopan.”
“Sopan itu bagus atau jelek?” tanya Bram.
“Sopan itu wajah yang dia pakai waktu Aldren melamarnya di pesta,” kataku.
Semua orang di semak-semak terdiam.
Lalu, dari bangku taman, suara Edric terdengar, cukup keras untuk sampai ke semak-semak:
“Lady Aurelia. Aku tahu ini bukan keputusanmu. Dan aku tahu ini juga bukan keputusanku.” Ia menutup buku puisinya. “Tapi ayahku dan ayahmu sudah merencanakan ini selama lima tahun. Aku hanya ingin bilang, kalau kamu tidak ingin, aku tidak akan memaksa. Aku akan bicara pada ayahku.”
Aurelia menatapnya. Lama.
“Kenapa?” tanyanya.
Edric tersenyum kecil. Senyum yang sedih dan baik.
“Karena,” katanya, “aku sudah lihat cara kamu menatap ke arah semak-semak itu sejak tadi.”
Semak-semak itu, berisi enam orang, membeku.
Aurelia tidak menoleh ke arah kami. Tapi telinganya, di bawah rambut perak yang diikat tinggi, berubah merah.
Edric berdiri. Membungkuk sekali lagi. Lalu, tanpa terburu-buru, ia berjalan menyusuri jalan setapak taman, langsung ke arah semak-semak tempat kami bersembunyi, dan berhenti tepat di depannya.
“Selamat sore,” katanya kepada semak-semak.
Semak-semak itu tidak menjawab.
“Aku mencari seseorang bernama Kael Ashford,” lanjut Edric dengan sangat sopan. “Rank F. Juara Turnamen Lima Akademi. Aku diberitahu ia berambut hitam berantakan dan sedang berjongkok di semak-semak ini.”
Lima orang di sekitarku, tanpa koordinasi apa pun, menunjuk ke arahku bersamaan.
Aku berdiri pelan-pelan. Daun-daun menempel di rambutku.
“Aku,” kataku.
Edric menatapku dari atas sampai bawah melalui kacamata bulatnya. Lalu ia tersenyum lebar, tiba-tiba sangat bersemangat, seperti anak kecil yang bertemu pahlawannya.
“Kael Ashford,” katanya. “Aku menonton finalmu di Solmere. Dari tribun paling atas. Starburst Stream. Enam belas tebasan. Pelanginya.” Ia meletakkan tangan di dada. “Aku menulis tiga puisi tentang pelangi itu. Boleh aku minta satu hal?”
“...Apa?”
“Tunjukkan satu jurus padaku.” Ia mengangkat buku puisinya. “Satu saja. Untuk inspirasi. Aku penyair, bukan pendekar. Aku tidak akan menantangmu duel atau apa pun. Aku hanya ingin melihat dari dekat.”
Aku menatapnya. Lalu menatap Aurelia, yang sekarang berdiri di samping bangku taman dengan bunga lili di tangan, menatap kami dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
Lalu menatap teman-temanku di semak-semak, yang semuanya mengangguk penuh semangat.
Aku menghela napas.
Di ujung taman mawar ada pohon apel tua. Buahnya merah, menggantung di dahan-dahan tinggi. Jaraknya mungkin tiga puluh meter dari tempatku berdiri.
Aku memikirkan seorang pria berambut putih keperakan yang disisir ke belakang, berjas panjang biru tua, dengan katana di tangan dan wajah yang dingin seperti es. Seorang pendekar yang mengejar kekuatan dengan obsesif, yang bisa memotong ruang itu sendiri dari kejauhan, tanpa bergerak dari tempatnya.
Vergil.
[Copy: Vergil — Yamato]
[Copy Complete]
Pedang abu-abuku berubah menjadi katana ramping dengan sarung hitam polos dan gagang biru tua. Yamato.
Aku tidak bergerak dari tempatku. Aku hanya menarik pedang dari sarung, sedikit, sejengkal, dan menyarungkannya kembali. Sangat cepat. Klik.
“Judgment Cut,” kataku.
Tiga puluh meter jauhnya, di udara di sekitar pohon apel, muncul garis-garis biru tipis. Seperti retakan di kaca. Lusinan. Lalu, tanpa suara, semuanya terpotong bersamaan.
Dua belas apel jatuh dari dahan. Bersamaan. Setiap tangkainya terpotong rapi di titik yang sama. Mereka jatuh ke rumput di bawah pohon, berbaris rapi, seperti seseorang menaruhnya satu per satu.
Tidak ada satu daun pun yang ikut jatuh.
Edric Harrowgate menatap pohon apel itu dengan mulut terbuka. Buku puisinya jatuh dari tangannya.
Di semak-semak, Tobias sudah mengeluarkan buku catatan nomor sembilan dan menulis dengan cepat. “Judgment Cut. Jaj-ment kat. Memotong ruang. Kamus Jurus Kael, entri tiga puluh tiga.”
Bram mengangguk serius. “Jurus Apel Yang Mulia.”
“Itu bukan namanya,” kata Cedric.
“Sekarang namanya itu.”
Dan dari balik pagar taman, di jalan setapak yang menuju ke asrama F, aku mendengar suara anak-anak kecil. Anak-anak pegawai akademi, yang tinggal di rumah-rumah kecil di kaki bukit. Tiga dari mereka sedang menonton dari celah pagar. Satu memegang ranting.
“JAJ-MEN KAT!” teriak anak itu, menebas udara dengan rantingnya.
Tidak ada apel yang jatuh. Tapi ia tetap tampak sangat puas.
Edric memungut buku puisinya. Tangannya gemetar. Lalu ia menatapku dengan mata yang bersinar-sinar di balik kacamata bulatnya.
“Terima kasih,” katanya. “Itu akan jadi puisi keempat.”
Ia membungkuk sekali lagi. Lalu menoleh ke Aurelia.
“Lady Aurelia,” katanya. “Aku akan menulis surat ke ayahku malam ini. Pertunangan ini tidak akan terjadi. Tapi aku tidak bisa membatalkan perintah ayahmu agar kamu pulang. Itu di luar kuasaku. Kereta akan menunggu di gerbang dalam tiga hari.”
Aurelia mengangguk pelan. “Terima kasih, Edric.”
“Sama-sama.” Edric tersenyum lagi. Lalu, saat melewatiku, ia berhenti dan berbisik, cukup pelan supaya hanya aku yang dengar:
“Dia membaca bait yang sama di buku puisiku tiga kali. Bait tentang pelangi. Dan setiap kali, dia tersenyum. Bukan senyum sopan.”
Lalu ia berjalan pergi menuju kereta kudanya, buku puisi di tangan, bersenandung pelan.
Malam itu, di meja perpustakaan jam sebelas, Aurelia sudah duduk waktu aku datang.
Tidak ada buku di depannya. Hanya bunga lili putih dari Edric, di dalam gelas air.
Aku duduk.
Lama kami diam.
“Tiga hari,” kataku akhirnya.
“Tiga hari,” katanya.
“Kamu harus pulang?”
“Aku harus pulang.” Ia menatap bunga lili itu. “Ayah tidak akan menerima alasan apa pun lagi. Archmaster sudah melindungiku dua minggu. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Kamu bisa...”
“Kael.” Ia mengangkat kepala. Mata emasnya menatapku, tenang dan sangat jernih. “Aku mau pulang.”
Aku terdiam.
“Ada gudang pusaka di bawah kastil Valemont,” katanya. “Yang tidak pernah boleh kumasuki. Aku mau masuk. Aku mau tahu kenapa ada retakan di tanganku.” Ia menyentuh sarung tangan putih di lengan kirinya. “Kenapa orang-orang bertopeng memanggilku wadah. Kenapa ayahku selalu menulis jangan lupa minum obatmu. Aku mau tahu semuanya. Dan jawabannya ada di sana.”
Ia menunduk.
“Kamu sudah tahu sebagian, kan?” tanyanya pelan. “Kamu dan Profesor Halvard. Soal batu-batu di bawah akademi.”
Aku tidak bisa berbohong padanya. Aku tidak mau.
“Sebagian,” kataku.
Ia mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Tidak menuntut. Hanya mengangguk, seperti menerima.
“Kalau begitu,” katanya, “aku akan cari sisanya sendiri. Dan kalau sudah ketemu, aku akan cerita padamu. Semuanya. Aku janji.”
Ia mengulurkan tangan kanannya, kelingkingnya terangkat.
Aku menatap kelingking itu.
Di kehidupanku yang dulu, Ibu selalu membuat janji kelingking setiap kali aku takut. Ibu janji pulang sebelum gelap. Ibu janji besok masak nasi goreng lagi. Ibu janji nggak akan sakit lagi.
Janji terakhir itu ia langgar.
Aku menautkan kelingkingku ke kelingking Aurelia.
“Tiga hari,” kataku.
“Tiga hari,” katanya, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tersenyum. Senyum yang bukan senyum sopan.
Kami tidak tahu bahwa kami tidak akan punya tiga hari.
Kami hanya punya satu.
- 1 Jam Tiga Pagi
- 2 Pedang yang Tidak Bersuara
- 3 Water Surface Slash
- 4 Teman Sekamar yang Menyembahku
- 5 Perpustakaan Jam Malam
- 6 Hutan Latihan
- 7 Gosip Satu Koin
- 8 Mata Pedang Terbalik
- 9 Kenapa Kamu Tidak Pakai Atribut?
- 10 Pelatihan Neraka Profesor Ingrid
- 11 GETSUGAAA TENSHOU
- 12 Rumor Rank F Terkutuk
- 13 Limiter Lepas
- 14 Undangan Turnamen Lima Akademi
- 15 Gaun Biru di Pesta Pembukaan
- 16 Tiga Pedang di Mulut
- 17 Cedric Minta Tanding Ulang (Lagi)
- 18 Enam Belas Tebasan
- 19 Hadiah yang Ia Minta
- 20 Kota Festival Lentera
- 21 Godspeed
- 22 Retakan di Pergelangan Tangan
- 23 Pedang Pembunuh Sihir
- 24 Surat dari Valemont reading
- 25 Dead Calm
- 26 Pengakuan di Atap
- 27 BANKAI
- 28 Rahasia Keluarga Valemont
- 29 Dia Menjauh Karena Sayang
- 30 Arise
- 31 Operator Minta Maaf
- 32 Ayah yang Ingin Putrinya Bersinar
- 33 Tiga Ribu Dunia
- 34 Malam Sebelum Gerhana
- 35 Hinokami Kagura
- 36 Wadah yang Terbuka
- 37 Mugetsu
- 38 Pedang Kosong Itu Akhirnya Bersuara
- 39 All Heroes Assemble
- 40 Hanya Aurelia
- 41 Epilog — Kali Ini Ada yang Menunggu